Hate You, Love You

Hate You, Love You
Menuju Makan Malam ke Dua



Malam itu keduanya merasakan euforia bahagia yang tak biasa. Membuat Amara dan Gio sulit untuk tidur di ranjang mereka masing-masing. Gio terus tersenyum, begitu pun Amara yang beberapa kali melengkungkan senyumnya tanpa sebab. Ini semua dikarenakan makan malam mereka tadi. Dan herannya Evan pun tak rewel sama sekali, seolah-olah sangat mendukung kedua orangtuanya untuk berkencan.


Apa yang Amara katakan tadi, tentang mengiyakan ajakan Gio adalah benar adanya. Ia tak akan menolak jika Gio memintanya untuk makan malam bersama lagi. Mungkin tak hanya makan malam saja, makan siang atau pergi menonton pun Amara bersedia melakukannya.


"Aargghhh mengapa semuanya menjadi begini ?" Tanya Amara pada dirinya sendiri. Bahkan ia lupa untuk menyalakan daya ponselnya lagi sejak kepulangannya dari restoran tadi. Sudah dipastikan Danis akan merasa kebingungan karena tak bisa menghubunginya.


Tapi..


Amara pun tak berniat untuk menyalakannya lagi. Untuk saat ini ia ingin menikmati momen euforia tak biasa ini seorang diri.


***


"Selamat pagi," sapa Amara lebih dulu pada Gio, dan lelaki itu langsung menyambutnya dengan sebuah senyuman dan mata berbinar. Gio terlihat begitu segar pagi ini. Rambutnya masih setengah basah, dan wangi maskulin has pria dewasa mnguar dari tubuhnya.


"Pagi," jawab Gio sembari berjalan mendekati Amara yang sudah duduk di ruang makan dengan Evan di pangkuannya. Gio bungkukkan tubuhnya dan mencium Evan dengan gemas.


Tapi ada seseorang yang dadanya berdebar kencang saat Gio mendekat. Memandang Gio dari jarak yang begitu tipis membuat jantung Amara bekerja dengan extra. Amara bisa lihat pipi Gio yang licin sehabis bercukur, dan rambut setengah basahnya membuat Gio terlihat lebih... Tampan ?


"Ya Tuhan...," Amara gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan berulang kali. Mengusir pikirannya tentang sang suami.


"Ada apa ?" tanya Gio.


"Ng- nggak, aku hanya sedang memikirkan tugas kampus," jawab Amara asal.


Mendengar hal itu, Gio pun teringat akan sesuatu.


"Apa hari ini sibuk ? Mama mengadakan makan malam di rumah sebagai tanda keberhasilan ku. Aku ingin kamu datang ke sana menemaniku, bagaimana ?"


"Sure... Jam berapa ? Biar aku pulang cepat dari kampus," jawab Amara. Entah mengapa dadanya berdebar lebih kencang lagi. Amara kembali teringat tentang semalam.


"Pukul 7 kita berangkat dari rumah. Nanti sore biar aku yang menjemputmu pulang," jawab Gio dan Amara pun menyetujuinya.


***


"Amara, dari mana?" tanya salah satu teman sekelasnya itu. Ia melihat terheran pada Amara yang datang terlambat untuk mengikuti kelas siang. Tak seperti biasanya Amara seperti itu, karena ia hampir tak pernah melakukannya.


"Aku ada sedikit urusan dulu," jawab Amara sembari mendudukkannya bokongnya tepat di sebelah sang teman. Ransel Amara yang menggembung membuat teman itu bertanya lagi.


"Kamu bawa apaan, Ara ? Perasut terbang ?"


Amara tersenyum dengan kedua pipinya yang memerah. Di dalam tasnya itu terdapat sebuah mini dress yang baru Amara beli di pusat perbelanjaan. Itulah yang menyebabkan Amara datang terlambat ke kelasnya. Jam istirahatnya Amara gunakan untuk mencari dress terbaik yang akan dikenakannya nanti malam.l


Dress hitam yang panjangnya sebatas lutut dan berkerah Sabrina menjadi pilihan Amara. Ia rela membeli gaun itu walaupun harus mengocek kantong cukup dalam. Dan tak hanya itu saja, Amara pun membeli sepatu berhak 3 cm untuk menunjang penampilannya. Ini adalah kali pertama Amara menyiapkan segala sesuatunya dengan matang sebelum melaksanakan kencan. Bahkan dengan Danis pun Amara tak pernah melakukannya.


"Ini bukan kencan, Amara !!! Ini hanya makan malam biasa dengan keluarga Gio. Seharusnya kamu membersihkan pikiranmu itu ! Dasar b*doh," Amara merutuki dirinya sendiri.


"Kencan ? Memangnya kamu mau pergi berkencan dengan Gio ? Menghabiskan waktu berdua dengannya sebagai kekasih ?"


Blush ! Pipi Amara menjadi merah hanya karena pikirannya sendiri.


"Amara, apa kamu baik-baik saja ? Pipimu memerah, apa kamu demam ?" Tanya sang ibu dosen yang ternyata kebetulan melihat ke arahnya.


Amara gelagapan, tiba-tiba saja ia kesulitan untuk menjawab. Tak mungkin jika Amara mengatakan bahwa dirinya tengah memikirkan Gio. "Mmmh... Saya tak apa-apa, Bu. Hanya kepanasan saja karena baru datang dari luar," jawab Amara salah tingkah. Untungnya jawaban Amara masuk di akal, hingga sang dosen tak bertanya lagi.


***


Sore harinya Amara sudah berdiri di pinggir jalan. Menunggu Gio, ditemani beberapa orang temannya. Tak lama mobil hitam Gio pun menepi. Salah satu yang Amara suka dari lelaki itu karena Gio selalu menjemputnya tepat waktu.


Gio membuka pintu mobilnya dan Amara pun masuk ke dalamnya. Sebelum pergi, Gio pun menurunkan kaca jendela mobilnya itu dan mengucapkan terimakasih pada teman-teman Amara yang telah menemani istrinya itu. Satu hal lagi yang membuat Amara suka. Gio memang seseorang yang baik hati. Ia selalu menghargai kebaikan orang lain.


Melihat tas ransel Amara yang menggembung tak membuat Gio bertanya padanya. Ia tahu jika istrinya itu selalu mengerjakan banyak tugas jadi itu merupakan hal yang biasa baginya.


***


"Baiklah..," sahut Amara menyetujui. Ia pun sudah tak sabar untuk bersiap-siap dan mengenakan dress hitam baru miliknya.


Setelah selesai menyiapkan Evan, Amara pun segera bergegas ke kamarnya. Ia membersihkan diri agar lebih segar. Dan dengan perasaan antusias senang, Amara pun bersiap.


Dress hitam itu begitu sempurna membelit tubuh ramping Amara. Warnanya sangat kontras dengan kulit Amara yang putih mulus. Amara juga merias wajahnya dengan sentuhan natural. Rambutnya yang panjang, ia biarkan terurai.


Malam ini susternya pun ikut, membuat Amara akan mendapatkan bantuan untuk menghandle Evan. Oleh karena itulah Amara berani tampil beda malam ini.


Amara keluar bersamaan dengan Gio yang juga baru keluar dari kamarnya. Tubuh lelaki itu terasa lemas karena terpesona oleh kecantikan istrinya. Sampai-sampai Gio harus bersandar di pintu kamarnya yang kini sudah tertutup sempurna karena terdorong tubuhnya.


"Oh wow..," decak kagum tak bisa Gio tahan dari mulutnya, membuat Amara menjadi salah tingkah.


"Kamu cantik sekali, Amara. Kamu adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui," ucap Gio lagi. Sungguh ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Amara menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup. Di puji seperti itu saja sudah membuat jantung Amara berdebar dengan kencang. Ia tak menyangka jika Gio akan memberikan respon seperti itu.


"Ka- kamu terlalu berlebihan Gio," sahut Amara terbata.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Amara. Kamu satu-satunya wanita yang paling cantik di mataku," jawab Gio, membuat atmosfer diantara keduanya menjadi berubah.


Gio menatap Amara dengan matanya yang sayu dan penuh damba. Jika seandainya bisa, Gio lebih baik memilih untuk tidak pergi makan malam di kediaman orang tuanya. Ia akan membawa Amara ke dalam kamarnya dan memberikan banyak ciuman pada istrinya itu.


"Pak, mobilnya sudah siap," ucap mbok Marni sang assiten rumah tangga. Membuat Gio teradar dari pikirannya tentang Amara.


"Ayo kita pergi, nanti terlambat," ajak Gio dengan berat hati dan Amara pun menurutinya.


***


Di dalam mobil, Evan tak ingin dipangku oleh Amara ataupun Gio. Bayi tampan itu betah di atas pangkuan susternya yang duduk tepat di sebelah sang supir. Membiarkan ayah ibunya berduaan di bangku belakang.


Gio tak bisa lepaskan pandangannya dari Amara. Beberapa kali ia mencuri pandang pada istrinya itu. Sedangkan Amara semakin gugup saja dibuatnya.


Amara meletakkan tangannya di atas kursi, dan Gio pun melakukan hal yang sama hingga jemari mereka saling bersentuhan pelan.


Sentuhan-sentuhan halus itu mengalirkan gelenyar aneh dan menyenangkan ke hati mereka masing-masing. Ingin rasanya Gio menggenggam tangan Amara, tapi ia tak mau bersikap agresif dan membuat Amara takut padanya. Gio yakin trauma Amara karena dirinya pastilah belum hilang dengan sempurna.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di rumah mewah orang tua Gio. Rumah di mana malam naas itu terjadi.


Tepat seperti dugaan Gio, rasa trauma Amara belum juga hilang. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah tegang.


"Apa mau pulang lagi ? Aku akan carikan alasan pada Mama mengapa kita pulang," tanya Gio.


"Mmhh tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja,"jawab Amara. Walau bagaimanapun, rasa traumanya itu harus ia lawan agar dirinya tak selalu merasa dihantui bayangan kelam masa lalu.


"A- aku...," wajah Gio memelas penuh rasa bersalah.


"Aku tak apa-apa, Gio. Sungguh," potong Amara.


Lalu keduanya pun turun dari mobil, diikuti sang suster yang menggendong Evan.


"Loh kok masih sepi," tanya Gio sembari melihat pada jamnya. Seharusnya yang datang tak hanya ia dan Amara saja, tapi ada paman dan juga beberapa orang lainya termasuk Dea.


"Mungkin mereka masih diperjalanan," sahut Amara.Gio anggukan kepalanya pelan dan ia pun menekan bel rumahnya itu.


Tak lama, pintu bercat putih dan emas itu pun terbuka dan seorang gadis cantik menyambut kedatangan mereka. "Hai, selamat datang," ucap Dea dengan senyumnya yang lebar.


bersambung ♥️