Hate You, Love You

Hate You, Love You
Cemas



Amara dan Gio langsung saling bersitatap dalam diam. "Aku yang memintanya datang," kata Gio, memecahkan keheningan.


Amara terhenyak, ia terkejut mendengar pernyataan yang Gio ucapkan. "Oh, pantas saja. Aku terkejut karena Dea tak memberiku kabar tentang kedatangannya. Ternyata kamu yang memintanya," sahut Amara sambil tersenyum samar. Menyembunyikan sesuatu yang menganggunya.


"Beberapa hari lalu aku bertemu Dea dekat kantor. Ternyata dia lagi nyari perusahaan untuk melakukan riset. Dan... Dea bertanya apa dia bisa melakukannya di perusahaanku ? Karena dia adalah sepupu mu, maka aku pun mengiyakannya. Besok dia akan mulai melakukan risetnya, dan tadi sore minta untuk bertemu untuk membahas data apa saja yang diperlukannya. Tapi, aku tak bisa karena harus menemani mu ke dokter. Jadi, aku memintanya datang dan ku harap-"


"Stop ! Tak usah dijelaskan panjang lebar. Itu urusan kalian dan aku tak ingin ikut campur," potong Amara cepat. Entah mengapa ada rasa tak nyaman dalam perasaannya dan ia tak mau semakin tenggelam di dalamnya.


"Ara, kamu tak keberatan kan aku melakukan riset di perusahaan Gio ?" Tanya Dea, memotong pembicaraan antara Amara dan suaminya.


"Banyak perusahaan di kota ini, tapi kenapa memilih perusahaan Gio?" Pikir Amara dalam hatinya.


"Sure, perusahaan itu milik Gio dan keluarganya. Tak ada kaitannya denganku." Namun apa yang Amara katakan tak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.


"Oke, baiklah jika begitu," sahut Dea sambil tersenyum lebar. Ia merasa senang karena Amara merasa tak keberatan.


"Aku ingin beristirahat dulu," ucap Amara berpamitan. ia ingin segera pergi dari situasi yang canggung ini.b


"Minum vitaminnya dulu, Amara." Gio hendak pergi ke dapur untuk membawakan Amara segelas air. Namun, Amara segera mencegahnya.


"Aku bisa melakukannya sendiri, Gio. Sebaiknya kamu segera membantu Dea," sahut Amara seraya berjalan ke arah dapur, diikuti oleh asisten rumah tangganya.


Gio terdiam, ia merasa istrinya begitu ketus tapi itu bukanlah sesuatu yang aneh karena Amara memang seperti itu.


Gio menghela nafasnya dalam. Beberapa jam lalu, Gio baru saja merasakan bahagia karena perhatian kecil yang Amara berikan. Tapi kini istrinya itu sudah kembali ke sifatnya yang semula yaitu dingin dan ketus.


Di dapur, Amara meminum vitaminnya dengan perasaan kesal. "Kenapa gak Dea saja yang kamu tiduri ? Biar aku gak susah payah mengandung anakmu !" Dengus Amara seraya melap ujung bibirnya yang basah dengan punggung tangan.


Saat ini Amara sedang berpikir jika saja sepupunya Dea yang Gio tiduri di malam itu, tentunya jalan hidup Amara tak akan sesulit ini. Amara yakin sepupunya itu bisa menerima Gio sebagai suaminya dengan lapang dada. Ada rasa marah dalam diri Amara yang datang secara tiba-tiba.


"Sudah minum vitaminnya ?" Tanya Gio. Tanpa Amara sadari, ternyata suaminya itu mengikutinya ke dapur.


"Sudah," jawab Amara singkat.


"Baguslah... Sekarang istirahat. Mau aku buatkan susu hamil dulu ?" Tanya Gio lagi.


Amara berdecak kesal. "Sudah ku katakan berulangkali, Gio ! Aku bukan anak-anak yang harus kamu perhatikan. Lagian, bukannya kamu harus membahas tentang tugas Dea ?"


"Apaan sih Ra ? Bawa-bawa Dea terus. Lo tuh kaya istri yang lagi cemburu!" Kesal Amara dalam hatinya.


Tapi lagi-lagi Amara menyimpannya dalam hati. Ia tak ingin Gio berpikiran jika dirinya tengah merasa marah atau cemburu. Amara tak mau Gio merasa Amara memiliki perasaan lain padanya.


"Tenanglah Gio, aku akan menjaga anakmu dengan baik. Kamu tak usah khawatir, aku tak akan mencelakainya lagi," ketus Amara sembari meninggalkan Gio di dapur.


Gio amati kepergian istrinya itu. "Bukan hanya karena bayi kita, Amara. Tapi sungguh...kamu lah yang utama untukku," gumam Gio pelan.


"Gio, ada yang ingin aku tanyakan," tiba-tiba Dea menyusul Gio ke dapur, dan mendapati lelaki itu tengah melamun sembari menatap kosong pintu kamar Amara yang tertutup rapat.


"Gio ?" Tanya Dea lagi karena Gio tak juga menyahutinya.


"Ah sorry," Gio pun tersentak dari lamunannya.


"Kamu capek ? Aku sebaiknya pulang saja," tanya Dea sungkan.


"Eh ? Enggak kok. Mana yang mau kamu tanyakan?" Tanya Gio sambil tersenyum. Sebenarnya lelaki itu sedang dalam suasana hati yang tak cukup baik, tapi mengusir Dea pergi juga tak mungkin dilakukannya. Ia merasa kasihan karena Dea memang membutuhkan bantuannya.


***


Di dalam kamar, Amara melucuti pakaiannya sendiri dan berganti baju dengan piyama tidur. Rasa kesal dan marah masih tak mau pergi dari dirinya. Dan Amara tak mengerti mengapa ia merasa seperti itu.


Amara naik ke atas tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya di sana. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, mencari posisi yang nyaman tapi tetap saja rasa resah membuatnya gelisah.


Tak lama ponselnya yang tergeletak di atas nakas berbunyi. Malas-malas Amara meraihnya. Ia menatap layar dan terdapat nama Danis di sana.


Amara pandangi layar ponselnya tanpa menerima panggilan itu. Cukup lama Amara lakukan itu hingga bunyi dering tak terdengar lagi. Danis telah memutuskan panggilannya.


Baru pertama kali dalam hidupnya, Amara tak menerima panggilan telepon dari Danis dengan sengaja. Entah mengapa Amara begitu merasa malas untuk berbicara dengan tunangannya itu.


Amara letakkan kembali ponselnya di atas nakas. Dan ia pejamkan matanya berusaha untuk tidur. Amara berharap perasaannya yang kacau tak karuan ini akan menghilang di pagi hari.


To be continued


Thanks for reading


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.