Fearless

Fearless
Bab 27



Ini seperti mimpi buruk bagi Calista. Bagaimana bisa orang yang dulu pernah mem-bully Calista tiba-tiba datang ke rumah dengan orang tuanya. Dan plot twist nya itu kedua orang tuanya merupakan teman Papah Calista saat SMA. Bahkan katanya Bayu dan orang tuanya baru pindah rumah, yang mana rumahnya berhadapan langsung dengan rumah Calista.


"Oh iya, besok Calista berangkat bareng Bayu aja ke sekolahnya," kata Papah Bayu.


"Enggak, Om. Calista mau berangkat sendiri aja."


"Om, Tante. Aku boleh pinjam Calista gak? soalnya ada yang ingin aku bicarakan sama dia," kata Bayu.


"Ya boleh, silahkan aja," kata Papah.


Bayu menyuruh Calista untuk mengikutinya keluar rumah dan tentu saja Calista menuruti perintahnya. Karena jika tidak, mungkin kedua orang tuanya Bayu akan menganggap kalau Calista masih belum memaafkan Bayu.


"Ada apa?"


Bayu tersenyum miring. "Katanya lo di sekolah suka bully orang ya?"


Calista terdiam sejenak. "Enggak kok. Yang ada lo yang bully orang."


Bayu menunjukkan ponselnya kepada Calista dan dia memutar video yang mana isi video tersebut adalah video saat Calista dan sahabat-sahabatnya menyuruh seorang adik kelas untuk membeli makanan untuk Calista dan sahabat-sahabatnya.


"Selain itu, katanya lo juga pernah gunting rambut adik kelas ya? sampai-sampai adik kelas itu jadi pindah sekolah," kata Bayu.


"Iya, emang kenapa? lo mau laporkan hal ini ke orang tua gue?"


"Ya jelas lah. Lo kan udah bilang ke orang tua gue bahwa dulu gue pernah bully lo, jadi sekarang giliran gue buat bilang tentang hal ini ke orang tua lo," jelas Bayu.


Saat Bayu hendak masuk kedalam rumah, dengan cepat Calista menahannya. Calista tidak ingin orang tuanya tahu tentang hal ini. Jika mereka tahu, mungkin Calista akan ditampar oleh Papahnya dan juga pasti Mamah akan kecewa mendengar hal tersebut.


"Jangan bilang ke orang tua gue." Calista memegang pergelangan tangan Bayu dengan erat.


"Oke, tapi kalau gitu gue minta satu permintaan boleh gak?"


"Apa permintaannya?"


"Lo harus jadi pacar gue."


Mata Calista membulat sempurna saat mendengar permintaan dari Bayu.


"Jangan baper. Gue meminta lo jadi pacar gue karena gue ingin dikenal oleh semua murid. Soalnya lo sama teman-teman lo katanya terkenal di sekolah."


Calista berpikir keras tentang hal ini. Permintaan Bayu memang tidak sulit, hanya saja Calista merasa kesal karena Bayu hanya memanfaatkan Calista. Tapi disisi lain, ada baiknya juga Calista berpura-pura berpacaran dengan Bayu, karena dengan ini siapa tahu Kevin jadi menjaga jarak dengan Calista.


"Ya udah, gue mau jadi pacar pura-pura lo."


"Oh iya, gue besok mau pindah aja ke kelas lo. Soalnya di kelas XII IPS 2 gak seru orang-orangnya," kata Bayu.


"Emang boleh pindah?"


"Boleh, lagipula gue kan baru masuk sehari. Jadi nanti gue tinggal minta pindah aja ke wali kelas."


Bayu memberikan ponselnya kepada Calista dan itu membuat Calista kebingungan.


"Gue minta nomer telepon lo," pinta Bayu.


"Gak boleh."


"Kalau lo gak mau kasih, gimana orang-orang akan percaya kalau lo itu pacar gue," kata Bayu.


Calista dengan terpaksa mengambil ponsel itu dan juga Calista menuliskan nomer teleponnya dengan nama Calista cantik. Setelah itu, Calista kembali memberikan ponselnya kepada Bayu.


Bayu tertawa terbahak-bahak saat melihat nama Calista di kontaknya. "Percaya diri banget lo."


"Ya iyalah. Sekarang gue udah cantik, gak seperti dulu."


Calista memang ingin menyombongkan dirinya lantaran dulu Bayu sering mengejek Calista dengan sebutan jelek. Maka dari itu, Calista menamai dirinya dengan nama Calista cantik.


"Jadi dulu lo jelek ya?" kata Bayu sambil tertawa kecil.


"Iya, dulu gue jelek! puas lo!"


"Gue masih punya foto lo waktu dulu loh," kata Bayu.


Bayu tertawa kecil seraya meledek Calista. Otomatis Calista kesal dan langsung masuk kedalam rumahnya.


...****************...


Keesokan paginya saat Calista hendak pergi, tiba-tiba Bayu mendatangi rumah Calista. Dengan begitu, Calista langsung menghampirinya untuk mengetahui alasan mengapa dia datang ke rumah. Dan ternyata, Bayu mengajak Calista untuk berangkat sekolah bersama.


Tentu saja Calista menolaknya, karena ia tidak ingin pergi ke sekolah dengan mengendarai motor Bayu. Bukan apa-apa, tetapi posisinya Calista menggunakan rok dan tentunya ia tidak nyaman jika berangkat dengan mengendarai motor.


Tanpa diduga, Bayu tiba-tiba melepaskan jaketnya dan mengaitkan jaketnya ke pinggang Calista supaya nantinya Calista merasa nyaman.


"Ini helmnya." Bayu memberikan helm kepada Calista.


"Ini helm siapa?"


Calista mengendus helm itu untuk memastikan apakah helm tersebut bau atau tidak.


"Ya ampun, pakai diendus segala," sinis Bayu.


"Takutnya bau, nanti yang ada rambut gue jadi bau gara-gara pakai helm ini."


"Gak pakai helm ini juga rambut lo udah bau."


"Kurang ajar lo!" kesal Calista.


Bayu hanya tersenyum saat melihat reaksi Calista, karena ia merasa Calista berbeda dengan yang dulu. Calista yang dulu tidak bisa melawan, namun Calista yang sekarang dapat melawan ucapan dari Bayu.


"Ya udah ayo berangkat."


Akhirnya keduanya berangkat ke sekolah bersama.


Skip


Sesampainya di sekolah, semua pandangan tertuju kearah Calista dan Bayu. Mereka memandang Calista dan Bayu dikarenakan Bayu menggenggam pergelangan tangan Calista.


Jujur saja Calista merasa risih, tapi untuk membuat semua orang percaya, maka ia pasrah saja saat tangannya digenggam oleh Bayu.


"Aku ke ruang guru dulu ya, soalnya aku mau bilang supaya aku pindah ke kelas kamu," kata Bayu.


"Apaan sih! pakai aku kamu segala."


Bayu menatap tajam kearah Calista. "Biar semua orang percaya."


"Ya udah sana!" usir Calista.


Bayu segera pergi menuju ruang guru. Sedangkan Calista, ia pergi menuju kelasnya.


Ketika berjalan menuju kelas, tiba-tiba Rania datang menghampiri Calista.


"Ta, sekali lagi makasih ya," ujar Rania, lalu Calista hanya mengangguk.


"Lelaki yang tadi siapa?" tanya Rania.


"Kenapa tanya kayak gitu? lo mau menikung gue lagi?" sindir Calista.


"Enggak kok, Ta. Gue sekarang udah sadar dan gak akan khianati lo lagi," jelas Rania.


Calista tersenyum miring saat mendengar perkataan Rania. Meskipun dari raut wajah Rania sangat meyakinkan, tetapi Calista tidak akan percaya lagi kepadanya.


Karena tak ingin terus mengobrol dengan Rania, akhirnya Calista memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


Sesampainya di kelas, beberapa orang menatap kearah Calista. Sepertinya Calista mengetahui bahwa orang-orang merasa aneh saat melihat Calista yang mewarnai rambutnya kembali menjadi hitam.


"Kenapa?" sewot Calista kepada teman-teman yang menatapnya.


"Lo cantik banget kalau berambut hitam," kata Sarah.


Yang tadinya kesal kepada teman-teman yang menatapnya, kini Calista menjadi salah tingkah akibat dipuji oleh salah satu dari mereka.