Hate You, Love You

Hate You, Love You
Pindah Rumah



"Ada yang lucu ? Kok senyum-senyum sendiri ?" Tanya sang ibu pada anak semata wayangnya itu.


Gio menggelengkan kepalanya pelan. Ia lebih memilih untuk duduk di samping ibunya dan memberikan wanita itu kecupan di pipi, daripada menjawab pertanyaannya.


Melihat reaksi Gio, sang ibu cukup tahu jika anaknya itu tengah dalam suasana hati yang bahagia. Ia tak bertanya lagi tentang alasan Gio tersenyum. Cukup ikut bahagia saja karenanya.


"Mama senang melihatmu yang sekarang," ucap sang ibu tulus. Setelah menikah Gio tak lagi menyentuh minuman haram dan pergi keluyuran dari satu club malam ke club yang lainnya. Gio sudah kembali menjadi Gio yang dulu. Anak lelaki kebanggaannya.


Gio sandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Padahal tubuh Gio jauh lebih tinggi dan lebih besar tapi ia masih saja bermanja-manja kayaknya anak kecil pada ibunya.


"Kandungan Amara baik-baik saja kan ? Apa Amara mengalami pendarahan hingga ia harus banyak beristirahat ? Tadi Mama gak berani bertanya, takut Amara menjadi sensitif karenanya," Tanya ibu Gio cemas.


"Alhamdulillah gak ada pendarahan kok, Ma. Hanya saja kegiatan kuliah Amara sangat padat. Ia harus menyusul beberapa ketinggalannya,"


"Kamu udah hubungi pihak kampus untuk mempermudah kuliah Amara kan ?" Tanya sang ibu lagi.


"Sudah Ma, itu Amara masih bisa menyusul ketinggalannya padahal sebenarnya tidak diperbolehkan jika itu mahasiswi biasa. Untuk program beasiswa, para siswanya dituntut untuk mengerjakan semua tugasnya tepat waktu. Dan ada standar nilai tertentu agar bisa terus mendapatkan beasiswa," jelas Gio.


"Ah syukurlah jika begitu. Amara jadi tak usah mengambil cuti atau tertinggal jauh," sahut sang ibu. Terdengar helaan nafas lega dalam perkataannya.


"Dan Amara mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Istriku memang sangat pintar, Ma. Tak percuma Gio mendorongnya lewat jalur dalam," ucap Gio bangga, dan sang ibu tersenyum senang mendengarnya.


"Tapi.. hubungan kalian baik-baik saja kan, Gio ?"


Gio hanya tersenyum samar menanggapinya. Ia tak mengiyakan, namun tak juga menyangkalnya. Gio tak ingin memberi tahu keadaan yang sebenarnya pada sang ibu.


Alasan pertama mengapa Gio tak menceritakan yang sebenarnya yaitu karena Gio tak ingin menambah beban pikiran ibunya. Yang kedua yaitu Gio tak ingin berbicara buruk tentang Amara. Ia tak mau jika nanti ibunya menjadi tak suka pada Amara. Gio berpikir jika Amara sudah banyak menderita karenanya. Jadi cukup penderitaan itu tak usah ditambah dengan rasa tak suka ibunya.


"Mungkin sekarang Amara belum bisa mencintaimu, tapi semoga waktu dan sikap juga sikap baikmu bisa meluluhkan hatinya,"


Gio tegakkan tubuhnya dan menatap wajah ibunya dalam-dalam.


"Dari cara Amara melihat padamu saja, mama sudah tahu jika dia belum jatuh hati padamu Gio. Tapi kamu tak bisa marah padanya dan memaksakan perasanmu. Amara mau bertahan di sisimu selama ini aja sudah sangat luar biasa. Mungkin Mama tak akan sekuat Amara jika Mama yang mengalaminya sendiri,"


Gio mengangguk paham dan menyandarkan kepalanya kembali di pundak sang ibu. "Kamu sudah mempunyai perasaan padanya kan, Gio ?" Tebak sang ibu.


"Hu'um... Gio suka Amara," jawab Gio. Padahal ia tak hanya sekedar suka, tapi lebih dari itu. Gio sangat menyayanginya walaupun Amara begitu keras menolaknya.


"Semoga nanti Amara pun merasakan hal yang sama denganmu. Semoga Amara mau membalas perasaanmu. Sudah membawanya ke psikiater ?"


Gio menggeleng pelan. "Amara gak mau. Katanya dia gak bisa berbagi cerita sakitnya dengan orang lain," jawab Gio dengan raut wajahnya yang terlihat suram.


"Ya sudah jangan dipaksa. Semoga waktu bisa menyembuhkan lukanya,"


"Iya, terimakasih atas pengertian Mama," ucap Gio seraya memeluk lengan ibunya itu.


Bukan tanpa alasan Mama Gio mau berbesar hati menerima sikap ketus Amara. Ada cerita masa lalu yang cukup kelam yang ibu Gio tutupi. Dahulu, sahabatnya mengalami hal yang sama dengan Amara. Diperkosa oleh laki-laki asing di sebuah pesta ulangtahun.


Ibu Gio tahu bagaimana beratnya trauma yang dirasakan. Sahabatnya itu benar-benar menderita dan ia pun nekat melenyapkan nyawanya sendiri saat tahu dirinya hamil. Naas nya, sahabat ibu Gio berhasil melakukannya.


***


"Biar aku saja," ucap Gio sembari mengambil alih sebuah kotak dari tangan Amara. Setelah 3 Minggu berlalu, akhirnya mereka pindah ke rumah yang baru Gio beli.


Rumah itu tak semewah rumah Gio, tapi lebih bagus dari rumah Amara sebelumnya. Rumah dua lantai itu terdiri dari 4 kamar tidur dengan deasin minimalis modern dan letaknya tak begitu jauh dari kampus tempat Amara menuntut ilmu.


"Untuk sementara kita akan menempati lantai bawah agar kamu tak usah naik turun tangga," jelas Gio.


"Dan akan ada seseorang yang bekerja di rumah ini. Jadi kamu tak usah repot-repot bekerja," lanjut Gio lagi.


"Ki- kita.. mmh.. kita ti- tidur di mana ?" Tanya Amara. Ada rasa cemas dalam raut wajahnya.


Gio pun sadar akan hal itu, ia tahu rasa cemas Amara pasti dari pembagian kamar. Meskipun sangat berat tapi akhirnya Gio mengalah. "Kita bisa tidur di kamar yang terpisah jika kamu memang menginginkan hal itu," kata Gio.


"Be- benarkah ?" Mata Amara membola dan sebuah senyuman tersungging di bibir tipisnya.


Gio anggukan kepala dan membalas senyuman Amara. Padahal yang sebenarnya terjadi, Gio tengah merasakan patah hati yang teramat sangat.


"Tapi...,"


"Tapi apa ??" Potong Amara cepat. Wajahnya tak sebahagia tadi.


"Tapi kamar kita harus bersebelahan atau berseberangan. Dan kamu juga tak aku izinkan untuk tidur dengan kamar terkunci,"


"A- apa ?" Amara berkerut dahi tak suka.


"Aku tak akan menyelinap masuk ke dalam kamarmu dan tidur di sana. Itu hanya untuk memudahkan aku, memeriksa keadaanmu," jawab Gio beralasan.


Amara hanya terdiam terpaku tanoa mengatakan apapu lagi


"Percayalah Amara, aku tak akan melakukan hal buruk padamu. Berbulan-bulan kita tidur dalam satu kamar, apakah aku pernah menyakitimu ?"


Amara pun mencerna apa yang Gio ucapkan dan perkataan laki-laki memang benar adanya. Tak sekalipun Gio meminta haknya sebagai suami, padahal mereka tidur di atas ranjang yang sama.


"Ba-baiklah," jawab Amara.


Gio tersenyum lega saat amara menyetujuinya. "Oke kalau begitu, kamarmu tepat di sebelah kamarku,"


Amara anggukkan kepalanya, menyetujui. Dan mereka pun mulai membenahi kamar masing-masing yang akan ditempati.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like dan komen yaa...


Kalau sua dengan Novelnya, jangan lupa share banyak2 yaaa.


Terimakasih banyak ya....