
Tubuh Amara gemetar saat Gio menyentuhkan bibirnya di keningnya. Amara masih saja merasa takut walaupun Gio menciumnya dengan lembut. Tak lagi penuh paksaan seperti malam terkutuk itu. Nafasnya pun kini menyeruakkan wangi mint segar, tak lagi berbau alkohol yang memuakkan.
Meksipun begitu, Amara masih saja merasa takut pada Gio.
Amara menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah saat tiba-tiba wajah Danis melintas di kepalanya. "Maafkan aku yang egois ini, tapi aku sungguh-sungguh tak bisa kehilanganmu," ucap Amara dalam hatinya. Ia merasa telah mengkhianati Danis yang selama ini selalu menunggunya. Amara pun menitikkan air matanya.
Sadar jika tubuh Amara gemetar, Gio pun uraikan ciumannya dari kening gadis itu. Padahal Gio begitu enggan. Ada sesuatu yang baru dan membuat Gio bergetar saat merasakannya. Gio ingin merasakan sensasi itu lebih lama lagi tapi ia sadar diri jika Amara tak merasakan hal yang sama dengannya.
"Ayo foto bersama dulu," ucap sang fotografer.
Gio pun berdiri bersebelahan dengan Amara sembari memegang buku nikah mereka. Gio terlihat tersenyum ke arah kamera, sedangkan Amara hanya memberikan ekspresi datar di wajahnya.
"Kalian udah halal loh, ayo lebih dekat lagi !" ucap sang fotografer lagi, karena Gio dan Amara berdiri dengan jarak di antara mereka.
Mendengar itu, Amara melihat Gio dengan takut-takut. Gio tersenyum lembut pada istrinya itu dan menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat. Senyum Gio semakin lebar pada kamera saat ia berdiri di sebelah Amara dengan tubuh mereka yang saling menempel. Sedangkan Amara masih dengan wajah datarnya. Gadis itu menarik paksa ke dua sudut bibirnya saat sang fotografer dengan bawelnya meminta Amara untuk tersenyum.
Setelah itu, kedua mempelai pun berfoto dengan keluarga mereka secara bergantian. Dan selama itu terjadi, terdengar suara-suara sumbang tentang Amara yang mendadak menikah dengan seorang Giovanni Abraham. Padahal semua juga tahu jika sebelumnya Amara telah bertunangan dengan Danis yang kini bekerja di luar negeri.
"Pantas saja lebih memilih yang ini karena jauh lebih kaya," ucap salah satu kerabat dekat Amara yang tak tahu tentang cerita sebenarnya.
"Ya iyalah ! Lebih ganteng juga," timpal yang lainnya.
"Duit dan ketampananan bisa mengalahkan yang namanya cinta," ucap yang lainnya lagi sambil tertawa.
"Padahal Amara sudah berhubungan dengan Danis bertahun-tahun lamanya ya." Walaupun berbisik-bisik tapi Amara masih bisa mendengarnya walaupun samar.
Amara ingin berteriak pada semua, jika ini bukanlah yang dirinya inginkan. Seandainya mereka mau, Amara akan memberikan Gio secara percuma. Apa yang Amara dengar saat ini, membuat ia semakin benci pada Gio. Si pengantin wanita pun semakin menekuk wajahnya.
Setelah acara foto bersama selesai dilaksanakan, para tamu pun menikmati hidangan yang telah keluarga Amara siapkan.
Pada akhirnya Gio mempunyai kesempatan untuk berduaan dengan Amara. "Kamu cantik sekali, Amara," ucap Gio yang tak bisa menahan diri untuk mengatakannya. Dan Gio sangat tulus memuji istrinya itu.
Mendengar kata-kata pujian yang Gio lontarkan tak membuat Amara bergetar hatinya. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Mau makan sekarang ? Makan sama-sama yuk ?" Ajak Gio. Lelaki itu masih berusaha untuk membangun komunikasi pada Amara yang terus membentengi dirinya.
"Aku gak lapar," jawab Amara singkat.
Gio mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. "Baiklah tak apa-apa, kita makan nanti saja," sahut Gio sambil tersenyum lembut.
Setelah itu sunyi bagi keduanya karena Amara tak lagi berbicara dan Gio pun tak ingin terus memaksa Amara agar mau bicara padanya.
Setelah beberapa jam berlalu, acara pernikahan itu pun selesai dilaksanakan. Walaupun dikatakan hanya sederhana saja, tapi nyatanya acara itu di datangi lebih dari 200 orang. Sebenarnya keluarga Gio sudah menawarkan sebuah pesta mewah tapi Amara segera menolaknya mentah-mentah. Tentu saja gadis itu tak mau, karena ia takut teman-teman Danis akan mendengar berita tentang pernikahannya.
"Baik-baik ya Gio. Perlakukan istrimu dengan lemah lembut. Perbanyaklah stok sabar mu, karena wanita hamil itu sangat sensitif," ucap Ibu Gio sebelum ia meninggalkan anaknya itu di rumah Amara.
Waktu terus berlalu, hingga hari pun telah berganti gelap. Gio sudah berganti baju, begitu juga Amara. Saat ini keduanya tengah menikmati makan malam bersama. Amara lebih dulu berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya dengan alasan ingin beristirahat karena kelelahan.
Gio tak menahan kepergian istrinya itu dan mengatakan akan menyusul sebentar lagi. Gio tengah mengakrabkan diri dengan kedua mertua dan adik iparnya. Berbicara tentang banyak hal untuk lebih mengenal mereka.
Gio sangat senang karena kedua orang tua Amara dan juga adik iparnya bisa menerima kehadiran Gio dengan baik. Lelaki itu merasa mempunyai keluarga baru walaupun ia tahu jika Amara masih belum bisa menerima kehadirannya.
Setelah cukup lama Gio bercengkrama dengan keluarga Amara, ia pun berpamitan untuk segera beristirahat. Dengan perasaan gamang, Gio menaiki tangga yang membawanya ke kamar Amara yang kini telah sah menjadi istrinya.
Amara tolehkan kepala saat Gio membuka pintu kamarnya. Saat ini Amara tengah duduk sembari mengerjakan tugas kuliahnya di meja belajar.
Tak seperti pengantin baru pada umumnya yang menyambut kedatangan sang suami dengan pakaian dinas penuh goda. Yang Amara kenakan justru sebaliknya. Gadis itu mengenakan satu stel training yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Amara tak memakai gaun malam, padahal Gio memberikannya beberapa di seserahan yang ia bawa.
Amara kembali pada tugas-tugasnya, ia tak menghiraukan kedatangan Gio. Membuat suaminya itu lebih memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang masih berhiaskan kelopak bunga mawar. Gio terdiam begitu juga Amara, padahal ini adalah malam pertama mereka.
"Ngerjain apa ? Mau aku bantu ?" Tanya Gio memecahkan keheningan di antara mereka.
"Kenapa kamu memberiku mas kawin yang sangat besar ? Dan kenapa membawa seserahan yang begitu banyak? Padahal aku tak pernah memintamu untuk melakukan itu semua." Alih-alih menjawab pertanyaan Gio, Amara malah balik bertanya dengan nada suara yang tak bersahabat. Ia putar tubuhnya hingga kini menghadap pada Gio yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Gio tercengang mendengar pertanyaan yang Amara lontarkan. Saking kagetnya lelaki itu, hingga tak langsung menjawabnya.
"Kenapa kamu lakukan itu semua ? Kamu perlu tahu, jika aku bukanlah gadis yang akan terpesona karena uangmu ! Itu tak akan membuatku terpesona dan memaafkan segala kesalahanmu !" Lanjut Amara dengan tatapan mata dingin dan sengit.
"Itu karena aku tak tahu apa yang kamu inginkan sebagai mas kawin, Amara. Dan kamu juga tak pernah menjawab pertanyaanku tentang apa saja yang kamu inginkan sebagai seserahan," jawab Gio.
"Tapi bukan berarti kamu harus memberiku secara berlebihan ! Aku sangat tak menyukainya,"
"Untuk seserahan, ibuku yang membeli semuanya. Dan untuk mas kawin, aku mengambil dari tanggal lahir mu 17, bulan 10, tahun 2000. Seratus tujuh puluh satu ribu,"
"Kamu tinggal memberiku dalam bentuk rupiah ! Jika kamu kira, aku akan merasa silau dengan kekayaanmu, maka kamu salah besar Gio ! Bukannya terpesona tapi aku merasa semakin muak padamu. Karenamu, orang-orang mengira aku meninggalkan Danis demi uangmu ! Aku benci, Gio ! Aku benci kamu !!"
"Maafkan aku," ucap Gio pelan.
"Sedikitpun aku tak bermaksud untuk memamerkan kekayaanku ataupun berusaha mengambil hatimu dengan uang yang aku punya. Karena aku sudah tahu kamu bukan gadis seperti itu,"
"Lalu kenapa kamu lakukan itu semua padaku, huh ?"
"Karena kamu begitu berharga di mataku, Amara !!! Asal kamu tahu, aku merasa apa yang aku berikan padamu masih sangat kurang karena kamu begitu berharga buatku !!!"
Bersambung...
Sabar... Sabar... Sabar..
Yang suka Novelnya yuk like dan komen yang banyak