Fearless

Fearless
Bab 25



Bayu POV


Dari arah UKS terdengar suara yang tak asing ditelinga Bayu. Siapa lagi kalau bukan Calista, orang yang dulu pernah ia bully.


"Vin, tas gue!" teriak Calista sambil berlari mengejar seorang lelaki.


Dengan demikian, Bayu juga ikut berlari mengejar Calista. Sebenarnya ia senang bertemu kembali dengan Calista, karena menurutnya mengerjai Calista merupakan hal yang menyenangkan.


Sejujurnya waktu dulu Bayu sempat ingin meminta maaf kepada Calista karena telah memperlakukan Calista dengan buruk. Namun karena Calista waktu itu langsung pindah, jadi Bayu tidak sempat untuk meminta maaf.


Tak terasa, Bayu telah sampai di parkiran. Ia berjalan mengikuti Calista dari belakang.


"Tata!" panggil Bayu dan otomatis Calista menoleh kebelakang.


Calista terdiam sambil menatap tajam kearah ku. Bisa dilihat kalau tatapan tersebut tersimpan kebencian yang sangat mendalam.


Bayu mendekat kearah Calista. "Gue mau minta maaf atas perbuatan gue saat di SMP."


Tiba-tiba seorang lelaki mendekat. "Minta maaf untuk apa?" tanya lelaki itu.


"Dulu gue pernah hina dia," ujar Bayu dengan rasa bersalah.


Grep!


Lelaki itu mencengkram kuat dasi Bayu. "Kayak sempurna aja hidup lo, sampai-sampai menghina orang," ujar lelaki itu.


"Vin, udah biarkan aja." Calista melepaskan tangan Kevin yang mencengkram dasi Bayu. Setelah itu, mereka berdua segera pergi.


...****************...


Calista sempat takut dengan kejadian tadi. Bukannya takut karena bertemu dengan Bayu, melainkan ia takut jika Kevin akan bertengkar dengan Bayu.


Masalahnya jika Kevin bertengkar, pastinya lawannya akan selalu kalah dan ujung-ujungnya pasti terbaring di rumah sakit.


"Vin, berhenti!" teriak Calista dan sontak Kevin langsung memberhentikan mobilnya.


Calista keluar dari mobil Kevin dan ia berlari kearah Haura yang sedang berjalan kaki.


"Haura!" panggil Calista dan itu membuat Haura menoleh kearah Calista.


"Ayo pulang!" ajak Calista sambil menggenggam erat tangan Haura.


Haura terdiam sejenak saat melihat mobil Kevin. "Kak, aku pulang sendiri aja. Lagipula rumah aku gak jauh kok."


Calista membuka pintu depan mobil dan ia menyuruh agar Haura duduk didepan.


"Cepat naik!" ujar Kevin tanpa menoleh kearah Haura. Akhirnya Calista dan Haura masuk kedalam mobil. Setelah itu, Kevin segera melajukan mobilnya.


Calista memperhatikan tingkah Kevin dan juga Haura. Keduanya terlihat sangat canggung satu sama lain dan itu membuat Calista berpikir bahwa keduanya sedang bertengkar.


"Vin, nanti berhenti di salon Amanda ya."


"Mau potong rambut?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengiyakannya, padahal sebenarnya Calista ingin mewarnai rambutnya.


"Mau gue temenin gak?" tanya Kevin.


"Gak usah. Lo kan harus antar Haura pulang."


Kevin mengatakan bahwa dirinya bisa saja ke salon setelah mengantarkan Haura pulang, tetapi Calista dengan cepat mengatakan bahwa dirinya ingin sendiri. Dengan demikian, Kevin jadi tidak bisa berkata-kata lagi karena Kevin tahu bahwa Calista akan kesal jika Kevin terus mengikutinya.


...****************...


Jam 15.00 wib


Sesudah dari salon, Calista memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Disaat Calista ingin memesan taksi online, tiba-tiba seseorang menelponnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Reyhan.


Calista sungguh menyesal karena waktu itu ia masih berhubungan dengan Reyhan hanya karena Rania. Tetapi karena Calista sekarang sudah sadar bahwa perasaannya lebih penting, maka dari itu ia lebih baik menghindari orang-orang yang telah membuatnya sakit hati.


"Sendirian aja nih?" tanya seorang lelaki yang datang menghampiri Calista. Dan otomatis Calista menoleh kearahnya.


Ia menghiraukan lelaki itu karena menurutnya percuma saja melayani ucapan lelaki yang seperti itu.


"Lagi nunggu siapa?" tanya lelaki itu.


Calista memainkan ponselnya karena ia tidak mau menanggapi lelaki itu.


Skip


Sesampainya di rumah, Calista langsung pergi menghampiri Mamah tirinya yang sedang berada di kamar.


Niatnya sih Calista ingin mengetahui respon Mamah tirinya saat melihat penampilan terbaru Calista.


Tok! Tok!


Calista mengetuk pintu kamar orang tuanya dan tak lama pintu pun dibuka.


"Mamah," panggil Calista.


"Loh! kamu ganti warna rambut," kata Mamah, lalu Calista hanya mengangguk.


"Cantik banget."


"Makasih, Mah."


Tubuh Calista mematung saat melihat senyuman yang terukir diwajah Mamah tirinya. Entah mengapa sekilas Calista membayangkan bahwa yang dihadapannya adalah Mamah kandungnya yang sudah tiada.


"Ta, lebih baik mandi dulu, soalnya udah sore."


"Iya, Mah." Calista segera pergi menuju kamarnya.


...****************...


Calista POV


Tiba-tiba ingatan masa lalu kembali muncul menghantui pikiranku. Aku sulit melupakan kejadian itu. Kejadian yang dimana pada waktu itu diriku lebih memilih untuk pergi meninggalkan mamah yang sedang sakit.


Aku menyesalinya, andai saja dulu aku ijin untuk tidak ikut kerja kelompok, mungkin saat itu juga diriku masih bisa melihat mamah dibeberapa jam terakhirnya.


Aku ingin memeluknya dengan erat dan juga ingin meminta maaf karena aku merasa banyak salah kepada mamah.


Tok! Tok!


Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku cepat-cepat menghapus air mataku karena aku tak ingin papah dan mamah tiri ku melihatku yang sedang menangis.


Aku membuka pintu kamarku dan kulihat papah yang sedang membawa beberapa paper bag.


"Ini buat kamu." Papah memberikan paper bag tersebut kepadaku dan tak lupa aku berterima kasih kepadanya.


"Ayo makan malam," ajak Papah.


"Iya, Pah." Calista menaruh paper bag tersebut, setelah itu ia mengikuti Papahnya menuju ruang makan.


Calista duduk di kursi sambil menikmati makan malam yang telah disediakan.


Tiba-tiba, Papah menaruh kunci mobil dihadapan Calista dan itu membuat Calista kebingungan.


"Kenapa, Pah?"


"Besok kamu pergi ke sekolah naik mobil aja. lagipula kamu kan waktu itu udah bisa."


"Kalau nabrak lagi gimana, Pah?"


"Makanya bawa mobilnya hati-hati."


Tepat di usia Calista yang ke tujuh belas tahun, memang ia sudah diperbolehkan untuk membawa mobil dan Calista juga sudah belajar mobil kepada supirnya yang waktu itu. Tetapi karena waktu itu Calista mengalami kejadian menabrak pohon, alhasil Papahnya menyuruh supir saja untuk mengantarkan Calista pergi kemanapun.


"Bukannya mobil itu buat Mamah ya?"


"Itu mobil punya kamu kok," ujar Mamah.


"Itu buat kalian berdua, siapapun boleh pakai mobil itu," jelas Papah.


"Oh iya, mamah baru ingat. Tadi ada teman kamu, tapi dia langsung pulang lagi. Padahal Mamah udah ajak dia masuk, cuma dia gak mau," kata Mamah.


Calista menduga bahwa orang yang dibicarakan mamah adalah Reyhan. Pasalnya Calista sudah mendapatkan beberapa panggilan telepon dari Reyhan dan tentu saja itu membuat Calista yakin bahwa Reyhan akan datang untuk menemui Calista.


"Nanti kalau dia datang lagi, lebih baik mamah usir aja. Soalnya orang itu pasti mantan Calista."


"Kamu punya mantan?" tanya Papah, lalu Calista hanya mengangguk.