Fearless

Fearless
Episode 48



Pada saat Calista, Kevin dan Erick baru saja sampai di sekolah, serentak pandangan orang-orang tertuju pada mereka bertiga. Dan ketiganya memang sudah terbiasa dengan tatapan dari orang-orang, secara mereka dikenal sebagai geng yang sering membuat onar. Tetapi itu dulu, justru sekarang mereka berjanji tidak akan membuat onar lagi.


"Guys, besok akan ada acara di sekolah," ujar Erick.


"Ada acara apa?"


"Pokoknya acara mengasah bakat," jelas Erick. Erick juga menjelaskan bahwa Papahnya sebagai pemilik sekolah yang membiayai acaranya dan tujuan dia membuat acara ini karena dia ingin mengetahui bakat-bakat apa saja yang dimiliki murid SMA Nusa Indah.


"Gue mau ikut lomba menyanyi deh kalau gitu."


Kevin dan Erick menahan tawanya saat mendengar perkataan Calista, lantaran baru kali ini Calista ingin mengikuti lomba.


"Emang lo bisa menyanyi, Ta?" tanya Erick.


"Enggak juga sih." Calista cengengesan.


Kalau dipikir-pikir, Calista bingung tentang keahliannya, bahkan Calista tidak mengikuti ekstrakulikuler apapun di sekolah. Dulu Calista memang pernah mengikuti beberapa ekstrakurikuler, namun tetap saja ujung-ujungnya ia keluar.


"Kok gue gak punya bakat ya," gumam Calista.


"Semua orang pasti punya bakat kok, cuma sekarang kamu belum menemukannya," kata Kevin.


"Ta, lo bisa main game gak? kalau bisa, nanti ikutan aja lomba main game," kata Erick.


"Emang ada lomba main game?" tanya Kevin, lalu Erick hanya mengangguk, karena sejujurnya dia meminta Papahnya supaya diadakan lomba main game, sebab Erick sangat jago dalam bermain game. Jadi siapa tahu dia memenangkan lombanya.


Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka bertiga dan otomatis ketiganya berhenti karena sepertinya orang itu ingin berbicara sesuatu.


Plak!


Calista dna Kevin terkejut disaat orang itu menampar pipi Erick. Entah apa masalahnya, tapi yang jelas orang itu seperti sangat kesal dengan Erick.


"Apa-apaan sih lo!" kesal Erick.


"Lo yang apa-apaan! sebagai cowok harusnya lo itu jangan memberikan harapan palsu," kesal perempuan itu.


"Siapa yang memberi harapan palsu sih," ujar Erick.


"Lo yang kasih harapan palsu ke sahabat gue. Lo deketin dia bahkan perhatian sama dia, tapi lo malah deketin cewek lain juga," ujar perempuan itu lagi.


Kevin mengajak Calista untuk menuju ke kelas, karena ia tidak mau ikut campur dalam permasalahan Erick dan perempuan itu.


Sesampainya di kelas, Calista mengingat bahwa akhir-akhir ini Erick mendekati beberapa perempuan, termasuk Rania. Dan itu membuat Calista berpikir bahwa lelaki itu mudah bosan.


"Aku duduk disini ya, soalnya Friska kan gak akan sekolah" Kevin meletakkan tasnya di kursi Friska, lalu ia duduk dikursi Friska.


"Iya boleh."


"Ngomong-ngomong, cewek yang tadi berani juga ya nampar Erick. Padahal kan Erick itu anaknya pemilik sekolah dan juga seharusnya yang marah ke Erick itu bukan dia, tapi sahabatnya," kata Kevin.


"Iya, juga ya. Apa dia gak takut dikeluarkan dari sekolah."


Sepuluh menit kemudian, Erick masuk ke kelas dan otomatis Calista dan Kevin menoleh kebelakang.


"Tadi gimana?" tanya Kevin karena penasaran.


"Ya gue minta maaf ke sahabat cewek yang nampar gue," jelas Erick.


"Tapi lo gak akan mengeluarkan cewek yang tampar lo dari sekolah ini, kan?" tanya Kevin memastikan.


"Enggak. Lagipula cewek itu juga tadi udah minta maaf ke gue," jelas Erick.


Calista merogoh saku roknya dan ia tidak menemukan ponselnya. Kemudian, ia mengecek tasnya dan ternyata di tasnya juga tidak ada.


"Vin, lihat handphone aku gak?"


"Gak lihat."


"Apa ketinggalan di mobil ya?"


"Perasaan saat di mobil, kamu sama sekali gak pegang handphone. Mungkin handphone kamu ketinggalan di rumah kali."


"Yah! pasti bosan banget kalau gak main handphone," keluh Calista.


"Ya udah pakai aja handphone aku," kata Kevin.


Emang beneran boleh dipinjam?"


"Iya, boleh."


Calista melihat-lihat aplikasi di ponsel Kevin dan ia menemukan aplikasi game online yang seringkali dimainkan oleh para lelaki. Ketika Calista ingin membuka aplikasi itu, tiba-tiba Kevin mencegahnya.


"Jangan main itu!" ujar Kevin.


"Kenapa jangan?"


"Soalnya rank-nya udah tinggi. Nanti kalau kamu main, nantinya rank-nya turun."


Calista menatap datar kearah Kevin. Calista sedikit kesal karena hanya gara-gara itu Kevin melarangnya untuk main.


"Ta, aku ke toilet dulu ya," ujar Kevin, setelah itu ia segera pergi.


Setelah Kevin pergi, pikiran jahat Calista mulai muncul dan akhirnya ia memutuskan untuk memainkan game tersebut meskipun Kevin melarangnya.


Skip


Pada saat Kevin kembali, Calista langsung menyudahi game yang tadi ia mainkan, karena pastinya Kevin akan langsung memarahi Calista karena rank-nya turun.


"Lagi lihat-lihat apa?" tanya Kevin karena ia penasaran.


"Aku cuma lihat foto sama video di galeri kamu."


"Bohong! tadi gue lihat dia main game," sahut Erick.


Calista memang bodoh, padahal sudah jelas-jelas Erick duduk dibelakang dan pastinya dia melihat ketika Calista bermain game.


Kevin buru-buru mengambil ponsel miliknya untuk memastikan apakah tadi Calista memainkan game-nya atau tidak.


"Aku kan tadi udah melarang kamu buat main game," ujar Kevin sambil menatap tajam kearah Calista.


"Maaf," ujar Calista dengan wajah tanpa dosa.


Sangat terlihat oleh Calista bahwa saat ini Kevin sangat marah meskipun dia hanya diam saja. Bukannya merasa bersalah, Calista justru hanya menahan tawanya.


"Kamu marah ya?" tanya Calista, padahal sebenarnya ia sudah tahu bahwa Kevin sedang marah.


"Jangan ajak ngobrol, soalnya aku lagi gak mood."


"Oke siap."


Mendengar ucapan itu membuat Kevin semakin kesal dengan Calista. Karena bukannya membujuk Kevin agar tak marah lagi, Calista justru mengiyakan agar tidak mengobrol.


"Bayu!" panggil Calista saat Bayu baru saja datang ke kelas. Lalu, Bayu berjalan kearah Calista.


"Ada apa?" tanya Bayu.


"Nanti pulang sekolah kerja kelompok di rumah gue."


"Oke siap," kata Bayu.


Kevin menatap kearah Bayu pada saat dia mengatakan kata-kata yang sama dengan Calista. Ia baru menyadari bahwa nada bicara keduanya saat mengucapkan kata itu sangat mirip. Dan Kevin sangat yakin bahwa Calista yang meniru gaya bicara Bayu, karena sebelumnya Calista tidak berbicara dengan nada seperti itu.


"Oh iya, Randy udah pulang?" tanya Calista.


"Iya, dia udah pulang kemarin."


"Randy siapa?" tanya Kevin.


"Katanya lagi gak mood, tapi kok sekarang ngobrol," sindir Calista.


Kevin menghela nafasnya untuk meredam emosinya. Kalau saja Calista bukan pacarnya, mungkin Kevin akan menyimpan mulut Calista dengan tisu.