Hate You, Love You

Hate You, Love You
Karena Cinta



"Pergilah temani Karina. Aku mengerti perasaanmu, Danis."


Ucapan Amara membuat Danis tercengang saat mendengarnya. Lelaki itu terdiam terpaku menatap Amara. Mulutnya sedikit terbuka, tapi ia tak mampu untuk berkata-kata.


"Pergilah... Aku tak apa-apa," lanjut Amara. Bahkan ia menggenggam tangan Danis untuk memastikan bahwa apa yang ia katakan adalah benar adanya.


Danis menarik nafas dalam dan menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Perasaannya begitu tak karuan. Ia berada di persimpangan perasaan pada dua wanita.


Tubuh Danis spontan berdiri. Tiba-tiba saja kakinya beregerak sendiri, bukan inginnya tapi hati yang memerintahkannya. "Maafkan aku, Ara," ucapnya penuh sesal.


"Sampaikan salamku pada Karina. Semoga lekas sembuh," sahut Amara. Ia berkata dengan senyumnya yang lembut. Tak ada rasa marah ataupun cemburu. Amara sungguh merasa baik-baik saja.


"A- akan aku sampaikan. Hubungi aku jika kamu memerlukan sesuatu," ucap Danis sebelum pergi.


"Ya... Jangan khawatirkan aku. Ayo sana cepat pergi ! Kamu pasti ingin segera melihat keadaan Karina kan ?"


Lagi-lagi Danis anggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Apa yang Amara ucapkan memang benar adanya. Danis sudah tak sabar untuk melihat keadaan Karina. "Aku pergi," pamit Danis. Bahkan lelaki itu tak mengecup dahi Amara sesaat sebelum pergi.


Sejak mereka bertemu kembali sebulan yang lalu, keduanya tak pernah sekalipun saling berciuman di bibir. Danis akan mengecup dahi Amara sekejap saja sebagai tanda sayangnya.


Amara menatap kepergian Danis dengan perasaan yang lega. Lega karena dengan begitu Danis akan sadar dengan perasaannya sendiri. Amara yakin kepergian Danis ke rumah sakit pasti karena rasa cintanya pada Karina.


Amara tak bisa menyalahkan Danis karena perasaa lelaki itu berubah padanya. Karina lah yang setia menemani Danis di masa sulit lelaki itu. Saat Danis putus asa dan ingin menghilangkan nyawanya sendiri, Karina lah yang menguatkannya. Bahkan Karina juga ikut merawat Danis setelah kejadian mengerikan itu.


Tanpa Danis sadari, ia membutuhkan Karina di sisinya. Tak hanya sebagai teman, tapi sebagai wanita yang dicintainya.


Karina juga wanita yang baik. Meski Amara yakin jika Karina juga memiliki perasaan lebih pada Danis, tapi gadis itu tak bersikap menyebalkan layaknya wanita perebut pasangan. Karina bersikap baik pada Amara, dan ia selalu bisa menjaga jarak pada Danis. Bahkan Karina sangat mendukung hubungan Danis dan Amara dengan membantu keduanya menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pernikahan.


"Danis sangat beruntung," gumam Amara pelan. Beruntung karena menyadari perasaannya sebelum terlambat. Bayangkan yang akan terjadi jika Danis menyadarinya setelah dia dan Amara menikah ? Tentunya lelaki itu akan tersiksa. Dan begitu juga Amara, ia akan menderita karena Amara menikahi Danis hanya sebatas membayar janjinya saja.


Hati Amara sudah terpaut pada Gio seorang. Satu bulan berpisah, tak membuat Amara melupakannya. Yang terjadi malah sebaliknya. Amara sering merasakan rindu pada lelaki itu dengan hebatnya. Saat ia menatap foto Evan, maka bayangan wajah Gio juga berada di sana.


Bayangan perpisahan yang sempurna dengan Gio, juga selalu menghantui Amara. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Gio menyentuhnya dengan lembut dan penuh perasaan cinta.


"Ya Tuhan..," guman Amara saat ia mengingat sesuatu. Cepat-cepat Amara membuka menu kalender di ponselnya, dan ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangan.


***


Amara menunggu dengan cemas sambil memegang sebuah benda berbentuk stik. Semalam, Amara mendapati jika dirinya telah terlambat datang bulan. Amara memiliki siklus yang tetap di setiap bulannya, bahkan kadang tamu bulanannya itu datang lebih cepat dan tak pernah terlambat.


Saat pertama kali mengandung Evan pun Amara mendapatkan gejala yang sama. Sering merasa lemas dan pusing. Membuat Amara bertanya-tanya apakah dirinya kembali mengandung anak Gio ?


***


"Anda bisa lihat benda yang berukuran sebesar kacang merah itu?" tanya seorang dokter sembari menunjukkan gambar yang dimaksud di layar monitor.


Amara anggukan kepalanya," ya saya bisa melihatnya," jawab Amara dengan dada berdebar kencang.


"Itu adalah kantung kehamilan. Selamat, Anda akan menjadi seorang ibu."


"Saya memang sudah menjadi seorang ibu. Ini adalah anak kedua saya," sahut Amara dalam bahasa inggris yang fasih. Amara menatap layar monitor itu penuh rasa haru bahagia.


"Evan akan mempunyai adik. Gio... Aku mengandung anak kedua mu.. anak kedua kita," gumam Amara seraya mengusap ujung matanya yang basah. Perasaan Amara begitu campur aduk. Tak percaya dan juga bahagia Amara rasakan secara bersamaan saat ini.


Ya... Untuk kehamilannya yang kedua ini, Amara rasakan bahagia yang luar biasa. Belum apa-apa Amara sudah merasakan cinta yang besar pada anak yang dikandungnya itu.


"Berikan saya vitamin yang terbaik," pinta Amara.


"Apakah Anda memiliki asuransi kesehatan?" Tanya sang dokter. Saat ini kedua telah duduk dengan saling berhadapan.


"Tidak, saya akan membayarnya secara tunai," jawab Amara tanpa ragu.


Tak sia-sia Amara meminta bayaran yang tinggi pada Gio untuk menyusui Evan. Dulu, Amara lakukan itu agar Gio menjadi benci padanya. Tapi rupanya Tuhan mempunyai rencana dibalik itu semua.


Uang yang Gio berikan dulu, akan Amara gunakan untuk membiayai kebutuhan dirinya dan juga anak keduanya yang masih berada di dalam kandungan. "Aku gunakan uangmu untuk keperluan anak kita, Gio," ucap Amara dalam hatinya. Ia mengelus perutnya yang masih datar dengan penuh kasih sayang. Dan Amara senang karena secara tak langsung, Gio ikut mengurus sang anak melalui uang yang ia berikan.


"Lihatlah Gio... Walaupun kita telah berpisah, tapi kamu masih saja menjadi bagian dari diriku...," lirih Amara seraya mengusap matanya yang sudah basah.


***


"Ara, kamu dari mana ?" Tanya Danis. Lelaki itu berdiri di pintu apartemen Amara. Hari masih sore tapi Danis sudah pulang dari tempat bekerjanya. Ia juga membawa dua kantung kertas di tangannya, Amara yakin jika Danis akan pergi ke rumah sakit untuk menemani Karina.


"Aku baru pulang dari dokter. Tadinya aku ingin menjenguk Karina, tapi aku merasa lelah."


"Maaf karena aku tak bisa menemani kamu," ucap Danis penuh sesal.


"Tadi malam aku menginap di rumah sakit, menemani Karina. Lalu pulang di pagi hari hanya untuk berganti baju kerja. Maaf karena aku baru bisa menemuinya lagi sekarang," lanjutnya Danis lagi. Wajahnya yang sendu menunjukkan rasa bersalah yang begitu kentara.


"Apa sekarang kamu akan pergi ke rumah sakit lagi ?"


"I- iya... Semoga kamu tak marah...a- aku..,"


"Sebaiknya kita masuk dulu, ada yang ingin aku bicarakan," potong Amara.


***


"Kata dokter... Aku tidak sakit, tapi aku hamil.


"Hah ?" Tanya Danis tak percaya. Saat ini keduanya tengah duduk dengan saling berhadapan di dalam apartemen Amara.


"Ya... Kamu tak salah dengar. Aku hamil dan ini adalah anaknya Gio," jelas Amara lagi. Sedangkan Danis hanya terdiam terpaku melihat pada Amara.


"Aku... Aku akan mempertahankan bayi ini, karena aku sangat mencintainya. Maafkan aku karena mengatakan yang sejujurnya padamu. Aku tak ingin menutup-nutupi kehamilanku ini. Aku tak ingin menipumu," jelas Amara.


"Tapi bagaimana bisa ? Kapan ? Apa Gio menyakiti kamu lagi?" Tanya Danis cemas.


"Tidak, Gio tak pernah menyakiti aku lagi. Kami melakukannya secara sadar dan..,"


"Dan karena cinta ?" Potong Danis.


Amara menarik nafas dalam dan anggukan pelan kepalanya pelan sebagai jawaban.


To be continued ♥️


Hari Senin nih vote yuuuukkkkkk 🥰


Terimakasih yaa