Fearless

Fearless
Episode 41



Kevin datang menghampiri Friska dan Erick yang sedang menikmati makanan. Dan Kevin tentunya langsung memarahi Erick dengan suara pelan agar orang-orang yang berada di cafe tidak terganggu.


"Erick, lo ngapain sih kasih nomer gue ke anak sekolah lain? lo kan tau kalau gue gak suka kalau ada orang yang menyebarkan nomer telepon gue," kesal Kevin.


"Tapi gue kasih ke orang yang barusan tadi kenalan sama lo. Dia cantik loh, jadi gue pikir lo gak akan marah kalau ada cewek cantik yang minta nomer lo," jelas Kevin.


"Gue gak peduli, mau dia cantik ataupun jelek. Tapi yang jelas gue gak suka kalau ada yang menyebarkan nomer telepon gue," kata Kevin.


"Ya udah maaf deh. Kalau misalnya dia telepon atau chat lo, blokir aja nomernya," kata Erick.


Bayu yang habis dari toilet langsung mendekat kearah Calista dan bertanya tentang apa yang diributkan oleh Kevin dan Bayu. Dan tentunya Calista langsung memberitahunya.


"Ta, mau pulang kapan?" tanya Bayu.


"Sekarang aja."


Calista segera mendekati sahabat-sahabatnya. "Guys, gue sama Bayu pulang duluan ya."


Kevin spontan melihat kearah Calista, lalu Kevin melirik kearah Bayu. "Bawa motornya pelan-pelan," ujarnya sambil menatap tajam kearah Bayu.


Bayu hanya mengangguk, kemudian Bayu dan Calista segera pergi.


Sambil berjalan menuju parkiran, Calista terus memikirkan perkataan Kevin. Jika nantinya Rania menelponnya, apakah Calista harus mengangkatnya?


Calista bingung harus bagaimana, padahal ia tidak bersalah. Tapi ia seakan-akan takut jika Rania menelponnya. Lebih tepatnya, Calista malu karena dirinya sendiri yang bilang kalau ia tidak akan memaafkan Rania.


Calista ingin ikut ke acara ulang tahun Rania karena ia ingin merasa dianggap. Bukan hanya itu, jika tidak ikut mungkin yang lainnya akan menganggap bahwa Calista sangat egois.


"Ta, ayo naik!" perintah Bayu. Lalu, Calista segera menuruti perintah Bayu. Setelah itu, Bayu segera melajukan motornya.


Selama diperjalanan, tak ada satupun yang berbicara. Calista sibuk memikirkan kado apa yang akan berikan kepada Rania. Sedangkan Bayu sibuk memikirkan caranya move on dari Calista.


Jika Bayu terus-menerus dekat dengan Calista, ia akan sulit melupakannya. Jadi, Bayu memilih untuk mencari gebetan baru untuk melupakan Calista.


"Ta, Friska orangnya kayak gimana?" tanya Bayu tiba-tiba.


"Dia baik kok, cuma dia orangnya agresif banget."


"Agresif kayak gimana maksudnya?"


"Jadi kalau dia suka sama cowok, dia akan terus dekat-dekat sama cowok itu atau bisa dikatakan kalau dia itu suka cari perhatian."


...****************...


Tiba di rumah, Calista melihat mobil orang tuanya tepat berada didepan rumah. Lalu, Calista buru-buru turun dari motor Bayu dan bergegas menghampiri orang tuanya.


"Mamah kenapa?" tanya Calista saat melihat Mamahnya yang sedang menangis.


"Ta, kamu jaga rumah ya. Papah sama Mamah mau pergi ke Yogyakarta," ujar Papah.


"Mau ngapain, Pah?"


"Saudaranya Mamah ada yang meninggal," jelas Papah. Lalu, Papah segera melajukan mobilnya.


Bayu turun dari motornya dan ia menghampiri Calista. Bukannya terlihat sedih, Calista justru seperti senang saat orang tuanya pergi meninggalkannya.


"Lo kok kelihatannya senang," heran Bayu saat melihat Calista yang sedang tersenyum.


"Jangan salah paham, gue senang karena gue jadi bebas main."


"Oh gitu. Jadi lo mau ke club lagi sama sahabat-sahabat lo?" sarkas Bayu.


"Enggak kok. Gue gak akan kesana lagi."


Ting!


Ting!


Ponsel Calista dan Bayu berbunyi bersamaan dan keduanya langsung membuka ponsel masingmasing karena sepertinya itu chat dari grup kelas.


Ridho, sang ketua kelas membagikan screenshot dari sebuah akun Facebook. Dan di akun Facebook tersebut berisi foto-foto beberapa siswi yang sedang berganti pakaian di toilet


Pemilik akun Facebook itu menawarkan video dan foto tanpa blur ke semua orang dengan biaya yang telah ditentukan.


"Gila banget! ini Facebook siapa sih?"


"Gue juga gak tahu," kata Bayu.


Saat Calista melihat komentar, ada beberapa lelaki yang berminat membeli foto-foto pemilik akun itu. Dan itu membuat Calista sangat takut, pasalnya orang itu pasti mempunyai foto Calista.


"Gue takut banget."


"Tenang aja, Ta. Pastinya pihak sekolah akan cari tahu siapa orang yang bikin akun ini," kata Bayu.


...****************...


Friska POV


Friska melihat akun Facebook yang sedang ramai dibahas oleh teman-teman sekelasnya. Melihat itu, Friska sangat kesal dan ia mengirim umpatan-umpatan di komentar pemilik akun tersebut.


"Anjing!" murka Friska.


"Kenapa sih?" tanya Kevin.


Friska, Kevin dan Erick memang masih berada di cafe, karena mereka bertiga malas untuk pulang ke rumah.


Friska menunjukkan foto-foto blur seorang siswi SMA Nusa Indah kepada Kevin dan Erick.


"Gila banget ya itu orang. Bisa-bisanya dia pasang kamera di toilet cewek," kesal Friska.


Erick mengambil ponsel milik Friska. "Kok gue minat ya beli videonya."


Friska menjambak rambut Erick dan itu membuat Erick meringis kesakitan.


"Sakit anjing!" kesal Erick saat rambutnya dijambak oleh Friska.


Friska menatap tajam kearah Erick, lalu setelah itu pandangan Friska tertuju pada Kevin yang sedang fokus melihat-lihat akun Facebook itu.


"Jangan bilang lo juga minat?" tuduh Friska.


"Ya enggak lah," ujar Kevin.


"Lo gak akan beli video Calista, Vin?" tanya Erick.


"Dijaga ya mulut lo!" murka Kevin.


Friska menatap kearah Kevin dan Erick, ia takut jika salah satu diantara sahabat itu adalah pemilik akun Facebook tersebut.


"Gue pulang dulu," ujar Friska sambil pergi.


Setelah keluar dari restoran, Friska langsung menelpon Calista untuk membahas masalah ini. Yang Friska khawatirkan yaitu dirinya dan Calista, karena pastinya banyak yang membencinya dan Calista, maka dari itu pasti orang-orang berminat membeli foto atau video keduanya agar mereka bisa membalaskan dendamnya.


Tak butu waktu lama, Calista menjawab panggilan telepon dari Friska.


"Ta, lo udah lihat belum?"


"Iya, gue udah lihat."


"Menurut lo, siapa yang buat akun itu?"


"Entahlah, tapi gue merasa kalau orang yang buat akun itu adalah anak lelaki dari kelas sebelah," jelas Calista.


Calista menjelaskan kepada Friska bahwa waktu itu Calista pernah melihat seorang lelaki yang keluar dari toilet perempuan dan Calista yakin bahwa orang itu pelakunya.


"Ta, kayaknya Erick sama Kevin mau beli videonya deh. Soalnya tadi Erick bilang sendiri katanya dia minat untuk beli."


"Gak ada akhlak emang itu orang," kesal Calista.


"Ta, lo kan juga tahu kalau Erick itu mesum banget dan pastinya dia gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."


Calista tiba-tiba mematikan teleponnya setelah Friska berkata seperti itu.


...****************...


Jika memang benar bahwa Kevin membeli video ataupun foto, Calista tidak akan segan-segan untuk memutuskannya.


Tingtong! Tingtong!


Calista menghela nafasnya saat ada orang yang membunyikan bel rumahnya. Orang itu pasti adalah Bayu. Karena kalau sedang bosan, Bayu selalu menghampiri Calista.


Setelah Calista sampai diluar, ternyata orang yang membunyikan bel rumahnya adalah Kevin.


Karena Calista mengingat ucapan Friska waktu tadi sore, Calista jadi malas melihat wajah Kevin. Kalau ucapan Friska sampai benar, ia benar-benar akan menjauhi Kevin dan juga Erick.


"Ekspresinya kenapa gitu? kayaknya kamu gak senang ya kalau aku datang," kata Kevin.


"Mau ngapain kesini?"


Kevin memberikan kantong plastik yang cukup besar. "Aku beli martabak buat kamu sama orang tua kamu."


Berhubung kedua orang Calista tidak ada di rumah, jadi Calista hanya mengambil satu kotak saja yang ada didalam kantong plastik.


"Kenapa cuma diambil satu?" heran Kevin.


"Orang tua aku lagi ke Yogyakarta. Jadi ambil satu aja, soalnya kalau banyak takut mubazir," ujar Calista, karena ia tahu bahwa orang tuanya akan pergi lama, maka dari itu ia mengambil satu kotak martabak saja.


Tiba-tiba Bayu datang menghampiri Calista dan Kevin. Sebenarnya papahnya Calista mengirim pesan kepada Bayu agar Bayu mengawasi Calista. Maka dari itu Bayu akan selalu memantau tamu-tamu yang datang ke rumah Calista melalui rumahnya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Kevin kepada Bayu.


"Gue diperintahkan papahnya Calista untuk mengawasi orang-orang yang datang," jelas Bayu.


"Bayu, jangan kasih tahu ke papah ya kalau Kevin datang kesini," ujar Calista.


Kevin memberikan semua martabak yang ia pegang kepada Bayu. "Ini buat lo, asal lo jangan kasih tahu papahnya Calista."


Tentunya Bayu menerima martabak itu, karena memang saat ini ia sedang lapar.


"Vin, aku boleh pinjam handphone kamu sebentar gak?"


"Buat apa?" tanya Kevin.


Calista berpikir sejenak. "Aku pingin chat papah, soalnya pulsa aku habis."


"Ya udah kalau gitu aku beli pulsa dulu buat kamu ya," ujar Kevin, lalu Calista dengan cepat mencegahnya karena tujuannya bukan ingin mengirim pesan, namun Calista ingin membuka messenger Kevin. Karena siapa tahu Kevin membeli video ataupun foto.


Kevin memberikan ponselnya kepada Calista dan Calista langsung menjaga jarak darinya karena ia takut Kevin akan melihat Calista sedang membuka aplikasi messenger.


"Kenapa sampai jaga jarak kayak gitu sih?" heran Kevin saat melihat Calista mundur beberapa langkah.


"Gak kenapa-napa kok."


Setelah dicek, Calista sama sekali tidak menemukan pesan yang ia maksud. Ternyata Kevin masih menghormati Calista dengan tidak membeli video ataupun foto.


"Vin, gak jadi deh. Makasih ya." Calista kembali mengembalikan ponsel milik Kevin.


"Btw, kita makan martabak bareng di rumah lo yuk," ujar Bayu, karena jika ia membawanya ke rumah, pastinya kedua orangnya pasti meminta martabak miliknya.


"Gak mau! gue takut. Masa gue ceweknya sendirian."


"Takut? perasaan kita gak akan ngapa-ngapain lo," heran Bayu.


Ucapan Bayu memang benar, lagipula keduanya tidak mungkin berani macam-macam.


"Ya udah ayo masuk!" ajak Calista. Lalu mereka segera masuk kedalam rumah.


Skip


Calista mengambil minuman kemasan untuk dirinya, Kevin dan Bayu. Setelah itu, ia meletakkan minuman kemasan tersebut di meja.


"Makasih ya martabaknya," ujar Bayu sambil menikmati martabak pemberian Kevin.


"Iya sama-sama," ujar Kevin.


Calista membuka chat grup kelasnya. "Guys, katanya besok libur."


"Libur kenapa?" tanya Bayu.


Calista menjelaskan bahwa pihak sekolah akan menelusuri kasus terkait penyebaran foto dan video, maka dari itu pihak sekolah meliburkan murid-murid SMA Nusa Indah.


"Kalau sampai orangnya ketahuan, bisa sampai dikeluarkan tuh," ujar Bayu.


"Ya jelas, itu udah termasuk kriminal," sahut Kevin.


"Kalian berdua gak beli video dari akun itu, kan?" tanya Calista memastikan, padahal sebelumnya ia sudah memeriksa ponsel Kevin.


"Ya enggak lah," ujar Kevin dan Bayu bersamaan.


Kekhawatiran Calista perlahan menghilang, karena sepertinya memang benar bahwa pacarnya sama sekali tidak membeli video ataupun foto.


"Oh iya, Ta. Nanti mau beli kado apa buat Rania?" tanya Kevin.


"Gak tahu."


"Udah baikan sama Rania?" tanya Bayu dan itu membuat suasana menjadi hening.


Jujur saja dari tadi Calista belum mendapatkan pesan atau telepon dari Rania. Dan itu membuat Calista merasa bahwa Rania memang tidak ingin mengundangnya.


"Kamu udah dikirim pesan sama Rania belum?" tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.


"Belum."


Kevin terdiam sejenak, padahal dari tadi sore dirinya sudah menyuruh Rania agar mengundang Calista.


"Dia kayaknya emang gak mau undang aku, Vin."


"Aku yakin, dia pasti undang kamu kok."


Trining! Trining!


Ini sangat kebetulan, baru saja mereka membicarakan Rania dan tiba-tiba Rania menelpon Calista. Dan sudah dipastikan bahwa tujuannya menelpon itu karena Rania ingin mengundang Calista.


Dengan gugup Calista menjawab panggilan telepon tersebut. Dan sepertinya bukan hanya Calista saja yang gugup, tetapi sepertinya Rania juga pasti lebih gugup karena dia pasti sangat merasa karena kejadian waktu itu.


"Hallo, Ta. Ini gue Rania."


"Iya, gue tahu. Lagian gue mau simpan nomer telepon lo kok."


"Tiga hari lagi gue ulang tahun. Nanti lo mau datang ke rumah gue gak?"


"Iya, nanti gue datang ke rumah lo."


Rania berterima kasih kepada Calista karena telah mau datang ke acaranya. Begitupun dengan Calista, ia sangat senang karena akhirnya hubungannya persahabatannya dengan Rania perlahan membaik.


Selesai menelpon, Calista kembali menikmati martabak pemberian Kevin.


"Gue juga pingin ikut ke acaranya dong," keluh Bayu.


"Yang diundang cuma geng kita doang."


"Ya udah masukin gue ke geng kalian," kata Bayu.


"Gak bisa! enak aja main masuk-masuk," sahut Kevin.


Calista tertawa mendengar perkataan Kevin yang sepertinya sangat kesal dengan Bayu. Ya, lagipula siapa coba yang tidak kesal jika tiba-tiba ada orang baru yang ingin masuk kedalam sebuah persahabatan yang sudah dibangun sejak lama.


"Gue tahu, niat lo mau masuk geng itu bukan karena lo ingin bersahabat dengan kita. Melainkan lo ingin dikenal sama semua murid SMA Nusa Indah, kan?" tuduh Kevin karena ia ingin bahwa Bayu waktu itu berpura menjadi pacar Calista hanya karena ingin dikenal oleh semua murid.


Bayu hanya cengengesan saat mendengar tuduhan dari Kevin. "Iya sih, ucapan lo emang benar."


Calista menatap datar kearah Bayu. Ia heran dengannya, padahal Bayu memiliki jumlah followers yang lumayan banyak di instagram, tetapi dia masih ingin terus dikenal.