Hate You, Love You

Hate You, Love You
Aku Datang



"Ahh !" desah kesal lolos dari mulut Amara saat ia menjatuhkan sebuah jeruk tanpa sengaja. Membuatnya harus berjongkok untuk mengambilnya. Padahal perut Amara yang tengah hamil 6 bulan itu sudah mulai membuatnya kesusahan.


Amara terpaksa harus berjongkok untuk mengambilnya. Setelah bersusah payah, akhirnya jeruk itu bisa Amara ambil dan ia pun segera duduk dan membukanya.


"Oh !" Amara segera mengeluarkan jeruk itu dari mulutnya karena rasanya yang tak enak. Padahal jeruk itu tak terasa masam tapi tetap saja lidah Amara tak bisa menerimanya.


Tak seperti jeruk yang dibukakan Gio untuknya dan Evan. Lelaki itu membuka dan membersihkannya satu persatu hingga Amara juga Evan tinggal makan saja. Jeruk yang Gio berikan tak selalu manis, tapi Amara yakin rasanya jauh lebih enak. Kedua mata Amara pun menjadi basah karena mengingatnya.


"Kumohon jangan seperti ini... Ayo kita lupakan Gio," ucapnya pada diri sendiri.


Ya... Jika Amara sendirian maka hanya Gio dan Evan yang ada di dalam kepalanya. Amara akan pura baik-baik saja jika di depan Danis dan Karina. Amara tak ingin membuat kedua temannya menjadi susah karenanya. Apalagi Danis dan Karina telah memutuskan untuk segera menikah. Amara tak ingin kehadirannya menjadi penghambat rencana mereka.


Amara masih merasa lapar tapi apa yang ia inginkan selalu tak sesuai dengan harapan. Selalu saja ada yang kurang, tak seperti jika Gio yang memberikannya. Amara memeriksa paper bag belanjanya dan mencari sekotak cemilan anak-anak yang biasa Evan makan. Mungkin dengan begitu ia bisa memakannya untuk menghilangkan rasa lapar.


Pelan-pelan Amara membuka kotak biskuit berbentuk aneka binatang itu. Aroma coklat menguar, membuat Amara meneteskan air mata. Rasa rindunya kian menggila. "Evan... Gio... Aku rindu kalian...," Amara menangis dengan kepala tertunduk lesu. Ia sadar jika dirinya sangat membutuhkan kehadiran dua lelaki itu. Amara yakin dengan adanya Evan dan Gio, maka hidupnya pun akan kembali bahagia.


"Orang bilang... Waktu akan mengobati semua... Tapi nyatanya tidak ! Semakin hari aku semakin merindukan kalian..." Amara menelungkupkan kepalanya di atas meja, dan menumpahkan air matanya di sana. Melampirkan rasa rindunya yang tak juga hilang.


***


Seorang lelaki berjalan keluar dari area bandara. Ia terlihat gagah dengan setelan jas hitam mahal yang membelit tubuh tinggi tegapnya dengan sempurna. Kedatangannya di sambut oleh lelaki lainnya yang sama-sama mengenakan jas.


"Selamat datang di Boston," ucap lelaki yang menunggu itu sembari membukakan pintu mobil. Setelah itu ia berlari menuju bagasi dan memasukkan beberapa koper milik lelaki yang berjas mahal tadi.


"Bagaimana penerbangan anda, Pak Gio?" Tanya lelaki itu pada penumpang yang di bawanya. Lelaki yang tadi ia jemput dari bandara. Kini keduanya telah berada di perjalanan menuju tempat lain.


"Terasa sangat lama. Saya sudah tak sabaran ingin segera sampai," jawab Gio dengan sebenarnya. Perjalanan 23 jam itu benar-benar menyiksa Gio. Tapi meksipun begitu, Gio pergi tanpa beban masalah lagi di Indonesia. Masalah tentang Dea telah selesai, dan Gio pun merasa bahagia ketika ibunya mau mengerti tentang perasaannya pada Amara yang tak bisa hilang.


Kini Gio hanya fokus pada Amara saja. Bagaimana caranya membuat wanita yang paling dicintainya itu bahagia. Tapi sebelumnya Gio ingin memberi pelajaran pada lelaki yang telah membuat Amara menderita. Berani-beraninya dia menyakiti wanita yang paling berarti bagi Gio.


"Apa anda ingin beristirahat dulu di hotel, Pak ?"


"Tidak, antarkan saya langsung ke kantor tempat lelaki itu bekerja," jawab Gio. Ia menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, berusaha untuk melepaskan penat karena perjalanan. Walaupun sebenarnya Gio merasakan lelah, tapi ia sudah tak sabar untuk menyelesaikan masalahnya.


Setelah melalui jalanan selama beberapa belas menit lamanya, Gio pun tiba di tempat yang ditujunya. "Anda jangan ikut campur dengan apa yang akan saya lakukan," ucap Gio memperingatkan. Ia masih menunggu juga memperhatikan dari dalam mobil, seseorang yang sangat ingin ditemuinya.


Tangan Gio mengepal kuat saat ia lihat seorang lelaki keluar dari gedung perkantoran dengan seorang wanita dalam rangkulannya. Lelaki berkacamata itu tersenyum bahagia, begitu juga si wanita. Dan keduanya sesuai dengan foto yang Gio lihat beberapa waktu lalu.


"Sialaaann," geram Gio dan ia pun keluar dari mobil. Gio berjalan menuju lelaki itu dengan kedua tangan terkepal menahan marah.


Tanpa aba-aba Gio menarik paksa tubuh lelaki itu hingga ia terpisah dari gadis yang sedang dirangkulnya. "Dasar lelaki bajing*n !!" Teriak Gio seraya melayangkan kepalan tangannya tepat di wajah si lelaki, hingga kacamatanya langsung terlepas.


Si gadis terdiam untuk beberapa saat, rasa terkejutnya membuat ia tak bisa berpikir jernih. Namun setelah itu ia berteriak dan mencoba menarik tubuh Gio yang tengah memukuli kekasihnya. "Lepaskan !" teriaknya panik.


"Apa yang lo lakuin sama Amara-gue sungguh tidak bis dimaafkan," ucap Gio lagi seraya memberikan pukulannya. "Gue serahin Amara agar dia bahagia !! Tapi lo malah menyia-nyiakannya dengan memilih gadis lain ! Amara wanita terhormat ! Gue yang bersalah. Kalau lo dendam, balas ke gue ! Jangan sama dia ! Jangan pada Amara !"


"Amara ?" batin Danis dalam hati. Begitu juga dengan Karina.


Sekuat tenaga Danis berusaha untuk membalas. Rasa marah menguasai dirinya. "Lo yang brengs*k !" Balas Danis seraya mendorong tubuh Gio dengan kuat. "Lo biarin Amara pergi padahal dia hamil anak Lo !" teriak Danis. "Dan Lo dengan entengnya tunangan sama Dea !" Lanjutnya lagi sambil memberikan pukulan balasan pada Gio.


"Amara hamil ? Anak aku ?" Tiba-tiba Gio tak bisa bergerak. Ia pasrah saat Danis terus memberikan pukulan balasannya.


"Iya anak Lo !! Mana mungkin cewek kaya Amara mau disentuh lelaki lain ! Kita berdua tahu bagaimana Amara !" Lagi-lagi Danis memberikan tinjunya tapi Gio hanya diam tak membalas. Bahkan ia terjatuh di atas jalan.


"Hentikan Danis !" Susah payah Karina menarik tubuh Danis dari atas Gio. Kekasihnya itu masih saja memberikan pukulan pada Gio. Melampiaskan rasa marah dan juga kecewanya karena Danis pikir, Gio lah yang menyakiti Amara.


"Gue sama Karina menjaga istri Lo yang hamil itu ! Dan Lo malah asik pacaran sama sepupunya !"


"Cukup Danis ! Cukup ! Aku tak mau kamu berakhir di penjara. Kita akan menikah sebentar lagi. Hu..hu..hu..." Tangisan Karina cukup membuat Danis sadar. Ia pun bangkit dari tubuh Gio yang terkapar di atas aspal.


"Amara hamil... Amara hamil...," Itulah yang Gio gumamkan berulang kali. Ia tersenyum padahal wajahnya babak belur.


Danis menatap Gio untuk beberapa saat. Lalu ia ulurkan tangannya, membantu Gio untuk berdiri. "Ayo bangun ! Lo pasti pengen ketemu Amara dan anak Lo kan ?" ucap Danis.


Gio terima uluran tangan itu. Ia bangkit bagai orang linglung. "Amara hamil anak gue ?" tanya nya masih dengan wajah tak percaya.


"Ya.. dia hamil anak kamu, Gio. Meksipun sakit-sakitan tapi Amara mempertahankannya dengan sekuat tenaga. Dia sangat bahagia dengan kehamilan ke duanya." Kali ini Karina yang menjawab.


"Ya Tuhan...," Gio terisak, sungguh ia merasa bahagia dengan hebatnya, hingga sakit di wajahnya tak terasa lagi.


***


Bunyi bel di pintu membuat Amara yang menelungkupkan kepalanya di atas meja harus bangkit.


"Ya tunggu sebentar!" ucap Amara. Ia kira Danis dan Karina yang datang untuk melihat keadaannya. Cepat-cepat Amara bercermin dan mengusap sisa-sisa air matanya.


Bel pintu berbunyi lagi, Amara pun bergegas menuju pintu. "Gak sabaran banget sih," ucap Amara sembari membukanya. Berdirilah seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan beberapa luka lebam yang menghiasi wajahnya. Wajah yang sangat Amara rindukan. "Ya Tuhan..." Amara bergumam pelan dengan air bening yang kembali jatuh dari kedua matanya.


"Sayang... Aku datang untuk menjemputmu pulang..."


To be continued ♥️


maaf baru update lagi yaa