
Sudah dua Minggu berlalu sejak Gio mendapatkan informasi tentang Amara yang mendatangi rumah sakit seorang diri. Dan selama itu juga pikiran Gio begitu tersiksa. Inginnya Gio pergi ke Boston dan memeriksa keadaan Amara, tapi ia tak bisa lakukan itu karena Gio tak mau dianggap terlalu berlebihan dalam bereaksi. Dan Gio juga tak mau ketahuan memata-matai.
Gio berusaha menggunakan logika, berpikir jika mungkin saja Danis tengah sibuk bekerja hingga tak bisa menemani Amara. Atau mungkin saja sakit Amara tak begitu parah hingga istrinya itu bisa pergi sendiri.
Tapi jika Gio yang menjadi kekasihnya, tak akan ia biarkan Amara pergi seorang diri. Gio akan menemani Amara menemui dokter meksipun ia hanya sakit flu biasa. Seperti yang Gio lakukan dulu saat Amara masih berada dekat dengannya
"Jika kamu mau jadi milikku.. Aku akan memberikan semuanya padamu. Semua perhatian dan juga rasa cintaku. Semuanya.. Amara. Semuanya !!" Jerit Gio dalam hati. Ia sandarkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam sembari membayangkan wajah Amara yang sangat dirindukannya.
"Bagaimana kamu bisa begitu buta? Aku mencintaimu lebih dari dia ! Seandainya kamu tahu bahwa aku tergila-gila padamu... Maka kamu akan mengerti mengapa aku selalu lakukan apapun untukmu. Bahkan aku rela melepasmu hanya karena ingin kamu bahagia, walaupun itu sebenarnya sangat menyakitkan untukku," batin Gio. Ia pun memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.
Dua Minggu ini terasa begitu berat bagi Gio. Kesibukannya sebagai CEO semakin bertambah, dan beban pikirannya tentang Amara membuat Gio semakin tersiksa. Ia kesulitan tidur di malam hari dan kehilangan fokusnya di waktu siang.
Hampir setiap malam Gio duduk sendirian di dalam kamarnya. Berharap Amara ada disisinya hingga Gio bisa memeluknya dengan erat. Gio akan memberinya banyak cinta, dan akan melakukan apapun untuk Amara.
Padahal cukup lama Amara meninggalkannya. Kata orang, waktu akan membuat Gio mampu melupakan Amara. Tapi nyatanya tidak. Amara selalu ada dalam kepalanya. Seperti saat ini, Gio malah memikirkan Amara padahal setumpuk pekerjaan menghiasi mejanya. Demi Tuhan... Gio sangat merindukannya.
"Gio... Ini berkas yang kamu minta. Gio ?" Dea melihat terheran pada Gio yang tengah duduk bersandar dengan mata terpejam. Dea mengira Gio sedang tertidur, padahal belum lama lelaki itu meminta berkas suatu perusahaan pada Dea.
"Gio ?"
"Hu'um ? Letakkan saja berkasnya di atas meja, Amara. Nanti aku akan membacanya. Terimakasih."
Mendengar hal itu, Dea pun menghela nafasnya yang terasa berat. Ucapan Gio cukup membuat Dea tahu siapa yang sedang dipikirkan oleh Gio saat ini. Dea tak sanggup untuk protes, padahal bukan sekali dua kali Gio memanggilnya dengan nama Amara. Dea takut, jika ia mengeluhkan itu maka Gio memintanya untuk membatalkan rencana pertunangan mereka. Meksipun sakit, tapi Dea terpaksa menerimanya.
Dea pun meletakkan berkas itu di atas meja. Sesuai dengan perintah Gio. Lalu dengan hatinya yang terasa ngilu Dea pergi keluar dari ruang kerja Gio. Salahnya sendiri yang jatuh cinta pada lelaki yang tak bisa melepaskan masa lalunya.
Meksipun Dea mencoba sekuat tenaga untuk menarik perhatian Gio dan berusaha membuatnya jatuh cinta. Tapi hanya Amara yang selalu ada dalam pikiran Gio. Hingga lelaki itu seringkali memanggil Dea dengan nama Amara. Memang sangat menyakitkan tapi Dea tak bisa melakukan apa-apa.
***
"Hoek.. hoek...," Amara berusaha mengeluarkan isi perutnya. Ia berjongkok di depan toilet bersama seseorang yang memijit tengkuknya dengan pelan. Bukannya merasa lebih baik, tapi Amara malah menangis karenanya.
"Apa pijatanku terlalu keras ?" Tanya Karina dengan cemas. Ia pun mengurangi tekanannya, tapi Amara masih juga menangis.
"Apa pijatanku salah ? Tapi aku sudah mengikuti semua instruksimu, Amara. Aku melakukannya dengan cara Gio, seperti yang kamu jelaskan tadi," jelas Karina. Ia merasa telah melakukan pijatan sesuai dengan Amara katakan tadi. Tapi nyatanya Amara malah terisak menangis.
"Tidak, kamu tak salah Karin. Hanya saja... Hanya saja kamu-"
"Hanya saja aku bukan Gio ?" Potong Karina.
Amara menganggukkan kepalanya berulang kali dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Lalu ia terduduk di atas lantai toilet sambil memeluk tubuh Karina erat. "Kenapa rasanya begitu berbeda jika Gio yang melakukannya?" Tanya Amara sambil terisak.
Hubungannya dengan Karina menjadi begitu dekat. Gadis itu selalu datang untuk menemui Amara dan melihat keadaannya. Amara mengalami masa ngidam yang berat hingga ia tak bisa keluar apartemen. Oleh karena itulah Karina selalu datang menjenguknya.
Karina juga menjadi tempat keluh kesah Amara tentang Gio. Pada gadis itulah Amara menceritakan seluruh isi hatinya. Amara bercerita bagaimana ia mencintai Gio dengan hebatnya. Hingga Amara yakin tak akan jatuh cinta lagi pada pria lainnya.
"Mengapa pijatanku tak seenak Gio ? Karena jika Gio yang melakukannya, tak hanya lehermu saja yang terkena efeknya, tapi hatimu juga. Pijatan Gio bergetar hingga hatimu,Ara," ucap Karina sambil tertawa, dan Amara pun menghela nafasnya. "Kamu benar, Karin," sahut Amara menimpali.
"Bangun, Ara. Ayo duduk di kursi," ajak Karina. Ia pun membantu Amara untuk berdiri dan memapahnya keluar dari toilet.
"Bagaimana Ara ?" Tanya Danis yang telah menunggunya di luar.
"Sebaiknya kita bawa Amara ke rumah sakit saja," usul Danis tapi Amara segera menolaknya.
"Tidak.. aku tak mau ! Aku tak apa-apa," ucap Amara sembari mendudukkan tubuhnya diatas kursi.
"Tapi kamu terlihat sangat pucat, Amara," protes Danis.
"Sssttt... Biarkan Amara tenang dulu. Aku buatkan teh hangat mau ya ?" Kali ini Karina yang berbicara dan Amara pun anggukkan kepalanya sebagai tanda mau dengan tawaran yang diberikan Karina.
Karina memang sebaik itu, tak heran jika Danis jatuh cinta padanya. Amara ingat bagaimana Karina menangis dan berkata jika ia tak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Amara dan Danis. Ia rela kehilangan pekerjaannya agar bisa membawa lari semua perasaannya.
Namun Amara jelaskan semua. Bagaimana ia sudah jatuh cinta pada Gio, dan Danis jatuh cinta pada Karina. Hingga Karina pun mengerti dan akhirnya menjalin kasih dengan Danis. Setelah itu hubungannya dengan Amara pun menjadi lebih baik lagi. Keduanya kini bersahabat.
"Ini tehnya, Ara. Teh hangat dengan satu irisan lemon. Seperti yang Gio buat," ucap Karina seraya menyerahkan secangkir teh hangat pada Amara.
Tapi Amara hanya menyesapnya sedikit saja, karena perutnya kembali bergejolak.
"Apa tak sama rasanya dengan buatan Gio ?" Tanya Karina dengan wajahnya yang terlihat cemas.
"Maafkan aku Karina..," ucap Amara penuh sesal. Ia merasa tak enak hati karena telah menyusahkan Karina dengan segala permintaannya. Amara meminta agar gadis itu meniru apa yang dilakukan Gio untuknya.
"Aku rasa yang kamu butuhkan hanya Gio. Biar aku menghubunginya agar ia datang kemari," ucap Danis sembari meraih ponsel Amara dan mengusap layarnya untuk mencari nama Gio.
Tapi dengan cepat Amara merebutnya. "Jangan !" Panik Amara.
"Jika begitu, menurut lah padaku ! Ayo kita ke rumah sakit ! Wajahmu terlihat sangat pucat."
"Kamu sangat menyebalkan Danis !" Amara mencebikkan bibirnya kesal. Ia tak mau pergi ke rumah sakit, karena Amara yakin jika dirinya pasti harus dirawat inap di sana.
Amara pasti sendirian, dan jika Amara sendiri maka Gio yang akan muncul dalam kepalanya dan itu membuat Amara tersiksa. Hatinya akan terasa sakit karena dipenuhi dengan rasa rindu yang tak tersampaikan. Amara pun akan menangis seorang diri.
"Aku akan menemanimu di rumah sakit, Ara. Jangan khawatir.." janji Karina.
"Aku tak mau... Aku tak perlu dibawa ke rumah sakit.. yang aku perlukan-"
"Gio... Yang kamu butuhkan hanya hadirnya Gio di sisimu," potong Karina.
Amara yang tengah duduk di kursi langsung tertunduk lesu. Tak lama, pundaknya bergetar halus.Q Amara pun menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia mulai menangis terisak-isak.
"Ya ! Yang aku butuhkan hanya cintanya Gio... Hanya dia yang mampu memberikan aku ketenangan. Aku rindu suaranya yang bisa membuat rasa cemasku hilang. Aku rindu dekapannya, karena hanya di sana aku merasa nyaman. Bahkan setengah mati aku menginginkan ciumannya, karena aku tahu dia melakukannya dengan penuh rasa cinta," lirih Amara menumpahkan isi hatinya.
"Seharusnya aku sadar bahwa setiap yang Gio lakukan padaku terdapat rasa cinta di dalamnya. Dan sekarang... Saat aku tak mungkin lagi kembali padanya, mati-matian aku menginginkan itu semua. Aku hanya mau Gio... Hanya mau dia seorang.. hu..hu..hu..," lanjut Amara dengan tangisnya yang terdengar semakin pilu.
Tak tega, Karina pun duduk di sebelah Amara dan menarik tubuh Amara dalam pelukannya.
To be continued ♥️
terimakasih banyak yang sudah vote yaaa