Hate You, Love You

Hate You, Love You
Akhirnya Mengetahui



Gio pun tersenyum dan anggukan kepalanya sebagai jawaban. "Ok, kita akan makan malam,"


"Berdua?" Tanya Dea memastikan lagi.


"Hu'um," angguk Gio. "Dan kamu boleh pesan Apapun yang kamu mau," lanjut Gio. Dea sudah banyak membantunya selama ini. Gio pikir gadis itu berhak mendapatkan itu semua. Bahkan bagi Gio itu masih terasa kurang jika untuk membayar bantuan yang telah Dea berikan.


"Tempatnya aku yang nentuin juga ?" tanya Dea antusias. Kedua matanya berbinar penuh harap.


"Mmmhhh.. kita makan di resto XXX aja," jawab Gio yang menyebutkan nama salah satu restoran yang letaknya sangat dekat dari kantor tempat mereka bekerja. Dengan berjalan kaki pun keduanya sudah bisa sampai di sana.


Dea tersenyum dan menyetujui. Walaupun dalam hatinya ia merasa kecewa. Tempat itu sama sekali tak istimewa. Gio memilih tempat itu pasti karena jaraknya yang sangat dekat dengan kantor mereka, hingga lelaki itu bisa cepat-cepat pulang. Bagi Gio makan malam ini hanya sebatas ungkapan rasa terima kasih. Sedangkan bagi Dea, hal ini sungguh berarti.


"Tapi sorry... Gak bisa malam ini, karena aku udah janji pulang lebih cepat pada Amara," ucap Gio, menyadarkan Dea dari lamunannya.


"Eh kenapa ?" tanya Dea tak paham.


"Maaf gak bisa malam ini karena besok Amara ada ujian di kelasnya, jadi aku harus pulang lebih cepat untuk menjaga Evan," jawab Gio beralasan.


"Oh sure ! Bisa kapan saja,"


"Kalau begitu aku pulang duluan ya, De,"


"Ya, aku masih ada yang harus diselesaikan. Jadi pulangnya nan... ti..," sahut Dea seraya menjeda ucapannya karena Gio lebih dulu pergi padahal gadis itu belum selesai bicara.


Dea menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. Sadar jika Gio tak mungkin tergapai. Dalam diri lelaki itu hanya ada Amara seorang. Tapi sayangnya Gio tak tahu jika Amara tak memilih dirinya.


Sedangkan dirinya ? Jatuh cinta pada lelaki itu dengan tulus, bahkan Dea mencintai Evan seperti anaknya sendiri. Tapi tak sekalipun lelaki itu menyadarinya.


"Kenapa harus dia ?" tanya Dea dalam hati. Ia pejamkan matanya, meresapi rasa cinta yang begitu menyiksa. Bukan inginnya Dea jatuh hati pada suami sepupunya sendiri. Tapi hatinya yang tak bisa diatur dan juga karena Dea tahu keadaan yang sebenarnya. Mati-matian Dea menekan perasannya sendiri, tapi rasa itu selalu ada setiap Gio. berasa di dekatnya.


Dea tatapi wajah Gio yang berseri-seri. Lelaki itu begitu bersemangat untuk pulang cepat. Ia bereskan mejanya secepat kilat, dan segera meninggalkan ruangannya tanpa berpamitan lagi pada Dea yang terus memperhatikannya sedari tadi.


***


Gio lajukan mobilnya secepat yang ia bisa. Tak lupa, Gio membawa beberapa jenis cemilan dan juga minuman yang diperuntukkan bagi Amara agar istrinya itu semakin semangat belajar. Sedangkan untuk Evan Gio membawakan mainan baru. Semuanya Gio beli melalui asistennya, ketika Gio bekerja tadi. Ia lakukan itu agar tak terlambat pulang ke rumah.


Gio tiba di rumahnya lebih cepat, hari masih sore dan matahari masih memancarkan sinarnya. Setelah mobilnya berhenti dengan sempurna di halaman rumahnya, Gio segera keluar dengan beberapa kantung kertas yang ia bawa.


Mata Gio kian berbinar saat ia melihat Evan tengah berada di luar rumah sembari digendong oleh susternya. Rupanya Evan sedang memakan buah, bibir bayi tampan itu terlihat merah merekah. Menambah kesan gemasnya.


Gio segera menghampiri. "Papa pulang," ucapnya sembari mencium gemas pipi gempal Evan.


"Tunggu sebentar ya, Papa ganti baju dulu. Nanti kita main bersama," lanjut Gio lagi berbicara pada anaknya.


"Amara mana?" Tanya Gio.


"Ibu sedang di kamarnya,"


Gio anggukan kepala tanda ia paham. "Amara pasti sedang menyiapkan bahan untuk belajar," pikir Gio. Ia pun segera memasuki rumah itu. Gio letakkan beberapa kantung kertas itu di atas meja makan, lalu ia berjalan menuju kamar Amara untuk menyapanya sebentar. Atau lebih tepatnya untuk mengobati kerinduannya dengan melihat wajah sang istri yang diam-diam Gio cintai.


Samar-samar terdengar seperti orang yang sedang mengobrol dari kamar Amara. Gio bisa mendengarnya karena pintu kamar itu yang terbuka. Pelan-pelan Gio langkahkan kaki, kian mendekati kamar Amara. Tiba-tiba hatinya berdebar kencang dan jantungnya terasa diremas dengan kuatnya saat suara itu terdengar lebih jelas lagi.


"Buku yang kamu cari-cari itu sudah ketemu, Ara ?" Tanya sang lelaki yang terhubung melalui sambungan telepon itu.


"Sudah, dan tebak aku menemukannya di mana?" Amara balik bertanya.


"Dimana ?"


"Ditempat buku-buku bekas. Tapi memang bukunya sebagus itu jadi, pantaslah di cari-cari juga susah,"


"Syukurlah kalau ketemu," sahut lelaki itu terdengar lega. "Bagaimana kabar Evan ? Sudah bisa apa ia sekarang ?"


"Evan lagi suka makan buah. Lucu deh, mulutnya akan belepotan karena buah," jawab Amara sambil tertawa.


"Kamu yakin gak akan bawa Evan kemari ? Aku berjanji akan mencintainya seperti anakku sendiri,"


Deg !!


Tubuh Gio mendadak lemas, dadanya yang berdebar kencang kini terasa sesak. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di dinding agar tak meluruh jatuh. "Ya Tuhan..," gumam Gio seraya maeraup wajahnya frustasi. "Lelaki itu sudah tahu... Lelaki itu sudah tahu," ucap Gio berulang kali dalam hati.


"Kurasa... Evan akan lebih baik dengan ayahnya. Gio sangat mencintainya. Oma, opa, kakek, nenek, dan Dea pun sangat menyayangi Evan. Jadi... Evan tak akan kekurangan apapun di sini," jawab Amara membuat perasaan Gio semakin hancur saja saat mendengarnya.


"Lalu bagaimana dengan Gio ? Dia sudah tahu tentang rencanamu ? Bagaimana dengannya jika kamu pergi ?"


"Belum... Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Gio sangat sibuk sekarang," jawab Amara.


"Apa dia tak keberatan jika kamu pergi meninggalkannya, Ara ?" Tanya Danis lagi karena Amara tak menjawab pertanyaan yang satu ini.


Amara terdiam, ia pun tak tahu bagaimana reaksi Gio padanya nanti. Meskipun hubungannya dengan Gio sudah sangat membaik tapi tetap status mereka adalah pernikahan paksa. Tak ada rasa cinta di dalamnya. Selama ini Gio bersikap baik pun karena tanggung jawab lelaki itu atas kesalahannya.


"Ku rasa Gio akan baik-baik saja. Sebenarnya dia lelaki yang sangat baik. Aku yakin Gio tak akan kesulitan untuk mencari istri pengganti,"


"Lalu bagaimana denganmu ? Apa kamu siap untuk berpisah dengan Gio ? Waktu terus berjalan, hanya hitungan bulan kamu akan meninggalkannya,"


Tak sanggup untuk mendengar jawaban Amara, maka Gio memilih untuk pergi. Ia tak masuk ke dalam kamarnya, melainkan berjalan menuju pintu keluar dengan tergesa.


"Bapak mau ke mana ?" Tanya sang suster saat melihat Gio masuk ke dalam mobilnya.


Gio tak menjawab pertanyaan itu. Ia nyalakan mobilnya dan melesat pergi.


bersambung...


haiii semuanya..


terimakasih yang masih setia baca..


akan aku teruskan sampai benar-benar tamat ya


jangan lupa like dan komen yang banyak biar aku semangat nulisnya..