Hate You, Love You

Hate You, Love You
Rencana Tetap Berjalan



Baik Amara dan Gio tak bisa berkata-kata. Apa yang orangtua mereka katakan memang benar adanya. Amara tak bisa mengelak, dan Gio tak bisa menolak.


Sedangkan Dea, ia hanya terdiam dan sesekali melihat pada Amara yang sedari tadi tundukkan kepalanya. Amara menghindari siapapun yang melihatnya.


"Mama kira, kamu sudah tahu tentang rencana ini, Ara," bisik mama Amara di telinga anaknya itu.


"Tadi siang kedua orang tua Gio datang ke rumah dan ternyata mereka pun sudah tahu tentang rencana kepergian mu ke Boston. Kali ini mereka tak akan menghalangi kepergian mu karena menurut orangtua Gio, kamu berhak bahagia dengan pilihanmu. Bahkan mereka akan membantumu agar bisa sampai ke Boston dengan mudah. Mama juga tak bisa menolak karena itu memang benar adanya kan?"


Amara tak menjawab, yang ia lakukan hanyalah anggukan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Lalu mereka juga meminta restu agar Gio dijodohkan dengan sepupumu. Mereka berjanji akan menyayangi Dea seperti anaknya sendiri. Saat mereka datang ke rumah Dea dan mengutarakan semuanya, Om dan Tante mu menyerahkan semuanya pada Dea. Dan ternyata Dea menyetujuinya karena ia memang sangat mencintai Evan bagai anak kandungnya sendiri," jelas sang mama lagi, dan Amara mendengarkan dengan seksama.


"Walaupun Dea dan Gio belum memiliki perasaan satu sama lain, tapi hubungan mereka di kantor sangat baik. Dan kami percaya jika lambat laun perasaan suka itu akan hadir diantara mereka,"


"Ya, Ma ! Amara mengerti," potong Amara yang tak ingin mendengarkan cerita ibunya lagi tentang bagaimana perjodohan itu bisa terjadi.


"Kamu baik-baik saja kan, Ara ? Ini sesuai keinginanmu, kan ?" Tanya Ibu Amara.


Lagi-lagi Amara anggukan kepalanya pelan sebagai jawaban. Walaupun yang sebenarnya ia rasakan begitu bertolak belakang. Entah mengapa Amara begitu marah dan kecewa. Tapi Amara pun sadar jika ia tak bisa ungkapkan itu semua karena apa yang terjadi memang karena keputusannya.


Keputusannya pergi ke Boston untuk menyusul Danis yang menjadikan orang tua Gio menjodohkan anak mereka pada Dea.


Tak ada lagi nada protes dari mulut Gio. Apapun yang ia utarakan maka akan dipatahkan oleh kedua orangtuanya. Dan alasan perjodohan itu karena 'Evan' membuat Gio semakin kesulitan. Sedangkan Amara, hampir sepanjang pertemuan itu ia hanya tundukkan kepalanya. Tak mampu untuk berkata-kata karena keputusannya untuk pergi lah yang membuat perjodohan itu terjadi.


"Semoga Amara bisa menghadiri ulang tahun Evan yang pertama dulu ya sebelum pergi. Karena itu akan sangat berarti," ucap Mama Gio.


Amara mengangguk pelan menyetujui. Lalu ia tundukkan lagi kepalanya karena tahu jika Gio terus melihat ke arahnya. Dan karena hal itulah jantung Amara berdetak lebih kencang.


"Baiklah... Saya rasa ini pertemuan ini cukup sampai di sini. Kita akan bertemu lagi nanti saat pertunangan Gio dan Dea," ucap Papa Gio, menutup acara itu.


Diamnya Amara dan terpatahkan nya segala protes Gio menjadikan rencana perjodohan itu dianggap sudah disetujui.


Semua orang pun bersiap-siap untuk undur diri. Termasuk Amara yang kini merapikan gaunnya sebelum berdiri. Tapi semua menghentikan apa yang mereka kerjakan saat Gio tiba-tiba berkata "aku tak akan bertunangan dengan Dea sebelum urusanku dengan Amara selesai," ucap Gio seraya menatap Amara dari kejauhan.


"Maksudmu ?" Tanya ayah Gio dengan menautkan kedua alisnya sebagai tanda tak suka.


"Aku tak mungkin bertunangan dengan Dea, Papa ! hingga detik ini, aku masih menjadi suami Amara," jawab Gio tegas. Membuat Amara dan Dea langsung beradu pandang.


"Mmmhh.. baiklah Papa mengerti. Kalian bisa bertunangan saat kamu dan Amara resmi bercerai. Dan Amara pun pasti membutuhkan akta cerai untuk melanjutkan hidupnya nanti di Boston," sahut sang ayah menyetujui.


Gio berdiri dan berlalu pergi menuju kamar tamu dimana Evan tengah tertidur pulas. Lelaki jangkung itu tak berkata-kata lagi. Bahkan ia pun tak berbasa-basi dengan mertua dan juga calon mertuanya yang baru.


Sedangkan Amara dan Dea, menjadi canggung seketika. Dea menunggu sepupunya itu untuk berbicara. Ia biarkan para orang tua berjalan menuju pintu keluar lebih dulu.


Amara yang mendengar itu hanya menatap datar pada sepupunya. Bagai orang asing yang baru bertemu. Padahal hubungan keduanya sangat erat sebelumnya.


"Ara... Maafkan aku... Aku-"


"Selamat..," potong Amara cepat. Ia tak mau mendengarkan penjelasan Dea tentang apapun. Hatinya terasa ngilu juga perih hanya karena menatap wajah sepupunya itu.


"Aku lakukan semua ini demi Evan... Aku sangat menyayangi anakmu,"


"Ya, terima kasih ! Terima kasih karena mau berkorban banyak untuk Evan," lagi-lagi Amara memotong ucapan Dea.


"Kenapa tak menginap saja?" Ucapan Mama Gio mengganggu pembicaraan keduanya. Sontak membuat Amara dan Dea langsung melihat pada Gio yang keluar dari kamar tamu dengan Evan dalam gendongannya.


"Kami tidur di rumah saja," jawab Gio singkat juga dingin. Dari sikapnya yang seperti itu, semua orang bisa tahu jika Gio masih tak terima dengan perjodohannya dengan Dea.


"Gio.. sudah malam.. Evan tak usah pulang karena ini juga rumahnya." Mama Gio masih berusaha untuk menahan anaknya itu.


Tapi Gio tetap dengan pendiriannya. Ia tak menggubris perkataan ibunya itu dengan terus berjalan menuju pintu keluar. "Amara, ayo cepat pulang !" Titah Gio, dan Amara pun menurutinya.


Dea melihat kepergian Amara dan Gio dengan tatapan nanar. Bahkan sepupunya itu tak berpamitan padanya. Apalagi Gio yang tak sekalipun melihat ke arahnya, seolah Dea tak ada di sana.


"Tenanglah Dea... Semua akan baik-baik saja. Gio hanya terlalu terkejut dengan rencana ini. Tapi percayalah... Lambat laun ia akan menerima kehadiranmu," ucap Mama Gio seraya menepuk pundak Dea. Ia lakukan itu untuk menenangkan Dea yang terlihat gundah.


"Terimakasih, Tante," sahut Dea sambil tersenyum tipis. Lalu ia hembuskan nafas dalam, sembari kembali melihat pada Gio dan Amara yang kini sudah duduk di dalam mobil mereka. Wajah Gio yang masih terlihat marah membuat Dea sadar jika apa yang akan dihadapinya nanti tidaklah mudah.


***


Sudah jam 3 pagi tapi Amara belum juga bisa menutup matanya untuk tidur. Yang ia lakukan hanya membolak-balikkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman tapi nyatanya ia tak bisa menemukannya.


Bukan ranjangnya yang salah, tapi pikiran Amara yang tak bisa diajak berdamai. Ia masih saja memikirkan pertunangan Gio dan Dea.


Amara bangkit dan duduk di tepian ranjang dengan gelap yang menyelimutinya. "Seharusnya kamu bahagia, Ara ! Dengan begitu Evan akan bersama orang yang menyayanginya, dan Gio bersama wanita yang baik hati," gumam Amara pelan. Bibirnya melengkungkan senyuman tapi matanya basah. Sungguh Amara tengah merasakan pergolakan batin yang hebat. Entah mengapa hatinya tetap terasa sakit saat memikirkan itu semua.


Sedangkan Gio, ia juga duduk sendirian dalam gelap di kamarnya. Sudah jam tiga pagi tapi Gio belum juga bisa menyelami alam mimpi.


Pikirannya melayang pada apa yang terjadi tadi. Bertunangan dengan Dea ? Bisakah ia lakukan itu ? Padahal seluruh hatinya sudah Gio tambatkan pada Amara seorang. Dan itu membuat Gio benar-benar merasa tersiksa.


Ingin rasanya Gio berjalan keluar kamar dan menggedor pintu istrinya itu, lalu mengatakan pada Amara jika ia benar-benar mencintainya . Tapi Gio tak bisa lakukan itu semua karena diamnya Amara di acara tadi cukup membuat Gio paham jika Amara tetap ingin pergi menemui kekasihnya. Gio merasa tak ada sedikitpun celah untuk dirinya agar bisa masuk ke dalam hati Amara. "Tak bisakah kamu cintai aku sedikit saja ?" Tanya Gio seraya meraup wajahnya frustasi.


bersambung ♥️