Hate You, Love You

Hate You, Love You
Tak Lagi Sama



Setelah menempuh perjalanan udara selama 23 jam lamanya, akhirnya Amara tiba di Boston. Tak seperti orang lain yang begitu antusias bertemu kekasihnya. Amara malah merasakan yang sebaliknya. Perasaannya begitu hampa, karena seluruh cintanya ia tinggalkan bersama Gio di Indonesia. Hanya raganya saja yang bergerak bagaikan robot.


"Terimakasih telah memilih kami," ucap salah satu pramugari, dan Amara hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Amara melangkahkan kakinya keluar dari pesawat. Kini ia akan memulai hidupnya di tempat yang baru bersama Danis. Namun baru juga Amara menghirup udara Boston, dadanya terasa sesak menahan tangis. Amara sadar jika ia tersesat dalam kehampaan rasa yang tak akan ada ujungnya.


Setelah selesai dengan urusan bagasi, Amara pun berjalan menuju pintu keluar dengan dua koper miliknya. Tak ada jantung yang berdebar kencang, tak ada tubuh yang gemetar. Amara merasa biasa-biasa saja, padahal ia tak bertemu Danis dua tahun lamanya.


Amara hentikan langkahnya saat ia melihat seorang lelaki berkacamata berdiri dengan seikat bunga mawar merah di tangannya. Amara menarik paksa kedua ujung bibirnya hingga melengkungkan sebuah senyuman.


Senyuman yang tak datang dari hatinya, karena benar saja perasaan Amara pada Danis tak lagi sama.


"Ara !" Lelaki berkacamata itu lambaikan tangannya sambil tersenyum.


Amara balas lambaian tangan itu. "Kamu bisa, Ara," ucap Amara pada dirinya sendiri. Setelah menghela nafasnya yang terasa berat, Amara pun lanjutkan langkah kakinya menuju Danis.


"Bagaimana penerbanganmu ?" Itulah yang Danis ucapkan saat mereka pertama kali bertemu. Ia tundukkan kepala dan mengecup pipi Amara dengan singkat. Tak ada ciuman menggelora sebagai pelampiasan rasa rindu diantara keduanya.


"Melelahkan, tapi cukup baik," jawab Amara sambil tersenyum lembut pada tunangannya itu.


"Syukurlah.. ini untukmu," sahut Danis seraya menyerahkan bunga yang ia bawa.


Amara meraih bunga itu dan menghirup wanginya dalam-dalam. "Terimakasih," ucap Amara.


"Ayo kita pergi sekarang. Apartemen mu sudah siap untuk ditinggali," ajak Danis.


Amara dan Danis tak tinggal bersama karena keduanya belum terikat dalam sebuah pernikahan. Tapi Amara tinggal di gedung apartemen yang sama dengan tunangannya itu hanya saja lantai mereka berbeda.


Amara edarkan pandangannya di negeri asing itu. Meksipun Danis kini berada di sisinya tapi ia tetap merasa sendirian. Yang terbayang di kepalanya saat ini adalah wajah Gio yang sedang menciumnya tadi malam. Sumpah demi apapun Amara merasakan rindu yang tak terkira pada lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


Tak hanya pada Gio tapi kepada Evan juga. 2 lelaki yang sangat berarti bagi dirinya tapi sayangnya tak bisa Amara miliki.


"Ara ? Kamu dengerin aku kan ?" tanya Danis. Rupanya lelaki itu berbicara dari tadi tapi Amara tak memperhatikannya sama sekali karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri tentang Gio dan juga Evan.


"Ah maaf... Kamu bilang apa ? Aku masih jetlag nih," jawab Amara beralasan.


"Aku nanya kamu mau cari makanan dulu atau mau langsung ke apartemen ? Kata Karina ada tempat makan enak di dekat bandara ini,"


"Karina..," ucap Amara dalam hati. Nama gadis itu selalu Danis sebut setiap kali mereka berbicara, tapi itu yak membuat Amara cemburu sama sekali.


"Oh ya ? Tapi aku tak merasa lapar. Bagaimana jika langsung ke apartemen saja ?"


"Oke baiklah jika begitu," jawab Danis, dan keduanya pun pulang ke apartemen mereka.


***


"Selamat datang," ucap Danis saat ia membuka kan pintu apartemen Amara. .


Apartemen itu sudah terlihat rapi juga bersih. Benar-benar siap untuk ditempati. Amara edarkan pandangannya dan ia cukup menyukainya. "Tempatnya nyaman sekali," ucap Amara seraya melangkahkan kakinya masuk.


"Kamu suka ? Karina yang membantu aku menatanya. Dan tempat ini hanya untuk sementara. Kita akan tinggal bersama begitu kita menikah."


"Ah ya.. tentu saja..," ucap Amara, dan perasannya menjadi begitu tak karuan. "tapi sepertinya kita harus menunggu karena Gio yang mengurusnya."


"Ya.. its OK.. kita juga tak terburu-buru," sahut Danis sambil tertawa. Lelaki itu sepertinya masih mau menunggu dan bersabar untuk beberapa waktu lagi.


"Terimakasih atas pengertianmu,"


"Itu bukan suatu masalah yang besar. Yang terpenting sekarang, kamu sudah berada di sini," ucap Danis lagi. Lalu ia dekati Amara dan mencium dahi kekasihnya itu dengan cukup lama.


"Kita akan menikah begitu urusanmu dengan Gio selesai," ucap Danis, dan Amara hanya anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Karina ke mana ? Aku ingin berkenalan dengannya," ucap Amara, mengalihkan arah pembicaraan mereka. Mendengar nama Gio, rasa rindu Amara kian menjadi pada lelaki yang kini dicintainya itu.


"Karina sedang bekerja, kalau aku memang sengaja izin tak masuk kerja karena ingin menjemputmu ke bandara. Tapi jika kamu ingin bertemu dengannya, kita bisa makan malam bersama," ucap Danis antusias, membuat Amara tak bisa menolaknya walaupun sebenarnya ia sangat lelah.


***


Jakarta, beberapa belas jam sebelumnya.


Gio dudukkan tubuhnya yang berbalut selimut di tepian ranjang miliknya. Di tangannya masih terdapat sebuah surat yang Amara tuliskan untuknya. Berulangkali Gio membaca surat itu dengan perasaan yang begitu remuk redam. Jatuh cinta dan juga patah hati Gio rasakan secara bersamaan.


Ia ingat percinta*nnya yang menakjubkan tadi malam. Lembut dan juga panas menggelora. Masih terbayang dengan jelas di kepalanya saat Amara mengatakan "miliki aku, Gio. Aku pun mencintaimu,"


Saat itu dunia Gio berhenti berputar untuk beberapa saat. Dadanya yang berdebar kencang hampir saja meledak karena rasa bahagia yang tak terkira. Untuk sesaat, Gio menjadi lelaki paling bahagia di dunia.


Tapi kini Amara pergi meninggalkannya dengan membawa semua rasa cinta yang Gio punya. Hingga kosong yang kini Gio rasakan dalam hatinya.


Gio yakin, setelah ini hidupnya tak akan lagi sama. Gio akan hidup dalam rasa hampa yang tak berkesudahan, dan ia tak akan pernah bisa mencintai wanita lain seperti ia mencintai Amara.


Atau mungkin Gio tak akan pernah jatuh cinta lagi.


"Gio... Gio...," Terdengar suara seorang gadis yang mencarinya. Gio pun segera bangkit dan keluar dari kamarnya, ia berharap Amara lah yang datang padanya.


Tapi apa yang Gio inginkan tak terkabulkan karena yang datang mencarinya bukanlah Amara, tapi Dea.


Gio eratkan belitan selimutnya karena ia tak mengenakkan selembar benangpun di baliknya. "Ada apa ? Kenapa mencariku?" Tanya Gio.


"Mmhhh... Tadi aku ke rumah Mama mu tapi katanya kamu tak pulang dari semalam. Aku pikir kamu pasti datang ke sini untuk bertemu Amara dan ternyata aku benar. Mana Amara ? Apakah dia sudah pergi ?" Tanya Dea.


"Ya, Amara sudah pergi," jawab Gio dengan hatinya yang terasa begitu ngilu.


"Ooohhh... Mmhh aku datang untuk membuatkan mu dan juga Evan sarapan."


Gio mengangguk paham, Dea memang se perhatian itu padanya dan Evan. "Baiklah tunggu, aku mandi dulu. Sebaiknya kita kembali ke rumah mama saja. Aku tak bisa berduaan saja di sini denganmu," ucap Gio.


"Ya tentu... Aku akan menunggumu di ruang tamu,' sahut Dea menyetujuinya.


***


Dea menutup pintu mobil Gio, dan tak lama Gio duduk kan tubuhnya di bangku supir. Keduanya akan kembali ke rumah orangtua Gio di mana Evan berada.


"Kita akan langsung ke rumah mama. Atau ada sesuatu yang harus kamu beli dulu , Amara ?" Tanya Gio. Tanpa sadar ia telah salah menyebutkan nama.


Dea yang mendengar itu melihat dengan tatapan mata sendu pada Gio.


"Apa ?" Tanya Gio sembari mengerutkan keningnya tak paham.


"Tidak... Tidak apa-apa...," Jawab Dea sambil memaksakan senyumnya.


Bersambung lagi....


Terimakasih like dan komen nya ya Genks..


I really appreciate it ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️