
Amara jelaskan semua pada ibunya dengan perlahan dan begitu rinci. Ia lukiskan bagaiman pergulatan batin yang dialaminya selama ini. Bagaimana rasa bersalahnya yang besar pada Danis terus menghantuinya. Meski di sisi lain Amara pun mulai merasa ada ikatan batin dengan sang anak, tapi ia tak bisa untuk mengkhianati Danis untuk yang kedua kalinya. Sebisa mungkin Amara membuat sang ibu memahami posisinya saat ini.
Ibu Amara mendengarkan penjelasannya anaknya itu dengan seksama. Mencoba untuk mengerti tanpa menghakimi. Jika dilihat dari sisi seorang ibu, apa yang Amara lakukan dengan memilih Danis dibandingkan anaknya sendiri adalah sesuatu yang tidak benar. Tapi ia pun berusaha menempatkan dirinya sebagai Amara secara logika. Dan memamg Amara dalam posisi yang teramat sangat sulit.
Anaknya itu telah berjanji pada seorang lelaki untuk merajut mimpi bersama. Dan si lelaki itu masih akan menunggu Amara walaupun ia tahu tentang tragedi yang menimpa tunangannya itu. Danis mau menerima Amara meskipun ia sudah tak lagi suci. Bahkan dengan berbesar hati Danis mau menerima kehadiran anak Amara. Tapi tentunya hal itu tak mungkin terjadi karena Gio pasti akan mempertahankan Evan untuk tetap bersamanya.
"Posisiku begitu sulit, Ma. Dan tak mungkin aku meninggalkan Danis yang masih menungguku dengan setia. Bukankah dalam hidup itu harus ada yang dikorbankan ?" Tanya Amara dengan bercucuran air mata.
" Tapi Evan... Percayalah... Evan D tak akan menjadi korban. Ia akan dicintai oleh banyak orang walaupun aku tak lagi di sisinya. Ada Gio yang sangat mencintainya, ada oma opanya ( orangtua Gio) yang begitu menyayanginya. Ada kalian sebagai kakek neneknya, yang Amara yakin pasti akan selalu menyayanginya. Bahkan Dea pun sangat mencintai Evan bagai anaknya sendiri. Dea akan dengan senang hati untuk membantu menjaga Evan jika aku tak ada," jelas Amara lagi. Panjang lebar ia berkata-kata agar sang ibu mengerti tentang pilihannya.
Ibu Amara menarik nafasnya dalam-dalam. Sungguh ia pun kebingungan bagaimana harus memberikan nasihat pada anak perempuannya itu.
"Aku yakin Gio pun akan segera menemukan wanita pengganti aku. Ia bisa mendapatkan wanita seperti apapun yang dia mau,"
"Bagaimana jika Gio jatuh cinta padamu ?"
"Itu tidak mungkin, Ma !" sanggah Amara.
"Kenapa tidak mungkin ? Lihatlah bagaimana sikapnya yang begitu baik, sabar dan pengertian padamu, Ara."
Amara gelengkan kepalanya pelan. "Gio tak jatuh cinta padaku, Ma. Yang dia lakukan hanya karena rasa bersalahnya yang besar. Ia bersikap baik untuk menebus dosanya yang besar terhadapku," jawab Amara penuh penyangkalan.
Hening...
Baik Amara maupun ibunya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Amara sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan, sedangkan sang ibu sudah tak punya cara untuk membujuk anaknya itu.
"Ini adalah hidupmu, Amara. Keputusan ada di tanganmu. Semoga pilihanmu tepat hingga menguntungkan banyak pihak. Tentang Evan, tentu saja kami akan terus mencintainya apapun yang terjadi. Dan semoga Gio mendapatkan seorang gadis yang baik yang maju menerima dan juga menyayangi Evan dengan segenap hatinya,"
"Hu'um kurasa Gio akan mendapatkannya. Evan anak yang manis siapa pun akan jatuh cinta padanya," sahut Amara menimpali.
"Apa Gio sudah tahu tentang rencanamu ?" Tanya sang ibu penuh selidik.
Amara pun gelengkan kepalanya pelan, "belum Ma," jawab Amara.
"Sebaiknya Gio segera diberi tahu, agar ia tak terkejut ketika kamu tiba-tiba harus pergi. Dengan begitu Gio juga bisa mencari penggantimu secepatnya," ucap ibu Amara dengan serius.
Amara anggukan kepala menyetujui, meskipun ada sesuatu yang tiba-tiba saja mengganggu pikirannya.
***
Sudah beberapa Minggu berlalu sejak Amara mengungkapkan niatnya untuk pergi. Kenyataan itu menganggu pikiran orang-orang terdekatnya, termasuk Dea. Mati-matian gadis itu memendam perasaannya pada Gio. Tapi mengetahui jika Amara akan meninggalkan lelaki itu, membuat perasaan Dea pada Gio semakin dalam. Apa lagi kebaikan Gio yang luar biasa, menjadikan Dea semakin terpesona padanya.
"Its a wrap !!! Akhirnya beres juga... Aargghhh !!!" erang Gio terdengar puas. Wajah lelaki dengan rambutnya yang sedikit panjang itu berbinar bahagia. Sebuah projek besar yang di tugaskan oleh ayahnya, bisa Gio selesaikan dengan sempurna. Gio yakin jika kepercayaan sang ayah padanya akan mulai kembali.
"Alhamdulillah..," desah Gio terdengar lega. Senyuman terus menghiasi bibirnya yang tipis. Lalu lelaki jangkung itu berdiri dan berjalan menuju meja Dea.
"De, makasih banyak loh udah bantuin aku. Aku berhutang banyak sama kamu !" ucap Gio sungguh-sungguh. Dan apa yang Gio katakan memang benar adanya. Dea sangat membantu pekerjaannya, bahkan gadis itu rela bekerja lembur hanya untuk membantunya.
"Nanti... Kalau bonus aku keluar, uangnya aku bagi dua denganmu karena kamu memang berhak untuk mendapatkannya. Thanks ya !" ucap Gio seraya kembali memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Dea.
Dea menatap punggung kokoh yang bergerak menjauh itu. Tanpa berpikir panjang, gadis itu berdiri dan memanggil nama Gio dengan lantang.
"Gio !"
Merasa namanya dipanggil, Gio pun hentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara. Pandangan matanya kini beradu dengan Dea yang menatapnya dengan tatapan mata yang tak bisa Gio artikan.
"A- aku tak mau uang honus mu. Ku rasa kamu lebih memerlukan itu untuk biaya rumah tanggamu," ucap Dea yang tahu bahwa Amara meminta sejumlah uang imbalan karena mau menyusui anaknya.
Gio terdiam, dan yang Dea katakan memang benar adanya. Dirinya harus bekerja keras untuk bisa memenuhi janjinya pada Amara.
"Tapi aku berhutang banyak padamu," kata Gio.
"Kamu tetap berhak untuk mendapatkan-,"
"Ajak aku makan malam !" Potong Dea cepat.
"Hah ? Apa ?" Gio bergumam pelan.
"Dulu kamu berjanji akan mentraktirku makan. Maka ku tagih janji itu sekarang. Anggaplah itu sebagai imbalan yang kamu berikan untukku,"
"Kamu yakin ?" Tanya Gio memastikan.
"Ya seribu persen yakin !"
"Baiklah, kita ajak om-,"
"Hanya kita berdua, Gio ! Janjimu waktu itu hanya akan mentraktirku seorang saja !" Potong Dea cepat.
Gio pun ingat dengan janjinya di waktu dulu. Saat itu Dea membelikannya makan siang karena Gio yang terlalu sibuk bekerja. Dan Gio berjanji akan balas mentraktirnya di lain hari.
"Gio ?"
"Hmm ?"
"Bagaimana ?" Tanya Dea memastikan.
Gio pun tersenyum dan anggukan kepalanya sebagai jawaban. "Ok, kita akan makan malam,"
To be continued
Thanks for reading ♥️