
Kevin memarahi Friska karena waktu itu Friska membagikan video saat berada di club ke story instagram-nya. Friska pikir orang yang masuk kedalam close friend nya tidak akan menyebarkan video itu, namun kenyataannya orang-orang itu mengkhianati Friska.
"Vin, udah lah. Lagian papah Calista udah terlanjur tahu," kata Erick.
"Ka, gue pingin lihat close friend lo boleh gak?"
Friska memperlihatkan close friend nya kepada Calista, Kevin dan Erick. Dan ternyata close friend nya terdiri beberapa teman sekelasnya dan juga beberapa teman onlinenya yang sering menyukai postingan Friska.
"Apa mungkin Rania ya? soalnya dia kan yang tahu papah lo," kata Friska.
Calista berjalan kearah Rania dan diikuti oleh Kevin, Friska beserta Erick, karena mereka juga ingin memastikan apakah yang mengirim video itu adalah Rania atau bukan.
"Lo yang kirim video ke papah gue ya?"
"Video apa?" bingung Rania.
"Video gue sama yang lain waktu di club."
"Gak kok. Lagipula ngapain juga gue kirim video itu ke papah lo, punya nomernya aja enggak," jelas Rania.
Setelah dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakan Rania. Mana mungkin dia mempunyai nomer telepon papah.
"Apa jangan-jangan Bayu yang kirim video itu," tuduh Kevin.
"Gak mungkinlah."
"Bukan dia. Lagipula dia gak masuk close friend gue dan juga gue baru follow dia beberapa hari yang lalu," sahut Friska.
"Emang story instagram orang bisa di save ya?" tanya Erick, lalu Calista menjelaskan bahwa video yang dikirim itu merupakan hasil rekaman layar.
Beberapa menit kemudian, guru memasuki kelas dan serentak semua murid duduk di kursinya masing-masing.
Calista mengedarkan pandangannya ke beberapa temannya yang ada di kelas. Ia menebak-nebak siapa yang sekiranya mengirimkan video itu. Yang ia heran, bagaimana bisa salah satu teman kelasnya mengetahui nomer telepon papahnya?
Jika dipikirkan lagi, bisa jadi ada orang tua temannya berteman dengan papah. Jadi orang itu meminta nomer papah kepada orang tuanya untuk mengirim video itu.
"Calista, fokus ke depan!" tegur guru.
"Maaf, Bu." Calista otomatis memperhatikan gurunya yang sedang menjelaskan materi.
...****************...
Seusai pelajaran pertama berakhir, Calista berjalan menghampiri Bayu. Ia takut jika nanti papahnya menanyakan ke Bayu tentang Calista yang masih dekat dengan sahabat-sahabatnya atau tidak.
"Ada apa?" tanya Bayu karena Calista tiba-tiba menghampirinya.
Calista langsung berterus terang menceritakan masalahnya kepada Bayu. Dan ia meminta Bayu supaya merahasiakan bahwa Calista masih bergaul dengan sahabat-sahabatnya.
Lalu, Bayu mengiyakan permintaan Calista untuk merahasiakan hal itu. Tetapi disisi lain, Bayu sedikit terkejut karena ia tak menyangka bahwa Calista pergi ke club. Padahal yang Bayu tahu, Calista bukanlah anak yang nakal. Namun setelah ia kembali bertemu dengan Calista, ternyata tindakan Calista lebih buruk dibandingkan dengan Bayu saat SMP.
"Ta, ayo ke kantin," kata Kevin.
"Gue gak mau ke kantin."
"Kenapa?" tanya Kevin.
"Soalnya gue gak lapar."
Sebenarnya Calista menolak ajakan Kevin karena ia takut jika ada yang memotret dirinya beserta sahabat-sahabatnya. Ia takut jika orang tersebut kembali melaporkannya kepada papah Calista.
"Ya udah kalau gitu aku jajan dulu ya, nanti aku ke kelas," kata Kevin.
"Gak usah. Lo makan di kantin aja sama yang lain."
Disisi lain, Bayu menatap kearah Calista. Bayu merasa curiga dengan tingkah Calista dan Kevin.
"Lo pacaran ya sama Kevin?" tanya Bayu.
"Enggak kok." Calista kembali duduk di kursinya. Lalu, Bayu mendekat kearah Calista karena ia sangat yakin bahwa Calista dan Kevin sedang menjalin hubungan.
"Terus tadi kenapa Kevin panggil lo dengan sebutan kamu?" heran Bayu.
"Ya terserah dia dong. Dia kayak gitu bukan berarti kita pacaran."
Bayu duduk disebelah Calista dan dia menatap Calista sambil tersenyum.
"Beneran gak ada hubungan apa-apa?" tanya Bayu memastikan dan Calista hanya mengangguk.
Tak lama, seseorang kembali masuk kedalam kelas. Terlihat dari tatapannya bahwa dia sangat marah ketika melihat Calista yang mengobrol dengan Bayu.
"Ngapain lo dekat-dekat sama Calista?" kesal Kevin.
"Vin, lo kenapa sih?" heran Calista saat mendengar perkataan Kevin.
"Ta, lo juga ngapain sih dekat-dekat sama dia?" tanya Kevin.
Calista segera menarik tangan Kevin dan membawa Kevin keluar kelas.
"Vin, lo kenapa sih cemburuan banget jadi orang? gue sama Bayu kan cuma mengobrol doang."
"Bayu suka sama lo, jadi wajar kalau gue cemburu dan takut lo jadi jatuh cinta sama dia."
"Bayu suka sama gue? itu cuma perasaan lo doang kali."
"Enggak, Ta. Dia bilang sendiri ke gue kalau dia suka sama lo," jelas Kevin.
Agar Kevin tidak overthinking, Calista mengatakan kepadanya bahwa mulai sekarang Calista akan menjaga jarak dengan Bayu. Karena sebagai pacar yang baik, Calista harus menjaga perasaan Kevin.
"Ya udah ayo ke kantin," ajak Calista. Karena jika berada di kelas, ia takut nantinya Kevin akan bertengkar dengan Bayu.
"Sebentar, aku mau ambil dompet dulu di tas." Kevin kembali masuk kedalam tas. Sedangkan Calista hanya menunggu didekat pintu kelas untuk mengawasinya agar tidak terjadi pertengkaran.
Sesudah Kevin mengambil dompetnya, ia dan Calista segera pergi menuju kantin.
...****************...
Selama di kantin, Calista tidak memesan makanan. Karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa ia sedang tidak lapar.
"Lo kenapa, Ta?" tanya Erick karena dari tadi Calista terus mengedarkan pandangannya ke beberapa orang yang berada di kantin.
"Ta, lo masih memikirkan orang yang kirim video itu ya?" tanya Friska yang merasa bersalah.
"Iya. Gue takut kalau orang itu kirim foto ataupun video tentang gue yang masih dekat dengan kalian."
"Ya udah kalau gitu lo minta maaf aja ke bokap lo. Habis itu lo bilang kalau lo mau minta maaf ke orang-orang yang pernah lo bully," saran Erick.
Calista menyetujui saran dari Erick. Karena dengan meminta maaf kepada korban bullying, siapa tahu papah jadi memaafkan Calista.
Calista bergegas pergi menghampiri orang-orang yang pernah ia bully. Sebenarnya tujuan utamanya bukan untuk meminta maaf, namun ia hanya ingin papahnya mempercayai kalau orang-orang itu sudah memaafkan Calista. Tetapi bukan berarti Calista terpaksa meminta maaf. Ia akan benar-benar tulus meminta maaf jika memang ia yang salah.
Tetapi jika orang itu seperti Andini dan perempuan yang menyebut Calista dengan sebutan ******, maka Calista tidak sudi untuk memaafkannya.
Setelah menemui orang yang pernah Calon bully, Calista langsung meminta maaf kepadanya.
Orang yang pernah Calista bully juga hanya tersenyum dan juga orang itu sudah memaafkan Calista karena katanya semua orang pasti pernah membuat kesalahan.