Hate You, Love You

Hate You, Love You
Akan Baik-baik Saja



Pagi masih gelap saat Amara terbangun. Sebuah senyuman terbit di bibirnya, ini adalah pagi terindah di sepanjang hidup Amara. Karena Gio adalah yang pertama kali Amara lihat saat ia membuka mata, dan belitan tangan lelaki itu di tubuhnya membuat Amara merasa berada di tempat yang tepat. Ia merasa aman danp juga nyaman.


Amara tak langsung bangkit. Ia tatapi wajah Gio dengan lama, seolah tak pernah puas. Dadanya berdebar kencang, bagai remaja yang tengah jatuh cinta. Takut-takut Amara ulurkan tangannya dan membelai lembut pipi Gio dengan jemarinya. Beberapa luka masih menghiasi wajah lelaki itu, tapi tak mengurangi ketampanan Gio di mata Amara.


"Amara, Sayang.." Gio mengigau, membuat Amara segera menarik kembali tangannya dan dadanya berdebar kian kencang saja.


Sadar jika Gio butuh istirahat lebih lama karena ia baru saja datang dari Indonesia, dan juga karena percint*an hebat mereka semalam. Pastinya lelaki itu sangat kelelahan.


Pelan-pelan Amara pindahkan tangan Gio dari tubuhnya. Baru saja Amara hendak bangkit dari ranjang, namun tangan kekar itu menarik tubuhnya untuk mendekat lagi. "Jangan tinggalin aku, Sayang," ucap Gio dengan suaranya yang serak.


"Su- sudah pagi.. a- aku harus mandi-"


"Aku juga. Tunggu sebentar, biar aku mandi kan kamu," potong Gio. Lalu meremang lah seluruh tubuh Amara hanya karena kata-kata yang Gio ucapkan.


Amara tundukkan kepalanya karena malu. Ia yakin jika wajahnya pasti sudah merah seperti buah tomat. Apa yang Amara lakukan membuat Gio menjadi gemas, ia mengangkat dagu Amara dengan jempolnya. "Selamat pagi, Sayangku," ucap Gio sambil tersenyum. Seperti halnya Amara, bagi Gio pagi ini pun adalah pagi terindah di sepanjang hidupnya.


Baru kali ini ia bisa tidur nyenyak dan terbangun dengan seorang wanita yang sangat dicintainya. Gio berdiri lebih dulu, dan Amara segera palingkan wajahnya karena tiba-tiba pipinya kembali terasa panas. Ia merasa malu karena Gio berdiri di hadapannya tanpa sehelai benangpun.


Gio tersenyum geli. Amara yang malu-malu adalah pemandangan terindah yang pernah ia lihat. Karena selama ini istrinya itu selalu bersikap ketus dan judes. Namun ternyata, Amara sangat menggemaskan saat dalam keadaan malu dan salah tingkah seperti ini.


Masih dengan tubuhnya yang polos, Gio berjalan menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat lebih dulu. Lalu ia kembali untuk menggendong tubuh Amara yang sama-sama polos seperti dirinya. Ia akan memandikan istri tercintanya itu.


***


Bel pintu Amara berbunyi, membuat Amara yang tengah duduk sambil menonton TV harus berdiri dan membukanya.


"Aku bawakan buah stroberi dan apel. Aku takut kamu tak bisa sarapan lagi selain buah," ucap Karina seraya menerobos masuk. Diikuti oleh Danis di belakangnya.


"Sayang, apa kamu merasa mual ? Kenapa gak bilang ? Jika iya, aku tak akan membuatkan mu omelette untuk sarapan," tanya Gio beruntun dengan wajahnya yang cemas.


Ucapan Gio membuat Karina mengerutkan dahinya. "Kamu udah sarapan ?" tanya Karina.


Amara anggukan kepalanya sebagai bentuk jawaban.


"Dengan omelette telur?" tanya Karina lagi, dan untuk keduakalinya Amara anggukan kepala membenarkan.


"Gak mual?" Kali ini Danis yang bertanya dengan wajah terheran.


"Nggak, malah dia minta nambah," jawab Gio.


Karina dan Danis tercengang mendengarnya, sedangkan Amara hanya tersenyum samar menahan malu.


"Sekarang misteri nya sudah terpecahkan ! Amara bukan ngidam hebat, ia hanya sakit rindu !" ucap Karina sambil tertawa.


"Udah aku bilang berulang kali, seharusnya kamu minta Gio datang dari dulu," timpal Danis.


Amara mendekat pada Gio dan melingkarkan tangannya di tubuh suaminya itu. "Hu'um, yang aku butuhkan ternyata hanya Gio seorang," ucap


Amara seraya menengadahkan kepalanya dan menatap Gio penuh cinta. Betapa bahagianya Amara karena kini ia bisa memperlihatkan rasa cintanya pada Gio dengan terang-terangan. Tak lagi memendamnya seperti dulu.


"Maaf mengganggu, tapi sepertinya kita belum berkenalan dengan benar," sela Karina.


"Ah ya ! Maaf..," ucap Gio yang tak enak hati. Kemarin, ia langsung saja memberikan bogem mentah pada Danis tanpa basa-basi terlebih dahulu. Gio pun uraikan pelukannya dan kemudian bersalaman pada Karina dan juga Danis.


"Maaf soal semalam," ucap Gio saat ia menjabat Danis dengan erat.


"Ya sama-sama," sahut Danis. Sebenarnya ia masih merasa kesal, tapi usapan lembut tangan Karina di punggungnya membuat Danis menjadi tenang.


Keempatnya duduk bersama dan saling bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya. Sepanjang itu terjadi, Gio melayangkan tatapan mata penuh cinta pada Amara. Ia tak menyangka jika Amara pun tersiksa oleh rasa rindu seperti dirinya. Gio tak menyangka jika perasaan cinta yang Amara punya ternyata sama besar dengannya.


"Terimakasih karena telah menjaga Amara untukku," ucap Gio tulus pada Danis dan juga Karina. Sebagai permintaan maaf karena telah salah sangka pada Danis, maka Gio menawarkan diri untuk membantu pernikahan mereka. Pada awalnya Danis menolak, namun Gio bersikukuh.


"Aku tak bisa lama-lama di Boston karena Amara sudah sangat rindu pada Evan. Tapi, kami juga tak bisa pergi jika kalian belum menikah. Kami ingin melihat kalian bahagia." Ucapan Gio membuat Karina tersenyum. Binar bahagia terpancar dari matanya.


***


Hanya dalam waktu satu Minggu saja persiapan pernikahan Karina dan Danis sudah selesai disiapkan. Itu semua karena bantuan Gio tentu saja. Karina terlihat cantik dengan kebaya putih miliknya, sedangkan Danis terlihat tampan dengan jas hitam. Keduanya menikah dengan menggunakan telekonferensi pada keluarga mereka yang berada di Indonesia. Di hari bahagia itu, Gio menjadi salah satu saksi nikah dari pihak Danis.


"Sah ?"


"Sah !" sahut saksi dan juga para tamu yang hadir di sana. Danis dan Karina terlihat bahagia bersama. Keduanya mengumbar senyum manis di bibir mereka.


Amara pun tersenyum, ia sungguh merasa bahagia akan pernikahan Danis. Ia do'a kan kebahagiaan mantan tunangannya itu dengan tulus.


***


"Aku akan sangat merindukanmu, Ara," ucap Karina. Saat ini ia dan Danis tengah melepaskan kepergian Amara dan Gio di bandara.


"Aku juga, Karina. Aku akan datang mengunjungi kalian dengan anak-anakku nanti," sahut Amara. Keduanya saling berpelukan hangat sebelum berpisah.


"Terimakasih banyak," ucap Gio namun segera Danis memotong ucapannya.


"Aku lah yang seharusnya berterimakasih padamu," sahut Danis. Berkat Gio lah ia bisa menikahi Karina dalam waktu cepat. Bahkan Gio memberikan mereka paket bulan madu sebagai hadiah.


Danis dan Karina melambaikan tangannya. Gio dan Amara balas lambaian tangan itu, lalu keduanya berjalan menuju bagian khusus penumpang.


Senang dan cemas Amara rasakan secara bersamaan. Ia takut dengan reaksi Evan yang sudah lama tak bertemu dengannya, dan Amara juga takut akan reaksi orangtua Gio saat melihat kehamilannya. Amara takut jika mereka berpikiran buruk padanya. Tak hanya itu yang membuat Amara cemas, ia juga terus memikirkan apa yang harus dilakukannya saat nanti harus berhadapan dengan Dea.


Gio merangkul pundak Amara, seolah-olah tahu apa yang menjadi kegelisahan istrinya. "Tenanglah... semua akan baik-baik saja. Ada aku," ucap Gio seraya mencium puncak kepala Amara dengan penuh rasa cinta.


"Ada aku..." Amara senyum-senyum sendiri saat ia mendengarnya. Lalu lega ia rasakan kemudian. Ia lingkarkan tangannya di pinggang Gio. Amara yakin jika dirinya akan baik-baik saja jika Gio ada di sisinya.


To be continued ♥️


Mumpung Senin, vote yuuu.


Terimakasih.