
Bel pintu rumah baru Amara berbunyi, padahal mereka baru saja pindah dan belum selesai berbenah. Gio dan Amara saling bertukar pandang, sama-sama saling bertanya 'siapa yang datang ?' dengan mata mereka.
Amara bangkit dari duduknya di atas lantai. Ia lakukan itu untuk membuka pintu, tapi Gio segera menahannya. "Biar aku saja," ucap Gio seraya berjalan ke arah pintu.
"Tunggu sebentar !" Ucap Gio seraya berjalan. Berharap agar si tamu berhenti memencet tombol bel.
"Haaaiii, aku datang untuk membantu," ucap Dea sambil tersenyum lebar. Saat pintu itu terbuka.
Gio pun tersenyum pada sepupu istrinya itu. "Ayo masuk, De," ucap Gio seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
Amara yang sedari tadi duduk di atas lantai sambil membereskan beberapa barang miliknya, berdiri begitu melihat sepupunya datang. "Ah terimakasih sudah mau datang !" Sambut Amara seraya memeluk Dea. Ia sangat senang dengan kehadiran sepupunya itu.
"Mau aku bantu apa ?" Tanya Dea tanpa basa-basi. Dan Amara pun menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan Dea untuknya.
Karena barang-barang yang Amara bawa cukup banyak, pada akhirnya Gio pun ikut membantu membereskan kamar Amara lebih dulu. "Ini disimpan di mana ?" Tanya Gio seraya mebawa satu kardus berisikan buku-buku milik Amara
"Simpan saja di atas meja !" Jawab Amara, tapi kemudian ia berubah pikiran "eh salah, di lantai saja dulu biar aku mudah mengeluarkan isinya," lanjut Amara tapi masih ada keraguan dalam nada bicaranya, hingga Gio menjadi kebingungan. Ia masih berdiri dengan kardus itu di tangannya.
"Amara?" Tanya Gio memastikan.
"Mmmhh.. eh wait !" Belum juga menjawab pertanyaan Gio, ponsel Amara yang ada dalam sakunya berdering dan ia segera mengangkatnya. "Halo Sayang," ucap Amara saat ia menerimanya panggilan itu.
Dea yang berada di sana langsung melihat pada Gio. Lelaki itu langsung mematung di tempatnya berdiri. Raut wajahnya langsung berubah muram. Tanpa persetujuan Amara, Gio meletakkannya box berisi buku-buku itu di atas meja. Lalu Gio langsung pergi, ke luar dari kamar Amara. Dea tahu jika Gio tengah merasakan cemburu di hatinya.
"Aku pindah rumah hari ini," ucap Amara pada lawan bicaranya yang dapat dipastikan adalah Danis.
"Hu'um... Sama Dea, aku akan tinggal dengannya di sini. Kalau gak percaya video call saja," tantang Amara. Dan beberapa detik kemudian wajah Danis langsung memenuhi layar ponselnya itu. Dan apa yang Danis ucapkan bisa di dengar oleh Dea.
"Kamu sakit, Sayang ? Kayanya tiap hari pakai sweater melulu," tanya Danis terheran. Hampir setiap Danis melakukan panggilan video, Amara pasti mengenakan sweater besar yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Padahal sepengetahuan Danis, Amara adalah seorang gadis yang modis dan selalu ikut trend cara berpakaian yang sedang hits.
"Mmm.. ini... Ini..," Amara terdengar gugup.
"Di Indonesia, sweater oversize lagi hits banget," jawab Amara asal. Lalu ia berdiri dengan ponsel di tangannya, Amara mencari sebuah sweater berukuran besar dan melemparkannya pada Dea agar sepupunya itu mengenakannya
"Pakai !" Ucap Amara melalui isyarat matanya pada Dea. Mau tak mau, Dea pun menuruti perintah sepupunya itu. Ia memakai sweater besar milik Amara.
"Tuh lihat Dea juga sama ! Dia pakai baju seperti ini juga," ucap Amara sembari mengarahkan layar ponselnya pada Dea. Sepupunya itu melambaikan tangannya pada Danis dan memberikan sapaannya. "Hai Danis," ucap Dea sambil tersenyum lebar.
Lalu Danis pun berbicara dengan Dea, ia meminta gadis itu untuk menjaga Amara selama dirinya pergi.
"Ini disimpan di mana ?" Tiba-tiba Gio datang dengan membawa box lainnya. dan kehadirannya itu diketahui oleh Danis. Ia bisa melihat Gio melalui layar ponselnya.
"Itu siapa ?" Tanya Danis penasaran. Wajahnya yang cerah ceria berubah dingin dalam waktu yang cepat.
Amara segera merebut ponselnya dari tangan Dea. "Mmhh dia.. dia itu...," Amara terlihat gugup sekali saat menjawab pertanyaan tunangannya itu. Hingga sebuah ide gila muncul di kepalanya.
"Dia itu pacarnya Dea !" Jawab Amara.
"Oh ya ?" Danis berkerut alis tak percaya. Sedangkan Gio dan Dea secara reflex saling tatap tak karena terkejut dengan apa yang Amara ucapkan.
"Dia ini namanya Gio, pacar Dea. Ayo Gio kenalan sama tunangan aku," Amara pun mengarahkan layar ponselnya pada Gio.
Gio tersenyum kecut, dengan sangat terpaksa ia bicara pada Danis untuk yang pertama kalinya. Mati-matian Gio menahan diri untuk tidak merebut ponsel itu dan membantingnya ke atas lantai hingga hancur. "Hai, gue Gio," ucap Gio terdengar dingin, membuat Amara memelototkan mata padanya karena tak suka.
Amara menarik paksa tubuh Dea hingga sepupunya itu berdiri berdampingan dengan Gio. "Tuh lihat, mereka serasi kan ?" Ucap Amara pada Danis.
"Hu'um sangat serasi. Aku terkejut karena Dea tiba-tiba punya kekasih. Senang berkenalan denganmu, Gio," ucap Danis sambil tersenyum.
Gio hanya membalas senyuman lelaki yang wajahnya memenuhi layar ponsel Amara itu. Ia tak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Gio memilih untuk pergi, sebelum kesabarannya habis. Rasa cemburu memenuhi dada Gio.
"Jadi nanti jangan curiga kalau Gio ada bersama kami ya. Kamu sekarang tahu jika dia adalah pacar Dea,"
"Tentu sayang," jawab Danis. Tak lama, Danis pun mengakhiri panggilan videonya,"
"Hhuuuufftttt hampir saja....," Ucap Amara sembari mengelap keringat dingin di dahinya.
"Dasar gila kamu, Ra !" Ucap Dea. Ia tak suka dengan apa yang Amara lakukan. Dea merasa tak tega pada Gio.
"Lagian ngapain sih Gio tiba-tiba datang ? Bikin kesal aja !" Kesal Amara.
***
Sedangkan di Boston, Danis letakkan ponselnya di atas meja. Ia tatapi layarnya yang kini berwarna hitam itu. Tiba-tiba perasaannya menjadi kacau tak karuan. Danis yakin jika Gio tadi melihatnya dengan sangat sinis dan dingin. Danis merasa ada sesuatu yang tak beres.
to be continued
jangan lupa vote yaaa
makasih