Fearless

Fearless
Bab 9



Kevin dan Erick datang sambil membawa pesanan. Setelah itu, keduanya duduk bersama Calista, Friska dan Rania.


Ketika Calista ingin mengambil makanan pesanannya, tiba-tiba Kevin langsung mencegahnya.


"Yang ini punya gue, soalnya yang ini terlalu pedas," ujar Kevin karena ia tahu bahwa Calista tidak kuat memakan makanan yang terlalu pedas.


Kevin memberikan makanan dan minuman milik Calista. "Ini punya lo."


"Makasih." Calista menikmati makanannya.


"Vin, saudara gue naksir sama lo," ujar Friska.


Ekspresi Kevin biasa saja, karena ia sering mendengar jika ada yang menyukainya.


Calista tertawa kecil, karena melihat ekspresi Kevin yang seolah-olah muak setiap kali mendengar hal tersebut.


"Lo kenapa ketawa?" bingung Erick.


"Soalnya ekspresi Kevin lucu banget. Biasanya orang lain senang kalau ada yang naksir. Tetapi kalau Kevin, dia kayak yang udah bosan setiap mendengar ada cewek yang suka sama dia."


Erick tersenyum karena ucapan Calista memang benar. "Kalau gue jadi Lo, Vin. Mungkin setiap hari gue akan ganti pacar."


Mendengar ucapan Erick, membuat Calista menjadi overthinking. Karena pacarnya tampan, ia jadi berpikir bahwa Reyhan juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi dengan adanya fotonya dengan perempuan, itu membuktikan bahwa Reyhan benar-benar menyelingkuhi Calista.


"Emang lelaki gak cukup sama satu cewek ya?"


Karena merasa lelaki, Kevin dan Erick otomatis menoleh kearah Calista.


"Tergantung sih. Kalau misalnya ceweknya cantik, pasti gak akan diselingkuhi. Sedangkan kalau ceweknya jelek, cowoknya pasti selingkuh lagi," kata Erick.


"Gak juga sih. Justru yang gue tahu, sekarang banyak cowok yang selingkuh dengan perempuan yang jelek. Padahal pacarnya itu cantik banget loh," sahut Friska.


"Oh iya, guys. Pulang sekolah mau main ke rumah gue yuk," ajak Calista, lalu keempat sahabatnya serentak menjawab bahwa mereka mau main ke rumah Calista.


...****************...


Calista bersama sahabat-sahabatnya berkumpul di parkiran. Mereka sepakat bahwa mereka akan berangkat dengan mengendarai mobil Kevin dan Erick.


"Calista, lo naik mobil gue aja. Sedangkan lo berdua naik mobil Erick," kata Kevin.


Akhirnya Calista masuk kedalam mobil dan Kevin menyusul masuk kedalam mobil.


"Ta, katanya mereka mau ke supermarket dulu. Jadi mereka suruh kita duluan ke rumah lo."


"Oh ya udah."


Kemudian, Kevin melajukan mobilnya menuju rumah Calista.


Trining!  Trining!


Handphone Calista berbunyi dan ia langsung melihat ke layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.


Dan ternyata orang yang menelponnya adalah Reyhan.


Sebenarnya Calista malas menjawabnya. Tetapi karena ia rindu dengan suara kekasihnya, akhirnya ia menjawab telepon tersebut.


"Sayang, maafkan aku karena udah bohong sama kamu. Sebenarnya semalam aku lagi gak di rumah, tapi aku lagi diluar sama teman aku," kata Reyhan.


"Kenapa keluar sama teman cewek?"


"Soalnya semalam dia ajak aku untuk cari kado buat pacarnya, makanya aku antar dia."


Calista sedikit lega mendengar penjelasan dari Reyhan. Tetapi entah mengapa Reyhan seolah-olah tahu bahwa Calista marah akibat Reyhan pergi dengan perempuan.


"Jangan marah lagi, karena cewek itu cuma teman aku. Lagipula aku juga gak pernah marah kalau kamu main sama teman cowok kamu," ujar Reyhan.


"Iya, aku gak akan marah lagi."


"Ya udah kalau gitu aku tutup ya teleponnya, soalnya aku mau pergi ke rumah teman."


Percakapan antara Calista dan pacarnya berakhir. Karena Reyhan sudah menjelaskan semuanya, jadi Calista tidak marah lagi kepadanya.


"Vin, cewek semalam yang sama Reyhan itu katanya temannya. Katanya temannya ajak Reyhan buat cari kado."


"Masa? kok gue gak percaya," ujar Kevin, karena ia melihat bahwa perempuan itu memeluk Reyhan.


"Kenapa gak percaya?"


"Soalnya gue lihat kalau cewek itu peluk Reyhan saat dibonceng."


Calista menjadi bimbang, entah siapa yang harus ia percayai. Terlebih lagi keduanya sangat dekat dengan Calista, jadi ia bingung siapa yang berkata jujur dan siapa yang bohong.


"Kok lo bicara kayak gitu sih." Calista merasa tersindir.


...****************...


Sesampainya di rumah, Calista dan Kevin turun dari mobil dan mereka langsung masuk kedalam rumah.


"Hallo, Tante!" sapa Kevin.


Ketika Kevin hendak salam kepada Mamah tiri Calista, dengan cepat Calista menarik tangan Kevin.


Calista sengaja membawa Kevin ke kamarnya dan dia menyuruh Kevin untuk tunggu di kamar.


Calista kembali menghampiri Mamah tirinya. "Tolong buatkan makanan!" perintahnya. Sesudah itu, Calista kembali menghampiri Kevin dan duduk disampingnya.


"Ta, lo kenapa sih? gue kan mau salaman sama Mamah lo, kok lo main tarik gue."


Calista hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Kevin.


"Kenapa? lo lagi marahan sama Mamah lo?" tanya Kevin.


"Itu bukan Mamah gue, Mamah gue udah meninggal."


Kevin terdiam sejenak, ia baru tahu hal itu. "Maaf. Gue gak tahu."


Calista menghela nafasnya. "Jangan kasih tahu yang lain ya soal hal ini."


Tujuan Calista merahasiakan hal ini karena dirinya tidak ingin sahabat-sahabatnya mengasihaninya karena Calista tidak mempunyai ibu.


"Mamah tiri lo jahat ya? kok lo kayak yang benci sama dia."


"Sampai saat ini sih dia belum menunjukkan tanda-tanda kalau dia jahat. Tapi gue yakin nantinya dia pasti menunjukkan sikap aslinya."


"Kalau ternyata aslinya dia baik gimana?"


"Tetap aja gue gak suka. Karena gara-gara dia, perhatian papah gak tertuju lagi sama gue."


Kevin menatap Calista dengan tatapan sendu seolah-olah dia kasihan terhadap Calista.


"Jangan tatap gue kayak gitu! gue gak suka!"


Beberapa menit kemudian...


Tingtong! Tingtong!


Calista menyuruh Kevin menunggu di kamar. Setelah itu, ia segera keluar karena pasti sahabat-sahabatnya telah datang.


Sesampainya diluar, Calista mempersilahkan sahabat-sahabatnya masuk kedalam rumah.


"Kevin dimana?" tanya Erick.


"Di kamar gue."


"Lo berdua gak macam-macam kan di kamar?" tanya Erick.


"Ya enggak lah."


Tiba di kamar, Friska dan Rania langsung tiduran di kasur. Sedangkan Erick, dia duduk di sofa bersama Kevin.


"Ta, orang tua lo gak ada di rumah ya?" tanya Rania.


"Papah lagi gak ada, karena dia lagi sibuk kerja."


"Kalau Mamah lo?" tanya Rania lagi.


Calista terdiam sejenak, lalu ia sekilas menoleh kearah Kevin. "Ada kok. Dia lagi masak di dapur."


Tiba-tiba Mamah tiri Calista datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Kevin dan Erick dengan sigap membantu meletakkan makanan dan minuman di meja.


"Makasih ya, Tante. Maaf merepotkan," ujar Kevin.


"Gak merepotkan kok." Mamah tiri Calista tersenyum.


"Wajah lo mirip banget sama Mamah lo," kata Rania kepada Calista.


"Ya mirip lah! namanya juga anak dan ibu," sahut Friska.


Sejujurnya Calista benci saat ada orang yang menyebutnya mirip dengan Mamah tirinya. Tetapi karena orang yang berkata itu adalah sahabatnya, jadi ia lebih memilih untuk menahan kekesalannya.