
"Benci Gio, benci Gio, benci Gio... kamu harus membenci Gio, Amara !" ucap Amara dalam hati. Mengingatkan dirinya sendiri agar membenci suaminya itu. Dengan begitu, Amara tak akan lagi bimbang dengan perasaannya yang mulai goyah.
Tapi nyatanya Amara mengeluarkan air bening dari kedua matanya yang terpejam, ia mengalami pergolakan batin yang hebat. Kepalanya mengatakan untuk membenci Gio, tapi hatinya merasa tak rela untuk melakukannya.
Amara terisak dan mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Padahal Amara mengatakan pada semua orang jika dirinya ingin istirahat tidur, tapi nyatanya Amara malah menangis dalam diam.
"Ara ? Apa perutnya terasa sakit lagi ?" Tanya ibunya dengan perasaan cemas karena mendapati Amara menangis dalam tidurnya.
Amara masih terisak dan kembali mengusap pipinya tanpa menjawab pertanyaan ibunya itu. Berusaha menghilangkan jejak air matanya, walaupun terlambat. Karena sang ibu telah mengetahuinya.
"Amara ?" Tanya ibunya lagi seraya membelai lembut kepala Amara.
"Ara gak apa-apa, Ma," jawab Amara masih dengan matanya yang terpejam.
"Lalu kenapa menangis ? Apa yang kamu rasakan ?"
"Ara gak nangis kok," jawabnya bohong.
"Kalau gak nangis kenapa dari tadi mengusap pipimu ? Perutnya sakit lagi ?"
"Nggak, Ma. Perut Ara gak sakit lagi," jawab Amara sejujurnya. Tapi ia tak mengatakan pada ibunya jika kini hatinya lah yang tergores sakit.
"Lalu kenapa ? Mau Mama panggil kan Gio ?" Tanya sang ibu karena tadi pagi pun Amara mencari suaminya itu.
Mendengar nama Gio, Amara pun membuka matanya dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya. "Jangan panggil, Gio ! Ara gak apa-apa," ucap Amara cepat. Sungguh saat ini dirinya tak ingin melihat wajah Gio.
Walaupun Amara berulang kali mengatakan jika dirinya baik-baik saja, tapi ibunya tahu jika ada sesuatu yang Amara sembunyikan. "Kamu takut, Ara ?"
Kali ini amara mengangguk membenarkan. Ibunya itu pasti akan terus mendesak Amara untuk menjawab. Oleh karena itulah Amara mengiyakannya saja.
Ibu Amara tersenyum lembut dan meraih jemari tangan Amara dalam genggamannya. "Semua akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir," ucap ibunya itu. Berusaha untuk menenangkan putrinya yang tengah diserang rasa cemas.
"Iya, Ma." Amara menghela nafas panjang, berharap agar semuanya segera bisa ia lalui dengan cepat. Dalam pikirannya saat ini. Amara ingin segera melahirkan. Menyerahkan bayinya pada Gio, lalu melanjutkan hidup tanpa lelaki itu. Amara ingin kembali ke kehidupannya yang dulu dan melupakan segala sesuatu yang pernah terjadi padanya.
***
Hari pun beganti, Amara masih terbaring di ranjang rumah sakit karena keadaannya yang tak juga membaik. Selama itu terjadi Gio selalu menemaninya, bergantian dengan sang ibu mertua jika ia harus pergi kerja. Ayah dan ibu Gio juga beberapa kali datang menjenguk. Melihat keadaan menantunya itu.
Sikap Amara pada Gio pun semakin dingin, bahkan Amara beberapa kali meminta Gio untuk pergi. Ia lebih baik sendiri daripada harus ditemani suaminya itu. Tapi Gio tak goyah, ia terus berada di sisi Amara meskipun istrinya menunjukkan sikap tak suka.
Dan mengenai Danis, lelaki itu masih saja menghubungi Amara. Tapi Semenjak Amara di rawat, Danis sering mendapati panggilannya tak terjawab. Bahkan Amara membalas pesannya dengan singkat. Membuat lelaki itu bertanya-tanya tentang keadaan Amara.
"Ara pengen pulang, Ma," ucap Amara memelas.
"Tapi dokter belum mengijinkan, Ara,"
"Ara gak suka bau rumah sakit, Ara pengen pulang,"
"Sabarlah... Nanti kita tanyakan bagaimana pendapat dokter yang menanganimu," ibu Amara berucap dengan lembut, berusaha menenangkan anaknya itu.
"Kenapa sih kamu tak cepat lahir saja ? Aku sudah tak ingin berada di sini," ucap Amara dalam hatinya dan tak lama perutnya kembali terasa kencang hingga ibu Amara harus memanggil perawat.
Dan sepertinya yang Amara inginkan terjadi juga. Dokter kandungan yang memeriksa Amara menyarankan untuk segera dilakukan tindakan. Akhirnya, Amara pun melahirkan secara operasi Caesar pada hari ke 4 dirinya berada di rumah sakit.
Gio berjalan mondar-mandir di depan pintu operasi. Kedua orangtuanya dan juga ayah ibu Amara pun berada di sana. "Duduklah Gio, Amara dan bayimu akan baik-baik saja," ucap ibunya sembari mengusap-usap punggung Gio lembut. Ia lakukan itu untuk menenangkan Gio yang saat ini dilanda rasa cemas yang luar biasa
Gio mengangguk pelan. Ia tak lagi berjalan mondar-mandir, tapi Gio juga tak mau duduk. Ia berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Jantungnya bekerja ekstra, terbukti dari debarannya yang lebih kencang dari biasanya.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya seorang suster memanggil Gio dan memintanya masuk ke sebuah ruangan khusus yang diperuntukkan bagi bayi. Di dalamnya telah menunggu seorang dokter spesialis anak dan beberapa perawat lainnya. "Selamat, anak anda laki-laki yang sehat dan sempurna," ucap dokter itu dan berlinang lah air mata Gio tanpa diminta.
Lelaki jangkung itu tersenyum juga menangis di saat yang bersamaan ketika pertama kali melihat anaknya. Dengan tangan yang gemetar, Gio menggendong bayinya itu. Rasa haru bahagia tengah menyelimuti hati Gio saat ini. Bahkan Gio harus mengulang dua kali saat mengumandangkan adzan di telinga anaknya itu. "Papa sangat mencintaimu, Nak," bisik Gio di akhir kalimatnya.
Setelah itu, Gio kembali menemui keluarga besarnya dan mengabarkan pada mereka jika anaknya terlahir sehat dan tak kekurangan apapun. Semua yang berada di sana berucap kata syukur sebagai tanda bahagia mereka.
Namun kecemasan masih belum usai, karena Amara masih belum keluar dari ruang operasi. Membuat Gio kembali cemas. "Anak kita begitu tampan dan sehat, ayo Sayang segeralah keluar dan bertemu dengannya," ucap Gio dalam hati. Berharap agar operasi pada Amara segera selesai.
Sedangkan ibu Amara terkejut saat ia mendapatkan ponsel milik anaknya itu terus bergetar di dalam tas kecil milik Amara. Tadinya, ia tak mengindahkan getaran itu. Namun lama-lama dirinya terusik karena getarannya yang tak mau berhenti juga.
Ibu Amara berpikir jika teman-teman Amara yang menghubunginya karena memang Amara sudah hampir satu Minggu ini tak bisa ikut kegiatan kuliah karena kondisi kesehatanny yang menurun.
Tapi betapa terkesiapn nya ibu Amara saat ia mendapati jika yang terus-terusan menghubungi Amara adalah Danis. Dan ia lebih terkejut lagi saat membaca pesan yang dikirimkan Danis tanpa sengaja. Kata-kata dalam pesan itu begitu mesra dan Danis sangat frustasi karena Amara yang mengabaikannya seminggu terakhir ini.
"Ya Tuhan...," Gumam ibu Amara pelan sambil menutup mulutnya karena tak percaya.
Tak lama, ponsel Amara kembali bergetar dan tertera nama Danis lagi di sana. Hati ibu Amara begitu terasa pilu, ia merasa kasihan pada Danis yang selama ini mengira Amara baik-baik saja setelah kepergiannya..
"Ku rasa Danis berhak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Amara," gumam ibu Amara pelan. Lalu ia pun berpamitan untuk menerima panggilan itu di tempat yang lebih tenang.
to be continued
jangan lupa untuk tinggalkan jejak yaaa