Hate You, Love You

Hate You, Love You
Calon Pengganti



"Amara ?" tanya Gio lagi karena tak ada juga sahutan dari dalam kamar Amara.


"Mam- ma, coba panggil Mama," kali ini Gio meminta Evan untuk melakukannya.


"Mam- ma," celoteh Evan membuat Amara yang saat ini masih berada di dalam kamar tersenyum dibuatnya.


"A- aku udah bangun. Tunggu sebentar !" sahut Amara setelah ia mendengar Evan memanggilnya.


Gio pun tersenyum lega saat mendengar suara Amara dari balik pintu. "Baiklah... Kami tunggu di meja makan ya," sahut Gio.


Masih dengan perasaannya yang tak menentu, Amara membersihkan diri. "Apa yang terjadi padamu, Ara ?" tanya nya pada diri sendiri. Amara amati pantulan wajahnya di cermin, berusaha menyelami perasaan yang sedang dirasakannya saat ini.


Hal sederhana yang terjadi semalam, memberikan efek luar biasa padanya. Berada di dekat Gio tak seburuk yang Amara kira. Cepat-cepat Amara membersihkan dirinya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Evan dan juga... Gio ?


Blush !


Pipi Amara terasa panas saat memikirkan lelaki itu. Sungguh perasaan aneh yang tak pernah Amara rasakan sebelumnya.


***


"Hai.. celamat pagi, Mama," ucap Gio seraya menirukan suara anak kecil. Ia lakukan itu seolah-olah menjadi Evan, anaknya. Tak lupa ia berikan senyuman manis pada istrinya itu.


"Pa- pagi," sahut Amara gugup. Lalu ia pun duduk di hadapan Gio yang sudah sangat rapi. Lelaki itu mengenakan jas terbaiknya dan rambutnya terlihat masih basah. Satu yang pasti, Gio tak salah tingkah seperti dirinya.


"Rapi sekali, Gio. Apakah ada meeting pagi?" Tanya Amara.


"Hu'um" angguk Gio membenarkan.


"Pagi ini PT. XYZ akan datang untuk membicarakan projek kerjasama yang sudah aku ajukan beberapa waktu lalu. Aku tak menyangka jika mereka langsung tertarik dengan apa yang aku tawarkan," jelas Gio.


Amara tercengang, ia sangat terkejut dengan jawaban yang Gio berikan. PT.XYZ adalah sebuah perusahaan besar dan ternama. Tak heran jika Gio begitu bersemangat. "wow, kamu hebat Gio," puji Amara tulus.


Pujian Amara membuat semangat Gio kian berkobar. "Doakan presentasi ku sukses ya," pinta Gio. Bukan tanpa alasan ia meminta itu pada Amara. Karena tak hanya perwakilan dari PT


XYZ saja yang datang. Tapi hari ini sang ayah juga akan hadir dan melihat bagaimana Gio berjuang.


Gio berharap presentasinya pagi ini akan berhasil dengan baik. Gio ingin membuktikan pada sang ayah jika dirinya kini telah bangkit dari keterpurukan. Dan Amara serta Evan lah yang menjadikan Gio seperti itu. Karena keduanya Gio berusaha gigih untuk memperbaiki hidupnya.


Amara amati wajah Gio yang terlihat tenang dan juga... Tampan...


Amara gelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya yang sudah melantur kemana-mana. "Aku yakin kamu pasti bisa," ucap Amara menyemangati. Ia tersenyum lembut pada Gio. Senyum yang hampir tak pernah diberikannya.


Gio terkesiap melihat bagaimana Amara tersenyum padanya. Mati-matian ia menahan diri agar etap terlihat kalem dan tenang. Padahal di dalam hatinya ingin sekali Gio berteriak bahagia. "Terimakasih... Itu sangat berarti untukku," kata Gio sungguh-sungguh, dan ia balas tatapan mata Amara sama lembutnya.


Amara pun sedikit salah tingkah, ini kali pertama ia berkata-kata Manis pada suaminya itu. Dan tatapan mata Gio, tiba-tiba saja membuat dadanya berdebar lebih kencang. Lagi-lagi Amara merasakan gelenyar aneh dan menyenangkan saat bersama Gio.


***


Efek yang Amara berikan belum juga hilang, terbukti dengan semangat Gio yang meroket pagi ini. Senyum lembut Amara dan kata-kata manisnya membuat tubuh Gio seperti ponsel yang baru saja selesai diisi daya. Tak hanya tubuhnya saja, tapi suasana hati Gio pun benar-benar dalam kondisi yang prima.


"Selamat pagi, Dea," ucap Gio seraya tersenyum lebar pada gadis yang kini bekerja sebagai asistennya.


Mendapat sapaan seperti itu membuat Dea menengadahkan kepalanya dan menatap pada Gio dengan salah tingkah. Inilah kali pertama Gio menyapanya lebih dulu dan lelaki itu tersenyum ramah padanya. Membuat debaran jantung Dea menjadi bertalu-talu karenanya.


"Se- selamat pagi, Gio," sahut Dea terbata.


"Kamu udah siap dengan presentasi hari ini kan ? Nanti temani aku di dalam, bawa semua berkas yang sekiranya diperlukan agar nanti gak usah bolak-balik ke sini,"


"O- oke Gio." Dea masih terkesima dengan Gio yang terlihat berbeda saat ini. Dalam hatinya Dea menjadi bertanya-tanya. Apakah sikap Gio berubah padanya karena makan malam mereka semalam ? Memikirkannya saja membuat kedua pipi Dea terasa panas dan ia yakin jika semburat merah telah menghiasi keduanya.


"Terimakasih banyak atas bantuannya ya," ucap Gio lagi. Lalu ia masuk ke dalam ruangannya. meninggalkan Dea dengan perasaan yang berbunga-bunga.


***


Waktu untuk presentasi pun tiba, Gio keluar dari ruangannya dengan penuh percaya diri. Ia dikejutkan oleh kehadiran sang Mama yang tengah berbicara dengan Dea.


"Mama ? Sedang apa di sini ?" Tanya Gio Teheran. Lalu ia berjalan mendekati ibunya itu dan memberikan kecupan di pipi sebagai tanda sapaan. Hal yang sebenarnya jarang Gio lakukan.


Ibunya tentu saja merasa senang karena atmosfer yang Gio berikan begitu positif. Gio tak lagi murung seperti malam sebelumnya, saat lelaki itu patah hati karena mengetahui Amara akan pergi. "Emangnya Mama gak boleh lihat kamu, Gio ? Papa bercerita jika kamu akan presentasi hari ini, dan semuanya adalah hasil kerja kerasmu. Mama akan duduk di sudut ruangan untuk melihatmu kembali bersinar. Jangan pedulikan kehadiran Mama agar tak menganggu pekerjaan mu pagi ini,"


Bukannya menolak, Gio malah terlihat senang. Bagaimana mungkin ia tak merasa bahagia ? 2 wanita yang sangat berpengaruh dalam hidupnya memberikan Gio semangat. "Mama bisa duduk di depan jika mau. Dan terimakasih sudah datang, ini sangat berarti bagi Gio," sahut Gio menyetujui.


Ia pun berjalan dengan ibunya itu dan Dea mengikuti di belakang mereka. "Tadi malam jadi makan sama Dea ?" Bisik sang mama bertanya.


Gio sedikit bungkukkan tubuhnya agar bisa mendengar apa yang ibunya ucapkan. Lalu ia anggukan kepala membenarkan. "Hu'um.. tadi Malam Gio makan sama Dea. Kenapa, Ma ?" Gio balik bertanya.


Sang ibu tak menjawabnya. Ia hanya tersenyum penuh arti pada anak kesayangannya itu


***


Gio melakukan presentasi nya dengan hebat. Performa nya di pagi ini sungguh luar biasa hingga membuat calon kleinnya merasa puas dan ingin melakukan kerjasama yang Gio ajukan. Bahkan mereka memuji strategi yang Gio jelaskan.


Bagaimana Gio tak tampil maksimal ? Bayangan wajah Amara yang tersenyum lembut dan juga kata-katanya yang penuh semangat selalu terngiang di dalam kepalanya. Membuat Gio begitu percaya diri karenanya.


Selama presentasi itu berlangsung, seorang gadis terus menatap Gio penuh puja. Dan dia adalah Dea.


Tanpa Dea ketahui, ibu Gio terus memperhatikannya dari kejauhan dengan banyak pikiran dan juga ide dalam kepalanya. "Bukankah Dea seorang gadis yang baik ? Sebagai sepupu Amara, Dea juga sangat menyayangi Evan. Dan Gio berubah setelah makan malam dengannya. Dea sangat cocok sebagai pengganti Amara bukan ?" Pikiran itu terus memenuhi kepala sang Mama saat ia memperhatikan Dea yang terus menatap Gio tanpa jeda.


Bersambung...