
*
*
Suasana pertemuan yang seharusnya menyenangkan untuk saling berbagi cerita bagi Fio dan teman-temannya kini menjadi canggung karena ada Devan diantara mereka.
Bagaimana lagi Pria gagah itu sama sekali tidak bisa dibujuk, Hingga akhirnya Fio terpaksa membawa Devan bersamanya atau tidak bisa kumpul sama sekali dengan teman lamanya.
" Wah Anda Uncle yang sangat perhatian ya, sampai rela menemani Fio berkumpul bersama kami," Ucap Frans mencoba memecah kecanggungan.
" Hems." Devan menanggapi dengan hanya deheman saja.
Devan melirik sekilas pada pemuda yang dianggapnya sebagai Rival itu.
Suasana bukanya mencair malah terasa semakin canggung dengan Respon Devan yang terkesan sangat singkat.
" Ternyata kau punya Uncle setampan dan segagah ini Fi? Enaknya jadi kamu bisa melihat keindahan seperti itu setiap hari," Celetuk salah satu teman wanita Fio.
" Ah biasa saja sih." Sahut Fio
" Gila! kalo aku punya Uncle model gini rela deh ngintilin terus di belakangnya," Sahut temannya lagi sembari melihat kearah Devan dengan kagum.
Fio sedikit tak terima dengan pandangan para teman wanitanya yang terarah ke arah Devan.
" Sebenarnya dalam pertemuan kali ini aku juga ada sesuatu untuk ku beri tahu pada kalian sebagai teman semasa sekolah. Aku akan segera menikah dengan Devan yang kalian kenal sebagai Uncle ku barusan." Fio mengeluarkan undangan dan menyerahkan pada temannya satu persatu.
Devan nampak tersenyum puas. Devan tak menyangka jika Fio juga ingin memberi tahu semua temannya tentang pernikahan mereka di acara Reuni gadis itu.
" Oh my!! Really kau serius? Bukankah kalian saudara?" Tanya Teman Fio.
Fio mengangguk " Kita tak sedarah dan kita saling mencintai So kuharap kalian datang di pernikahan ku," Sahut Fio menoleh ke samping dan tersenyum pada calon suaminya yang tampan.
" Kita pasti datang lah masak nggak, Iyakan Frans?"
Frans terkejut dari lamunannya " I-iya kita pasti datang. Congrats ya Fio." Sahut Frans.
Walaupun hatinya terasa sakit tapi Frans bukanlah pria yang egois yang menghancurkan kebahagiaan seseorang hanya demi kebahagiaannya sendiri. Cinta tak harus memiliki bukan? dan itulah yang Frans alami saat ini merelakan melepaskan cintanya.
mereka pun akhirnya mengobrol setelah mengetahui jika Devan dan Fio akan menikah kecanggungan sudah tidak terlihat lagi bahkan mereka saling tertawa sembari bercerita pengalaman masing-masing selama beberapa tahun terakhir.
*
" Sayang aku gak nyangka bentar lagi kita akan menikah, Rasanya seperti mimpi," Ucap Fio saat ini keduanya dalam perjalanan pulang menuju Apartemen Devan.
Devan meraih Tangan fio dengan tangan kirinya dan tangan kanan memegang kemudi. " Kalo seperti ini apa masih terasa mimipi?" Kata Devan memgecupi tangan Fio.
" Hemz, I love you my Uncle." Kata Fio bersender di dada Devan.
" I love you too gadis kecilku." Sahut Devan mengecup puncak kepala Fio dan kembali fokus kedepan dengan tangan kiri yang melingkar di pundak gadisnya.
Fio sama sekali tak merubah posisinya sampai mobil yang di kemudikan Devan sampai di Apartemen. Devan bahkan tak mengeluh bahkan menikmati tindakan Fio itu dan sesekali terus nengecupi puncak kepala gadisnya setiap ada kesempatan di sepanjang perjalanan ke Apartemen miliknya.
setelah memarkirkan mobil keduanya keluar dari mobil dan bergandengan tangan memasuki gedung Apartemen. Selama di dalam Lift keduanya sesekali saling mencuri ciuman. Untung saja Apartemen itu milik Keluarga Brown jadi ada Lift khusus hanya untuk Keluarga Besar Pemilik Gedung itu.
Ciuman itu lama kelamaan semakin Liar hingga Lift berhenti tepat pada lantai paling atas dimana hanya ada satu Apartemen mewah milik Devan.
keduanya keluar Lift dengan saling memagut mesra dan terpaksa berhenti untuk membuka Akses masuk ke dalam Apartemen mewah itu.
...****************...