
Satu Minggu kemudian.
Hubungan Calista dan sahabat-sahabatnya semakin tidak membaik. Sudah seminggu mereka tidak mengobrol dengan Calista, bahkan tepat pada hari ini Kevin membubarkan grup chat.
Calista tidak tahu harus bagaimana lagi, melihat respon teman-temannya yang acuh terhadap Calista, membuat Calista merasa sedih karena diperlakukan seperti itu. Bahkan saat ini, Calista disuruh pindah ke kursi belakang oleh Friska, karena katanya dia ingin duduk bersama Rania. Dengan begitu, Calista terpaksa menuruti kemauannya.
"Kalian masih berantem ya?" bisik Bayu, karena memang Calista memberitahu tentang masalah ini kepada Bayu.
"Iya, mereka masih belum memaafkan gue."
"Coba sekali lagi lo minta maaf deh ke Kevin, siapa tahu dia sekarang maafin lo."
"Gue udah berkali-kali minta maaf, cuma respon dia tetap diam aja."
Bayu memegang tangan Calista sambil melihat luka di tangan Calista.
"Ini kenapa?" tanya Bayu.
"Ini gara-gara pecahan gelas."
Ya benar, waktu itu tangan Calista berdarah gara-gara terkena pecahan gelas yang dilempar Kevin.
Tak lama, Kevin masuk kedalam kelas dan otomatis Calista memanggilnya. Namun sayangnya, Kevin sama sekali tidak melirik kearah Calista.
"Woy! orang manggil bukannya dijawab," ujar Bayu.
Kevin menatap kearah Calista. "Kenapa?"
"Sekali lagi gue mau minta maaf."
"Gue gak butuh permintaan maaf dari lo. Soalnya gue udah terlanjur kecewa sama lo."
Calista memakluminya, karena Kevin pasti sangat kecewa karena Calista pada saat itu tidak menjawab panggilan telepon darinya.
"Vin, bersikap dewasa dikit dong. Padahal waktu itu Calista udah datang ke rumah lo, tapi lo tetap aja gak mau memaafkan dia," ujar Bayu.
"Jangan ikut campur, ini bukan urusan lo!" kata Kevin.
"Bayu, udah jangan ikut campur." Calista menyuruh Bayu agar tetap diam, karena jika Bayu ikut campur nantinya Kevin akan semakin marah.
Calista melihat Kevin berjalan keluar kelas. Lalu, Calista memutuskan untuk mengikutinya dengan jarak yang agak jauh.
Terlihat Kevin yang menaiki tangga menuju rooftop dan itu membuat Calista bimbang untuk mengikutinya atau tidak. Dan setelah berpikir panjang, akhirnya ia memilih untuk mengikutinya karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Saat sampai di rooftop, Calista mendengar suara tangisan Kevin. Tadinya Calista berniat untuk menghampirinya, namun ia urungkan niatnya itu karena ia takut Kevin akan marah.
Tiba-tiba Kevin berusaha naik ke pembatas rooftop dan otomatis Calista berlari kearahnya.
"Kevin, jangan!" teriak Calista.
Calista memeluk dan menarik tubuh Kevin ke belakang dan itu sontak membuat keduanya terjatuh.
Bruk!
Aww!
Kevin spontan bangun karena ia menindih tubuh mungil Calista. "Lo apa-apaan sih!"
Calista menangis karena ia masih syok dengan apa yang barusan ia lihat. "Jangan melakukan hal bodoh kayak tadi!"
Tangisan Calista semakin menjadi-jadi, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia tidak datang dengan cepat, mungkin Kevin tidak akan terselamatkan.
Disisi lain, Kevin hanya diam saja sambil menatap Calista yang sedang menangis. Dan juga Kevin tahu bahwa tadi Calista mengira bahwa Kevin akan bunuh diri.
"Gue tahu lo masih marah sama gue, tapi setidaknya lo jangan menghindari gue."
"Bukan gue yang yang menghindari lo, tapi lo yang menghindari gue," batin Kevin.
"Vin, jangan kayak diam terus. Gue bingung harus kayak gimana lagi biar lo bisa memaafkan gue."
Tap!
Tap!
Terdengar suara langkah kaki seseorang dan tentu saja membuat Calista dan Kevin menoleh kearah pintu rooftop.
"Lebih baik lo pergi sana. Pacar lo khawatir kayaknya," ujar Kevin.
Bayu berjalan kearah Calista dan Kevin. "Calista bukan pacar gue. Sebenarnya gue yang ajak dia agar pura-pura jadi pacar gue supaya mantan gue gak ganggu gue lagi."
"Oh iya, sebenarnya Calista juga suka sama lo. Cuma dia takut persahabatan kalian hancur kalau nantinya hubungan kalian berakhir," kata Bayu.
Calista terkejut dengan perkataan Bayu. Waktu itu Calista memang mengatakan bahwa dirinya pernah terbawa perasaan, tetapi entah kenapa Bayu melebih-lebihkan perkataannya.
"Kalian beneran gak pacaran?" tanya Kevin sambil menatap Calista seolah-olah ia masih berharap.
"Iya, kita gak pacaran."
Karena Calista bingung harus bagaimana, jadi ia memutuskan untuk kembali ke kelas.
Skip
Mata pelajaran pertama dimulai, murid-murid fokus memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi.
Berbeda dengan Calista dan Kevin. Calista sibuk memperhatikan Kevin. Begitupun Kevin, dia juga sibuk melamun.
"Calista, Kevin!" ujar Pak Surya.
Keduanya sontak melihat kearah Pak Surya. "Kenapa, Pak?" tanya Calista.
"Kalau gak minat dengan pelajaran saya, lebih baik keluar saja," kata Pak Surya.
Kevin berdiri dan ia berjalan keluar kelas. Tentu saja itu membuat semua orang berbisik-bisik membicarakan tingkah Kevin.
Calista juga berjalan kearah luar. Terserah orang berkata apapun, tapi yang jelas saat ini Kevin pasti membutuhkan teman untuk bicara.
Bukan ke kantin, melainkan Kevin pergi lagi menuju rooftop. Dengan demikian, Calista buru-buru mengejarnya karena takut kejadian tadi terulang lagi.
"Kevin!" panggil Calista sambil berlari menaiki tangga.
Bruk!
Karena saking buru-buru, Calista jadi tersandung oleh kakinya sendiri.
Aww!
Kevin dengan cepat turun lagi untuk menghampiri Calista. "Lo gak apa-apa, kan?"
Mata Calista mulai berkaca-kaca." Sakit banget."
Tanpa aba-aba, Kevin langsung menggendong Calista dan membawanya menuju UKS.
Setibanya di UKS, Kevin menyuruh Calista untuk menunggu karena katanya Kevin akan memanggil pak Salman, sebab yang Kevin tahu pak Salman bisa mengurut kaki yang keseleo.
Lima menit kemudian, Kevin datang bersama Pak Salman. Kemudian, Pak Salman langsung saja mengurut kaki Calista yang keseleo.
"Coba gerakkan kakinya," suruh Pak Salman, lalu Calista menurutinya.
"Masih sakit gak?" tanya Pak Salman.
"Udah enggak sakit."
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat dulu aja disini, biar sakitnya gak tambah parah," kata Pak Salman.
Kevin berterima kasih kepada Pak Salman karena mau meluangkan waktunya untuk membantu Calista. Setelah itu, Pak Salman kembali pergi karena ia takut jika ada murid yang bolos sekolah.
Kevin duduk dipinggir kasur yang ditempati Calista. "Dasar bego! udah tahu naik tangga, masih aja lari."
"Habisnya gue takut lo kenapa-napa, makanya gue berusaha buat mengejar lo."
"Jangan sok perhatian jadi orang."
Calista diam saja, karena semakin lama tatapan Kevin semakin menakutkan.
Calista mengalihkan pandangannya. "Gue sahabat lo, jadi wajar kalau gue perhatian sama lo."
"Gue gak mau punya sahabat kayak lo." Kevin menatap Calista dan itu membuat Calista kembali menatapnya karena ia terkejut saat Kevin berkata seperti itu.
Mulut Calista seolah sulit untuk berbicara, bahkan saat ini air matanya terus mengalir akibat mendengar perkataan Kevin.
Kevin memalingkan wajahnya, sejujurnya ia tidak tega membuat Calista menangis. Maka dari itu, Kevin memilih untuk keluar dari UKS.
Calista melamun sambil menatap kepergian Kevin. Rasanya baru kali ini ia sakit hati dengan perkataan Kevin yang berkata bahwa dia tidak ingin mempunyai sahabat seperti Calista.
Tak lama seseorang masuk kedalam UKS. Dan pada saat orang itu masuk, dia bertatapan dengan Calista.
Orang itu langsung menundukkan kepalanya dan berniat pergi. Namun dengan cepat Calista memanggil orang itu.
"Kenapa pergi?"
Orang itu berbalik arah dan melihat kearah Calista. "Soalnya aku udah gak sakit lagi, makanya aku mau ke kelas lagi," ujarnya, lalu ia buru-buru pergi.
Firasat Calista mengatakan bahwa orang itu takut kepada Calista, makanya ia tidak jadi berdiam diri di UKS.
Calista juga bingung, padahal akhir-akhir ini dirinya tidak mem-bully orang lain, namun orang lain masih tetap takut kepada Calista.
Beberapa menit kemudian, Kevin kembali menghampiri Calista di UKS.
Tanpa aba-aba, Kevin melemparkan roti dan air mineral ke ranjang yang ditempati Calista. Dengan begitu, Calista berpikir bahwa Kevin memberikan roti dan air untuk Calista.
"Ini buat gue?"
Kevin tidak menjawab, dia malah tidur di ranjang sebelah Calista.
Karena Kevin tidak menjawab, jadi Calista tidak mengambil air dan roti itu. Calista justru menyimpan roti dan air itu di meja.
Calista memperhatikan Kevin yang sedang tertidur dengan posisi membelakangi Calista dan karena Kevin hanya diam saja, jadi Calista menghampiri untuk memastikan apakah dia sedang tidur atau tidak.
Dan saat dilihat, ternyata Kevin memang sedang tidur. Tapi anehnya, Kevin tertidur sambil meneteskan air matanya.
Dengan melihatnya seperti itu, membuat Calista sangat sedih, sebab ia juga pernah merasakan diposisi Kevin.
Kevin membuka matanya perlahan. "Ngapain lo lihatin gue?" tanyanya sambil mengusap air matanya.
"Sorry." Calista segera berjalan menuju ranjang yang tadi ia tempati. Sebenarnya ia bisa saja pergi, namun karena merasa kasihan dengan Kevin, jadi ia memilih untuk tetap berada di UKS.
Seketika suasana menjadi hening, keduanya sama sekali tidak berbicara apapun. Sebenarnya Calista bisa saja mengajak Kevin mengobrol, namun saat ini sepertinya Kevin tidak akan merespon ucapan Calista.
"Kenapa gak dimakan?" tanya Kevin tiba-tiba dan otomatis Calista menoleh kearahnya.
"Itu buat gue?"
"Pake nanya lagi."
"Makasih."
Calista mengambil roti dan air mineral pemberian Kevin. Setelah itu, ia segera memakannya.
"Sebenarnya lo itu marah gak sih sama gue?" tanya Calista tanpa melihat kearah Kevin.
Lagi-lagi Kevin hanya diam tanpa merespon pertanyaan Calista.
"Jawab dong, Vin."
"Iya, gue marah sama lo. Lo itu egois, Ta. Disaat lo butuh gue, gue selalu ada buat lo. Tapi giliran gue butuh lo, lo gak ada buat gue."
Kevin menghela nafasnya. "Setidaknya lo jawab telepon dari gue."
Calista menangis tersedu-sedu saat mendengar perkataan Kevin. "Maafin gue, Vin."
Setelah mengutarakan perasaan, Kevin menjadi lega. Tetapi disisi lain, ia juga merasa bersalah karena perkataannya telah membuat Calista jadi menangis.
Kevin berjalan mendekati Calista dan ia memeluk Calista. "Sorry."
...****************...
Bel istirahat berbunyi, Calista dan Kevin bergegas pergi menuju kantin. Sewaktu tadi, keduanya memang sudah berbaikan dan meminta maaf satu sama lain, jadi sekarang hubungan keduanya perlahan membaik.
"Mau beli apa? nanti biar gue yang belikan," tanya Kevin.
"Gue mau es coklat aja."
"Gak sama makanannya?" tanya Kevin.
"Gak usah, soalnya tadi kan udah makan roti."
Disaat Calista ingin memberikan uang, dengan cepat Kevin menolaknya karena katanya biar dia saja yang membayarnya. Setelah itu, Kevin segera pergi membelikan es coklat untuk Calista.
Tak lama, Friska, Rania dan Erick datang menghampiri Calista.
"Guys," panggil Calista, namun mereka bertiga tidak merespon, mereka hanya menyimpan ponsel masing-masing di meja, lalu mereka pergi membeli makanan.
Calista menghela nafasnya, ia memaklumi sikap sahabat-sahabatnya, karena tentunya sahabatnya sangat kesal karena Calista menolak panggilan telepon dari mereka.
Beberapa menit kemudian, Kevin datang menghampiri Calista dan ia duduk berhadapan dengan Calista, padahal biasanya Kevin selalu duduk disamping Calista.
"Ini es coklatnya." Kevin menaruh es coklat dihadapan Calista.
"Makasih." Calista segera meminum es tersebut.
Kevin menatap kearah Calista dan ia mengingat kejadian tadi saat di UKS. Rasanya sungguh memalukan, apalagi baru kali ini Kevin menangis dihadapan Calista.
"Kenapa?" tanya Calista karena Kevin hanya menatapnya.
"Mata lo sembab," jelas Kevin.
"Lo juga sama."
Seketika percakapan pun berakhir. Entah kenapa keduanya merasakan canggung satu sama lain, padahal biasanya mereka berdua tidak kaku seperti ini.