Fearless

Fearless
Bab 15



Setelah dipikir-pikir, Calista merasa meskipun Calista, Friska, Kevin dan Erick bersahabat, namun semuanya jarang menceritakan tentang kehidupannya masing-masing.


"Mamah tiri lo baik gak?" tanya Friska tiba-tiba.


"Gue gak tahu."


"Dia pernah marah-marah gak sama lo?"


"Gak pernah sih. Justru gue yang sering marah sama dia."


Friska mengatakan jika mamah tiri Calista terlihat sangat baik. Karena ketika Friska bertemu langsung dengannya, aura wajahnya sangat positif.


"Seharusnya lo bersyukur karena mempunyai mamah tiri yang sayang sama lo," kata Friska.


"Oh iya, papah tiri lo gimana? dia baik gak sama lo?" tanya Calista agar mengalihkan pembicaraan.


"Dia baik banget, Ta. Saking baiknya, dia lebih dulu dipanggil sama yang mahakuasa."


"Papah tiri lo meninggal kapan?" tanya Calista, lalu Friska menjawab bahwa papah tirinya meninggal bulan lalu.


Calista terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Jadi sekarang lo tinggal berdua sama mamah lo?" tanya Calista, lalu Friska hanya mengangguk.


"Lo kenapa gak kasih tahu gue sama yang lainnya?"


"Ya karena gue gak mau terlihat sedih didepan kalian," jelas Friska.


Tak lama, Kevin dan Erick datang menghampiri Friska.


"Ka, kata Kevin katanya kemarin lo sama-"


Belum juga Erick berbicara, Kevin dengan cepat membungkam mulutnya.


Friska hanya tertawa kecil. "Iya, yang dilihat Kevin emang benar kok."


"Itu papahnya Friska," sahut Calista yang sontak membuat Kevin dan Erick terkejut.


Agar tak salah paham, akhirnya Calista menceritakan kepada Kevin dan Erick tentang apa yang tadi telah disampaikan oleh Friska.


...****************...


Disaat sedang menikmati makan di kantin, tiba-tiba saudara Friska datang. "Kak Friska, aku boleh makan disini gak? soalnya aku gak kebagian tempat."


Friska menatap kearah sahabat-sahabatnya. "Guys, Desi boleh duduk disini gak?"


"Ya udah duduk aja," ujar Erick.


Ketika orang itu duduk, Calista hanya menahan tawanya karena ia tahu bahwa Desi ikut duduk hanya karena ingin mendekati Kevin.


"Mau tukeran kursi gak?" tanya Calista agar Desi bisa duduk disebelah Kevin.


"Udah lo disini aja," ujar Kevin dengan nada sedikit kesal.


"Btw, Rania sakit apa ya?" tanya Erick.


"Udah jangan bahas yang gak ada disini," kata Kevin karena ia tahu bahwa nantinya Calista akan kesal saat mendengar nama Rania.


Calista mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa kemarin Rania datang ke rumah untuk meminta maaf.


"Terus lo maafin dia gak?" tanya Friska, lalu Calista menggelengkan kepalanya seraya mengatakan bahwa ia tidak memaafkannya.


"Ta, lo beneran gak akan maafin dia selamanya?" tanya Erick.


"Gak, gue gak akan memaafkan dia."


"Ta, gue tahu pasti lo marah sama dia. Tapi bagaimanapun dia sahabat lo," kata Erick.


Calista meletakkan sendok dan garpunya, lalu ia segera pergi karena sepertinya Erick lebih membela Rania dibandingkan dengan Calista.


Skip


Kini Calista telah sampai di rooftop, ia merasa bahwa tidak ada orang yang membelanya. Padahal sudah jelas Rania yang salah, tetapi Erick malah membelanya.


"Calista!" panggil Kevin yang ternyata dari tadi mengikuti Calista.


"Lo ngapain ikutin gue?"


Kevin berjalan menghampiri Calista. "Lo belum bayar makanan sama minuman lo."


Calista menahan tawanya, ia pikir Kevin akan membela Rania juga. Tetapi ternyata dia datang untuk menagih uang kepada Calista.


Kevin terdiam sejenak, sejujurnya dia menghampiri Calista bukan untuk menagih uang.  Tetapi dia menghampiri Calista karena takut Calista merasa sedih karena Erick malah membela Rania.


"Gratis aja deh, soalnya gue udah kaya," kata Kevin.


"Sombong banget."


"Oh iya, nanti malam Minggu jadi gak ke club?"


"Gak jadi deh, soalnya gue malas banget."


Kevin merasa heran, padahal dari hari-hari sebelumnya Calista terus membicarakan bahwa dirinya ingin ke club, tapi sekarang Calista justru tidak ingin pergi kesana.


"Syukur deh kalau gak jadi."


Calista menoleh kearah Kevin. "Kenapa disyukuri?"


"Karena kalau jadi, gue takut nantinya lo mabuk disana."


Calista mendekat kearah Kevin, lalu ia mengalungkan tangannya di leher Kevin.


Disisi lain, Kevin hanya mematung karena merasa terkejut dengan tingkah Calista yang seperti sedang menggodanya.


"Lo beneran suka ya sama gue?" tanya Calista, lalu Kevin hanya mengangguk.


"Lo mau jadi pacar gue?"


Kevin menelan salivanya saat mendengar perkataan Calista.


"Mau?"


Kevin mendorong Calista perlahan. "Lo kan bilang, kalau nantinya putus, pastinya akan canggung karena kan kita satu circle."


Calista merasa malu, karena memang waktu itu ia berkata seperti apa yang tadi Kevin ucapkan.


"Btw, lo kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu? apa karena sekarang lo udah ada rasa ya sama gue?" tanya Kevin sambil tersenyum.


"Enggak kok! tadi itu cuma bercanda doang."


"Bercanda kok sampai mengalungkan tangan di leher gue. "Kevin menahan tawanya.


Karena sangat malu, akhirnya Calista lebih memilih untuk pergi menuju kelasnya.


Disepanjang perjalanan menuju kelas, Calista terus menyesali perbuatannya. Entah setan apa yang telah merasukinya, hingga ia berani berbuat hal yang memalukan seperti itu.


Tiba di kelas, Calista langsung pura-pura tidur karena ia tahu bahwa sebentar lagi Kevin akan menghampiri ke kelas.


Dua menit kemudian, seseorang datang dan dia duduk di kursi dan Calista tahu bahwa itu adalah Kevin.


Karena cukup lama, akhirnya Calista memastikan apakah orang itu adalah Kevin atau bukan. Dan ketika menengok kebelakang, Calista melihat Kevin yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


Sebab Calista kesal dengan senyuman Kevin yang seakan-akan menertawakannya, akhirnya Calista melempar penghapus ke wajah Kevin. Namun sayang sekali, lemparan Calista tidak mengenai wajah Kevin lantaran Kevin dengan cepat menghindar.


"Kenapa, Ta?" heran Kevin, karena Calista tiba-tiba melemparkan penghapus kearahnya.


"Bisa gak sih jangan ikuti gue terus."


"Sebentar lagi kan masuk, makanya gue ke kelas."


Calista terdiam, karena ucapan Kevin ada benarnya juga.


Trining! Trining!


Calista melihat kearah ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari nomer yang tidak dikenal. Karena penasaran dengan orang yang menelponnya, akhirnya Calista menjawab panggilan telepon tersebut.


"Hallo, ini siapa?"


"Ta, ini aku. Aku mau minta maaf sama kamu. Aku mengakui kalau perbuatan aku itu salah, tapi aku mohon agar kamu bisa memaafkan aku," ujar Reyhan.


"Gue gak mau maafin lo."


Reyhan menangis dan terus meminta maaf. Lalu, dia juga ingin kembali menjalin hubungan lagi dengan Calista.


"Gue udah punya pacar, jadi lo jangan ganggu gue lagi. Oh iya, gue doakan semoga lo bahagia dengan mantan sahabat gue." Setelah berkata seperti itu, Calista langsung mematikan teleponnya.


"Emangnya lo udah punya pacar?" ledek Kevin.


"Lo menguping ya?"


"Kan kita posisinya dekat, jadi wajar kalau kedengaran," jelas Kevin dan lagi-lagi Calista terdiam setelah mendengar perkataan Kevin.