Hate You, Love You

Hate You, Love You
Aku Mencintaimu



Belaian lembut jemari Gio di rambutnya membuat tubuh Amara menggeliat pelan. Bahkan ia sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya. Sentuhan halus seringan bulu yang diberikan Gio, membuat Amara begitu nyaman.


Gio tersenyum melihatnya, dengan perlahan ia duduk kan tubuhnya tepat di samping Amara dan memperhatikannya tidur. Gio nikmati pemandangan indah di hadapannya. Wajah cantik Amara yang bisa ia tatap dengan puas tanpa rasa marah dari si pemiliknya. Dada Gio berdebar kencang dan darahnya berdesir hangat hanya karena melihat Amara tertidur pulas.


Cukup lama Gio lakukan itu, memperhatikan Amara dalam tidurnya. Dan rasanya Gio tak pernah puas. Tapi, ia harus segera pulang karena Evan ditinggalkan di rumah. Meksipun enggan, akhirnya Gio membangunkan Amara dari tidurnya.


"Amara... Amara... Ayo bangun Sayang..," ucap Gio sembari mengguncang pelan bahu Amara yang masih asik menyelami alam mimpi.


"Amara... Sudah sore dan Evan aku tinggalkan di rumah, ayo bangun !" lanjut Gio.


"Amara... Amara..." Dalam tidurnya Amara mendengar suara Gio yang mendayu merdu di telinganya. Amara sangat suka jika lelaki itu memanggil namanya. Gio selalu melakukannya dengan lembut. Meski dalam keadaan marah, Gio hampir tak pernah berbicara dengan intonasi suara tinggi. Padahal Amara selalu ketus padanya.


Ya Tuhan... Amara sangat suka saat Gio menyebutkan namanya.


"Amara..." Makin lama suara itu terasa semakin nyata. Amara yang masih ingin tinggal di alam mimpinya terpaksa membuka mata. Padahal ia sangat ingin tinggal di sana lebih lama.


Amara bermimpi tentang Gio dan Evan. Mereka hidup bahagia layaknya keluarga yang normal. Dalam mimpinya itu, Amara dan Gio juga Evan pergi berpiknik ke suatu taman. Gio mengejar-ngejar Evan yang sudah mulai bisa berjalan, sedangkan Amara menunggu di atas tikar dengan perbekalan mereka. Amara tak bisa ikut mengejar Evan karena perutnya yang besar.


Dalam mimpinya itu matahari bersinar cerah, angin berhembus pelan. Suara daun yang saling bergesekan terdengar merdu. Tapi dari semua itu, yang paling indah adalah adanya Evan dan Gio yang berlarian sambil tertawa-tawa. "We love you, Mama," ucap keduanya dari kejauhan sembari membuat simbol cinta dengan jari mereka.


Tak hanya itu saja, tapi Gio juga melayangkan sebuah ciuman jauh untuknya. Membuat Amara melengkungkan senyumnya sembari mengusap perutnya yang buncit. Ada anak ke dua mereka di dalamnya. Ia tumbuh bahagia dan penuh cinta.


Bagaimana mungkin tak penuh cinta ? Gio selalu memperlakukan Amara bagai ratu Jika ia sedang hamil. Amara yakin jika Gio akan melakukan hal yang sama saat Amara mengandung anak kedua mereka.


Tapi kini mimpi itu telah berakhir karena Amara harus kembali ke dunia nyata. "Gi- Gio ?" Tanya Amara dengan suaranya yang serak. Ia pun mengerjap, menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam matanya. Dan Amara tak percaya jika Gio benar-benar berada di sana.


"Se- sedang apa di sini ?" Tanya Amara sembari bangkit dan kemudian duduk di atas ranjangnya. Ia tak menyangka jika lelaki yang ada hadir si mimpinya tadi kini berada tepat di hadapannya.


"Sudah ku katakan tadi, aku akan menjemputmu. Jadi.. disinilah aku sekarang. Tak mungkin aku membiarkanmu pulang sore sendirian," jawab Gio.


Gio memang seperti itu. Tak hanya saat Amara hamil saja Gio memperlakukan Amara bagai ratu, tapi setelahnya pun Gio tak berubah. Sebisa mungkin ia akan mengantar jemput Amara hanya untuk memastikan istrinya itu dalam keadaan aman.


"Maaf aku terpaksa membangunkanmu. Aku meninggalkan Evan di rumah, jadi sebaiknya kita segera pulang," jelas Gio.


Evan ? Amara pun ingat sesuatu. "Mmhh bukannya a- ada Dea di rumah?" Tanya Amara dengan hatinya yang terasa begitu ngilu.


"Tidak, Dea sudah pulang. Aku baru saja mengantarnya sebelum datang menjemputmu," jawab Gio, dan itu membuat hati Amara lebih ngilu lagi.


Mendengar Gio mengantarkan Dea pulang, menyadarkan Amara jika lelaki itu kini sudah menjadi milik sepupunya. Mati-matian Amara menekan perasaannya sendiri.


"Ooh begitu," sahut Amara dengan senyumnya yang canggung. Padahal yang sebenarnya terjadi senyum itu untuk menutupi kesedihannya saat ini.


Susah payah Amara menahan diri agar tak terpancing emosi.


"Iya," sahut Gio singkat. Ingin rasanya Gio bertanya pada Amara karena istrinya itu tadi memanggil namanya berulang kali. tapi Gio tak bisa lakukan itu karena Amara terlihat sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.


"Jadi... Ayo kita pulang," ajak Gio lagi dan Amara pun menyetujuinya.


***


Setelah hari itu Amara menyimpan perasaan cintanya dalam hati sendirian. Amara semakin tersiksa saat dirinya berada di dekat Gio. Rasa euforia jatuh cinta dan juga patah hati Amara rasakan secara bersamaan.


Setiap pagi dadanya akan berdebar kencang hanya karena akan bertemu dan sarapan bersama dengan lelaki yang kini menguasai hati dan pikirannya itu. Tapi lagi-lagi Amara menyembunyikan perasaannya dengan bersikap biasa saja dan sungguh itu membuat Amara merasa begitu tersiksa.


Tak hanya Amara yang tersiksa, Gio pun merasakan hal yang sama. Di kantor Dea semakin gencar mendekatinya. Bahkan kini keduanya kerap makan siang bersama. Semenyenangkan apapun sikap Dea, tapi yang Gio lihat dalam mata gadis itu adalah bayangan Amara.


Gio selalu membayangkan Amara lah yang ada dihadapannya dan itu membuat perasaan Gio kian tersiksa.


***


Rencananya Mama Gio akan membuat perayaan hari ulang tahun Evan berbarengan dengan hari perpisahan Amara.


Ya...


Amara memutuskan untuk cepat-cepat pergi ke Boston. Tapi kali ini alasannya bukan karena Amara ingin segera bertemu Danis, sang tunangan. Tapi karena Amara sudah tak kuat lagi menekan perasaannya pada Gio yang semakin menyiksa. Rasa cintanya kian bertambah padahal Amara sadar jika Gio tak mungkin jadi miliknya.


***


Perayaan ulang tahun Evan dan juga hari perpisahan Amara dilangsungkan di rumah orangtua Gio. Acara itu berlangsung dengan meriah. Tak ada yang tahu jika di balik wajah Amara yang ceria, terdapat hati yang sangat terluka. Apalagi Dea sangat aktif mendekatkan dirinya pada keluarga Gio.


Seperti saat ini, Amara hanya duduk di sudut ruangan sambil meminum segelas air soda. Sedangkan Dea memangku Evan bersama Gio di depan sana. Bersiap-siap untuk meniup lilin.


Amara tersenyum sambil ikut menyanyikan lagu ulangtahun, padahal di dalam hatinya ia menangis pilu. Bahkan Amara diam-diam mengeringkan ujung matanya yang mendadak basah.


Ketika semua orang sibuk menyanyi, Gio malah terdiam dan melihat pada Amara. Walaupun Dea berada di sebelahnya tapi Amara lah yang Gio inginkan. Ia pun meminta pada semua untuk berhenti bernyanyi.


Gio berjalan kepada Amara dan memintanya untuk bergabung di depan bersama Evan juga Dea. Pada awalnya Amara menolak, tapi mengingat jika besok adalah hari kepergiannya dan ini mungkin kesempatan terakhirnya agar bisa dekat dengan Evan, maka Amara pun menyetujuinya.


"Ayo sama Mama," ucap Gio seraya mengalihkan Evan dari pangkuan Dea ke Amara.


Dea hanya tersenyum canggung saat Gio lakukan itu. Ia pun tak mungkin melarangnya karena Amara memanglah ibu kandung Evan. Pada akhirnya, Evan meniup lilin ulangtahunnya bersama Amara.


Semua begitu menyenangkan hingga tiba waktunya bagi Amara untuk pulang ke rumah karena besok pagi ia harus terbang ke Boston dengan penerbangan pertama.


Sedangkan Gio dan Evan berencana untuk menginap dan tinggal di rumah orangtua Gio dalam beberapa hari. Gio lakukan itu karena ia tak sanggup untuk melepas kepergian Amara.


Tentang perceraian mereka, Gio lah yang akan mengurus semuanya karena Amara memutuskan untuk cepat-cepat pergi. Setelah itu Gio pun akan segera bertunangan dengan Dea.


"Selamat jalan, Amara. semoga selamat sampai di Boston. Jangan lupa untuk tetap mengabari pada kami. Dan semoga kali ini kamu benar-benar merasa bahagia," ucap Mama Gio seraya memeluk Amara erat.


"Maafkan atas semua yang terjadi, dan terimakasih sudah mau mengurus Evan," bisik ibu Amara sambil terisak.


"Mmmh iya, Ma. Mama juga semoga sehat selalu," sahut Amara sembari membalas pelukan itu sama eratnya dan seperti halnya mama Gio, Amara pun menitikkan air matanya.


Setelah itu Amara berpamitan pada semua orang, termasuk pada Gio. "Baik-baik di sana. Jagalah kesehatan," ucap Gio seraya memeluk tubuh Amara dengan erat. Amara tak mampu untuk menjawabnya. Yang ia lakukan adalah memeluk erat tubuh Gio dan menganggukkan kepalanya dengan lemah. Sungguh perpisahan ini membuat Amara nelangsa.


Amara pulang ke rumahnya diantarkan oleh supir pribadi ibu mertuanya. Gio tak mengantar Amara pulang karena ia tak sanggup untuk melepaskannya pergi.


Sesampainya di rumah, Amara jatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan tidur dengan posisi terlentang. Kedua matanya tak mau berhenti basah. Bayangan wajah Gio dan Evan selalu terlihat di matanya.


Cukup lama Amara lakukan itu. Ia tak berganti baju atau melakukan hal lainnya, Amara hanya terbaring di atas ranjangnya sambil menangis pilu.


Suara bel pintu mengharuskan Amara untuk bangkit dan membukanya. Semua asisten rumah tangga Amara dan juga suster Evan bermalam di rumah orangtua Gio karena Evan yang berulang tahun di sana. Amara hanya seorang diri di rumahnya.


Amara kira ada sesuatu yang tertinggal di mobil mertuanya itu hingga membuat sang supir kembali padanya. Tapi mata Amara membola saat ia lihat Gio lah yang datang padanya.


"Amara... Amara... Aku jatuh cinta padamu.. aku mencintaimu..," ucap Gio tanpa basa-basi, matanya yang sayu menatap lembut dan penuh cinta pada Amara.


Amara terkesiap saat mendengarnya hingga dirinya tak mampu untuk berkata-kata. Yang Amara lakukan adalah berhambur pada pelukan Gio dan menjinjitkan kakinya agar bisa meraih bibir Gio dengan bibirnya.


Bersambung ♥️