
Gio jalankan mobilnya pelan, ia mengikuti langkah Amara. Memastikan istrinya itu memasuki gerbang kampus dalam keadaan baik-baik saja. Setelah itu Gio pun meninggalkan tempat itu, dan meneruskan perjalanannya ke kantor. Itulah yang Gio lakukan setiap harinya jika sedang mengantar Amara.
Hari ini perasaannya berbeda. Gio merasa hampa setelah kemarin siang ia akhirnya berhadapan dengan Danis walaupun tak secara langsung.
Semalaman Gio memikirkan Amara. Sekeras apapun Gio mencoba untuk mendekatinya, Amara masih saja menolaknya. Padahal perasaan Gio semakin kuat seiring kebersamaan mereka. Kepalanya mengatakan agar Gio melepaskan Amara, tapi hatinya berkata bertahanlah.
"Sayang... Berikanlah aku sedikit celah untuk memasuki hatimu. Dan jika itu terjadi, aku pastikan akan tinggal di sana selamanya. Tak bisakah kamu rasakan, Amara ? Aku telah jatuh cinta padamu," batin Gio dalam hatinya dan ia pejamkan matanya saat mengatakan hal itu. Meresapi perasaan cintanya yang terasa manis dan juga pahit di waktu yang bersamaan.
***
Sudah berlalu lebih dari satu bulan semenjak kepindahan Gio dan Amara ke rumah baru mereka. Gio masih menemani Amara di setiap pagi saat istrinya itu merasakan mual. Ia juga selalu menemani Amara saat memeriksakan kandungannya. Membuatkan Amara susu hamil dan memastikan istrinya itu meminumnya. Gio juga yang berbelanja kebutuhan bayi mereka karena Amara sangat sibuk dengan tugas kuliahnya.
Gio masih menyimpan perasaan nya sendirian karena Amara masih berhubungan dengan Danis, tunangannya. Tapi walaupun begitu, saat ini Amara lebih sering mengajaknya berbicara. Dan tak segan untuk meminta bantuan Gio jika ia menginginkan sesuatu. Bicaranya pun tak terlalu ketus seperti dulu. Hanya saja Amara masih berlindung di benteng pertahanannya.
Hari ini Minggu pagi. Gio sudah bersiap-siap dengan pakaian olahraganya. Dokter kandungan Amara mengatakan jika Amara harus banyak melakukan olahraga kecil seperti berjalan kaki agar kelahirannya berjalan lancar. Hanya tinggal beberapa Minggu saja bayi yang dikandungnya itu akan segera lahir ke dunia. Oleh karena itu Gio akan menemani istrinya berjalan-jalan di sekitar komplek rumah mereka.
"Sudah siap ?" Tanya Gio.
"Kamu pasti lelah bekerja setiap hari, Gio. Sebaiknya istirahat di rumah saja. Biar aku ditemani oleh Bik Yani jalan-jalannya," jawab Amara.
Gio tersenyum samar, "its oke, aku juga harus berolahraga. Di kantor hanya duduk-duduk saja di belakang meja," jawabnya.
"Baiklah jika kamu bersikeras," keduanya pun berjalan keluar dari rumah mereka pada pagi hari. Berjalan santai mengitari jalanan di komplek perumahan mereka yang terbilang elite itu.
Tak ada obrolan yang berarti, keduanya lebih banyak diam sambil berjalan-jalan. "Besok kita harus melakukan pemeriksaan lagi. Kamu mau periksa pagi atau sore ?" Tanya Gio memecahkan keheningan di antara mereka.
"Bukankah kita telah melakukan pemeriksaan dua Minggu yang lalu ?" Amara balik bertanya.
"Iya, tapi dokter Desi mengatakan jika pemeriksaan kandungan akan lebih sering saat usia kehamilanmu bertambah. Apa kamu lupa ?"
"Entahlah... Aku tak begitu ingat dokter Desi mengatakan apa saja tentang kandunganku,"
Jawaban Amara cukup membuat hati Gio menjadi kecut. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan istrinya itu yang memang tak ingin mengandung anak mereka. "Jadi, mau sore atau pagi ?" Tanya Gio memastikan. Ia buang jauh-jauh rasa kecewanya dan memilih berdamai dengan keadaan.
" Sore aja karena aku besok harus ke perpustakaan pagi-pagi," jawab Amara pada akhirnya.
Kedatangan Gio cukup mencuri perhatian mereka. Tanpa malu mereka mencuri-curi pandang pada lelaki bertubuh tinggi tegap itu. Bahkan tak jarang dari para gadis itu memberikan senyum mereka.
Tapi anehnya Gio hanya diam tak menanggapi. Lelaki itu tak membalas tatapan para gadis itu, bahkan Gio pun tak melengkungkan senyumnya pada mereka. Gio hanya akan bicara pada Amara seorang saja.
Untuk pertama kalinya Amara memperhatikan Gio dengan seksama. Bagaimana bisa lelaki itu menjadi pusat perhatian para gadis. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Setiap Amara bepergian dengan Gio, selalu saja ada gadis yang berusaha mencari perhatiannya.
Dan Amara tak bisa menyalahkan mereka karena menggoda Gio. Para gadis itu pasti berfikir jika mereka bukanlah pasangan suami istri karena tak sekalipun keduanya saling bergandengan tangan. Amara dan Gio akan berjalan beriringan dengan jarak di antara mereka.
Bukan tanpa alasan mengapa keduanya saling menjaga jarak saat tampil di depan publik. Amara lah yang memintanya. Ia takut ada orang yang mengenalinya pergi bersama Gio.
"Gio, aku pengen minum," ucap Amara.
"Baiklah, tapi aku harus membelinya sebentar karena botol minumnya ketinggalan di rumah. Sorry..," ucap Gio penuh sesal.
"Iya gak apa-apa. Aku nunggu di ayunan sebelah sana ya," tunjuk Amara pada sebuah ayunan yang bangkunya kosong. Dan Gio pun mengangguk menyetujui.
Amara pun duduk dan ia perhatikan suaminya yang saat ini masuk ke dalam sebuah minimarket untuk membeli minum. Di belakangnya berjalan beberapa orang gadis yang sedari tadi memperhatikannya. Salah satu dari mereka mengajak Gio berbicara, tapi Amara bisa lihat dari kejauhan jika Gio hanya menanggapinya sebentar saja. Lelaki itu langsung berjalan menuju meja kasir setelah mendapatkan 2 botol air mineral.
Mata Amara masih memperhatikan pergerakan Gio hingga lelaki itu keluar dari minimarket. Gio langsung berjalan ke arahnya dan memberikan sebotol air mineral yang baru saja di belinya. Ia memberikan botol itu setelah membuka tutupnya lebih dulu. "Terima kasih," ucap Amara dan Gio hanya tersenyum menanggapinya.
Ingin rasanya Amara menanyakan apa maksud gadis itu mendatanginya tapi ia ingat bagaimana tekadnya dulu untuk tidak peduli dengan apapun yang berkaitan dengan Gio. Itulah caranya agar ia tak jatuh cinta pada suaminya itu. Amara juga sudah bertekad untuk menyerahkan bayinya begitu lahir. Ia tak ingin mengurus apalagi menyusuinya. Amara takut merasa sayang pada anaknya hingga ia akan kesulitan untuk meninggalkannya.
Tapi rencananya itu belum Amara bicarakan dengan Gio. Ia akan mengatakannya begitu bayi itu lahir.
To be continued...
Genks pastinya kesel ya baca Amara.. jadi mohon bersabarlah..
Pasti gak mudah buat Amara jatuh cinta begitu saja pada Gio. Sebaik apapun Gio, baginya lelaki itu adalah perusak masa depannya.
Seandainya kalian di posisi Amara juga pasti gak akan mudah untuk menerima Gio dan mencintainya walaupun gio begitu sempurna. Bahkan ada yang bertahun-tahun masih merasakan trauma.
Semoga masih mau baca yaa... Dan aku menulis sesuai alur. Insyaallah akan indah pada waktunya.