
"a- aku butuh waktu untuk menjelaskan semuanya pada Mama ataupun Gio," ucap Amara lagi. Nada suaranya yang gugup, cukup membuat Dea paham jika sepupunya itu merasa ketakutan.
"Apa Danis sudah tahu tentang apa yang terjadi padamu ?" tanya Dea lagi. Ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi antara Amara dan juga tunangannya.
Amara anggukan kepalanya. "Ya, Danis sudah tahu semuanya. Mama yang memberitahunya," jawab Amara membenarkan.
"Lalu ?"
Tak ingin pembicaraannya terdengar oleh siapapun, terutama Gio. Amara pun segera duduk kan tubuhnya tepat di sebelah sang sepupu. "Danis tak marah sama sekali," ucap Amara seraya menarik nafas dalam. "Bahkan ia lah yang merasa bersalah karena tak ada di sisiku. Danis merasa gagal karena tak bisa melindungi aku, dan juga tak bisa menemani aku di masa-masa sulit. Danis mengatakan jika perasaannya padaku tak pernah berubah sedikitpun. Dan ia akan terus menungguku di Boston," jelas Amara.
"Lalu bagaimana Gio dan Evan ?" Tanya Dea lagi.
Dea tahu jika dirinya memiliki perasaan yang salah pada atasan juga sekaligus suami sepupunya itu. Tapi selama ini Dea menekan perasannya sendiri karena ia tahu, tak mungkin bagi dirinya untuk menggapai Gio walaupun Dea sangat menginginkan lelaki itu. Dea berusaha mematikan rasa cintanya karena ia tak mungkin menyakiti hati Amara. Dea pikir pernikahan Amara sudah berubah baik karena kini sepupunya itu dan Gio sudah bisa berkomunikasi layaknya suami istri yang lain.
Tapi kini... Setelah Dea tahu kenyataanya bahwa Amara akan tetap pergi menemui Danis. Membuat perasaan cinta dalam hati gadis itu kembali menggeliat hidup. Dea merasa dirinya mempunyai setitik harapan untuk bisa bersama Gio, dan ia pun sangat menyayangi Evan bagai anaknya sendiri.
"Mengenai Gio..," ucap Amara dengan pandangan mata yang sulit untuk Dea artikan. Sepupunya itu terlihat resah saat akan menjawab.
"Mengenai Gio... Yang Gio lakukan padaku memang sangat jahat dan menyakitkan. Tapi... Setelah lebih mengenalnya, Gio bukanlah orang yang jahat. Aku yakin, dia akan dengan mudah mendapatkan ibu pengganti bagi Evan. Pernikahan kami pun hanya karena keterpaksaan. Tak mungkin bisa diteruskan," jelas Amara.
"Bagaimana jika Gio jatuh cinta padamu ?"
"Tak mungkin !" Potong Amara cepat.
"Kenapa tak mungkin ?" Tanya Dea, dan itu membuat Amara terdiam untuk beberapa saat.
"Gio hanya merasa bersalah padaku... Dan walaupun itu benar terjadi, a- aku tak mungkin mengkhianati Danis untuk kedua kalinya,"
Dea mengangguk paham. Rasa bersalah Amara pada Danis begitu besar hingga sepupunya itu merasa tak bisa untuk berpisah dari tunangannya yang sudah begitu setia dan mau menerima diri Amara apa adanya.
"Lalu dengan Evan ? Apa kamu tak berat untuk meninggalkannya ?" Tanya Dea lagi.
Amara pun segera melihat pada anak lelakinya itu yang kini sedang tertidur pulas. Pandangan matanya meredup sayu menatap wajah Evan. "Cinta Gio untuknya sangatlah besar, ku rasa Evan tak akan merasa kekurangan apapun jika bersama Gio. Selain itu ada para neneknya yang begitu mencintai Evan. Termasuk kamu juga, De ! aku tahu kamu sangat sayang sama Evan. Aku titipkan Evan pada kalian," jawab Amara dengan matanya yang berkaca-kaca.
Sampai di situ Dea pun tahu jika sebenarnya Amara sudah jatuh hati pada Evan, anaknya. Atau mungkin pada Gio juga. Tapi keadaan lah yang membuat Amara tak bisa bertahan di sisi keduanya.
"Kata Danis, aku boleh kok bertemu Evan lagi suatu hari nanti. Bahkan jika aku memutuskan untuk tetap mengurus Evan pun Danis tak masalah. Ia akan berusaha mencintai Evan seperti anaknya sendiri," lanjut Amara seraya mengusap ujung matanya yang basah. "Sebaik hati itu Danis, tak mungkin aku menyakitinya lagi,"
"Lalu ?"
"Tak mungkin aku membawa Evan. Gio pasti tak akan mengizinkannya. Dan ku rasa Evan akan lebih baik jika bersama Gio saja," jawab Amara.
"Dengan begitu kamu bisa lebih mudah untuk melanjutkan hidupmu ?"
"Jika suatu hari Evan ingin bertemu bagaimana ?"
"Dia bisa datang padaku, atau mungkin aku yang akan menemuinya lebih dulu," jawab Amara.
"Bagaimana jika Gio menemukan wanita lain sebagai penggantimu?"
Amara yang mendengar itu memaksakan senyumnya. "Ya bagus lah.. Gio juga harus melanjutkan hidupnya, dan ku harap ia bisa menemukan seorang wanita yang baik untuk dirinya juga Evan," jawab Amara. Dan tanpa Dea ketahui, hati Amara terasa sedikit ngilu saat mengatakannya.
Semua usahanya untuk membenci dan juga dibenci Gio tak membuahkan hasil karena lelaki itu terlalu baik dan sabar saat menghadapinya.
"Jadi sekarang kamu sudah berdamai dengan apa yang terjadi?" Tanya Dea lagi.
"Sekeras apapun aku menyangkalnya, semua telah terjadi kan ? tak mungkin aku terus-terusan menyangkalnya," jawab Amara.
"Kalian gosipin apa sih ? Serius bener ngomongnya" Tanya Gio yang tiba-tiba hadir diantara mereka. Lelaki itu sudah terlihat segar karena baru saja selesai membersihkan diri. Wangi maskulin menguar dari tubuhnya. Membuat Amara juga Dea melihat ke arahnya.
"Ish, bukan urusan mu," jawab Amara sedikit ketus. Ia takut Gio mendengarkan apa yang tadi dirinya bicarakan dengan Dea.
Gio hanya tersenyum saja saat Amara menjawab seperti itu. Ia lebih memilih untuk melihat Evan yang tertidur pulas di atas sofa besar yang ada di tengah-tengah ruang keluarga itu. "Heran deh ! Evan pasti bisa tidur cepat kalau sama mamanya," ucap Gio sembari tundukkan kepalanya dan mencium gemas pipi anaknya itu. Tidur Evan terlalu pulas hingga ia tak terusik sedikitpun.
Lalu Gio pun duduk di dekat anaknya yang tertidur itu. "Kamu udah makan ? Makan dulu gih.. Biar aku yang jagain Evan lagi," ucap Gio pada Amara. Pandangan mata lelaki itu begitu hangat, dan tutur katanya pun begitu lembut meskipun tadi Amara ketus padanya. Sangat berbeda dengan Gio yang biasa Dea temui di kantor.
Amara menggelengkan kepalanya pelan "belum," jawabnya singkat.
"Mau makan apa ? Mau aku pesankan ?" Tanya Gio lagi. dan ia bicara hanya pada Amara saja padahal Dea duduk bersebelahan dengan istrinya itu.
"Nggak tahu ! Eh De, kita masak aja yu !" Ajak Amara pada sepupunya itu. Ia pun segera bangkit dan menarik tangan Dea untuk ikut dengannya ke dapur.
"Eh ?" Dea terkejut karena sedari tadi dirinya asyik memperhatikan Gio. Dan semak yakin dari cara Gio memandang juga berbicara pada Amara, lelaki itu telah menaruh rasa pada sepupunya. Dea pun ikut bangkit dan mengikuti langkah Amara menuju dapur.
Di dapur, Amara mulai sibuk mengeluarkan banyak bahan makanan dari dalam lemari es. Ada daging dan beberapa jenis sayuran. Sedangkan Dea, sibuk dengan pikirannya sendiri tentang apa yang Amara ucapkan tadi padanya.
"Ara...," Ucapan Dea mampu membuat Amara menghentikan apa yang sedang dilakukannya saat ini. "Ya ?" Tanya Amara penuh tanda tanya.
"Ku rasa Gio berhak tahu tentang rencanamu, agar ia tak terlalu banyak berharap padamu," jawab Dea, dan itu membuat Amara menjadi terdiam terpaku ditempatnya berdiri.
to be continued
jangan lupa tinggalkan jejak ya