Fearless

Fearless
Episode 69



Malam ini Calista tak bisa tidur karena Acha terus-terusan menangis. Calista sudah memberikan susu tetapi tetap saja Acha tidak berhenti menangis. Sampailah dimana mamah tirinya Calista datang untuk menggendongnya dan beberapa menit setelahnya Acha tertidur dalam pangkuan mamah.


"Acha biar tidur bareng mamah sama papah aja ya," ujar Mamah.


"Iya, Mah."


Tak lama Papah datang dengan raut wajah yang panik. Papah mengatakan bahwa tadi ada panggilan dari rumah sakit dan katanya Mamah Acha kecelakaan dan kondisinya masih belum sadar. Dengan begitu, Papah menyuruh Calista menjaga Acha di rumah. Sebab, sekarang Papah akan pergi ke rumah sakit bersama Mamah.


"Kamu hati-hati ya di rumah," ujar Mamah sambil menidurkan Acha ditempat tidur Calista.


"Iya, Mah."


Calista mengikuti mereka keluar karena ia harus mengunci pagar dan agar tidak ada orang yang masuk kedalam rumah. Setelah itu, Calista segera kembali ke kamarnya.


Ia melihat ke jam dindingnya dan ternyata sekarang masih jam sepuluh malam. Karena sepertinya Kevin masih belum tidur, jadi Calista memutuskan video call untuk memberitahu Kevin tentang hal ini.


Tidak membutuhkan waktu lama, Kevin langsung menjawab panggilan telepon dari Calista. Kemudian, Calista memberitahu kabar Mamahnya Acha yang kecelakaan kepada Kevin dan tentunya ia syok mendengar kabar kecelakaan itu.


"Sekarang Papah sama Mamah lagi ke rumah sakit. Dan aku sama Acha ditinggal berdua di rumah," jelas Calista.


"Pintu sama pagar rumah dikunci gak?" tanya Kevin memastikan.


"Udah dikunci kok."


Calista menangis sambil melihat kearah Acha, ia tak tega melihatnya karena dari kecil dia sudah ditinggalkan oleh papahnya dan sekarang mamahnya juga kecelakaan.


"Udah jangan nangis, kita doakan saja supaya mamah Acha baik-baik aja."


"Vin, kayaknya aku besok gak sekolah deh. Soalnya aku harus jaga Acha."


"Ya udah nanti aku kasih tahu ke wali kelas."


Kevin menyuruh Calista agar istirahat karena terlihat sekali dari raut wajah Calista bahwa dia sangat kelelahan.


"Kalau gitu aku tidur dulu ya."


"Iya."


Calista mematikan teleponnya dan ia tidur bersama Acha.


...****************...


Paginya, Calista dikejutkan oleh perkataan Papah. Papahnya mengatakan bahwa Mamah Acha meninggal dunia. Calista sangat sedih karena memikirkan nasib Acha yang begitu buruk, sudah ditinggalkan papahnya dan sekarang mamahnya juga meninggalnya.


Pemakaman Mamah Acha akan dilaksanakan sekarang dan Papah menyuruh agar Calista bersiap-siap sebab sekarang mereka harus menghadiri acara pemakamannya di rumah mendiang.


"Ta, Acha biar sama Mamah ya. Sekarang lebih baik kamu ganti pakaian aja," ujar Mamah.


"Iya, Mah.


Setelah selesai bersiap-siap, Calista dan papah pergi ke rumah mendiang. Sedangkan Mamah, dia tetap di rumah untuk menjaga Acha yang masih tertidur.


"Pah, terus nanti Acha tinggal sama siapa?"


"Sama kita aja gimana? soalnya kedua orang tuanya Acha kan udah meninggal dan pastinya keluarga dari papahnya Acha juga gak ada yang mau mengurus Acha."


Calista mengangguk, karena pemikiran Papahnya sama persis dengan apa yang Calista pikirkan. Lagipula Calista juga merasa kesepian karena tidak mempunyai adik ataupun kakak.


Skip


Acara pemakaman selesai, lalu Papah mengatakan kepada semua saudara dari mamahnya dan papahnya Acha, karena siapa tahu mereka ingin mengurus Acha. Tetapi benar saja dugaan Papah, bahwa tidak ada satupun yang ingin mengurus Acha. Maka dari itu, Papah mengatakan kepada mereka semua jika dirinya akan mengurus Acha dengan sebaik-baiknya.


Sesudah memberitahu kepada semuanya, akhirnya Papah dan Calista segera pergi menuju rumah.


"Pah, nanti akan diadakan pengajian gak di rumah mendiang mamahnya Acha?"


"Kayaknya enggak, Ta. Soalnya rumahnya mendiang kayaknya akan disita karena dia punya hutang. Mungkin nanti kita sekeluarga aja yang mengadakan pengajian di rumah."


Papah menceritakan bahwa kemarin mamah Acha datang ke rumah untuk meminjam uang dengan jumlah yang cukup banyak dan tentunya Papah tidak bisa meminjamnya karena perusahaan Papah sekarang sedang dalam kondisi tidak baik.


"Kasihan banget ya, Pah."


"Iya, sebenarnya Papah juga kasihan. Tapi bagaimana lagi, saat ini papah gak bisa bantu. Mungkin sebagai rasa bersalah Papah, Papah akan merawat Acha sampai dia besar."


Jika saat ini Acha sudah tumbuh remaja, mungkin depresi gara-gara ia telah kehilangan kedua orang tuanya. Untungnya sekarang dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa, jadi dia tidak merasakan kesedihan yang mendalam.


...****************...


Kevin POV


Sudah berkali-kali Kevin menelpon Calista, namun sampai saat ini juga Calista tidak menjawab panggilan teleponnya. Itu membuat Kevin cemas karena semalam Calista mengabarkan bahwa Tantenya kecelakaan.


"Teleponnya gak dijawab-jawab juga sama Calista?" tanya Rania.


"Iya. Udah tiga puluh kali gue telepon, tapi tetap gak dijawab."


"Apa jangan-jangan Tantenya meninggal, makanya dia gak main handphone," kata Erick.


"Jangan ngomong kayak gitu," ujar Rania.


Tak lama, Bayu datang dan dia duduk disebelah Friska.


"Vin, tadi pagi gue lihat Calista sama papahnya pergi dan kayaknya mereka buru-buru banget," ujar Bayu.


"Iya, soalnya Tantenya kecelakaan."


"Oh iya, nanti pulang sekolah ada yang mau ikut gue ke rumahnya Calista gak?" tanya Kevin, lalu yang lainnya menjawab bahwa mereka akan ikut.


Trining! Trining!


Kevin langsung saja menjawab panggilan telepon tersebut, karena panggilan telepon tersebut dari pacarnya.


"Ta, gimana keadaan Tante kamu?"


"Tante aku meninggal, Vin."


"Aku turut berdukacita ya, Ta."


"Tuh kan, gue bilang juga apa," bisik Erick kepada Rania dan Friska.


Sebelum mengakhiri telepon, Kevin berkata bahwa dia dan yang lainnya berniat ke rumah Calista setelah pulang sekolah. Tetapi karena sekarang situasinya sedang berduka, jadi lebih baik Kevin mengurungkan niatnya itu.


Setelah Kevin berkata seperti itu, justru Calista memperbolehkan Kevin dan yang lainnya main ke rumah. Dikarenakan Calista ingin sahabat-sahabatnya mendoakan mamah dari Mamah Acha.


"Jadi kita boleh kesana?" tanya Kevin memastikan.


"Iya boleh."


"Ya udah kalau gitu aku tutup dulu ya, soalnya sebentar lagi masuk."


Saat Kevin hendak mematikan panggilannya, tiba-tiba Calista terlebih dahulu mematikan teleponnya.


Sifat Calista memang tidak pernah berubah, dia pasti selalu seperti itu ketika Kevin akan mematikan panggilan telepon.


"Jadi pulang sekolah kita kesana?" tanya Friska memastikan.


"Iya. Nanti sekalian kita doakan Tantenya Calista. Selain itu kita juga doakan anak Tantenya supaya dia tumbuh menjadi anak yang baik."


"Emang anaknya umur berapa?" tanya Rania, lalu Kevin mengatakan bahwa ia tidak tahu umurnya, tapi ia mengatakan bahwa anak Tantenya Calista masih sangat kecil.


"Pengumuman! pengumuman! untuk siswa yang bernama Kevin Dewantara diharapkan segera datang ke aula bawah."


Mendengar pengumuman itu, Kevin buru-buru pergi menuju aula. Entah siapa yang memanggilnya, tetapi sepertinya orang yang memanggil dirinya adalah Pak Deni.


Sesampainya di aula bawah, Kevin melihat guru olahraga dan juga anak-anak basket. Sepertinya kali ini Kevin akan dimarahi karena tidak melaksanakan tanggungjawabnya sebagai kapten basket.


"Kevin, apa benar kamu keluar dari tim basket?" tanya Pak Deni.


Kevin melihat kearah Teguh sekilas. "Enggak, Pak."


"Diam kamu! saya lagi bertanya ke Kevin."


Kevin menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah keluar dari tim basket.


"Kalau gak keluar, terus kamu kenapa jarang latihan?"


"Bapak kan tahu waktu itu saya kecelakaan, makanya saya lagi pemulihan dulu."


"Tapi sekarang sudah sembuh, kan?"


"Iya, saya sudah sembuh kok."


Kevin berpikir dirinya akan dimarahi oleh Pak Deni, tapi ternyata ia hanya ditanya saja. Untungnya teman-temannya yang lain tidak mengatakan bahwa Kevin mengumumkan dirinya keluar, jadinya sekarang Kevin tidak dimarahi oleh Pak Deni.


"Ya sudah kalian semua boleh ke kelas lagi," kata Pak Deni.


Baru saja Kevin keluar dari aula, tiba-tiba Teguh datang menghampiri Kevin.


"Maksud lo apa? lo kan bilang kalau mau keluar dari tim basket dan lo juga bilang kalau gue yang akan gantikan lo sebagai kapten."


"Kapan gue bilang? perasaan gue gak ingat."


"Ada apa ini? kok masih disini," heran Pak Deni.


"Gak ada apa-apa kok, Pak." Kevin buru-buru pergi menuju kelas karena ia malas berhadapan dengan Teguh.


...****************...


Calista mengambil kelincinya dan menunjukkannya kepada Acha. Tetapi Acha malah menangis saat kelinci itu mendekat.


"Ini gak seram kok, Cha. Ini kelincinya gak gigit kok."


"Acha kenapa nangis?" tanya Mamah yang baru selesai membuatkan susu.


"Acha nangis karena takut kelinci, Mah."


"Ya ampun, Ta. Kalau gitu harusnya kamu jauhi kelincinya dari Acha, bukan terus deketin kelincinya."


Calista mengerucutkan bibirnya, lalu ia kembali menaruh peliharaannya itu kedalam kandang.


Tingtong! Tingtong!


Calista berlari keluar karena ia tahu bahwa yang datang adalah Kevin dan sahabat-sahabatnya yang lain. Setelah sampai diluar, Calista menyuruh sahabat-sahabatnya masuk kedalam rumah. Saat masuk kedalam rumah, sahabat-sahabatnya Calista langsung menyapa Mamah Calista.


"Acha!" panggil Kevin, tak lama Acha menoleh dan mendekati Kevin.


"Lo kenal dari mana, Vin?" heran Erick karena selama ini Erick baru mengetahui keponakan Calista.


"Kemarin kan gue kesini, jadi gue tahu namanya," jelas Kevin.


"Ta, bantuin mamah ambil minuman sama cemilan buat mereka yuk!" ujar Mamah kepada Calista, tetapi bukan hanya Calista saja yang ikut ke dapur, melainkan Friska dan Rania juga ingin membantu membawa minuman dan cemilannya.


Disisi lain, Acha terus meminta ponsel Kevin karena ia tahu bahwa di ponsel Kevin ada game anak-anak. Karena tak ingin membuatnya menangis, jadi Kevin memberikan ponselnya kepada Acha.


"Ayo diminum dulu," ujar Mamah Calista sambil meletakkan beberapa jus di meja.


"Makasih, Tante. Jadi gak enak nih udah merepotkan," kata Erick.


"Gak merepotkan kok, lagipula ini dibantu Calista, Rania sama Friska," ujar Mamah Calista.


Karena tak ingin mengganggu mereka, akhirnya Mamah pamit ke kamar. Tadinya Mamah ingin mengajak Acha juga, tapi Calista melarangnya karena ia ingin mengenalkan Acha kepada sahabat-sahabatnya.


"Papah lo mana?" tanya Erick.


"Dia ke rumah Acha lagi, soalnya mau ambil pakaian-pakaian Acha."


"Jadi Acha mau tinggal disini?" tanya Kevin, lalu Calista hanya mengangguk.


"Emang ayahnya kemana? kenapa Acha dititipkan disini," heran Kevin, lalu Calista menjelaskan bahwa ayahnya juga telah meninggal disaat Acha masih dalam kandungan.


Semuanya turut prihatin dengan Acha, bahkan Friska menangis saat mendengar penjelasan dari Calista.


"Ta, lo harus jaga Acha ya. Jangan sampai buat dia menangis dan kesepian," kata Friska.


"Gue gak janji ya, soalnya tadi juga gue udah buat dia nangis."


"Wajar aja, Acha kan masih kecil. Jadi pasti dia sering menangi," kata Rania.


Disaat yang lainnya sedang bersedih, Kevin malah asik melihat game yang dimainkan oleh Acha. Bahkan Acha dibuat tertawa gara-gara Kevin menirukan suara binatang yang ada dalam game tersebut.


Yang lainnya hanya memakluminya, sebab mereka tahu bahwa Kevin itu anak satu-satunya. Jadi wajar saja dia seperti itu terhadap anak kecil.


"Ta, lo udah tahu belum?" bisik Friska.


"Tahu tentang apa?"


"Haura udah punya pacar lagi," jelas Friska.


"Serius? syukur deh kalau dia udah punya pacar."


Mendengar kabar itu Calista sangat senang. Calista berharap Haura bahagia bersama lelaki barunya. Sebab jika tidak, mungkin Haura akan mengincar Kevin lagi.


"Siapa yang punya pacar?" tanya Kevin.


"Mantan kamu."


"Aku gak punya mantan," kata Kevin.


"Kamu gak boleh gitu. Meskipun dia mantan kamu, tetapi kamu harus mengakuinya."


Semuanya tertawa mendengar perkataan Calista, karena mereka semua tahu bahwa selama ini Haura begitu terobsesi dengan Kevin.


"Vin, panggilan sayang lo waktu itu apa ke Haura?" tanya Friska.


"Gue gak ada panggilan sayang ke dia," ucap Kevin terus terang, karena jujur ia memang terpaksa menerima Haura. Jadi ia merasa tidak nyaman jika memanggil Haura dengan sebutan sayang.


"Kalau ke Calista panggil apa?" tanya Rania.


"Sayang," ucap Kevin sambil melirik kearah Calista.


Calista langsung saja melempar bantal sofa kearah Kevin dan itu membuat Kevin sedikit heran karena seharusnya Calista salah tingkah bukan malah melemparkan bantal kearah Kevin.


"Calista kalau salah tingkah agak lain ya," kata Erick.


"Iya, soalnya love language gue itu physical attack."


"Cocok sih, soalnya lo galak," kata Erick.


Calista menghampiri Acha yang sedang bermain game, lalu ia mengajak Acha untuk tidur siang. Tetapi Acha menolaknya bahkan sekarang dia duduk di paha Kevin.


"Kok sama kamu bisa akrab sih," heran Calista.


"Soalnya aku punya magnet yang bisa memikat kaum wanita," ujar Kevin sambil tertawa.


Calista, Rania dan Friska serentak memberikan tatapan jijik kepada Kevin akibat tingkahnya yang terlalu percaya diri.


"Ya ampun serem banget tatapannya. Gue kan cuma bercanda," kata Kevin.


"Vin, suruh Acha tidur dong. Soalnya dia belum siang."


"Acha, udah dulu ya main gamenya. Sekarang lebih baik Acha tidur dulu. Nanti setelah bangun, baru Acha boleh main game lagi."


"Nanti Acha boleh main game lagi?" tanya Acha memastikan, lalu Kevin mengangguk.


Acha mengembalikan ponsel milik Kevin. Setelah itu, Calista segera menggendong Acha ke kamar mamahnya.


Disisi lain, Erick hanya tersenyum saat melihat Kevin. Entah kenapa Erick mempunyai firasat bahwa Kevin akan menikah pertama diantara sahabat-sahabatnya yang lain.