
Kevin POV
Beberapa hari setelah putus, Kevin semakin cemas karena sudah 3 hari Calista tidak sekolah dikarenakan sakit. Dan Kevin merasa bahwa Calista sakit dikarenakan dirinya, karena waktu itu ada beberapa orang yang mendengar percakapannya dengan Calista, maka dari itu orang-orang tersebut pastinya yang menyebarkan gosip itu.
Sejujurnya Rania sudah menjelaskan kepada Kevin bahwa Reyhan berbohong tentang perkataannya yang waktu itu. Dan setelah memikirkan ucapan Rania membuat Kevin merasa bersalah kepada Calista. Bahkan katanya Calista berkata kepada Rania bahwa Calista tidak akan bisa memaafkan Kevin.
"Vin, pulang sekolah mau ke rumah Calista gak?" tanya Erick.
"Kayaknya enggak deh."
"Lo gimana sih. Seharusnya lo kesana dan juga harusnya lo minta maaf kepada Calista," kata Erick. Ya, Erick memang sudah tahu alasan Kevin memutuskan hubungannya dengan Calista.
"Kalau gue kesana juga percuma, Rick. Soalnya Calista benci banget sama gue gara-gara hal itu."
Karena Kevin tidak akan pergi ke rumah Calista, jadi Kevin menitipkan cemilan dan minuman kesukaan Calista kepada Erick.
"Gue titip makanan sama minumannya dan juga lo jangan bilang kalau makanan dan minuman itu dari gue."
"Iya, gue gak akan bilang kok."
"Nanti setelah pulang dari rumah Calista jangan lupa kabarin gue ya, soalnya gue pingin tahu keadaannya."
"Iya, nanti gue kabarin lo. Kalau perlu gue foto, biar lo puas."
Setelah berbincang-bincang, akhirnya Erick segera pergi dengan mengendarai mobilnya. Setelah Erick pergi, Kevin juga segera pergi dengan mengendarai mobilnya.
...****************...
Pintu kamar Calista tiba-tiba diketuk. Dengan demikian, Calista buru-buru membuka pintu kamarnya. Dan ketika dibuka, ia melihat Friska, Rania dan Erick.
Calista mengedarkan pandangannya, karena ia ingin memastikan apakah Kevin datang atau tidak. Dan untungnya Kevin tidak datang untuk menjenguk Calista.
Calista cukup lega, namun ia sedikit kecewa. Memang ia sangat membenci lelaki itu, namun hati kecilnya mengatakan bahwa ia masih merindukannya.
Entahlah, mungkin karena Calista masih kesal dengan Kevin lantaran Kevin menuduh Calista melakukan hal yang tidak-tidak.
Tapi sejujurnya, rasa kesal Calista berkurang setelah beberapa hari lalu Kevin meminta maaf padanya ketika di rumah Friska.
"Cari Kevin ya?"
"Enggak kok. Ngapain juga nyari dia."
Erick tahu bahwa Calista berbohong, sebab pandangannya seperti sedang mencari keberadaan seseorang.
"Sejujurnya Kevin pingin banget kesini. Cuma karena lo masih benci dia, jadi dia cuma menitipkan makanan sama minuman ini," ujar Erick.
"Kasih lagi aja ke dia."
"Gak boleh gitu, Ta. Dia kan udah minta maaf sama lo."
"Tapi gue masih marah sama dia. Seharusnya dia lebih percaya pacarnya daripada orang lain."
Erick menahan tawanya karena Calista masih menyebut dirinya sebagai pacar Kevin.
"Harusnya lebih percaya pacar ya?" sindir Erick sambil meniru nada bicara Calista.
"Maksudnya itu seharusnya dia percaya sama gue."
"Maklum, Ta. Kevin kan gampang banget dibohongi, makanya dia percaya aja sama ucapan Reyhan," kata Friska.
"Tujuan kalian datang kesini itu mau jenguk gue atau mau bahas Kevin sih?" kesal Calista.
Karena tak ingin Calista merasa kesal, akhirnya ketiganya segera membahas kondisi Calista. Dan tentunya Calista mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja, bahkan Calista berencana akan pindah sekolah karena terlalu malu dengan rumor-rumor yang beredar, meskipun rumor itu tidaklah benar.
"Ngapain pindah sih, Ta? masa cuma gara-gara rumor itu, lo jadi pindah sekolah," kata Friska.
"Ta, lo kan udah janji sama gue kalau lo gak akan pindah sekolah," ujar Rania.
"Iya, jangan pindah. Nanti kalau rumor itu terus menyebar, gue akan laporkan orang yang udah menyebarkan rumornya," kata Erick.
...****************...
Kevin POV
Sudah satu jam Kevin menunggu kabar dari Erick, namun sampai kini Erick belum memberitahu kabar dari Calista. Karena sudah lelah menunggu, akhirnya Kevin segera menelpon Erick.
Tak lama, Erick menjawab panggilan telepon dari Kevin. "Ada apa, Vin?"
"Gimana keadaan Calista?"
"Parah, Vin. Keadaan Calista parah banget, bahkan sekarang badan dia kurus banget."
"Coba gue pingin lihat fotonya saat tadi di rumah dia."
Erick terdiam, setelah itu ia tiba-tiba mematikan teleponnya.
Beberapa detik setelah panggilan berakhir, tiba-tiba Erick mengirim pesan bahwa dia tidak memotret Calista dikarenakan ia takut Calista marah.
Ting!
Pesan kedua dari Erick muncul dan isi pesannya bertuliskan bahwa Calista akan pindah sekolah.
Karena merasa bersalah, Kevin akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi Calista langsung, sebab ia tidak ingin jika Calista pindah dari sekolah.
Skip
Sesampainya di rumah Calista, Kevin buru-buru turun dari mobilnya. Pada saat ia akan menekan bel, kebetulan sekali Mamah Calista keluar dari rumah.
"Loh! kamu kok baru sekarang jenguk Calista," heran Mamah Calista karena ia masih mengira bahwa Calista masih berpacaran dengan Kevin.
"Maaf, Tante."
"Ya udah, masuk sana! pasti Calista lagi menunggu kamu."
Sebelum Kevin masuk, Mamah Calista memerintah Kevin agar menunggu Calista. Sebab, Mamah Calista akan pergi ke apotek.
Sesudah dapat perintah dari Mamah Calista, Kevin langsung masuk saja kedalam rumah untuk menemui Calista.
Disaat Kevin telah berada didepan pintu kamar Calista, ia hanya diam mematung. Ia ragu untuk menghampiri Calista karena ia sangat merasa bersalah.
Cklek!
Mata Kevin dan Calista saling bertatapan setelah pintu kamar terbuka. Keduanya hanya mematung tanpa berbicara apapun.
Beberapa detik kemudian, Calista berniat menutup pintu kamarnya, namun alhasil Kevin lebih dulu menahan pintunya agar tidak tertutup.
"Lo ngapain sih kesini?" tanya Calista dengan nada jutek.
"Gue khawatir sama lo dan juga gue kangen sama lo"
Plak!
Calista menampar Kevin untuk melampiaskan amarah yang selama ini dipendamnya.
"Lo jahat! waktu itu lo putusin gue dan sekarang lo bicara kayak gitu. Emang lo pikir gue bakal luluh dengan ucapan lo." Setelah mengeluarkan emosinya, Calista langsung menangis sesenggukan.
"Ayo tampar lagi sampai emosi kamu hilang. Kalau emosi kamu belum hilang juga, kamu boleh bunuh aku," perintah Kevin.
Perlahan tangisan Calista mulai mereda, lalu ia mengusap air matanya.
Calista mengambil sesuatu di kamarnya, lalu ia kembali menghampiri Kevin. "Pergi atau aku bunuh diri sekarang," ancam Calista sambil meletakkan cutter dipergelangan tangannya.
"Aku gak bisa pergi, soalnya aku udah janji sama Mamah kamu untuk menjaga kamu."
Tiba-tiba darah mengalir saat Calista menyayat pergelangan tangannya. Dan sontak saja Kevin sangat panik karena ternyata perkataan Calista tidak main-main.
Dengan cepat, Kevin langsung mencari perban agar darah Calista tidak semakin mengalir. Disisi lain, Calista hanya mematung saat darah segar keluar dari sayatannya.
Beberapa menit kemudian, Kevin kembali menghampiri Calista dan ia membalut luka Calista dengan perban. Saat membalut luka itu, tiba-tiba air mata Kevin mengalir begitu saja. Ia merasa bersalah karena seharusnya tadi ia pergi saja.
Melihat Kevin menangis, membuat Calista yang tadi sudah berhenti kini kembali menangis sesenggukan.
"Sakit banget ya?" tanya Kevin sambil menatap Calista dengan tatapan khawatir. Kemudian, Calista hanya mengangguk sambil menatap luka yang sudah dibalut perban.
"Sakit," gumam Calista.
Bukan pergelangan tangannya yang sakit, tetapi hatinya yang sakit karena teringat perkataan Kevin waktu itu.
"Mau ke rumah sakit?" tanya Kevin, namun Calista hanya menggelengkan kepalanya.
"Lo pergi sana! gue pingin istirahat," ujar Calista.
"Ya udah kalau itu mau kamu. Tapi aku perginya nanti ya setelah Mamah kamu datang."
Calista tidak menjawab perkataan Kevin, ia justru masuk kedalam kamar dan tak lupa ia juga menutup pintu kamarnya.
...****************...
Sepuluh menit kemudian, Calista membuka sedikit pintu kamarnya untuk melihat apakah Kevin masih berada di rumahnya atau tidak. Dan setelah diperiksa, ternyata Kevin sudah tidak ada.
Akhirnya Calista berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman. Saat berjalan menuju dapur, pandangan Calista beralih ke ruang tengah, yang mana di ruang tengah ada Kevin yang sedang tertidur dengan posisi duduk.
Calista buru-buru mengambil air dan ia memasukkan garam yang banyak kedalam air tersebut. Setelah itu, Calista berjalan menghampiri Kevin.
"Bangun!" teriak Calista dan itu membuat Kevin terbangun dari tidurnya.
"Ini minum." Calista memberikan air minum kepada Kevin, namun Kevin malah menolaknya.
Kevin mengambil air minum pemberian Calista, lalu ia meminumnya.
"Asin banget, Ta."
Calista berusaha menahan tawanya saat melihat reaksi Kevin.
Kevin menaruh air minum itu di meja. "Gue gak kuat minumnya."
"Ya udah kalau gitu gue gak mau memaafkan lo."
"Kalau gue minum sampai habis, emang lo akan memaafkan gue?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.
Akhirnya Kevin meminum air garam itu dengan cepat dan itu membuat Calista terkejut karena Kevin begitu cepat meminumnya.
"Jadi sekarang kamu udah memaafkan aku, kan?" tanya Kevin memastikan.
"Belum."
"Kok gitu sih. Tadi kamu kan bilang kalau kamu akan memaafkan aku."
"Kapan aku bilang kayak gitu?"
Kevin menatap kesal kearah Calista, lalu ia berjalan kearah Calista.
"Apa?" bingung Calista.
Kevin mencubit pipi Calista untuk melampiaskan kekesalannya.
"Aww! sakit."
Sesudah mencubit pipi Calista, lalu Kevin mencium Calista dan itu membuat Calista kesal sekaligus salah tingkah.
"Bangsat!" umpat Calista agar Kevin tidak curiga bahwa Calista sedang salah tingkah.
"Emang, gue emang bangsat." Kevin tersenyum seolah-olah bangga dengan sebutan itu.
"Pergi sana!" usir Calista.
Tiba-tiba, Mamah Calista masuk kedalam rumah. Dan dia langsung memarahi Calista karena telah bersikap tidak sopan kepada Kevin.
"Jangan dimarahi, Tan."
"Tapi tadi dia gak sopan sama kamu."
"Gak apa-apa, Tan. Lagipula Kevin udah biasa mendengar umpatan dari Calista."
Calista semakin kesal, seharusnya Kevin yang dimarahi karena telah lancang mencubit dan mencium pipi Calista.
"Ya udah kalau gitu Kevin pulang dulu ya, Tante."
"Iya, hati-hati ya," ujar Mamah Calista.
Kevin keluar dari rumah Calista dengan perasaan senang, sebab Calista sepertinya sedikit memaafkan Kevin. Karena jika Calista belum memaafkan, pastinya dia tidak akan berbicara sepatah katapun kepada Kevin.
...****************...
Keesokan paginya, Calista memutuskan untuk kembali sekolah. Entahlah, ia membatalkan rencananya untuk pindah sekolah. Mungkin karena kemarin sahabat-sahabatnya berkata bahwa mereka akan melindungi Calista jika ada yang bergosip tentang rumor itu. Bahkan Erick mengatakan bahwa dia sudah melaporkan kepada papahnya dan papahnya akan menindaklanjuti jika masih ada orang yang bergosip tentang rumor itu.
Jujur, Calista sangat senang karena mempunyai sahabat yang sangat peduli dengannya, meskipun kadang mereka semua menyebalkan.
"Kak Calista," sapa adik kelas sambil tersenyum.
Calista membalas senyumannya, padahal sebenarnya tidak tahu bahwa senyuman yang ditunjukkan adik kelas itu benar-benar senyuman tulus atau senyuman palsu.
Tiba-tiba ada adik kelas lain menghampiri Calista dan adik kelas tersebut memberikan bunga kepada Calista. "Ini buat Kak Calista."
Calista hanya diam sambil memandang bunga itu. Ia tidak tahu maksud dari adik kelas itu memberinya bunga.
"Ini buat gue?" tanya Calista sambil mengambil bunganya.
"Iya, itu buat Kak Calista. Oh iya, didalam bunga itu ada suratnya," ujar adik kelas, lalu ia buru-buru pergi.
Calista mengambil surat itu, lalu ia membaca isinya. "Jangan sedih lagi, kita semua percaya sama kamu."
Senyuman terukir diwajah Calista. Hanya melihat tulisannya saja, Calista sudah tahu bahwa orang yang mengirim surat dan bunga itu adalah Kevin.
Calista mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Kevin. Dan benar saja, Kevin yang tadinya sedang melihat kearah Calista, tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya lalu ia pergi menuju kelas.
"Gengsi banget kayaknya, sampai-sampai menyuruh orang buat kasih bunga ini ke gue," batin Calista.
Skip
Tiba di kelas, semua anak-anak menyambut Calista dengan hangat. Bahkan beberapa temannya memberikan makanan, minuman dan ada juga yang ingin meminjam bukunya karena pastinya Calista membutuhkannya sebab Calista sudah beberapa hari tidak sekolah. Dan sepertinya mereka melakukan itu untuk mencegah Calista pindah dari sekolah ini.
"Makasih ya, tapi sekarang gue gak lapar dan gak haus," ujar Calista sambil pergi menuju kursinya.
Calista duduk di kursinya. "Mereka tahu ya kalau gue mau pindah?" bisik Calista kepada Friska.
"Iya, soalnya gue dan yang lainnya kasih tahu mereka. Dan kita juga yang menyuruh mereka agar berbuat baik sama lo supaya lo gak pindah," jelas Friska.
Tebakan Calista memang benar, bahwa teman-teman sekelasnya berusaha bersikap baik karena mereka tidak ingin Calista pindah sekolah.
"Btw, lo udah maafin Kevin ya?" tanya Friska.
"Kata siapa?"
"Kevin sendiri yang bilang katanya kalau Kevin minum air garam, lo akan memaafkan dia."
"Iya, kemarin Calista emang bilang kayak gitu kok," sahut Kevin sambil duduk di kursinya.
Calista menengok kebelakang dan ia menatap sinis kearah Kevin dan itu malah membuat Kevin tersenyum.
Calista mengacungkan jari tengah kepada Kevin dan itu malah membuat Kevin tertawa karena menurutnya itu sangat lucu.
Karena sudah lelah menghadapi Kevin, akhirnya Calista lebih memilih untuk diam.
"Oh iya, Ta. Nanti pulang sekolah, kita semua yang ada di kelas mau makan-makan. Lo mau ikut gak?" tanya Friska.
"Ya ikutlah."
"Ya udah kalau gitu lo berangkat bareng Kevin aja ya."
"Gak mau."
Friska menjelaskan bahwa Calista tidak bisa ikut dengannya dikarenakan Friska akan berangkat bersama Rania, sebab Friska tidak membawa kendaraan.
"Ya udah kalau gitu gue sama Erick."
"Jangan sama Erick, soalnya dia mau ajak teman-teman yang lain yang gak punya kendaraan."
"Kalau gitu gue ikut aja."
"Udah penuh, Ta. Soalnya yang lain udah bilang dari kemarin kalau mereka akan berangkat sama Kevin."
Calista melirik kearah Bayu, namun ia urungkan niatnya untuk berangkat bersama Bayu dikarenakan takut Friska cemburu.
"Ka, gimana kalau lo sama Bayu aja dan nanti gue sama Rania."
"Gak mau."
"Kenapa gak mau?"
"Gue malu. Soalnya kemarin gue udah mengungkapkan perasaan gue ke dia."
Calista sudah tidak terkejut lagi, sebab Friska sering sekali menembak duluan.
"Jadi Bayu menolak lo?" tanya Calista memastikan.
"Gak tahu. Soalnya dia diam aja saat gue nembak. Jadi bisa disimpulkan bahwa dia gak suka sama gue."
Friska merebut bunga yang dipegang Calista. "Ini dari siapa?" tanya Friska.
Calista hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata tidak tahu, padahal sebenarnya Calista tahu siapa orang yang memberi bunga itu.
"Bunganya buat lo aja, soalnya gue gak terlalu suka bunga."
"Terus sukanya apa?"
"Cokelat."
Tak lama setelah Calista berkata seperti itu, ia melihat Kevin pergi karena sepertinya dia kesal sebab bunga yang dia kasih untuk Calista, kini diberikan kepada Friska.
"Ini serius buat gue bunganya?" tanya Calista memastikan, lalu Calista hanya mengangguk.
"Gak deh, nanti orang yang kasih bunga ini kecewa kalau tahu lo memberikan bunganya ke gue." Friska mengembalikan bunga itu kepada Calista.
5 menit kemudian, Kevin datang dengan membawa kantong plastik yang berisi cokelat. "Mau gak?"
"Gak!" tolak Calista.
"Tadi katanya lo suka cokelat, tapi kok gak diterima," heran Friska.
"Ya udah ini buat lo aja, Ka." Kevin memberikan semua cokelat itu kepada Friska.