Fearless

Fearless
Episode 43



Beberapa menit kemudian, papah Kevin kembali keluar dan memberikan kunci rumah kepada Kevin. "Papah ada urusan, mungkin besok pagi Papah pulang."


"Mau kemana, Pah?" tanya Kevin.


"Bukan urusan kamu," ujar Papah Kevin sambil pergi dengan mengendarai mobilnya.


Kevin menghela nafasnya karena ia yakin bahwa papahnya akan pergi ke club atau pergi ke rumah wanita yang waktu itu.


"Vin, gimana? jadi jalan-jalan?"


"Jadi kok. Tapi kamu tunggu sebentar ya, aku mau ambil jaket dulu soalnya dingin banget." Kevin segera pergi menuju kamarnya.


Tidak butuh waktu lama, Kevin kembali menghampiri Calista dan dia memakaikan jaket pada tubuh Calista.


Calista hanya tersenyum. "Kayak adegan di film romantis aja."


"Kamu baper ya?"


"Enggak kok. Cuma aneh aja tiba-tiba dipakaikan jaket."


"Jangan mengelak. Udah tahu kamu salah tingkah kan kalau aku bersikap romantis?"


Calista tidak menjawab Kevin, ia justru pergi menghampiri mobil karena ia ingin segera pergi.


Kevin yang masih berada didalam rumah langsung buru-buru keluar dan mengunci pintu. Setelah itu ia segera menghampiri Calista yang sudah berada didalam mobil.


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Kevin sambil melajukan mobilnya.


"Aku pingin ke taman."


"Jam segini mau ke taman?" tanya Kevin memastikan.


"Iya, soalnya aku belum pernah ke taman sama cowok. Makanya sekarang aku pingin kesana."


Kevin tersenyum pasrah karena pastinya di taman sangat sepi, dan malam ini adalah malam Sabtu yang mana pastinya tidak ada seorang pun yang datang ke taman.


"Yakin mau ke taman? sepi loh kalau jam segini," ujar Kevin agar Calista berubah pikiran.


"Ya gak apa-apa. Justru bagus kalau sepi."


Demi Calista, Kevin siap menuruti keinginannya walaupun sebenarnya Kevin agak takut. Meskipun di taman sepi, sepertinya itu akan lebih baik dibandingkan jika banyak orang.


Kevin melirik kearah Calista, ia berpikir bahwa memang itu tujuan Calista pergi ke taman. Entah kenapa Kevin jadi berimajinasi kalau Calista akan melakukan hal-hal romantis, makanya Calista memilih tempat sepi untuk dijadikan tempat berpacaran.


Calista tiba-tiba tersenyum. "Vin, aku jadi ingat kejadian saat aku memperkenalkan Bayu sebagai pacar aku. Dipikir-pikir kamu lucu banget saat kamu cemburu."


"Emang kelihatan banget kalau aku cemburu?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.


"Btw, kamu yang kasih tahu Friska sama Erick ya kalau aku dan Bayu pura-pura pacaran?"


"Iya, aku kasih tahu mereka."


Calista sudah menduganya, karena tak mungkin juga Bayu memberitahu kepada Friska dan Erick.


"Sebenarnya Bayu suka loh sama kamu," ujar Kevin dan itu membuat Calista terdiam membisu.


"Oh iya, Bayu waktu itu kirim foto kamu waktu SMP."


"Terus kamu save?" tanya Calista, lalu Kevin mengangguk sambil tertawa.


"Please hapus! jelek banget fotonya," mohon Calista, tetapi Kevin menolaknya karena menurutnya itu foto limited edition dari seorang Calista.


Calista berusaha mengambil ponsel Kevin, namun Kevin buru-buru menahan tangan Calista agar tidak mengambil ponselnya.


"Mau ngapain?" tanya Kevin, padahal sebenarnya ia juga tahu bahwa Calista ingin mengambil ponsel miliknya.


"Mau pinjam handphone kamu."


"Gak boleh. Nanti yang ada kamu hapus foto yang ada galeri aku."


Calista menatap Kevin dengan tatapan penuh amarah, karena baru kali ini Kevin melarang meminjamkan ponselnya kepada Calista.


"Vin, itu bukannya motor Erick ya?" tunjuk Calista pada mobil yang terparkir didepan cafe.


"Iya, itu mobil Erick."


"Kita ke cafe itu aja yuk! biar tahu kalau Erick ke cafe bareng siapa."


"Ta, udah jangan ikut campur. Lagian Erick mau dekat sama siapapun itu hak dia."


Memang benar apa yang dikatakan Kevin, tetapi Calista sebenarnya ingin memastikan apakah Erick benar-benar punya hubungan sama Rania atau tidak.


"Vin, berhenti dulu disini. Aku penasaran banget soalnya."


Kevin menghela nafasnya sambil menatap datar kearah Calista. Setelah itu, ia segera menuruti perintah Calista.


Calista melihat kearah mobil sambil menunggu Erick keluar dari cafe itu. Dan Calista berharap bahwa Erick keluar bersama Rania, karena jika bukan bersama Rania sudah dipastikan kalau Erick benar-benar seorang playboy.


"Lama banget sih," keluh Calista.


Karena Kevin sudah lelah menunggu, akhirnya Kevin keluar dari mobil dan masuk kedalam cafe meninggalkan Calista sendirian didalam mobil.


Lima menit kemudian, Kevin kembali masuk kedalam mobil dan ia langsung melajukan mobilnya.


"Tadi Erick sama siapa, Vin?" tanya Calista, lalu Kevin menjawab bahwa Erick sedang bersama gebetannya.


"Maksud kamu cewek yang di foto itu?" tanya Calista, lalu Kevin hanya mengangguk.


"Kenapa sih cowok kayak gitu? ciumannya sama siapa, jadiannya sama siapa," kesal Calista.


Kevin merasa tersindir karena waktu itu ia juga pernah mencium Calista, tetapi beberapa Minggu kemudian ia malah jadian dengan Haura.


"Semua cowok kayaknya sama aja ya? sering banget memberi harapan palsu."


"Aku enggak kok," sahut Kevin.


"Bohong banget, buktinya banyak tuh cewek-cewek yang udah kamu beri harapan palsu. Contohnya cewek-cewek yang ada di messenger kamu sama WhatsApp kamu."


"Kamu lihat chat-chat aku ya?" tuduh Kevin, lalu Calista terdiam karena memang ia pernah melihat beberapa chat di ponsel Kevin.


Skip


Tiba di taman, Calista meminta Kevin untuk memotretnya karena pemandangan taman begitu indah di malam hari.


"Foto bareng dong, jangan kamu mulu, keluh Kevin.


Akhirnya Calista berjalan mendekati Kevin. "Ya udah ayo foto bareng."


Keduanya berfoto bersama beberapa kali. Sesudah itu, keduanya duduk dikursi taman untuk mengobrol bersama.


"Oh iya, Vin. Besok mau temani aku pergi ke rumah Andini gak? soalnya aku mau minta maaf sama dia."


"Ta, kamu gak salah kok. Kamu begitu juga kan gara-gara Andini ngomongin yang jelek-jelek sama kamu. Lagipula kalau soal kamu yang potong rambut dia, sekarang rambut dia pasti udah panjang lagi kok."


"Tetap aja aku harus minta maaf. Soalnya gara-gara aku, dia sampai ketakutan dan berniat bunuh diri."


"Kata siapa dia berniat bunuh diri?" tanya Kevin, lalu Calista mengatakan bahwa ia tahu dari Haura.


Kevin sangat marah, ia tahu bahwa Haura hanya menakut-nakuti Calista agar Calista merasa bersalah. Bukan hanya itu, Kevin juga tahu bahwa sampai saat ini Haura masih saja mengganggu Calista lewat pesan.


"Ta, aku kan bilang sama kamu buat blokir Haura. Dia itu iri sama kamu, makanya dia selalu mencari kesalahan kamu," kata Kevin.


"Tapi emang benar kok kalau aku yang salah."


Kevin menatap Calista. "Ya udah kalau gitu besok kita ke rumah Andini."


Trining! Trining!


Calista dan Kevin spontan melihat kearah ponsel yang digenggam Calista. Dan ternyata orang yang menelponnya adalah Erick. Lalu, Calista segera menjawab panggilan telepon tersebut.


"Ada apa, Rick?"


"Lo udah sampai rumah?" tanya Erick dan itu membuat Calista terdiam pasalnya sekarang Calista sedang di taman bersama Kevin.


Kevin mengambil ponsel Calista, lalu Kevin segera mengaktifkan loud speaker agar suara Erick terdengar.


Kevin mengangguk sambil mengisyaratkan agar Calista mengiyakan apa yang dikatakan Erick.


"Iya, gue udah sampai rumah."


"Syukur deh kalau gitu. Oh iya! besok jalan-jalan sama gue yuk, tapi berdua aja," kata Erick.


Calista menatap Kevin dan terlihat sangat jelas bahwa Kevin sedang menahan emosinya. Tak lama, Kevin langsung mematikan teleponnya.


"Kamu marah ya?"


"Ya jelas lah. Erick kan tahu kalau aku suka sama kamu, tapi dia malah menikung aku."


"Udah jangan marah, lagipula Erick kan gak tahu kalau kita pacaran. Dan gara-gara kejadian waktu di rumah Rania, mungkin dia jadi mengira bahwa aku suka sama dia."


"Meskipun dia gak tahu kalau aku sama kamu gak pacaran, tapi tetap aja itu namanya menikung sahabat sendiri."


Calista diam sejenak untuk memikirkan cara agar Kevin tidak semakin marah.


"Ya udah kalau gitu kita kasih tahu ke yang lain kalau kita pacaran."


"Waktu itu kamu juga bilang kayak gitu, tapi ujung-ujungnya kamu menyuruh tetap merahasiakan hubungan kita."


Untuk membuktikan perkataannya, akhirnya Calista memposting foto dirinya dan Kevin ke instagram dan caption-nya berupa stiker hati agar semua pengikutnya mengetahui bahwa Calista dan Kevin sedang menjalin hubungan.


"Udah aku posting."


"Kamu beneran gak apa-apa kalau orang lain tahu?" tanya Kevin memastikan.


Calista menghela nafasnya. "Gak apa-apa, tapi mungkin nanti Haura akan marah dan menyebarkan rumor bahwa aku udah merusak hubungan kalian."


"Kamu tenang aja. Kalaupun ada yang menjelek-jelekkan kamu, aku akan bela kamu."


Calista menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar dirinya tidak tersenyum. Ia tersentuh dengan perkataan Kevin yang seolah-olah dia ingin melindungi Calista dari orang-orang yang mencibirnya.


Ting!


Ting!


Tiba-tiba pesan grup ramai dan tentunya Calista yakin bahwa sahabatnya atau teman sekelasnya sudah melihat postingan terbaru dari Calista.


"Orang lain udah pada tahu." Kevin menunjukkan chat grup kepada Calista.


"Iya, biarkan aja."


"Kalau kamu udah setuju hubungan kita diketahui orang, berarti kamu udah cinta ya sama aku?"


Calista tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Kevin. Maka dari itu Kevin menganggap bahwa Calista memang sudah mencintai Kevin.


Trining! Trining!


Ponsel Calista dan Kevin berbunyi secara bersamaan. Dan pada saat dilihat, ternyata itu panggilan video call dari grup Fearless.


"Mau dijawab gak?"


"Gak usah! aku lagi kesal sama Erick," kata Kevin.


"Maafin aja, lagipula siapa tahu Erick ajak aku jalan itu karena kita berdua belum pernah jalan-jalan berdua. Kamu kan tahu kalau Erick juga sahabat aku, jadi gak ada salahnya kalau aku main sama dia."


Kevin tidak menghiraukan perkataan Calista. Ia juga tahu bahwa Erick itu sahabatnya dan juga sahabat Calista, tetapi untuk masalah Erick yang mengajak Calista jalan-jalan sepertinya memang Erick tertarik dengan Calista.


"Vin, pulang aja yuk! lagipula tujuan aku kesini cuma buat foto-foto doang," ujar Calista, padahal sebenarnya ia merasa takut sebab tiba-tiba angin begitu kencang sehingga membuat bulu kuduknya berdiri.


"Ya udah ayo. Tapi nanti aku mau main dulu boleh gak? soalnya kalau pulang, aku kesepian banget."


"Boleh, asal ajak Bayu juga ya. Soalnya kalau cuma berdua, nanti tetangga ada yang lapor ke orang tua aku dan nantinya aku dimarahin lagi sama papah."


"Iya, gak apa-apa. Ajak Bayu aja, lagipula bosan juga kalau cuma mengobrol berdua."


...****************...


Calista dan Kevin saling menatap satu sama lain. Ya, keduanya sekarang sedang berada di rumah Calista. Tadinya memang Calista ingin mengajak Bayu untuk bergabung bersama, namun saat menghampiri ke rumahnya ternyata dia sedang tidur. Alhasil Calista hanya pasrah, ia tidak peduli jika ditegur tetangga. Tapi melihat situasi disekitar, sepertinya para tetangganya sedang tidur.


"Mau makan mie gak?" tanya Calista untuk menghilangkan rasa kecanggungan.


"Boleh. Tapi kamu yang masak."


"Ya udah aku ke dapur dulu."


"Aku ikut! soalnya bosan kalau sendirian."


Akhirnya keduanya pergi menuju dapur untuk memasak mie instan.


Sambil memasak, Calista mengambil ponselnya dan memutar lagu agar suasananya tidak terlalu hening.


"Orang tua kamu pulang kapan?"


"Kayaknya pulangnya hari Senin."


"Takut gak sendirian di rumah?"


"Enggak sih. Cuma kalau misalnya hujan dan ada petir, pastinya aku takut."


PRANG!


Calista dan Kevin menatap satu sama lain, pasalnya suara itu terdengar jelas ditelinga keduanya.


"Vin, itu suara apa?"


"Gak tahu. Gimana kalau kita lihat?"


"Tapi aku takut. Lebih baik kamu aja yang kesana."


Kevin menelan salivanya, jujur ia juga sangat takut apalagi saat ini hanya ada dirinya dan Calista didalam rumah. Tetapi karena ia tidak ingin terlihat penakut, jadi ia terpaksa pergi menuju ruang tengah untuk memastikannya.


Calista yang berdiam diri di dapur hanya berdoa sambil melanjutkan masakannya.


Kevin datang menghampiri Calista sambil menggendong kelinci. "Ta, kelinci kamu kayaknya lapar deh."


"Ya ampun! aku lupa kasih dia makan." Calista segera menyelesaikan masakannya. Setelah itu, ia segera mengambil makanan kelinci.


Sesudah memberi makan kelinci, Calista dan Kevin segera menikmati mie sambil menonton televisi.


Kevin mendekat dan ia mengelap kuah yang ada disudut bibir Calista dengan menggunakan tisu. Setelah itu, Kevin mengambil ikat rambut yang ada didekat televisi, kemudian ia pakaikan ikat rambut tersebut pada rambut Calista.


"Nah! jadi nyaman kan makannya?" tanya Kevin, lalu Calista mengangguk.


Calista memandangi wajah Kevin, ia bingung kenapa baru kali ini ia menyadari bahwa Kevin sangatlah romantis. Padahal sebelum-sebelumnya, ia juga sering mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Jangan lihat aku dengan tatapan kayak gitu, aku kan jadi malu," ujar Kevin.


Calista tertawa terbahak-bahak, lantaran ia tidak menduga bahwa Kevin akan malu jika ditatap kelamaan.


"Jangan ketawa, nanti tersedak!"


Calista duduk lebih dekat dengan Kevin dan ia kembali menatap Kevin dan itu membuat Kevin kembali menatapnya.


"Kenapa sih?" heran Kevin.


"Gak kenapa-napa, aku cuma ingin buat kamu salah tingkah aja."


Chup!


Kevin mengecup pipi Calista dan sekarang Calista yang salah tingkah. Lalu, Kevin melanjutkan makannya seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa.


Untuk mengurangi rasa gugup, Calista akhirnya mengambil ponselnya dan melihat sosial medianya. Saat ini ia tidak ingin menatap kearah Kevin lagi, karena ia sangat malu.


Deg!


Calista terkejut saat melihat komentar di-postingan terbarunya, ada beberapa orang berkomentar yang mengatakan bahwa Calista adalah perusak hubungan antara Haura dan Kevin. Selain itu, adapun yang mengatakan bahwa Calista dan Kevin lebih cocok menjadi sahabat saja.


Calista mengecek satu persatu akun orang yang berkomentar dan foto akun-akun tersebut tidak menampilkan wajah mereka, selain itu mereka tidak memposting apapun di instagramnya.


Tetapi Calista menganggap itu sangat wajar, karena jika orang itu menggunakan akun aslinya pastinya dia takut. Dan juga Calista sangat mengetahui bahwa pemilik akun tersebut adalah orang-orang yang pernah menyukai Kevin.