
Amara menggelengkan kepalanya pelan dan ia menatap Danis dengan perasaan bersalah. "maaf... Maafkan aku Danis. Tapi aku sudah tak sanggup menyembunyikan perasaanku. Aku mencintai Gio, dan rasa ini tumbuh begitu saja walaupun mati-matian aku menahannya. Oleh karena itulah aku katakan padamu bahwa aku pun mengerti-"
"Mengerti bahwa aku pun jatuh cinta pada Karina seperti kamu jatuh cinta pada Gio?" Potong Danis dan ia tak merasakan sakit saat nama Gio terucap dari mulutnya.
Lagi-lagi Amara mengangguk pelan. "Sebenarnya aku sudah tahu bahwa kamu jatuh cinta pada Karina dari cara kamu menatap wajahnya. Dan semua semakin jelas terlihat dari rasa khawatir mu yang besar padanya. Aku yakin jika perasaan itu telah muncul sejak lama, tapi kamu tak menyadarinya karena kamu pun merasa berkewajiban untuk menungguku datang."
"Persis seperti yang kamu rasakan padaku? Kamu mencintai Gio tapi masih merasa mempunyai beban tanggung jawab padaku?" Lagi-lagi Danis memotong ucapan Amara.
Amara menatap nanar wajah lelaki yang duduk di hadapannya itu. "Ya.. kita berdua terjebak dalam janji dan juga mimpi-mimpi yang kita buat dulu. Kita merasa bertanggung jawab untuk mengabulkan semuanya padahal sebenarnya perasaan kita telah berubah. Aku pada Gio, dan kamu pada Karina."
Danis terdiam untuk beberapa saat, dan apa yang Amara ucapkan adalah benar adanya. Perasaannya pada Amara telah berubah karena kini ada gadis lain yang menguasai hati dan pikirannya.
Danis melihat Amara dengan tatapan mata penuh sesal. Ia pun menarik nafas dalam dan mendesah panjang. Menyesali diri karena terlambat menyadari perasaannya, hingga kini dirinya menyusahkan Amara yang sudah datang padanya hingga harus meninggalkan Gio dan juga Evan.
"Tapi kamu sudah jauh-jauh datang kemari dan meninggalkan semuanya demi aku, Amara," ucap Danis dengan wajah memelas.
"Setidaknya dengan begitu, aku telah menepati janjiku padamu, Danis. Aku tak akan lagi dihantui rasa bersalah di sepanjang sisa hidupku."
"Tapi bagaimana dengan Gio dan Evan? Ku rasa Gio akan menerima mu kembali dengan senang hati,"
"Aku tak bisa lakukan itu !" Potong Amara.
"Kenapa ?" Danis berkerut alis tak paham.
"Aku sudah banyak menyakiti Gio dengan segala sikap dan perbuatanku. Dan kini ia sudah melanjutkan hidupnya dengan bahagia bersama Dea. Aku tak ingin merusak itu semua. Gio sangat berhak untuk bahagia karena dia seseorang yang baik hati dan Dea pun sangat menyayangi Evan. Tak kan sulit bagi Gio untuk jatuh cinta padanya," jawab Amara panjang lebar.
"Tapi kamu sedang mengandung anaknya, Ara ! Gio berhak tahu tentang yang sebenarnya terjadi."
"Tentu saja Gio akan tahu... Aku akan memberi tahu semuanya setelah Gio resmi menikahi Dea. Bayi dalam kandungan ku ini berhak tahu siapa ayah dan juga kakaknya."
Danis bangkit dan duduk tepat di sebelah Amara. "Maafkan aku, Amara," ucapnya sembari meraih jemari Amara pada genggamannya.
"Maafkan aku juga," balas Amara sambil tersenyum lembut pada lelaki yang kini tak ia cintai.
Danis menarik tubuh Amara dan mendekapnya erat. layaknya seorang kakak pada adiknya. Danis pejamkan mata, menyesali apa yang telah terjadi. "Maafkan aku Amara...," Bisik Danis sembari memberi kecupan lembut di pelipis Amara. Tak ada lagi dada yang berdebar kencang di dalam diri Danis. Sungguh perasaan Danis pada Amara telah musnah.
Begitu pula Amara yang merasakan hal yang sama dengan Danis. pelukan lelaki itu tak lagi menggetarkan hatinya. Amara merasa itu seperti pelukan seorang kakak pada adiknya.
"Ayo cepat pergi ke rumah sakit ! Karina pasti sudah menunggumu."
***
"Apa yang kamu lakukan ? Kamu masih sakit!" ucap Danis seraya menahan lengan Karina agar gadis itu berhenti membenahi barang-barangnya ke dalam tas.
"Lepaskan aku, Danis !" Desak Karina. Bahkan ia menepis lengan Danis dengan kasar. Karina tak bisa berlama-lama dengan Danis. Karena perasaan cintanya akan semakin menjadi, padahal Karina sadar jika dirinya tak boleh mempunyai perasaan seperti itu pada Danis.
"Oh ya... Aku lupa memberi tahu. Aku sudah memberikan surat pengunduran diri ku pada atasanku,"
"Kenapa berhenti kerja ? Kenapa begitu tiba-tiba ? Apa kamu sengaja lakukan ini semua ?"
Karina memejamkan matanya sembari mendesah dalam. tak mungkin ia katakan alasan yang sebenarnya pada Danis. Tak mungkin ia berkata bahwa Karina lakukan itu agar bisa menjauh darinya juga Amara.
"Apa kamu sengaja ingin melarikan diri dari ku?"
Karina tersentak karena pertanyaan yang Danis lontarkan padanya tepat pada sasaran. "Ti- tidak." jawabnya terbata-bata.
"Jangan pergi Karina.. aku mohon... Aku akan hancur tanpamu... Aku jatuh cinta padamu.," ucap Danis seraya beranikan diri melingkarkan tangannya di atas perut Karina. Ia memeluk gadis itu dengan begitu posesif.
Karina terkesiap, untuk beberapa saat dunianya berhenti berputar. Dadanya berdebar kencang dan tubuhnya gemetar. "Ja- jangan bercanda ! Ini tidak lucu..," ucapnya sambil tertawa dan juga menangis di saat yang bersamaan.
"Aku tidak bercanda... Aku sangat mencintaimu... Sungguh..," bisik Danis sembari mengeratkan belitan tangannya.
"Ta- tapi kamu dan Amara... Kalian...,"
"Amara juga tahu..," potong Danis cepat. " Malah dia lah yang menyadarkan aku tentang perasaan cinta ini padamu.." ucapnya lagi sembari memutar tubuh Karina agar gadis itu menghadapnya.
"Sudah ku katakan jangan bercanda, Danis ! Ini tidak lucu sama sekali !" Karina mengusap pipinya yang basah. Berusaha menghilangkan jejak air matanya, tapi semua itu percuma karena Danis sudah terlanjur melihatnya.
Danis tersenyum dan ia membelai lembut pipi Karina, membantu menghapus air mata itu dengan jempolnya. "Jika kamu tak percaya, silahkan tanyakan padanya. Amara berada di luar menunggu aku untuk bicara padamu..."
***
"Kamu yakin Amara pergi sendiri ? Kenapa lelaki itu tak mengantarkannya ke rumah sakit ? Bagaimana bisa ia membiarkan Amara memeriksakan dirinya sendirian ?? Seharusnya lelaki itu menjaga Amara dengan sungguh-sungguh !!!" ucap Gio sembari menggebrak meja kerjanya. Emosinya meledak saat ia baru saja mendapatkan informasi mengenai Amara dari orang suruhannya.
Perasaan Gio sungguh kacau tak karuan saat orang suruhannya itu mengatakan bahwa Amara pergi ke rumah sakit seorang diri. Sungguh Gio merasa khawatir dengan hebatnya pada Amara.
To be continued ♥️
Jangan lupa vote yaaa