
Beberapa bulan kemudian...
Disaat yang lain sudah menentukan jurusan dan universitas yang mereka inginkan, Calista justru masih bingung karena ia belum mempunyai gambaran untuk berkuliah dimana.
Calista menoleh kearah lembar kertas milik Friska. Calista merasa sedih karena Friska akan berkuliah di luar kota. Bukan hanya Friska saja, tapi sepertinya yang lain juga banyak yang ingin berkuliah di luar kota.
Calista berjalan kearah Kevin, ia ingin melihat lembar kertas milik Kevin, karena selama ini Kevin belum pernah memberitahu Calista tentang universitas dan jurusan yang diinginkan Kevin.
"Ada apa?" tanya Kevin sambil menyembunyikan lembar kertasnya.
"Aku ingin lihat lembar kertas yang punya kamu."
Kevin hanya diam saja. Kevin tidak ingin Calista bersedih jika tahu bahwa Kevin akan berkuliah di luar negeri.
Calista mengulurkan tangannya seraya meminta Kevin untuk memperlihatkan lembaga kertasnya. "Cepat! aku ingin lihat"
Kevin menghela nafasnya, lalu ia segera memberikan lembar kertas itu kepada Calista.
"Kamu mau kuliah di Australia?" tanya Calista, lalu Kevin hanya mengangguk.
"Semoga kamu diterima disana ya." Calista mengembalikan lembar kertas itu, setelah itu ia kembali duduk di kursinya.
Saat duduk di kursinya, tiba-tiba mata Calista mulai berkaca-kaca. Sejujurnya ia sangat sedih karena pastinya ia akan sulit bertemu dengan Kevin. Tapi disisi lain, Calista juga harus mendukung Kevin.
"Ta, lo mau kuliah dimana?" tanya Friska.
"Gue gak tahu, soalnya gue masih bingung."
Karena lembar kertas tersebut akan segera dikumpulkan, akhirnya Calista asal-asalan mengisi jurusannya. Yang terpenting adalah ia harus kulihat di kota ini, karena ia tidak ingin jauh dari orang tuanya.
Sesudah mengisi lembar kertas yang tadi, mereka diperbolehkan untuk istirahat.
Tiba-tiba Kevin menggenggam tangan Calista. "Ayo kita ke kantin!"
"Aku lagi diet."
"Pokoknya kamu gak boleh diet. Kamu harus makan yang banyak, biar kamu sehat."
Calista hanya tersenyum, padahal sebenarnya ia sangat sedih karena tahu Kevin akan pergi ke luar negeri.
"Vin, nanti saat kamu di luar negeri, kamu jangan lupakan aku ya."
Kevin merapihkan rambut Calista. "Aku gak akan melupakan kamu. Dan nanti juga aku akan selalu kasih kabar ke kamu."
"Janji ya?" tanya Calista memastikan, lalu Kevin hanya mengangguk seraya mengiyakannya.
Skip
Selama makan, Calista terus menggenggam tangan Kevin seperti anak kecil yang takut ditinggal oleh kedua orang tuanya.
"Ta, aku mau makan," kata Kevin.
"Ya udah makan aja."
"Masa iya aku makannya pakai tangan kiri."
Calista mengerucutkan bibirnya, lalu ia melepaskan genggamannya.
"Nanti lagi ya, soalnya sekarang aku mau makan," kata Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.
"Ta, lo kenapa sih?" bingung Friska karena hari ini Calista sangat manja kepada Kevin.
"Gak kenapa-napa kok."
Trining! Trining!
Calista melihat ke layar ponselnya dan ternyata itu panggilan video call dari mamahnya. Sebenarnya Calista tahu bahwa bukan mamah yang ingin video call, melainkan yang ingin video call adalah Acha.
Saat menjawab video call itu, tak lama terpampang wajah Acha yang begitu lucu.
"Hai, Acha."
"Kakak, ayo main."
"Iya, nanti kita main ya."
Posisi duduk Kevin kini mendekat ke Calista, lalu Kevin melambaikan tangannya ke layar.
"Hallo Acha," sapa Kevin.
"Hallo," ucap Acha
"Acha sekarang berapa tahun?" tanya Rania.
"4 tahun, soalnya bulan kemarin dia ulang tahun."
"Nanti kalau misalnya orang tua lo semakin tua, Acha akan terus diurus sama orang tua lo?"
Calista menjelaskan bahwa semisalnya ia menikah, ia akan membawa Acha.
"Kalau suami lo gak mengijinkan untuk bawa Acha gimana?" tanya Erick.
"Ya udah gue batalkan aja pernikahannya."
"Tapi kalau lo bawa Acha, pasti lelaki berpikir bahwa lo janda beranak satu," ujar Friska dan itu membuat yang lainnya tertawa.
Kevin mengembalikan ponsel kepada Calista karena panggilan video call telah diakhiri.
...****************...
Sepulang sekolah, Calista dan Kevin mampir ke rumahnya, karena katanya Kevin ingin memberikan sesuatu. Dan Calista sangat yakin bahwa Kevin ingin memberikan kenang-kenangan karena nantinya Kevin akan pergi jauh.
"Ini buat kamu." Kevin memberikan kotak yang cukup besar kepada Calista. Lalu, Calista segera membuka kotak itu.
Kotak itu berisi buku diary milik Kevin yang baru kali ini Calista lihat. Selain buku diary, ada juga jersey dan bola basket milik Kevin.
"Kamu kenapa kasih barang ini ke aku?"
"Supaya kalau kamu kangen, kamu tinggal lihat itu."
"Tapi kamu kan bilang kalau kangen tinggal video call."
"Iya sih, cuma aku gak janji bisa video call, telepon atau chat kamu."
Mendengar penjelasan Kevin membuat Calista merasa kecewa. Calista tahu jika nantinya Kevin pasti sibuk dengan kuliahnya, tapi setidaknya di kirim pesan dan memberitahu kabar kepada Calista.
"Oh iya, kamu boleh baca isi buku diary aku."
"Iya, nanti aku akan baca buku diary kamu."
Tanpa sadar mata Calista mulai berair dan tak lama air matanya terjatuh.
"Maafin aku, Ta. Aku juga sebenarnya gak mau meninggalkan kamu. Tapi karena ini adalah impian aku, jadi aku harus kesana."
"Iya, gak apa-apa kok. Aku juga ngerti."
Kevin menghela nafasnya. "Kalau misalnya kamu mau cari pengganti aku, aku gak apa-apa kok."
Kevin berkata seperti itu karena ia tahu pasti bahwa seseorang pastinya akan merasakan kesepian, maka dari itu Kevin tidak masalah jika nantinya Calista ingin berpacaran dengan orang lain.
"Kamu kenapa bicara kayak gitu? apa kamu juga disana akan cari pengganti aku ya?"
"Bukan gitu. Aku cuma khawatir aja kalau kamu bosan karena pacaran dengan orang yang sibuk. Maka dari itu aku menyuruh kamu untuk mencari lelaki lain yang bisa meluangkan waktunya buat kamu."
Calista tak habis pikir dengan Kevin. Seharusnya jika dia masih cinta dengan Calista, dia harus memperjuangkan Calista dengan cara apapun.
"Vin, aku mau pulang."
"Jangan marah, Ta."
"Aku gak marah kok. Aku cuma sedikit kecewa aja sama kamu."
Ketika Kevin hendak memeluk Calista, dengan cepat Calista mendorongnya perlahan.
"Ayo antar aku pulang."
Kevin membawa kotak yang ia berikan kepada Calista. "Ya udah ayo." Kemudian, Kevin segera mengantarkan Calista pulang.
Disepanjang jalan, Calista hanya diam saja. Ia sedang membayangkan momen-momennya bersama Kevin. Setelah dipikir-pikir, Kevin selalu memberikan effort yang luar biasa kepada Calista, tapi untuk kali ini sepertinya Kevin sama sekali sudah menyerah memberikan effort kepada Calista.
Entah kenapa Calista merasa bahwa Kevin sudah bosan dengan Calista. Karena yang sudah diketahui, bahwa selama berpacaran, Kevin yang memberikan effort paling besar. Sedangkan Calista, sepertinya ia tidak memberikan effort apapun untuk Kevin.
Tiba di rumah, Calista langsung membaca buku diary milik Kevin. Disitu tertulis tentang cerita Kevin dari kisah bahagia hingga kisah sedihnya. Calista tak tahu bahwa masa kecil Kevin begitu banyak menyimpan rasa kesedihan.
Calista tak mengira bahwa Kevin seringkali mendengar kedua orang tuanya bertengkar dan itu membuat dia sering kabur ke rumah kakek dan neneknya. Bahkan bukan hanya itu, ternyata selama ini Kevin merahasiakan bahwa Papahnya berselingkuh demi menjaga perasaan mamahnya.
Bukan hanya itu saja, semasa kecil Kevin selalu merasa kesepian dikarenakan kedua orang tuanya sibuk bekerja.
Dan disitu juga tertulis bahwa kesedihan Kevin yang paling menyakitkan adalah ketika mamahnya meninggal dan juga ketika Papahnya menikah lagi dengan wanita lain. Ya, di bulan kemarin, Papah Kevin menikah lagi dengan seorang wanita yang usianya lebih muda. Mungkin jika dilihat dari umurnya, dia lebih cocok menjadi kakak Kevin.
Meski belum selesai membaca semuanya, tetapi Calista ingin menyudahinya. Ia tidak ingin membaca lebih jauh dikarenakan suasana hatinya sedang tidak bagus hari ini. Jadi jika terus dipaksakan untuk membaca, pastinya Calista akan menangis karena cerita sedih seorang Kevin Dewantara.