
Sepulang dari sekolah, Calista dikejutkan dengan sosok lelaki yang berada didepan rumah. Lelaki itu adalah Reyhan, lelaki yang merupakan cinta pertama Calista dan juga lelaki yang membuat Calista patah hati.
Tak lama, Reyhan berjalan kearah Calista yang sedang berada didalam mobil. Lalu, Reyhan mengetuk kaca mobil seraya menyuruh Calista untuk keluar dari mobil.
Kemudian, Calista segera keluar karena ia ingin tahu maksud dari kedatangan Reyhan.
"Ada apa?" tanya Calista tanpa menatap Reyhan.
"Ta, aku benar-benar minta maaf. Aku gak akan paksa kamu buat kembali lagi sama aku, tapi kali ini aku janji akan menjadi orang yang lebih baik," ujar Reyhan.
"Bagus deh kalau gitu."
"Kamu mau maafin aku gak, Ta?" tanya Reyhan dengan ekspresi penuh penyesalan.
Saat menatapnya, Calista merasa kasihan dan juga kecewa karena perbuatan Reyhan.
Sejujurnya, setiap melihat Reyhan, Calista selalu ingat dengan momen-momen disaat awal-awal pacaran. Rasanya Calista sulit untuk melupakan momen itu, apalagi Reyhan merupakan cinta pertama Calista.
"Ta, maafin aku ya," ujar Reyhan sambil meneteskan air matanya.
Calista benci hal itu. Setiap kali ada orang yang menangis dihadapan, ia selalu luluh.
"Kamu gak mau memaafkan aku, Ta? ya udah gak apa-apa, lagipula aku pantas kok dibenci oleh kamu," ujar Reyhan.
"Aku udah maafin kamu kok."
Tanpa aba-aba, Reyhan memeluk Calista dan itu membuat Calista diam mematung.
"Makasih ya udah maafin aku," ujar Reyhan, lalu ia segera melepaskan pelukannya.
...****************...
Calista membuka brankas pribadi yang ada diponselnya, ia melihat-lihat foto dan video pada saat dirinya masih menjalin hubungan dengan Reyhan.
Sebenarnya Calista masih menyimpan beberapa foto dan video. Karena baginya, itu adalah momen yang sulit untuk ia hapus dari kehidupannya.
Meskipun telah membuat Calista sakit hati, namun bagaimanapun dia juga pernah membuat hari-hari Calista menjadi bahagia. Apalagi saat dulu dia selalu menghibur Calista disaat Calista sedang merindukan mendiang mamahnya. Bahkan setiap Calista merindukan mamahnya, Reyhan bahkan rela mengikuti keinginan Calista untuk pergi ke makam mamahnya.
Berbicara soal Kevin, sejujurnya Calista bingung dengan perasaan dirinya kepada Kevin. Adakalanya Calista terbawa perasaan dan adakalanya ia biasa saja terhadap Kevin. Mungkin karena dari awal Calista sudah menganggapnya seperti sahabat, jadi ia akan sulit jika mencintai Kevin dengan sepenuh hati.
Trining! Trining!
Kevin tiba-tiba menelpon Calista dan itu membuat Calista panik karena ia takut ketahuan oleh Mamahnya. Calista takut jika Mamah akan melaporkan bahwa Calista masih berkomunikasi dengan Kevin.
Dengan cepat, Calista mengunci pintu kamarnya agar mamah tidak mendengar pembicaraan antara Calista dan Kevin.
Calista menjawab panggilan telepon tersebut. "Ada apa, Vin?" tanya Calista dengan suara pelan.
"Kamu tadi ketemu sama Reyhan ya?" tanya Kevin tiba-tiba.
Calista terdiam sejenak, ia berpikir kalau sepertinya tadi Kevin datang ke rumah. Dengan demikian, Calista langsung menjelaskan bahwa tadi Reyhan datang ke rumah untuk meminta maaf.
Sesudah berkata seperti itu, Calista kembali bingung karena sepertinya tadi Kevin melihat Reyhan yang sedang memeluk Calista.
"Sekarang dia masih ada di rumah kamu?" tanya Kevin.
"Enggak kok. Setelah meminta maaf, Reyhan langsung pulang lagi."
Seketika Calista dan Kevin terdiam. Calista tahu bahwa Kevin sebenarnya sangat marah, namun karena Kevin sangat menyukai Calista, rasa marahnya dia pendam.
Beberapa detik kemudian, panggilan diakhiri oleh Kevin dan itu membuat Calista khawatir jika Kevin akan kembali mendiamkan Calista seperti waktu itu.
Calista merasa bersalah. Bagaimanapun Kevin adalah pacarnya dan seharusnya Calista meminta maaf dan menjelaskan tentang kejadian tadi, karena pastinya Kevin melihat Calista yang dipeluk oleh Reyhan.
Calista kembali menghubungi Kevin, namun Kevin tidak menjawab panggilan telepon dari Calista.
Lalu, Calista mengambil kunci mobilnya karena ia ingin pergi ke rumah Kevin.
Saat berada di ruang tamu, Calista bertemu dengan mamah yang sedang mengobrol dengan tetangga yang rumahnya tidak jauh dengan rumah Calista .
"Mah, Calista boleh ijin keluar gak?"
"Boleh. Tapi pulangnya jangan lama-lama ya, soalnya takut papah datang."
"Iya, Mah." Kemudian Calista segera pergi.
Skip
Tiba di rumah Kevin, Calista langsung masuk setelah diperbolehkan masuk oleh satpam di rumah Kevin. Karena Calista sudah terbiasa bermain ke rumah Kevin, jadi ia langsung saja pergi menuju kamar Kevin.
Suasana di rumah Kevin sangat sepi. Biasanya ada beberapa pembantu yang sedang beres-beres rumah dan juga sebagian sedang memasak. Namun kali ini Calista sama sekali tidak melihatnya.
Setibanya dilantai dua, Calista mengetuk pintu kamar Kevin karena kata pak satpam, Kevin sedang berada di kamar.
Sudah beberapa menit, namun Kevin tidak juga membuka pintu kamarnya. Akhirnya Calista memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Kevin.
Dan ketika masuk, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Kevin yang sedang tertidur.
Calista duduk dipinggir kasur sambil menatap kearah Kevin. Rasanya ia tak tega jika harus membangunkannya.
Saat menatap wajahnya, Calista merasa bersalah terhadap Kevin. Padahal Kevin sangat mencintai Calista, namun Calista saat ini masih belum mencintai Kevin dengan sepenuh hati.
Calista memainkan ponselnya dan ia membuka brankas pribadinya. Ia segera menghapus foto dan videonya bersama Reyhan, karena ia merasa bahwa ini merupakan hal yang tidak benar. Seharusnya ia menjaga perasaan Kevin, karena bagaimanapun Kevin adalah pacarnya.
"Maafin aku ya," gumam Calista sambil menatap Kevin.
Tiba-tiba Kevin membuka matanya perlahan, ia otomatis terbangun karena melihat Calista.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Kevin sambil mengucek matanya.
"Aku kangen. Makanya aku kesini."
"Kamu kangen? tapi kok yang dipeluk cowok lain," sindir Kevin.
"Aku minta maaf."
Kevin menghela nafasnya, lalu ia tersenyum kepada Calista seakan-akan ia memaklumi perbuatan Calista.
"Aku maafkan kamu, tapi kamu harus peluk aku."
Calista tertawa kecil, lalu ia segera memeluk Kevin. Rasanya senang karena Kevin dapat memaafkan kesalahan Calista.
Calista kembali melepaskan pelukannya. "Ya udah kalau gitu aku pulang ya, soalnya takut papah keburu datang. Nanti bisa-bisa aku dimarahin kalau ketahuan pergi."
"Aku ikut ya."
"Jangan! nanti aku dimarahin kalau kamu ikut."
"Kamu tenang aja. Aku akan jelaskan ke papah kamu tentang kasus pembully-an dan tentang video saat kita di club."
Calista kebingungan dengan perkataan Kevin. Ia tidak mengerti dengannya yang katanya akan menjelaskan tentang hal itu. Padahal sudah jelas-jelas video itu memang benar adanya.
"Kamu gak usah ikut, nanti takutnya kamu jadi dimarahin sama papah."
"Gak apa-apa. Lagipula aku udah kebal dimarahi, bahkan dipukul juga aku udah terbiasa kok."
"Dipukul sama siapa?"
"Papah aku lah."
Calista tidak percaya dengan ucapan Kevin. Mana mungkin Papah Kevin berani memukul Kevin, sudah jelas-jelas dia terlihat sayang sekali dengan Kevin.
"Jangan bohong, mana mungkin papah kamu berani berbuat kayak gitu."
Kevin mengangkat sedikit pakaiannya dan otomatis Calista terkejut dengan luka lebam yang ada di badan Kevin.
"Baru aja kemarin dia pukul aku," jelas Kevin.
"Emang kamu salah apa? kok papah kamu sampai segitunya."
"Kemarin papah bawa cewek ke rumah dan aku langsung tampar aja cewek barunya karena suatu alasan. Setelah itu, Papah cambuk aku pakai sabuknya."
"Jangan nangis. Lagian aku gak apa-apa kok."
Bukannya berhenti menangis, justru tangisan Calista semakin kencang setelah Kevin berkata seperti itu.
"Ya udah kamu tunggu dulu ya, soalnya aku mau mandi dulu. Setelah itu baru kita berangkat ke rumah kamu," ujar Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.
...****************...
Sesampainya di rumah, Calista melihat banyak sekali sendal diluar rumahnya. Entah ada apa, tapi sepertinya Mamahnya sedang mengadakan arisan atau semacamnya.
"Lagi ada acara ya, Ta?" tanya Kevin.
"Iya kayaknya."
Pada saat Calista dan Kevin masuk, semua pandangan tertuju kepada keduanya.
"Calista, itu pacar kamu?" tanya salah satu tetangga dan tentunya Calista mengiyakan pertanyaannya.
Calista dengan cepat menarik Kevin karena sejujurnya ia sangat malu dan risih jika mereka terus bertanya.
"Kevin, apa kabar?" tanya Mamah yang sedang membawa nampan berisi makanan.
"Baik kok, Tante."
"Kevin, maaf ya Tante gak bisa ngobrol-ngobrol lebih lama, soalnya Tante lagi kedatangan banyak tamu."
"Iya, gak apa-apa kok," kata Kevin.
Akhirnya Mamah segera pergi. Begitupun dengan Calista dan Kevin, keduanya pergi menuju lantai dua karena jika berada di lantai satu pastinya keduanya akan bertemu dengan tetangga Calista.
"Papah kamu pulang kapan?"
"Aku juga gak tahu. Soalnya Papah pulangnya gak menentu."
"Vin, kamu tunggu disini dulu ya. Soalnya aku mau ambil makanan sama minuman."
"Gak usah. Soalnya aku lagi gak mau makan ataupun minum."
Keadaan menjadi canggung, karena Calista kehabisan topik pembicaraan. Dengan begitu, Calista langsung menyalakan televisi untuk membuat suasana tidak terasa canggung.
"Mau nonton apa?"
Pandangan Kevin tertuju pada Calista. "Aku gak mau nonton tv."
Calista kebingungan dan ia tak tahu harus melakukan apa. Selain itu, Calista juga merasa deg-degan karena Kevin terus menatap Calista.
Plak!
Calista menutup wajah Kevin dengan tangannya, karena ia salah tingkah sebab Kevin menatap dengan tatapan yang seperti itu.
"Kamu kenapa sih?" bingung Kevin sambil menarik tangan Calista yang tadi menutupi wajah Kevin.
"Kamu yang kenapa? dari tadi terus menatap aku kayak gitu."
"Salah tingkah ya?"
"Bukan salah tingkah, tapi aku takut."
Kemudian, Mamah datang menghampiri Calista dan Kevin. Lalu, Mamah menaruh minuman dan beberapa cemilan di meja.
"Tante maaf ya. Kevin jadi merepotkan Tante," kata Kevin.
"Gak apa-apa kok," ujar Mamah, lalu ia kembali pergi karena tak enak dengan teman-temannya.
Calista menatap datar kearah Kevin, karena baru saja Kevin berkata bahwa dia tidak lapar dan harus. Tetapi saat ini, ia malah memakan cemilan yang telah dibawakan oleh Mamah.
"Vin, sebenarnya kamu kesini itu mau jelasin apa sih? bukannya udah jelas ya bahwa kita ada di video itu."
"Aku mau jelaskan ke papah kamu, kalau aku yang ajak kamu ke club. Dan soal pembully-an itu, biar aku jelaskan bahwa itu semua perintah dari aku."
"Gak! kamu gak boleh kayak gitu. Nanti yang ada papah jadi menyalahkan kamu."
"Emang itu tujuan aku. Aku gak mau nantinya kamu dimarahi sama papah kamu."
Calista tetap tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh Kevin. Karena pastinya papah akan jadi tambah kesal dengan Kevin.
"Nanti aku juga akan minta maaf ke papah kamu dan juga aku akan bilang kalau aku gak akan membuat kamu melakukan hal-hal kayak gitu lagi. Maka dari itu, Papah kamu pastinya akan memaafkan aku, kamu dan bahkan yang lainnya juga."
"Kalau gak dimaafkan gimana?"
"Pasti dimaafkan kok, soalnya nanti aku akan menunjukkan ekspresi sedih supaya Papah kamu memaafkan aku."
Melihat begitu banyaknya usaha yang telah dilakukan Kevin, membuat Calista sangat terharu dengannya. Ia tak menyangka bahwa Kevin rela disalahkan demi Calista.
"Oh iya, nanti aku juga mau bilang sesuatu ke papah kamu."
"Bilang apa?"
"Aku mau kasih tahu kalau kita pacaran."
Calista ragu dengan hal itu. Apalagi Kevin tadi bilang bahwa dia akan mengaku bahwa sifat buruk Calista itu ditularkan oleh Kevin. Dan itu pasti membuat papah akan menolak hubungan keduanya.
"Oh iya, tentang Reyhan yang datang ke rumah kamu, itu infonya aku tahu dari seseorang."
"Jadi tadi kamu gak kesini?"
Kevin menggelengkan kepalanya seraya menjawab dirinya tidak datang ke rumah. Ia tahu info tersebut dari Haura, karena Haura mengirimkan foto saat Reyhan memeluk Calista.
Mendengar penjelasan Kevin, membuat Calista sedikit terkejut. Ia merasa kalau Haura seperti itu karena Haura ingin menunjukkan bahwa Calista tidak pantas untuk Kevin.
"Haura kayaknya benci sama aku."
"Bukan benci, tapi dia iri karena aku lebih memilih kamu. Makanya dia mencoba mencari kesalahan kamu, supaya aku jadi benci sama kamu."
"Tapi wajar sih kalau dia kayak gitu, karena aku kan merebut kamu dari dia."
"Jangan bicara kayak gitu. Lagipula aku dari awal udah menjelaskan ke Haura kalau aku suka sama kamu, tapi karena dia maksa ingin pacaran, jadi aku terima aja karena siapa tahu aku bisa melupakan kamu. Tapi setelah hubungannya dijalani, aku merasa kalau aku memang gak ada perasaan sama dia."
Calista menunjukkan sebuah pesan yang ia dapat dari seseorang yang nomernya tidak diketahui.
"Ini pesan dari Haura?" tanya Kevin memastikan.
"Kayaknya sih iya."
"Nanti aku tegur dia deh supaya dia gak kirim pesan kayak gini lagi ke kamu."
"Jangan dimarahi! lagipula aku gak apa-apa kok."
Kevin memainkan ponselnya dan berniat mengirim pesan kepada Haura. Namun dengan cepat Calista merebut ponsel milik Kevin, sebab ia tidak ingin masalahnya menjadi besar.
"Jangan!"
"Kalau gak ditegur, dia pasti akan kirim pesan ke kamu lagi."
"Ya gak apa-apa."
"Ya udah, aku gak akan marahin dia."
Calista tersenyum, lalu ia mengembalikan ponsel milik Kevin.
Seketika Kevin terdiam sejenak sambil memikirkan suatu hal. "Ta, apa jangan-jangan yang kirim video itu Haura ya?" tuduh Kevin.
"Ya gak mungkin."
"Bisa aja, soalnya Haura mengikuti akun instagramnya Friska. Dan bisa jadi kalau Haura ada dalam close friend nya Friska."
Benar juga yang dikatakan Kevin. Haura memang mengikuti akun instagram Kevin dan sahabat-sahabatnya. Haura juga waktu itu sempat mengikuti instagram Calista, namun tak lama setelah putus dengan Kevin, dia malah unfollow instagramnya Calista.