Hate You, Love You

Hate You, Love You
Jalan-jalan



"sudah siap ?" Tanya Gio yang kini telah berganti baju. Ia mengenakan celana jeans robek dan kaos hitam polos yang begitu terlihat kontras dengan kulit bersihnya.


Gio terlihat sangat berbeda dari biasanya hingga Amara tak bisa berkata-kata. Ia melihat pada Gio tanpa berkedip. Selama ini Amara sibuk membenci Gio, membuatnya tak sadar jika sang suami memang mempunyai pesona. Tak heran jika Gio selalu menjadi pusat perhatian para wanita.


"Tak apa-apa aku pergi dengan pakaian seperti ini ?" Tanya Amara. Ia hanya mengenakan celana hamil yang longgar dan sweater hoodie ukuran besar yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Begitu berbeda dengan Gio yang terlihat begitu modis bagi ukuran seorang pria.


Gio mengambil kesempatan itu untuk bisa menatap dan memperhatikan Amara secara langsung. Suatu hal yang Gio impikan selama ini. Ia amati wajah cantik Amara dengan lekat, lalu menelisik penampilannya yang menurut Gio terlihat menggemaskan. "Kamu terlihat cantik seperti biasanya, tak kekurangan apapun," jawab Gio tanpa bisa mengontrol dirinya.


Amara terhenyak, ia merasa Gio hanya menghiburnya saja. "Cantik apanya ?" Tanya Amara sembari memutar bola matanya malas. Tanpa Gio tahu, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang.


Gio yang salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal itu. "Ta-tapi menurutku, kamu memang cantik Amara," jawab Gio.


Tak ingin terlalu larut dalam pembicaraan yang membuat perasaanya menjadi campur aduk, Amara memutuskan untuk segera mengajak Gio pergi. "Sebaiknya kita pergi,"


"Ayo !" Sahut Gio sambil tersenyum. Bahkan ia memainkan kunci mobilnya dengan penuh semangat. Keduanya berjalan beriringan. Walaupun tak ada jemari yang saling bertautan, tapi Gio merasa sangat senang.


Seperti biasa, Gio membukakan pintu mobilnya untuk Amara. Dan ia memastikan istrinya itu telah duduk dengan nyaman kursinya. Setelah itu, Gio berlari ke pintu mobilnya sendiri.


Lelaki itu tersenyum begitu masuk dan duduk ke dalam mobilnya. Gio terlihat bersemangat, layaknya anak remaja yang akan pergi berkencan.


"Mau pergi ke mall mana ?" Tanya Gio sambil melihat pada Amara. Lelaki itu benar-benar memanfaatkan kesempatan. Ia banyak menatap pada istrinya itu.


"Ke mall yang jaraknya paling dekat saja," jawab Amara seraya membalas tatapan mata Gio. Namun segera ia palingkan wajahnya karena ada sesuatu yang aneh yang Amara rasakan di hatinya.


"Oke baiklah, your wish is my command," (keinginanmu adalah perintah untukku) sahut Gio menyetujui.


Gio laju kan mobilnya dengan santai, ia menikmati momen kebersamaan dengan Amara yang tanpa perdebatan ini. Dan sumpah demi apapun, Gio sangat menyukainya.


Sedangkan Amara, ia menyibukkan diri dengan memperhatikan apa saja yang dilewatinya. Karena kini perasannya begitu kacau tak karuan. Ada suatu perasaan aneh yang menyelinap masuk ke dalam hatinya.


Hening di selama perjalanan, karena keduanya tak lagi saling berbicara. Untuk menyingkirkan kecanggungan itu, Gio berinisiatif untuk menyalakan radio. Tapi sialnya, sang penyiar tengah membahas tentang perasaan cinta. Gio pun segera mencari stasiun radio yang lainnya dengan gugup. Jatuh cinta memang bisa se-dahsyat itu, hanya karena duduk bersebelahan saja bisa membuat kita begitu salah tingkah.


Setelah beberapa belas menit berkendara, akhirnya Gio dan Amara tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup ternama di pusat kota Jakarta.


Lagi-lagi keduanya berjalan berdampingan, dan kali ini jarak yang tercipta di antara mereka tak terlalu kentara seperti biasanya. Bahkan Gio bisa rasakan beberapa kali lengannya bersentuhan dengan milik Amara karena dekatnya jarak mereka.


"Mau ke mana dulu ?" Tanya Gio.


Gio pun mengangguk menyetujui. Padahal ia bukanlah seseorang yang gemar membaca, tapi demi membuat Amara senang, maka Gio pun menurutinya.


Sesampainya di toko buku, Amara berkeliling mencari buku-buku yang sekiranya menarik perhatian. Banyak rak buku yang Amara datangi. Dimulai dari buku untuk kepentingan kuliahnya, hingga novel-novel tentang cinta.


Sedangkan Gio, ia berdiri di tempat buku tentang kehamilan. Ia mengambil sebuah buku dan membaca dalamnya. Gio terlihat serius mempelajari isinya.


Wajah Gio yang tampan dan penampilannya yang modis membuat lelaki itu terlihat seperti anak kuliahan. Tak heran jika kini ada dua gadis yabg berusaha berkenalan dengannya.


"Ambil jurusan ginekologi ?" Tanya salah satu gadis hingga membuat Gio melihat ke arahnya.


Ia mengira jika Gio adalah seorang mahasiswa kedokteran spesialis kandungan.


"Kamu bertanya padaku ?" Tanya Gio.


"Ya, sepertinya kamu serius banget bacanya,"


"Oooh, nggak. Aku bukan mahasiswa kedokteran," jawab Gio sambil kembali fokus pada bukunya.


"Oh ya ? Jadi kamu ambil jurusan apa ? Perawat ?"


Tanya gadis itu lagi tak ingin menyerah.


Amara yang tadinya sibuk di rak lain, datang mendatangi Gio. Ia ingin tahu apa yang sedang Gio bicarakan dengan dua gadis itu. "Aku udah selesai," ucap Amara, memotong pembicaraan Gio dengan gadis asing itu.


Gio pun mengambil buku yang tadi dibacanya untuk dibayar. "Ini istriku dan dia sedang hamil, makanya aku membaca buku ini," ucap Gio pada gadis yang berusaha mengajaknya berkenalan itu. Sang gadis terlihat terkejut, begitu juga Amara.


Amara tak percaya jika Gio mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis itu, Padahal Amara pikir gadis itu sangat cantik dan Gio pun pasti tertarik padanya. Namun ternyata ia salah.


selamat membaca dan semoga suka


jangan lupa vote yaa


terimakasih