
Nafas Gio memburu dan pendek-pendek. Dadanya terasa sesak bagaikan dihimpit oleh batu yang sangat besar. Pikirannya melayang pada Amara yang akan pergi meninggalkannya. Hingga ia berkendara tak tentu arah.
"Bagaimana bisa kamu lakukan itu padaku, Ara ? Kenapa ?" tanya Gio dalam hati.
"Apa tak cukup semua yang aku lakukan padamu ? Apakah kamu tak bisa mengerti sedikit saja perasaanku ? Apa tak bisa kamu rasakan bagaimana aku mencintaimu ??" Sederet pertanyaan berputar dalam kepala Gio. Membuat hatinya begitu remuk redam akan pertanyaannya sendiri. Tanpa Gio sadari, kedua matanya telah menjadi buram karena air bening mulai membasahinya.
Tak tahan lagi, Gio tepikan mobil dan memberhentikannya. "Aku mencintaimu, Amara !! Aku cinta kamu !!! Demi Tuhan... Aku sangat mencintaimu. Aaarrrgggghhhh..," ucap Gio lirih seraya tundukkan kepalanya di setir mobil. Ia sembunyikan wajahnya yang sudah basah.
Ini kali pertama Gio menangis karena seorang wanita. Dulu saat tunangannya berkhianat pun, Gio tak menangis lirih seperti ini. Memang Gio kecewa dan patah hati tapi lelaki itu tak sampai menangisinya.
Tapi sekarang, hati Gio terasa begitu hancur saat tahu Amara akan pergi. "Ya Tuhan... Apa aku begitu hina hingga tak pantas untuk Amara cintai ? Aku tahu, aku salah padamu Ara... Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tak mencintaimu... Ya Tuhan... Aku cinta kamu Ara.. aku cinta kamu..." Seandainya ada yang bisa mendengar erangan Gio, siapapun akan merasa iba pada lelaki itu.
Isakkan tangis Gio terdengar lirih dan erangannya yang menahan rasa sakit terdengar menyayat hati. Dan Gio nikmati itu sendirian.
Gio sandarkan tubuhnya di kursi, dan menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. Ia raup wajahnya yang frustasi. Lalu ia lajukan mobilnya kembali. Ia tak bisa terus tinggal di tempat asing itu seorang diri. Matahari mulai memancarkan warna jingga. Pertanda malam akan segera tiba.
***
Amara yang saat itu menerima panggilan telepon Danis harus segera mengakhirinya karena ia mendengar suara decitan ban yang begitu memekikkan telinga. "Danis, sudah dulu ya," ucapnya dan langsung ia menekan tombol berwarna merah di layar ponselnya.
Cepat-cepat Amara melihat ke arah jendela dan ia terkejut saat melihat mobil Gio berjalan keluar meninggalkan halaman rumah mereka. "Loh Gio ?" Tanya Amara terheran. Bukannya Gio seharusnya baru datang ? Tapi kenapa mobil lelaki itu malah pergi meninggalkan rumah.
Cepat-cepat Amara pergi keluar, dadanya berdebar kencang. Ia takut Gio mendengar perbincangannya dengan Danis di telepon tadi.
Ketakutan Amara semakin menjadi saat ia melihat beberapa kantung kertas yang terletak di atas meja. Amara yakin jika Gio yang membawanya. Lelaki itu memang selalu membelikannya oleh-oleh sepulang kerja.
Setengah berlari Amara pergi keluar dan mendapati Evan yang masih di gendong oleh susternya. "Mm.. Mbak, Bapak udah pulang ?" tanya Amara dengan dadanya yang berdegup kencang.
"Iya bu, tapi Bapak pergi lagi,"
"Kemana ?" tanya Amara lagi penuh tuntutan.
"Ngh.. nggak tahu, Bu. Bapak gak jawab apa-apa saat saya tanya,"
Wajah Amara terlihat tegang, bahkan nafasnya pun terdengar pendek-pendek. Susternya kira, Amara takut tak ada yang akan menjaga Evan karena Gio telah pergi. "Ibu jangan khawatir, biar saya yang akan menjaga Evan. Jadi ibu bisa belajar dengan tenang. Bila perlu saya akan membawa Evan ke ruangan belakang," Amara tak menjawab, karena bukan hal itu yang dirinya takutkan.
"Bu ?"
"Ah ya ? Saya hanya butuh waktu sekitar satu atau dua jam saja untuk belajar. Suster bisa jaga Evan ?" Amara balik bertanya. Terlalu memikirkan Gio membuat dirinya hilang fokus dan tak mendengarkan yang tadi susternya ucapkan.
"Tentu, ibu jangan khawatir," sahut suster Evan menyetujui.
Amara kembali ke dalam kamarnya, dan membuka buku yang harus ia baca. Tak hanya itu, Amara juga nyalakan laptop sebagai penunjang belajarnya.
Waktu telah berlalu satu jam lamanya tapi tak satupun yang Amara baca masuk ke dalam kepalanya. Ia terus menunggu suara mesin mobil yang datang di halaman rumahnya. Tapi apa yang Amara inginkan tak juga kunjung tiba. Bahkan Amara mencoba untuk menghubungi Gio dan menanyakan di mana lelaki itu berada. Tapi sayangnya ponsel Gio mati, tak bisa dihubungi.
"Bukannya ini yang terbaik Ara ? Jika Gio mendengarkan apa yang kamu bicarakan dengan Danis tadi, maka kamu tak usah bersusah payah untuk menjelaskan lagi padanya. Masalahmu telah selesai tentang Gio. Sekarang belajar lah yang benar agar kuliahmu lancar dan setelah itu pergi dari tempat ini dan lupakan semua yang sudah terjadi," ucap Amara pada dirinya sendiri.
Meskipun Amara berpikir seperti itu tapi nyatanya si hati tak mau tenang. Dadanya masih saja berdegup kencang saat memikirkannya.
Amara pergi ke luar kamar, hanya untuk memastikan jika Gio benar-benar belum pulang. Di tengah ruangan terdapat sang suster dan juga asisten rumah tangganya yang tengah membantu menjaga Evan.
Kedatangan Amara membuat Evan ingin bersama ibunya. Ia merengek ingin dipangku padahal Amara masih belajar.
"Jangan Sayang, mama masih belajar," ucap suster itu tapi Evan tetap merengek manja.
"Tak apa Sus, sini biar saya gendong sebentar." Amara pun meraih tubuh Evan dan menggendongnya. Tak lama setelah itu, ia mendengar deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumahnya.
Harap-harap cemas, Amara menanti pintu rumah terbuka. Ia terus menatap pintu itu dari kejauhan. Dadanya berdebar kian kencang saat gagang pintu itu bergerak dan di putar. Lalu setelah itu muncullah seorang lelaki yang sedari tadi Amara pikirkan.
Atmosfer diantara keduanya terasa berbeda. Baik Amara maupun Gio merasakan dada mereka yang berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Gio menarik nafasnya dalam, sebelum ia memutuskan untuk melangkah masuk. Ini adalah bagian dari hidupnya yang harus Gio hadapi meksipun rasanya begitu berat dan menyiksa. Dengan langkah pasti, Gio berjalan mendekati Amara yang sedang menggendong anak mereka.
"Maaf aku tak bisa menepati janji. Tadi ada yang tertinggal di kantor sehingga aku harus kembali ke sana," ucap Gio beralasan.
"Ta- tak apa-apa," sahut Amara dengan suaranya yang kecil dan bibirnya yang gemetar. Baru kali ini Amara terlihat gugup juga ketakutan di hadapan Gio.
"Terimakasih atas pengertianmu," ucap Gio.
"Sini sayang... Mama harus belajar," ucap Gio seraya mencoba meraih Evan dari pelukan Amara.
Tapi Evan yang sedang nyaman dalam dekapan ibunya itu tak mau beralih pada Gio.
"Kamu ganti baju saja dulu, biar Evan sama aku,"
Gio mengangguk paham, "baiklah tunggu sebentar," sahut Gio. Lalu ia pun pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Setelah itu ia pun kembali pada Amara karena kini gilirannya untuk menjaga sang buah hati.
***
Malam kian larut, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Amara yang masih terjaga dengan buku-bukunya merasa kehausan dan ia pun putuskan untuk mengisi botol minumnya yang sudah kosong di dapur.
Amara keluar dari kamarnya sambil mendesah pelan. "bego banget sih, Ara !" Maki Amara pada dirinya sendiri. Lama belajar tapi hanya sedikit saja yang menempel di kepalanya karena Gio terus-terusan hadir dalam pikirannya. Raut wajah sendu lelaki itu menghantui Amara sejak tadi.
"Ya Tuhan..," pekik Amara sembari menjatuhkan botol minumnya. Ia terkejut saat mendapati seorang lelaki jangkung yang berdiri tegap di kegelapan.
"Maaf membuatmu takut," kata Gio sembari menyalakan lampu di dapur. Lalu ia membungkukkan tubuhnya agar bisa meraih botol kosong Amara yang menggelinding ke arahnya.
Amara yang terkejut segera memalingkan wajahnya karena ternyata Gio hanya mengenakan celana panjang saja sambil bertelanjang dada.
Dadanya yang bidang dan otot-otot perutnya yang kencang terlihat begitu liat. Wangi maskulin menguar dari tubuh Gio yang setengah telanj*ng itu.
"Kamu mau minum juga?" Tanya Gio karena Amara malah berdiri sambil tundukkan kepala.
"Iya," jawab Amara singkat.
Gio membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari dalamnya. "Ini, jangan tidur terlalu malam. Tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Gio seraya menyerahkan botol itu pada Amara lalu ia beranjak pergi meninggalkan Amara sendiri.
Amara tatapi punggung lebar yang bergerak menjauh darinya. Hatinya berdebar kencang saat ia tatap tubuh Gio dari arah belakang. "Gio..," lirih Amara tapi Gio masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Lelaki itu hentikan langkahnya dan menatap pada Amara. "Ya ?" tanya Gio dengan mengerutkan dahinya.
"Gio... A- ada yang harus aku bicarakan denganmu," ucap Amara terbata.
Gio yang mendengar itu hanya menatap lurus pada Amara dengan bibir terkatup rapat. Matanya yang sendu tak bisa menyembunyikan rasa patah hatinya.
"A- aku...,"
"Aku tahu...," Potong Gio.
"Aku sudah tahu semuanya... Aku sudah tahu tentang rencana kepergianmu," lanjutnya lagi, membuat Amara terdiam terpaku di tempatnya berdiri.
"Lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan terima dan hargai semua keputusanmu," ucap Gio dengan jelasnya.
to be continued ♥️
sabar buibu sabar....