Hate You, Love You

Hate You, Love You
Keputusan



"Sudah ! Aku tuh bukan anak kecil yang selalu harus kamu ingatkan, Gio !" Jawab Amara tak seramah tadi saat ada orangtuanya.


Lagi-lagi Gio menghela nafasnya dalam. Sejak menikah dengan Amara, Gio sering sekali melakukan hal itu. Menghela nafasnya dalam dan menelan kata-kata ketus istrinya. Tanpa banyak bertanya lagi, Gio nyalakan mesin mobilnya dan bergerak keluar dari halaman rumah Amara. Ia melambaikan tangannya kepada kedua orang tua Amara yang masih berdiri di teras rumah, melepaskan kepergian mereka.


Amara pun lambaikan tangannya sembari tersenyum. Ia lakukan itu agar ayah ibunya tak merasa khawatir padanya. Padahal Amara tengah merasakan pergolakan batin yang sangat hebat saat ini. Dadanya berdegup kencang, dan tubuhnya mulai dibanjiri keringat dingin karena rasa cemas juga takut yang mulai melanda. Ia akan kembali datang ke rumah terkutuk itu.


Amara alihkan pandangan ke luar jendela mobil, berusaha tetap kuat walaupun dalam hatinya merasa takut setengah mati. Meskipun kejadian naas itu telah berlalu lama, tapi nyatanya kenangan buruk tentangnya masih terpatri dalam ingatan Amara dengan begitu jelas.


Rasa takut, sakit, cemas dan tak berharga, masih bisa Amara rasakan hingga saat ini. Amara juga masih ingat bagaimana tubuhnya yang gemetar dan sakit menahan perih, berusaha untuk berjalan keluar dari rumah itu dengan susah payah. Sungguh kembali ke rumah itu membuat Amara sangat takut.


"Kamu baik-baik saja ?" Tanya Gio yang ternyata sedari tadi masih saja memperhatikan Amara. Padahal istrinya itu begitu ketus dengannya, tapi Gio tak bisa menahan diri untuk tak melihatnya.


"Hemmm," Amara bergumam pelan. Tak menjawab pertanyaan suaminya.


"Kamu kelihatan pucat, kamu sakit ?" Tanya Gio sembari sesekali tolehkan kepalanya pada sang istri. Padahal Gio tahu jika Amara akan menjawab ketus dan marah, tapi masih saja ia bertanya.


"Bisa gak sih jangan banyak nanya ? cukup menyetir saja !" jawab Amara ketus, tepat seperti dugaan Gio.


"Aku tahu kamu sangat membenciku, Amara. Tapi, kamu tak bisa mencegahku untuk merasa khawatir padamu. Oleh karena itu jawab saja pertanyaannya agar aku tak bertanya lagi,"


Amara alihkan pandangannya, melihat pada Gio dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. "Kamu ingin tahu kenapa aku terlihat tak baik-baik saja ? Kamu yakin ingin tahu, Gio ?" Tanya Amara dengan suara meninggi.


Gio menganggukkan kepala tanpa melihat pada istrinya yang tengah diliputi rasa emosi itu.


"Aku sangat takut kembali ke rumahmu ! Aku masih bisa merasakan bagaimana gemetarnya seluruh tubuhku saat aku melarikan diri darimu, Gio !" Jawab Amara. Lalu ia pun palingkan wajahnya ke arah lain. Pundaknya naik turun, pertanda nafasnya yang memburu dan pendek-pendek.


Gio mencengkram erat setirnya, hingga memutih buku-buku tangannya. Perkataan Amara menusuk tepat pada hatinya.


"Seandainya saja aku bisa memutar waktu, aku tak akan melakukan hal jahat itu padamu, Amara. Sudah beribu-ribu kali kukatakan padamu bahwa aku sangat menyesal," ucap Gio menimpali. Tapi Amara hanya diam tak menanggapi. Ia sibuk mengeringkan pipinya yang basah dengan punggung tangan.


Setelah itu suasana menjadi hening dan sunyi. Keduanya tak saling bicara lagi hingga akhirnya tiba di kediaman keluarga Gio beberapa puluh menit kemudian.


"Kita udah sampai," ucap Gio memecah keheningan. Ia hentikan laju mobilnya di halaman rumahnya yang luas.


Wajah Amara menegang dan Gio bisa melihatnya dengan sangat jelas. "Semuanya akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir," ucap Gio seraya mengulurkan tangannya untuk membelai rambut panjang Amara. Ia ingin menenangkan istrinya itu. Tapi pergerakan tangannya berhenti tepat di dekat rambut Amara. Gio sadar ia tak bisa lakukan itu semua.


Dengan perasaan kacau tak karuan Gio menarik tangannya kembali. "Ayo kita turun. Sepertinya Mama sudah menunggu kita," lanjut Gio. Ia katakan itu karena melihat ibunya sedang duduk-duduk di teras rumah, ditemani asisten rumah tangganya.


Amara menarik nafas dalam- dalam sebelum ia turun dari mobil Gio. Menenangkan dirinya sendiri yang terus saja gemetar. Bahkan perutnya terasa bergejolak karena rasa gugup yang tak juga hilang.


Ibu Gio berdiri saat melihat anak dan menantunya datang. Ia berjalan menuruni beberapa anak tangga, menyambut keduanya. "Mama takut kalian gak jadi datang," ucapnya sambil tersenyum. Gio mencium kedua pipi ibunya itu sebagai sapaan. "Senang sekali melihatmu sehat-sehat saj, Gio," ucapnya penuh rasa syukur.


Amara tersenyum canggung, ia terlihat kaku dan serba salah. Tapi Ibu Gio mencairkan suasana itu dengan memeluknya erat dan mencium pipi Amara seperti yang ia lakukan pada Gio anaknya.


"Kamu juga sehat, Amara ? Bagaimana dengan kehamilanmu ?" Tanya nya ramah.


"Al- Alhamdulillah sehat, mmh...,"


"Kandungannya juga sehat, Ma. Dua hari yang lalu kami baru saja melakukan pemeriksaan. Bayinya tumbuh sempurna dan kuat. Mama akan mendapatkan seorang cucu laki-laki." Gio memotong ucapan Amara yang tergagap.


Mata Ibu Gio berbinar bahagia saat mendengarnya. "Benarkan ? Mama senang mendengarnya. Ayo masuk ! Kalian pasti sudah lapar. Biar Bik Marni simpan tas kalian di kamar atas,"


"Kita pakai kamar tamu aja, Ma. Kamar yang di bawah dekat kolam ikan," potong Gio cepat. Membuat Amara melihat ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


"Kata dokter, Amara gak boleh capek-capek, Ma," jawab Gio dan itu membuat Amara semakin menatapnya dengan penuh tanda tanya. Sepengetahuan Amara, dokter yang memeriksanya tak mengatakan hal itu sama sekali.


"Ooh baiklah... Bi, tolong bereskan kamar tamu ya. Gio dan Amara akan tidur di sana,"


"Baik Bu," sang asisten rumah tangga mengangguk patuh dan segera pergi menuju kamar yang dituju untuk membersihkannya.


Ibu Gio merangkul pundak Amara, "sabar ya, Amara. Hamil terkadang memang seperti itu. Mama saja masih merasakan mual-mual sampai hamil Gio sembilan bulan. Semoga kamu kuat ya," ucapnya menenangkan.


Amara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Padahal kandungannya baik-baik saja tak ada hambatan apapun.


Setelah mengobrol sebentar, mereka pun menikmati makan malam bersama. Sayangnya ayah Gio tak ikut serta karena sedang ada urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.


"Jadi kalian memutuskan untuk membeli rumah ?" Tanya ibu Gio terheran. Begitu juga Amara yang seperti orang linglung melihat pada suaminya.


Tanpa dibicarakan dulu sebelumnya, Gio mengatakan pada ibunya jika ia dan Amara berencana membeli sebuah rumah sederhana yang letaknya dekat dengan kampus. Ia lakukan itu agar Amara tak merasa lelah apalagi kehamilannya semakin membesar.


"Hu'um.. membeli atau mengontrak rumah. Kami mau belajar hidup mandiri juga, Ma,"


"Rumah ini juga dekat dengan kampus Amara kan ?"


"Iya, Ma. Tapi pagi-pagi pasti macet di daerah pertigaanya itu loh," jawab Gio beralasan. Sedangkan Amara hanya diam saja karena tak paham.


"Padahal Mama seneng banget, kalian mau tinggal di sini," ucap Ibu Gio sendu. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.


"Kita akan lebih sering datang, Ma. Atau mama juga bisa datang ke rumah kita kapan saja Mama mau," sahut Gio seraya meraih tangan ibunya itu dalam genggaman. Mencoba untuk membesarkan hatinya.


"Ah baiklah... Apa kalian sudah menemukan rumahnya ?"


"Belum Ma, masih lihat-lihat," jawab Gio.


"Mama akan meminta Om Johan untuk membantumu mencarinya, agar Amara tak kelelahan," ucapnya lagi seraya menatap hangat pada menantunya itu.


***


Amara sudah berganti baju. Ia duduk di atas kursi sembari mengoleskan pelembab di wajahnya. Lagi-lagi ia menangkap basah Gio yang sedang menatapnya dalam cermin.


Gio segera alihkan pandangannya dan pura-pura meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Gio...,"


"Sudah ku katakan, kamu jangan khawatir. Aku tak akan membiarkanmu tinggal di tempat yang membuatmu semakin trauma," potong Gio cepat.


Amara putar tubuhnya dan melihat pada Gio. "Terimakasih banyak, Gio,"" ucap Amara tulus. Bahkan ia tersenyum untuk pertama kalinya pada Gio. Senyum yang datang dari hatinya, bukan hanya sekedar pura-pura.


Pipi Gio terasa panas hanya karena Amara tersenyum padanya. Ia langsung berdiri salah tingkah. "Ka- kamu tidurlah. Aku akan menonton TV di luar menemani Mama," ucap Gio seraya mengantongi kembali ponselnya yang tadi ia letakkan di atas nakas.


Amara mengangguk pelan dan menatap punggung kokoh Gio yang pergi meninggalkannya.


Seandainya saja mereka tak bersatu karena hal yang menyakitkan dan andai Amara tidak dengan Danis. Amara yakin jika dirinya bisa jatuh hati pada Gio yang baik hati dan pengertian.


to be continued