
Cepat-cepat Amara tundukkan kepala, menghindari tatapan lembut mata Gio padanya. Perasaan Amara begitu tak menentu.
Tentang uang yang Amara minta, sesungguhnya ia tak memerlukan uang itu. Terbukti dari uang mahar yang Gio berikan saja, Amara tak pernah mengambilnya walau sepeserpun. Padahal mereka telah berbulan-bulan lamanya menikah.
Amara meminta uang itu hanya agar Gio membencinya seperti dirinya yang membenci Gio. Tapi lelaki itu memang berperangai lembut. Yang ia lakukan pada Amara waktu lalu hanya kebodohannya semata.
"Selamat pagi, Ibu. Baby Evan masih tidur? Biar saya yang menjaganya. Siang ini ibu ada kuliah bukan ?" Tanya Rani si baby sitter.
Amara tengadahkan kepala dan melihat pada wanita yang bicara padanya. "Hu'um," saya ada kuliah pukul 9 pagi ini," jawab Amara.
"Jika begitu biar saya yang menjaganya,"
Pelan-pelan Amara bangkit, ia lakukan itu agar tak menganggu bayinya yang sedang tertidur pulas. Semalam Evan sering terbangun hanya untuk menyusu. Tapi bayi bernama lengkap Mahesha Evan Abraham itu tak lagi menangis histeris saat Amara mendekapnya.
Gio juga tak tidur, ia menemani Amara begadang. Menyediakan apa-apa saja yang Amara butuhkan, bahkan ia membantu Amara untuk menemukan posisi yang nyaman untuk menyusui. Agar istrinya itu tak merasa tersiksa.
Pukul setengah sembilan Amara sudah siap untuk pergi ke kampus. Ia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi, dengan tas ransel tersampir di bahunya. "Sarapan dulu, Bu," kata Bi Marni. Di atas meja makan sudah tersedia setangkup roti berisikan selai coklat. Di sebelahnya terdapat segelas susu putih.
Amara melihatnya dengan terheran. Biasanya Bi Marni sang asisten rumah tangga, tak pernah menyediakan segelas susu untuk sarapannya. Kecuali saat Amara hamil beberapa waktu lalu.
"Itu susu almond, Bu. Kata Pak Gio sangat baik bagi ibu yang menyusui. Tadi diantar oleh kurir ke sini," jelas Bi Marni tanpa Amara tanya lebih dulu.
"Oh," sahut Amara yang kini mengerti mengapa ada segelas susu di sana.
"Kata pak Gio lagi, jika ibu tak suka nanti beliau akan ganti dengan rasa yang lainnya,"
"Ya, saya akan coba dulu minum yang ini," sahut Amara sembari duduk dan meraih gelas itu lalu menghirup aromanya. Pelan-pelan Amara menyesap isinya, dan ternyata rasanya cukup enak hingga Amara meminumnya hampir setengah.
Lalu ia pun menyimpan gelas itu, dan mulai menikmati sarapannya. Pikiran Amara melayang pada Gio. Suaminya itu sangat perhatian. Ketika Amara hamil pun Gio selalu memastikan jika dirinya mendapatkan asupan gizi yang seimbang. Dan Gio selalu sigap jika ada sesuatu yang Amara inginkan. Sebisa mungkin Gio akan menuruti apapun yang Amara mau.
"Mobilnya sudah siap di depan, Bu," ucap Bi Marni lagi. Membuyarkan lamunan Amara tentang suaminya itu.
Gio juga selalu menyediakan apapun yang Amara butuhkan. Seperti hari ini Gio tak bisa mengantarkannya ke kampus, maka Gio sediakan sebuah mobil beserta supirnya. Ia lakukan itu agar Amara tak kesulitan untuk bepergian.
Cepat-cepat Amara habiskan sarapannya lalu berlalu pergi menuju kampusnya tanpa melihat keadaan bayi Evan lebih dulu.
***
Seorang gadis datang menghampiri dengan maksud untuk mengajaknya makan siang. Ia tersenyum saat mendapati Gio yang tertidur seperti itu.
"Jangan dibangunkan, kasian. Katanya semalaman Gio begadang karena baby Evan rewel," ucap seorang lelaki yang merupakan paman Gio, hingga gadis tadi pun mengurungkan niatnya.
"Ooh, maaf saya gak tahu. Tadinya saya ingin mengajak Gio untuk makan siang," sahutnya merasa malu juga tak enak secara bersamaan.
"Tak usah khawatir. Saya sudah minta orang lain untuk menyiapkan makan siang buat Gio," sahut sang paman. "Saya makan siang dulu," ucapnya lagi berpamitan dan ia pun berdiri dari tempat duduknya,. kemudian berlalu pergi. Ia dan Gio menempati ruangan yang sama. Dan di tempat ini sang paman adalah atasan Gio. Padahal dulu posisi Gio berada di atasnya.
Dea, si gadis yang ingin mengajak Gio makan siang itu, tak langsung pergi. Ia tinggal untuk memperhatikan Gio sebentar lagi.
Gila memang, tapi Dea merasa tertarik pada suami sepupunya sendiri. Bukannya Dea tak tahu diri, tapi ia sangat tahu bagaimana hubungan Gio dan Amara yang jauh dari kata baik itu.
Bahkan Dea pun tahu jika Amara masih berhubungan dengan tunangannya. Sedangkan Gio begitu baik. Lelaki jangkung itu bertanggung jawab atas kesalahannya dan memperlakukan Amara dengan sangat baik meski istrinya itu begitu membencinya. Sikap Gio yang lembut dan pengertian membuat Dea diam-diam menyimpan rasa padanya.
Dea sudah tak bisa menahan diri lagi, keinginan dirinya untuk membelai rambut Gio yang sedang tertidur sudah tak bisa terbendung lagi. Takut-takut, Dea gerakan tangannya dan menyisir rambut Gio lembut dengan jemarinya.
Gio yang merasakan sentuhan di kepalanya mulai kembali ke alam sadarnya. Matanya masih terpejam tapi bibirnya melengkungkan senyuman. "Amara," gumam Gio pelan. Dadanya terasa hangat dan dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran. Gio merasa bahagia karena ia mengira Amara lah yang melakukannya.
Mendengar nama Amara keluar dari mulut Gio, Dea pun segera menarik tangannya menjauh. Mata Gio langsung terbuka saat ia tak lagi rasakan belaian lembut di kepalanya.
"Dea ?" Tanya Gio dengan terkejut. Spontan, Gio tegakkan tubuhnya di kursi dan mengucek mata untuk menghilangkan kantuk. "Ngapain di sini ?" Tanya Gio sembari berkerut alis.
"A- aku, mmh," Dea gelagapan tak bisa menjawab. Tapi untungnya, seorang gadis datang dengan membawa nampan yang diatasnya berisikan banyak jenis makanan. Dea yakin jika makanan-makanan itu pastilah untuk Gio.
"I- itu aku ke sini, un- untuk bilang makan siang kamu udah datang," kata Dea sambil mengambil alih nampan itu dari gadis yang membawanya. "Terima kasih," ucap Dea dan gadis yang merupakan office girl itu pun sedikit terheran, karena bukan Dea yang menyuruhnya tadi.
"Oh terimakasih, padahal kamu gak usah repot-repot. Sebagai gantinya lain kali aku traktir makan siang deh." ucap Gio uang merasa sungkan dan berhutang pada gadis itu.
Dea mengul*m senyumnya. Bersyukur dalam hati karena datang menemui Gio. Hingga ia mempunyai kesempatan untuk pergi dengan lelaki itu. Padahal beberapa kali sebelumnya, Gio selalu menolaknya dengan banyak alasan.;"bener ya Gio ? aku akan menagihnya suatu saat nanti,"
Gio mengangguk walaupun sebenarnya ia ragu. Menyetujui apa yang Dea katakan padanya.
To be continued
Jangan lupa tinggalkan jejak ya