Hate You, Love You

Hate You, Love You
Bagaimana Jika..



"Amara !" Panik Gio seraya membuka pintu kamarnya dan benar saja Amara tengah menyandarkan tubuhnya di dinding dengan kedua tangannya yang menahan perut. Wajah Amara meringis, menandakan ia tengah menahan rasa sakitnya.


"Pe- perutku terasa menegang dan sakit,"


Cepat-cepat Gio menahan tubuh Amara agar tak terjatuh dan memapahnya ke kursi yang letaknya paling dekat dengan mereka. "Apa mau melahirkan sekarang ? Bukannya masih beberapa Minggu lagi ?" Tanya Gio cemas.


Amara berjalan sambil berpegangan pada lengan Gio, sedangkan tangan lainnya menahan perutnya yang masih saja terasa sakit. "Entahlah Gio, aku pun tak mengerti," jawab Amara seraya dudukkan tubuhnya di kursi.


"Tunggu sebentar, aku akan membawamu ke rumah sakit !" Setelah memastikan Amara duduk dengan tenang, Gio pun berlari menuju kamarnya. Mencari kunci mobil miliknya dan segera mengenakan jaket.


Ketika kembali ke luar, Amara sudah di temani salah satu asisten rumah tangganya. "Bi, keperluan Amara untuk ke rumah sakit mana ?" Tanya Gio.


"Mau di bawa sekarang ?"


"Eemm tas keperluan Amara saja, Bi. Yang lainnya bisa menyusul nanti," jawab Gio dan sang asisten rumah tangga yang bernama Bik Marni pun segera bergegas menuju kamar Amara dan membawa satu tas yang Gio maksudkan.


"Tolong bawakan sampai mobil ya, Bik," titah Gio karena ia harus menggendong Amara, walaupun istrinya itu menolaknya tapi Gio tetap melakukannya, menggendong Amara hingga masuk ke dalam mobilnya dan memastikan istrinya itu sudah duduk nyaman di bangku penumpang. Hal yang selalu Gio lakukan setiap bepergian dengan Amara.


"Tasnya udah kan, Bik ?" Tanya Gio sebelum ia masuk ke dalam mobil.


"Sudah, Pak," jawab Bik Marni sambil anggukan kepala. "Semoga Bu Amara baik-baik saja ya," ucapnya cemas.


"Semoga... Saya pergi dulu ya," Gio pun masuk dan duduk di balik kemudi. Ia nyalakan mesin mobilnya dan menoleh pada Amara untuk melihat keadaannya.


Amara masih meringis sakit, dadanya berdebar cemas tak karuan. Ia merasa takut akan kelahiran putra pertamanya. "Kamu jangan khawatir... Semua akan baik-baik saja dan aku akan selalu berada di sampingmu," ucap Gio, dan Amara rasakan telapak tangan suaminya yang besar itu tengah mengacak puncak kepalanya.


"Ayo berdoa pada Tuhan agar semua berjalan lancar," lanjut Gio sambil tersenyum lembut pada Amara. Tak ada lagi ketegangan dalam nada bicaranya, tak seperti tadi.


Amara anggukan kepala, menyetujui. Gio pun menjalankan mobilnya dan pergi menuju rumah sakit tempat Amara selalu melakukan pemeriksaan kehamilannya.


Di sepanjang perjalanan, Gio selalu menolehkan kepalanya pada Amara. Memastikan istrinya itu baik-baik saja. "Sebentar lagi kita akan sampai, tahan ya," pinta Gio dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.


Amara tak menyahutinya, ia hanya anggukan kepala sebagai bentuk jawaban. Sikap Gio yang baik dan lembut membuat Amara semakin tersesat dalam labirin rasa yang tak ada ujungnya. Dan Amara tak suka itu. Ia tak mau tersiksa dalam perasaan yang tak menentu antara dirinya, Gio dan Danis.


Gio lajukan mobilnya secepat yang ia bisa, dan untungnya jalanan di tengah malam sangatlah lenggang hingga tak membutuhkan waktu lama, keduanya sampai di rumah sakit yang di tuju.


Setelah mobil Gio berhenti sempurna di tempat parkir yang letaknya tepat di depan unit gawat darurat. Ia pun keluar dari mobilnya dan berlari ke dalam, mencari seseorang yang mungkin bisa menolongnya.


Dua orang perawat datang dan membawakan kursi roda untuk Amara. Dengan bantuan ke dua orang perawat itu akhirnya Amara bisa memeriksakan diri.


***


"Apa istri anda kelelahan ?" Tanya salah satu perawat yang memeriksa Amara. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan seksama , Amara dinyatakan belum waktunya melahirkan.


"Sepertinya tidak, istri saya hanya kuliah sebentar dan siang juga sudah pulang," jawab Gio seraya memikirkan apa saja yang Amara lakukan hari ini.


"Atau mungkin istri anda tengah mengalami stress berat ?" Tanya perawat itu lagi.


Diamnya Gio diangggap sebagai kata "ya" oleh perawat yang bertanya tadi. "Stress dan beban pikiran yang berat bisa sangat berpengaruh pada bayi yang dikandung. Percaya atau tidak, bayi yang ada dalam kandungan itu bisa ikut merasakan apa yang ibunya rasakan. Hingga membuatnya tak tenang, pasokan oksigen berkurang, bahkan stress yang berlebihan bisa menyebabkan bayi lahir lebih cepat atau prematur," jelas perawat itu dan Gio hanya mendengarkan dengan perasaan cemas juga bersalah karena perdebatannya tadi dengan Amara.


Gio menyalahkan dirinya karena telah memacu rasa stress yang Amara rasakan saat ini.


"Sebaiknya di rawat inap dulu untuk melakukan pemeriksaan lanjutan," ucap perawat itu lagi.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk istriku," pinta Gio.


"Baiklah," sahutnya menyetujui.


***


Keadaan Amara jauh lebih baik dan ia sudah menempati ruang kamar rawat inap. Dan selama itu, Gio selalu menemaninya.


"Aku belum menghubungi ibumu karena takut beliau merasa cemas. Apa kamu ingin menghubunginya sekarang ?" Tanya Gio.


Amara melihat jam yang ada di ponselnya, menunjukan pukul 3 pagi. "Emmhh entahlah... Apa sebaiknya nanti siang saja ?" Amara malah balik bertanya pada suaminya itu.


"Ya sebaiknya nanti siang, agar Mama mu tak merasa cemas. Kamu tenang saja, karena aku tak akan membiarkanmu sendirian," sahut Gio, ia tersenyum lembut pada Amara. Berusaha menenangkan istrinya itu.


Deg !


Amara merasa debaran jantungnya kian kencang. Berduaan dengan Gio bukanlah sesuatu yang baik untuk dirinya saat ini. "sebaiknya kamu juga pulang, Gio. Besok pagi kamu harus bekerja,"


"Kamu lebih penting untukku," jawab Gio sejujurnya, ia tak sedang merayu.


Kata-kata Gio malah membuat Amara semakin merasa tak nyaman. "Gio, ku rasa sudah jelas apa yang aku katakan tadi padamu. Tak akan pernah ada apapun di antara kita,"


"Aku tahu," potong Gio cepat. "Mari kita lupakan apa yang tadi kita bicarakan. Aku tak mau menambah beban pikiran mu karena itu tak baik untuk anak kita. Sekarang beristirahatlah..,"


Amara anggukan kepala, menyetujui apa yang Gio sarankan. Ia pun memutar tubuhnya, membelakangi Gio yang duduk tak jauh dari ranjangnya.


Gio menarik nafas dalam, menatapi punggung Amara yang terbaring membelakanginya. Perasaannya pada Amara tak mau hilang juga padahal Amara terus-terusan menyerang mentalnya dengan banyak penolakan.


***


Gio terbangun dari tidurnya di atas kursi karena getaran ponsel Amara yang ada di atas nakas. Segera ia meraih benda pipih itu agar tak menganggu Amara yang baru saja bisa tertidur pulas.


Mata Gio menatap nanar pada nama lelaki yang tertera di sana. "Danis my fiancé" baca Gio pelan. Ia biarkan ponsel itu terus bergetar hingga akhirnya Danis memutuskan untuk mengakhiri panggilan itu, dan Gio pun meletakkannya kembali di atas nakas.


Tak lama, ponsel Amara bergetar lagi untuk kedua kalinya dan nama Danis kembali muncul di layar. Tiba-tiba saja, sebuah ide muncul di kepala Gio. Rasa cintanya pada Amara begitu menggebu. Hingga ia berpikir jika tak bisa mendekati Amara, bagaimana jika ia meminta Danis saja yang menjauh dari istrinya itu ?


bersambung..