
"Mbak Ara, cepetan !! Mama udah manggilin dari tadi, ntar kesiangan loh !" Terdengar adik Amara mengetuk-ngetuk pintu kamar Amara sembari memanggil namanya.
"Tunggu sebentar !" Sahut Amara dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ia menyeka ujung bibirnya yang basah dengan beberapa lembar tisu.
Seperti hari kemarin, pagi ini pun Amara harus berjuang melawan rasa mualnya. Di tengah pikirannya yang kalut, Amara masih berusaha untuk tetap positif.
Tak mungkin dirinya hamil karena tantenya pun yang belum lama ini menikah harus menunggu berbulan-bulan lamanya agar dapat mengandung. Jadi tak mungkin jika dirinya langsung hamil karena sekali disentuh oleh Gio.
"Dasar lelaki bajing*n, sialllan, brengseek !!" Maki Amara berulang kali, saat ia ingat tentang pertemuannya kemarin dengan Gio.
Tubuhnya gemetar waktu Amara ingat jika Gio memanggil namanya. Sepertinya lelaki itu memang mengenalnya. Tapi bagaimana mungkin Gio akan ingat. Karena lelaki itu sangat mabuk saat melakukannya.
"Kamu gak hamil, Ara ! Kamu hanya butuh istirahat lebih banyak !" Ucap Amara pada dirinya sendiri. Ia lakukan itu sambil bercermin di kaca yang berada di atas wastafel kamar mandinya.
Amara amati pantulan bayangan dirinya sendiri. Terlihat begitu menyedihkan. Wajahnya pucat, dengan pipinya yang semakin tirus. Ia kehilangan banyak bobot tubuhnya setelah kejadian naas itu.
Ia akan makan sebanyak 3 sendok saja. Walaupun ibunya sudah banyak menasehatinya jika makan terlalu sedikit itu tak sehat. Tapi bagaimana lagi, Amara benar-benar kehilangan selera makan karena beban pikiran yang terus menyiksanya.
Amara mengaplikasikan bedak dan lipstik diwajahnya agar terlihat lebih segar. Ia lakukan itu agar ibunya tak merasa khawatir saat melihatnya.
"Maaf gak bantu siapin sarapan," ucap Amara sembari dudukan tubuhnya di kursi. Di sana sudah menunggu ayah dan juga adiknya yang akan pergi bersama-sama.
"Mual-mual lagi ?" Tanya sang Mama.
Ditanya seperti itu membuat jantung Amara berdebar kencang. Ia anggukan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Sungguh ia merasa ketakutan tentang sesuatu yang sangat dibencinya.
"Makanya jangan begadang terus !" Kali ini ayah Amara yang berbicara.
Lagi-lagi Amara mengangguk pelan. Mulutnya tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata.
"Nanti sore ke dokter saja,"
"Gak usah !" Amara memotong ucapan ibunya dengan cepat.
"Udah minum obat kok. Sebentar lagi juga sehat, kemarin juga seperti itu," lanjut Amara. Ia tak mau pergi ke dokter. Amara takut jika apa yang sangat dikhawatirkannya menjadi nyata.
"Ya udah, makannya dihabiskan. jangan hanya sedikit saja."
Amara kembali mengangguk menyetujui. Mati-matian Amara menahan rasa mualnya, dan berjuang menghabiskan sarapannya. Hanya agar kedua orangtuanya tak membawa dirinya ke rumah sakit.
***
"Terimakasih, Pa," ucap Amara seraya menutup pintu mobil ayahnya. Ia tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada lelaki yang kemarin ia temui.
"Huuuffttt," Amara menarik nafas lega saat tak mendapati apapun di sekitarnya. Amara segera keluarkan sweater hoodie dari dalam tas dan segera memakainya. Seperti biasa, ia tutupi kepalanya. Seolah bersembunyi dari dunia.
Amara tetap waspada, ia berjalan memasuki kampus dengan perasaan was-was. Takut jika Gio tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Kamu kenapa sih, Ra ? Ada yang ngikutin ?" Tanya Via sembari merangkul pundaknya dari arah belakang. Membuat tubuh Amara melonjak kaget.
"Ah kamu, Vi ! Bikin takut aja !" Sahut Amara seraya mengelusi dadanya yang berdegup kencang.
"Lagian gitu amat sih. Kenapa ?" Tanya Via lagi penasaran.
"Semalam nonton film thriller, jadi kebawa perasaan," jawab Amara beralasan. Tak mungkin ia menceritakan tentang ketakutannya bertemu Gio lagi.
"Ya ampun, Ra ! Kalau takut jangan nonton gituan lah ! Film horor sekalian," sahut Via sambil terkekeh geli.
Amara pun tersenyum menanggapinya. "Kamu gak tau,Vi. Yang aku hadapi lebih nyeremin dari film horor," batin Amara dalam hatinya. Ya bagi Amara ketakutannya akan hamil dan bertemu Gio lagi lebih menyeramkan dari segalanya.
***
"Sudah hampir pukul setengah 6, kita mau tutup Mbak," ucap seorang wanita yang bertugas di sana.
"Astaga ! Maaf...," Sahut Amara. Ia merasa tak enak hati karena seharusnya perpustakaan itu Pukul lima sore. Petugas itu pasti menunggu dirinya yang keasyikan mengerjakan tugas.
Cepat-cepat Amara bereskan meja, dan mengembalikan beberapa buku ke tempatnya yang semula. Seperti tadi pagi, Amara pun kembali me menutup kepalanya dengan tudung. Ia lakukan itu sebelum keluar dari ruang perpustakaan itu.
Suasana kampus sudah mulai sepi karena sebagian besar siswa dan para stafnya telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Cepat-cepat Amara langkahkan kakinya menuju halte bis yang letaknya berada tak jauh dari gerbang kampusnya.
Tubuh Amara tersentak saat ia melihat seorang lelaki yang dikenalinya duduk bersandar di atas mobilnya. Amara langsung tundukkan kepalanya saat lelaki itu melihat ke arahnya.
" Ya Tuhan... Kenapa dia ada di sini ?" Tanya Amara dalam hati. Jantungnya kini bekerja ekstra karena ketegangan yang Amara rasakan saat ini.
Amara terus berjalan dengan kepala tertunduk, mengabaikan keberadaannya. Dalam hatinya, Amara terus meyakinkan diri jika Gio tak mungkin datang untuk menemuinya.
Gio terus amati gerak-gerik Amara. Dan ia memanggil nama Amara saat gadis itu melintas di hadapannya. "Amara !" Sapa Gio, tapi Amara mengacuhkannya.
"Amara !" Gio memanggil nama gadis itu lagi seraya berjalan di belakangnya.
Amara sedikit tolehkan kepala, sadar jika Gio mengikutinya, Amara pun mempercepat langkahnya. Ia ingin segera keluar dari area kampus dan tiba di halte yang tentunya banyak orang di sana.
"Amara, tunggu !" Sapa Gio lagi. sekarang lelaki itu setengah berlari menghampirinya.
"Amara !!!" Ucap Gio sembari menahan lengan Amara agar menghentikan langkahnya.
Deg !
Debaran jantung Amara kian kencang saja saat telapak tangan Gio menahan lengannya. Tepat seperti kejadian sebulan yang lalu. Tangan itu juga menahan lengannya di atas kepala.
"Tunggu, kita harus bicara !" ucap Gio dengan nafas terengah-engah, semakin membuat Amara teringat akan malam naas itu. Nafas Gio juga memburu saat menindihnya.
"Maaf, tapi saya tak mengenal, Anda ! Jadi, tak ada hal penting yang harus dibicarakan," sahut Amara sembari menghempas tangan Gio dengan kasar dari lengannya. Setelah terlepas, Amara pun kembali melanjutkan langkahnya.
Gio tak menyerah, ia terus mengikuti langkah Amara. "Tentu saja kita saling mengenal, Amara Mahreen. Kamu yang mengantarkan secangkir minuman ke kamarku kan ?" Tanya Gio.
"Sepertinya anda salah orang. Saya bahkan tak tahu di mana anda tinggal," sahut Amara sambil terus berjalan tergesa.
"Ibuku yang menyuruhmu untuk mengantarkan secangkir minuman hangat untuk aku yang sedang kacau malam itu. Aku hanya ingin memastikan jika kita...,"
"Tak ada apa-apa diantara kita !" Potong Amara cepat.
"Saya tak mengenal Anda, begitu juga sebaliknya," lanjut Amara sembari menengadahkan kepalanya. Memberanikan diri untuk menatap Gio yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya.
"Jadi jangan ganggu saya lagi !" Ucap Amara seraya kembali melangkahkan kakinya untuk pergi.
Tapi lagi-lagi Gio menahan lengan gadis itu. Lalu ia keluarkan tanda pengenal yang bertuliskan nama Amara. "Lalu kenapa ini ada di dalam kamarku ?" Tanya Gio sembari menatap lekat wajah Amara.
Mata Amara membola, menandakan ia tengah terkejut saat ini. Dengan beraninya amara menjinjitkan kakinya, lalu merebut tanda pengenal itu dari tangan Gio. Setelah mendapatkannya Amara berjalan menuju tempat sampah dan melemparkan benda itu ke dalamnya.
"Itu hanya sampah ! Tak ada artinya sama sekali. Jadi tolong... Jangam temui saya lagi," ucap Amara seraya berjalan tergesa menuju halte dan menaiki bis yang kebetulan baru saja tiba.
Gio menatap kepergian Amara dengan tak percaya. Setelah bis yang dinaiki gadis itu tak lagi terlihat, Gio berjalan menuju tempat sampah dan mengambil kembali tanda pengenal yang tadi Amara buang.
Melihat reaksi Amara yang seperti itu membuat Gio yakin jika dirinya telah menyakiti gadis itu. "Maaf," gumam Gio pelan.