
Calista merasa biasa saja saat didekat Kevin, mungkin karena ia sudah terbiasa bersama, jadi ia tidak merasakan salah tingkah.
Meskipun begitu, bukan berarti Calista tidak pernah salah tingkah. Ia pernah merasakannya, namun hanya di kejadian-kejadian tertentu saja.
"Kenapa gak dilanjutkan makannya?" tanya Kevin.
"Aku udah kenyang."
Kevin tersenyum. "Tumben pake aku, biasanya juga pake gue."
"Ya udah maaf."
Kevin tertawa kecil ketika mendengar Calista meminta maaf hanya gara-gara hal itu.
"Gak apa-apa, malah aku suka kalau kamu bilang kayak gitu," kata Kevin.
Jika dengan pacar, Calista memang lebih suka memanggil dengan kata 'aku' dibandingkan dengan 'gue'. Sebab itu lebih terdengar seperti layaknya orang yang sedang pacaran.
"Sesudah dari sini, kita mau kemana lagi?"
"Pulang aja deh."
Kevin merasa kecewa, karena ia seperti tidak kencan. Hanya makan-makan lalu pulang, itu sih seringkali dilakukan bersama Calista di hari-hari biasa. Tetapi karena Kevin tidak ingin memaksa Calista untuk terus bersamanya, jadi ia akan turuti kemauan Calista.
"Sebelum pulang, kita foto dulu yuk!" ajak Kevin.
"Ayo, tapi jangan di-posting ke media sosial ya. Soalnya takut yang lain curiga kalau kita pacaran."
"Gak apa-apa kali, Ta. Mereka gak akan tahu kok, lagipula waktu itu kita juga sering posting foto berdua."
"Tapi gue gak mau kalau di-posting."
Kevin menghela nafasnya dan terpaksa ia harus menuruti perintah Calista.
"Oh iya, besok aku gak akan berangkat ke sekolah bareng. Soalnya aku harus datang pagi-pagi banget, karena aku mau latihan basket," kata Kevin.
"Iya gak apa-apa, lagian aku bisa berangkat sekolah sendiri."
"Kamu gak marah, kan?" tanya Kevin memastikan.
Calista tertawa. "Ya enggak lah, ngapain juga harus marah."
...****************...
Calista menghampiri Mamah yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Ia heran mengapa Mamahnya sangat suka menonton film horor, padahal kan film horor itu sangat menyeramkan.
"Tadi setelah pulang sekolah kemana dulu?"
"Tadi Calista ke restoran orang tuanya Kevin."
"Kalian pacaran ya?" tanya Mamah, sebab saat pagi Calista dan Kevin berangkat ke sekolah bersama.
Calista terdiam sejenak. "Enggak kok, Mah."
Mamah tak percaya dengan perkataan Calista. Dari cara bicara Calista juga menunjukkan bahwa dia sedang gugup.
"Ta, kamu seharusnya mengaku aja. Lagipula Mamah dan papah juga membolehkan kamu pacaran kok."
"Calista gak pacaran, Mah."
Mamah hanya tersenyum. "Jangan bohong. Mamah tahu ekspresi saat kamu berbohong."
Akhirnya Calista mengakui bahwa dirinya memang berpacaran dengan Kevin. Dan ia juga mengungkapkan bahwa mereka baru pacaran kemarin.
"Sahabat-sahabat kamu yang lainnya udah tahu?"
"Belum. Calista sengaja gak kasih tahu mereka, soalnya mereka pasti heboh banget kalau tahu Calista dan Kevin pacaran."
Tak lama, Papah datang menghampiriku dan Mamah. Lalu, Papah duduk sambil menatap tajam kearah ku.
"Papah gak menyangka kamu kayak gitu," ujar Papah.
"Maksudnya?"
Papah menunjukkan video saat Calista berada disebuah club malam. Bukan hanya itu, Papah mengetahui bahwa Calista dan sahabat-sahabatnya melakukan aksi kekerasan di sekolah.
"Itu editan kali, Pah," kata Mamah.
"Mulai sekarang, kamu gak boleh main sama sahabat-sahabat kamu lagi. Kalau Papah lihat kamu main sama mereka lagi, Papah akan memindahkan kamu ke sekolah lain," perintah Papah.
Calista menundukkan kepalanya. "Maafin Calista, Pah. Calista janji gak akan kesana lagi dan juga Calista gak akan bully orang lain lagi."
Papah tidak menghiraukan perkataan Calista, ia malah pergi menuju kamarnya. Kemudian, Mamah menyusul ke kamar.
Begitupun Calista, ia pergi menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Ia akui bahwa dirinya salah, makanya ia berusaha untuk mengurung diri. Karena jika ia keluar, ia takut Papahnya akan menamparnya seperti waktu itu.
...****************...
Keesokan harinya, Calista sengaja berangkat pagi karena ia ingin menghindari Papahnya sekaligus ia ingin menyaksikan Kevin latihan basket.
Walaupun tadi Mamah menyuruhnya untuk sarapan, tetapi Calista menolaknya dengan alasan ia ingin sarapan di kantin sekolah.
Sesampainya di sekolah, Calista bergegas pergi menuju kelasnya untuk menyimpan tas. Setelah itu, ia segera pergi menuju kantin untuk membeli makanan dan minuman karena tadi ia tak sempat sarapan.
Sesudah membeli makanan dan minuman, Calista pergi menuju lapangan basket untuk melihat Kevin yang sedang latihan.
Tiba di lapangan, pandangan Kevin tertuju pada Calista. Lalu, Kevin menghentikan aktivitasnya dan berlari menuju Calista.
"Kamu bela-belain datang pagi cuma untuk lihat aku latihan?" tanya Kevin memastikan.
Calista hanya mengangguk, padahal tujuan utamanya datang pagi karena ia ingin menghindari papahnya.
"Makasih ya udah bela-belain datang."
"Iya, sama-sama."
"Ya udah kalau gitu aku latihan lagi ya," ujar Kevin, lalu ia kembali berlatih.
Skip
Setengah jam kemudian, latihan basket berakhir. Kevin berlari menghampiri Calista yang sedang duduk dipinggir lapangan.
"Ini minum dulu." Calista memberikan air mineral kepada Kevin.
"Makasih," ujar Kevin, lalu ia segera meminum air mineral pemberian Calista.
"Vin, diantara kamu, Friska sama Erick ada yang bikin video saat di club gak?"
"Aku sih enggak, tapi gak tahu yang lain."
Calista menghela nafasnya, karena ia takut bahwa ada salah satu sahabatnya yang kembali mengkhianatinya lagi.
"Emangnya kenapa, Ta?"
"Papah aku tahu tentang aku yang pergi ke club dan juga dia tahu tentang aku yang sering melakukan pembully-an di sekolah."
Calista juga memberitahu bahwa papahnya menyuruh agar Calista menjauhi Kevin dan yang lainnya. Jika Calista tidak menuruti perkataan papahnya, maka Calista akan dipindahkan ke sekolah lain.
"Ya udah kita gak usah ketemuan waktu diluar sekolah."
"Tapi kan aku juga pingin main sama kalian."
"Mainnya kan bisa di sekolah."
Sesudah berbincang-bincang, Calista dan Kevin bergegas menuju kelas.
Saat hendak masuk kelas, Calista dan Kevin melihat Bayu dan Rania yang sedang mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi mereka terlihat nyaman saat sedang mengobrol.
Calista menatap tajam kearah Bayu, ia sangat tidak suka melihat kedekatan Bayu dengan Rania. Karena sudah jelas-jelas waktu itu Calista menceritakan kepadanya tentang Rania yang telah merebut Reyhan. Dengan demikian, Calista merasa bahwa Bayu berada di pihak Rania.
Kevin yang melihat ekspresi Calista menjadi overthinking. Dengan melihatnya begitu, Kevin menduga bahwa Calista cemburu dengan kedekatan Bayu dengan Rania.
"Ta, kenapa?"
Calista duduk di kursinya. "Maksudnya?"
"Kamu kayak yang kesal gitu kelihatannya."
"Enggak kok."
Kevin menghela nafasnya, sebenarnya ia tahu bahwa Calista tidak sepenuhnya menyukainya. Jadi ia memaklumi jika Calista seperti itu. Lagipula ia yakin bahwa suatu saat Calista akan mencintainya dengan sepenuh hati.