
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di suatu tempat wisata. Mereka berfoto-foto sepuasnya dan nantinya foto tersebut akan dipajang di kelas.
Beberapa menit kemudian, acara foto bersama telah selesai. Maka dari itu, Calista meminta ijin untuk pulang karena ia merasa pusing.
"Gue juga pergi ya," pamit Kevin kepada teman-teman sekelasnya.
"Kamu disini dulu aja. Aku bisa kok pulang naik taksi."
"Aku antar kamu aja, soalnya aku takut kamu kenapa-napa."
Calista merasa tidak enak kepada semuanya, karena ia merasa mengacaukan suasana.
"Lebih baik diantar Kevin aja, Ta. Soalnya perjalanan kan jauh, jadi ongkosnya pasti mahal," kata Friska.
"Ya udah kita berdua pamit dulu ya." Kevin merangkul pundak Calista, lalu keduanya segera pergi.
Selama menuju parkiran, Kevin terus menggenggam tangan Calista karena takut Calista pingsan, sekaligus Kevin ingin mengambil kesempatan karena ia jarang-jarang seperti ini dengan Calista.
"Vin, lepas ya. Soalnya tangan aku keringetan banget."
"Udah, gak usah dilepas."
"Tapi tangan kamu jadi ikut basah."
"Ya gak apa-apa."
Skip
1 jam kemudian, keduanya telah sampai di rumah Calista. Ketika Calista turun dari motor, ia langsung jongkok karena ia sangat pusing. Kemudian, Kevin buru-buru turun dan menghampiri Calista.
"Kamu pusing banget ya?" tanya Kevin, lalu Calista mengangguk.
"Aku gendong kamu sampai kedalam ya," kata Kevin.
Calista diam saja. Dengan demikian, Kevin langsung menggendong Calista menuju kedalam rumah.
"Calista kenapa?" tanya Mamah.
"Katanya Calista pusing, makanya Kevin gendong dia," kata Kevin sambil meletakkan Calista ke sofa.
"Kalian habis dari mana? kok pulangnya sore," ujar Mamah.
"Kita habis jalan-jalan sama teman sekelas, Mah."
Pada saat Kevin ingin berpamitan, tiba-tiba terdengar suara rintikan hujan yang begitu deras sehingga Mamah Calista menyuruh Kevin untuk istirahat sejenak sampai hujannya reda.
"Tunggu sebentar ya, Tante mau buatkan makanan dan minuman dulu," ujar Mamah sambil pergi menuju dapur.
"Vin, aku ganti pakaian dulu ya," ujar Calista sambil berjalan menuju kamarnya.
Tak membutuhkan waktu lama, Calista kembali lagi menghampiri Kevin yang sedang meminum teh manis hangat yang telah dibuatkan Mamah.
"Ta, obatnya udah dimakan belum?" tanya Mamah.
"Belum, Mah."
"Ya udah makan dulu obatnya," kata Mamah.
Calista kembali ke kamarnya untuk mengambil obat, setelah itu ia kembali lagi menghampiri Kevin. Tujuannya meminum obat dihadapan Kevin agar dia merasa khawatir sehingga dia pastinya akan perhatian kepada Calista jika mengetahui Calista masih sakit.
"Hujan-hujan gini kayaknya enak ya kalau makan bakso."
"Mau aku belikan?" tanya Kevin.
"Tapi kan diluar hujan."
"Ya gak apa-apa."
Kevin berniat pergi, namun Calista dengan cepat mencegahnya. Sebenarnya tadi Calista hanya ingin mengetes Kevin saja untuk memastikan apakah Kevin peka atau tidak. Nyatanya, Kevin memang sangat peka orangnya bahkan dia rela pergi disaat hujan seperti ini.
"Kamu punya jas hujan gak?"
"Aku kan udah bilang gak usah. Dan juga sebenarnya aku tadi cuma bercanda doang."
"Tapi aku juga pingin bakso, makanya aku pingin pinjam jas hujan."
"Nanti aja belinya kalau hujannya reda."
Selagi menunggu hujan reda, Kevin dan Calista memutuskan untuk menonton televisi. Tetapi setelah 15 menit kemudian, yang menonton televisi hanya Kevin saja dikarenakan Calista sudah tertidur di sofa.
Skip
Calista terbangun dari tidurnya dan ia tidak melihat Kevin disampingnya. Kemudian Calista bertanya kepada Mamahnya tentang keberadaan Kevin dan ternyata Kevin sudah pulang dari tadi, bahkan Mamah juga bilang bahwa Kevin menitipkan bakso untuk Calista.
Calista merasa terharu karena Kevin sangat menepati janjinya, padahal Calista tidak apa-apa jikalau Kevin tidak membelikan bakso untuknya.
...****************...
Sampai saat ini Calista merasa gelisah karena dari tadi Kevin tidak bisa dihubungi, bahkan pesan dari Calista tidak dibaca olehnya.
Calista juga sudah menghubungi Erick, Rania dan Friska. Namun Rania dan Friska juga tidak tahu keadaan Kevin, bahkan mereka juga menghubungi Kevin tetapi panggilannya tidak dijawab. Sedangkan Erick, Calista juga tidak bisa menghubunginya.
Trining! Trining!
Calista buru-buru melihat kearah ponselnya dan ternyata itu adalah panggilan dari Kevin. Dengan cepat, Calista menjawab panggilan tersebut.
"Kenapa baru telepon sekarang sih? aku khawatir tahu gak!"
Kevin terdiam sejenak. "Maaf, tadi ada kecelakaan dikit. Makanya sekarang aku baru pulang."
"Kamu kecelakaan?"
"Iya. Cuma keadaan aku baik-baik aja kok, cuma luka dikit aja."
Calista ingin sekali melihat kondisi Kevin saat ini. Tapi apa boleh buat, Calista sangat takut bertemu dengan papahnya Kevin.
"Ta, besok kayaknya aku gak sekolah deh."
"Lukanya parah banget ya, Vin?" tanya Calista memastikan. Sebab jika lukanya tidak parah, pastinya Kevin akan memaksakan diri untuk sekolah.
"Gak parah kok."
"Serius?" tanya Calista, lalu Kevin mengiyakannya dan Kevin mengulangi perkataannya yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
Calista mematikan teleponnya dan mengalihkannya ke video call karena ia ingin memastikan apakah Kevin baik-baik saja atau tidak.
Beberapa detik kemudian, Kevin menjawab panggilan video call dari Calista tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Kenapa kameranya diarahkan ke tembok?" heran Calista dan tak lama Kevin memperlihatkan wajahnya.
"Kenapa video call? kangen lihat wajah aku ya?"
"Percaya diri banget jadi orang. Aku itu video call karena pingin lihat luka kamu, takutnya lukanya parah."
Kevin mengarahkan kamera pada luka-luka akibat kecelakaan tadi dan itu membuat Calista khawatir karena menurutnya luka yg tersebut pasti sangat sakit.
"Besok siang papah kamu ada di rumah gak?" tanya Calista, lalu Kevin mengatakan bahwa papahnya ada di rumah.
"Yah! aku gak bisa jenguk dong."
"Kamu masih takut ya sama papah aku?" tanya Kevin, lalu Calista mengiyakannya.
"Kalau besok mau kesini silahkan aja. Nanti kalaupun papah aku marah ke kamu, aku pasti akan lindungi kamu."
Calista berpikir sejenak, karena jika dipikirkan lagi tak mungkin papah Kevin memarahi Calista yang hanya berniat untuk menjenguk Kevin. Lagipula tentang kalung itu, Calista sudah memberikannya kembali kepada Kevin.
"Gimana? besok mau jenguk gak?"
"Gimana nanti aja deh."
"Ya udah tidur sana! kamu juga kan masih sakit, jadi harus banyak istirahat."
"Kamu juga istirahat yang banyak ya."
Keduanya tersenyum, setelah itu Calista dan Kevin saling menyuruh untuk mematikan video call, namun keduanya tidak ada yang mau mematikannya. Alhasil Calista dan Kevin tidak jadi tidur, karena mereka berdua belum mengantuk.
Ting!
Calista mendapatkan satu notifikasi pesan dari instagramnya dan ia melihat pesan tersebut tanpa mematikan video call.
"Ini serius?" kaget Calista.
"Ada apa, Ta?"
"Reyhan meninggal."
Skip
Sampai saat ini tidur Calista tidak nyenyak, ia terus bermimpi tentang Reyhan yang tertabrak mobil. Sebelumnya teman Reyhan memang telah memberitahu Calista bahwa Reyhan meninggal karena tertabrak mobil dan itu membuat Calista merasa sedih.
Tetapi disisi lain Calista merasa lega karena akhirnya Reyhan tidak menggangu Calista dan mengancam Rania
Meskipun Reyhan memang sering berbuat jahat, tetapi bagaimanapun juga Calista merasa kasihan, apalagi pelaku yang menabrak Reyhan masih belum ditemukan.
Entah kenapa Calista merasa bahwa kecelakaan Kevin ada hubungannya dengan kematian Reyhan. Karena yang Calista tahu, Kevin pastinya kesal terhadap Reyhan.
Calista terus berusaha berpikir positif, karena tak seharusnya ia menuduh pacarnya yang membunuh. Walaupun Kevin membencinya, pasti dia tak mungkin berani menabrak Reyhan.