Fearless

Fearless
Episode 34



Sebab masakan Mamah sudah selesai dihidangkan, jadi Calista memutuskan untuk membangunkan Kevin yang masih setia tidur di sofa.


Calista duduk disebelah Kevin berniat untuk membangunkannya. Namun, Calista terdiam sejenak sambil menatap Kevin yang tertidur.


Beberapa detik kemudian, Kevin membuka matanya dan itu membuat Calista jadi menjaga jarak darinya.


"Sorry ya gue ketiduran."


"Iya gak apa-apa kok."


Calista mengajak Kevin untuk pergi ke ruang makan, karena Mamah telah memasak makanan untuk keduanya.


Tiba di ruang makan, keduanya menikmati makanan dengan begitu lahap.


"Mamah gak makan?"


"Enggak. Soalnya Mamah lagi diet," jelas Mamah.


Karena tak mau mengganggu Calista dan Kevin yang sedang menikmati makanan, akhirnya Mamah memutuskan untuk pergi ke kamar.


"Gue jadi kangen masakan mamah," ujar Kevin.


Calista sedih mendengar perkataan Kevin. Apalagi Kevin begitu dekat dengan Mamahnya dan pastinya Kevin akan selalu merindukan Mamahnya.


"Vin, kalau lo butuh apa-apa, lo bisa hubungi gue. Gue janji mulai detik ini gue akan selalu ada buat lo."


"Janji?" tanya Kevin memastikan.


"Iya, gue janji. Dan juga gue bakal turuti semua kemauan lo."


Saat Calista berkata seperti itu, Kevin jadi memikirkan satu hal, yaitu ia ingin Calista menjadi pacarnya.


Kevin menatap Calista dengan tatapan yang tulus. "Kalau gue mau lo jadi pacar gue gimana?"


"Kalau yang itu dikecualikan," ujar Calista sambil cengengesan.


"Lo gak mau mencoba dulu berhubungan sama gue gitu? gue jamin, lo bakal diperlakukan istimewa sama gue."


"Dulu juga Reyhan bicara kayak gitu sama gue. Tapi ujung-ujungnya, dia selingkuh juga. Mana selingkuhannya sahabat gue sendiri lagi."


Kevin mengerti bahwa Calista masih trauma karena Reyhan. Tetapi, Kevin benar-benar mencintainya dan ia berjanji akan setia dengan Calista.


"Jangan samakan gue sama Reyhan, Ta."


Calista bingung harus menjawab apa lagi. Meskipun Calista menolak, tetapi Kevin pasti akan terus meluluhkan hati Calista.


Kevin menghela nafasnya. "Lo tetap menolak gue ya, Ta?" tanyanya sambil menunduk.


"Vin, maafin gue. Sekarang gue masih belum siap buka hati lagi."


Bisa dilihat oleh Calista bahwa saat ini Kevin merasa kecewa karena ditolak lagi oleh Calista. Dan saat ini, Calista juga merasa tidak enak kepada Kevin.


"Vin, lo kok nangis sih." Calista mendekatkan kursinya ke dekat Kevin.


Kevin mengusap air matanya. "Gue gak nangis kok."


Calista jadi tak tega melihat Kevin menangis. Sepertinya Kevin benar-benar tulus kepada Calista hingga membuatnya menangis seperti itu.


"Ya udah, gue mau jadi pacar lo. Tapi gue punya permintaan sama lo."


Kevin menatap Calista. "Permintaan apa?"


"Gue gak mau kalau orang-orang tahu tentang hubungan kita.


Kevin menyetujui permintaan Calista, karena menurutnya permintaan Calista cukup mudah.


"Kalau nantinya lo bosan sama gue, lebih baik lo bicara aja sama gue. Jangan kayak Reyhan yang malah selingkuh."


"Gue udah bilang kalau gue gak akan selingkuh," jelas Kevin.


"Janji?"


"Iya, gue janji."


Keduanya tersenyum setelah menyepakati hal tersebut.


Niatnya Calista memang ingin mencoba menjalani hubungan dengan Kevin, meskipun ia kurang yakin hubungannya akan bertahan lama.


"Tapi kalau misalnya kita putus, kita gak boleh canggung satu sama lain ya."


"Kok udah mikir putus aja, padahal kan belum dijalani," kata Kevin.


"Soalnya gue merasa hubungan kita gak akan bertahan lama."


"Jangan mikir kayak gitu," kata Kevin.


...****************...


Hari berikutnya, Calista berangkat sekolah bersama dengan Kevin. Meskipun keduanya berangkat bersama, pastinya semua orang tidak akan menyadari bahwa keduanya tengah menjalin hubungan.


Gerak-gerik mereka juga terlihat seperti biasanya, hanya saja Calista sedikit menjadi pendiam setelah menjalin hubungan dengan Kevin.


"Ta, setelah pulang sekolah mau jalan-jalan gak?" tanya Kevin.


"Jalan-jalan berdua?"


"Berdua boleh, sama yang lain juga boleh."


"Ajak yang lain aja ya, soalnya udah lama gak main bareng."


Sejujurnya Kevin ingin menghabiskan waktu berdua, namun karena ia ingin Calista merasa lebih nyaman, jadi ia menyetujui perkataan Calista.


"Rania mau diajak gak?" tanya Kevin.


"Gak tahu."


"Oh ya udah gak usah. Kita ajak Friska sama Erick aja," ujar Kevin yang sangat peka, karena jika Calista bimbang seperti itu tandanya dia tidak suka jika harus mengajak Rania.


Sebagai cowok, Kevin paham dengan isi hati perempuan. Bahkan ia mengetahui segala macam kode disaat perempuan itu sedang marah ataupun cemburu.


Tiba-tiba seseorang menghampiri Calista dan Kevin. "Permisi, Kak. Kalau ruang guru disebelah mana ya?"


"Dari sini lurus, terus nanti belok kiri," kata Kevin.


"Oh iya, makasih ya." Orang itu segera pergi kearah yang ditunjukkan Kevin.


Calista dan Kevin tertawa terbahak-bahak, karena yang ditunjukkan Kevin adalah arah menuju toilet.


"Lo jahil banget sih."


"Biarin, anggap aja hiburan di pagi hari," kata Kevin.


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari kearah mereka dan sontak membuat keduanya menoleh kearah belakang.


"Bareng dong ke kelasnya," kata Bayu sambil menyeimbangi langkah Calista dan Kevin.


"Lo sok akrab banget jadi orang," kesal Kevin karena Bayu selalu menganggu disaat Kevin sedang bersama Calista.


"Lo kayaknya kesal banget sama gue," ujar Bayu.


"Ya jelas, karena lo selalu mengganggu gue saat lagi sama Calista."


Calista menatap datar keduanya, lalu ia mempercepat langkahnya menuju kelas karena ia pusing mendengar keributan di pagi hari.


"Calista!" panggil Sarah.


"Ada apa?"


"Mantan lo kirim surat ke gue." Sarah memberikan surat itu kepada Calista. Setelah itu, ia segera masuk kedalam kelas.


Saat Calista akan membaca surat itu, tiba-tiba Kevin menghampirinya. Otomatis Calista langsung menyembunyikan surat itu.


"Tadi Sarah kasih apa?" tanya Kevin.


"Bukan apa-apa."


Kevin yang penasaran akhirnya menarik tangan Calista dan ia melihat surat yang dipegang Calista.


"Surat dari siapa?" tanya Kevin.


"Reyhan."


Kevin merebut surat itu dan membacanya. Setelah itu, ia merobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Calista belum membaca surat itu dan ia penasaran karena Kevin terlihat marah setelah membaca surat dari Reyhan.


Kevin menjelaskan bahwa Reyhan sangat merindukan Calista. Disitu juga tertulis bahwa Reyhan heran karena waktu itu Calista sudah memaafkannya, tetapi dengan cepat Calista kembali melupakan Reyhan, bahkan Calista kembali memblokir nomer Reyhan.


"Ta, gue mau tanya deh. Emang waktu itu kenapa lo tiba-tiba dekat lagi sama dia?" tanya Kevin yang sangat penasaran, padahal waktu itu Calista juga sudah menjelaskan bahwa itu merupakan rahasia antara dirinya dan Rania.


"Vin, gue kan udah jelasin kalau itu rahasia. Dan gue gak mau kalau sampai orang-orang tahu soal ini."


"Emangnya bahaya banget ya kalau tersebar?"


"Iya, bahaya banget buat Rania. Tapi kayaknya sekarang udah gak bahaya lagi, soalnya udah dihapus sama Rania."


Mendengar perkataan Calista membuat Kevin jadi tahu bahwa rahasia itu adalah sebuah foto atau bisa jadi sebuah video.


...****************...


Ketika guru sedang mengajar, tiba-tiba Erick masuk kedalam kelas. Sepertinya dia bangun terlambat, karena terlihat dari wajahnya yang seperti masih mengantuk.


"Pagi, Bu." Setelah berkata seperti itu, Erick langsung saja duduk dengan wajah tanpa dosa.


Ya seperti itulah jika menjadi anak dari pemilik sekolah. Dia tidak akan mendapatkan masalah jika terlambat masuk sekolah.


"Rick, lo belum mandi ya?" tanya Kevin dan itu membuat Calista dan Friska tertawa kecil karena memang suara Kevin terdengar oleh keduanya.


"Gue udah mandi kok," bohong Erick.


"Tapi kok lo bau, ujar Kevin sambil tertawa.


"Kurang ajar lo!" kesal Erick, pasalnya ia memakai parfum meskipun tidak mandi.


PRANG!


Suara tersebut mengagetkan murid-murid yang berada di kelas. Entah siapa yang melemparkan batu, tapi yang jelas sepertinya orang itu mempunyai masalah dengan guru ataupun murid XII IPS 1.


Dengan begitu, guru dan beberapa murid mencari pelaku yang merusak kaca kelas.


"Siapa sih?"


"Gak tahu. Tapi yang pasti itu laki-laki, karena kalau perempuan mana mungkin berani," kata Friska.


Kevin dan Erick yang sudah dari luar, kini kembali masuk dan duduk di kursinya.


"Siapa?"


"Gak tahu, soalnya orangnya udah kabur," kata Kevin.


"Gila kali ya itu orang. Gak ada angin, gak ada hujan, tiba-tiba main lempar batu ke kelas kita," kata Friska.


Skip


Calista dan Friska sedang berganti pakaian di toilet, karena nanti mereka akan berolahraga. Sambil berganti pakaian, Friska menceritakan bahwa ada seseorang yang naksir dengan dirinya. Namun Friska bilang bahwa dia menolaknya, sebab lelaki itu jauh dari tipe Friska.


"Ka, sebenarnya lo itu punya pacar gak sih?"


"Waktu itu punya, cuma Minggu kemarin baru aja putus," jelas Friska.


"Putus kenapa?"


"Karena gak nyambung obrolannya. Dan juga dia terlalu serius orangnya."


Calista paham betul dengan apa yang dirasakan Friska. Jika memiliki pacar yang terlalu serius pastinya akan membuat seseorang tidak nyaman. Apalagi jika sedang bercanda dan orang itu menanggapinya dengan serius, pastinya suasananya akan terasa canggung.


"Ta, lo dekat sama Bayu, kan?"


"Gak terlalu sih."


"Tapi kan setidaknya lo kenal dia dari SMP."


"Iya, terus kenapa?"


Friska meminta Calista untuk mendekatkannya dengan Bayu. Karena menurutnya Bayu termasuk kedalam tipe idealnya.


"Ya udah nanti gue cari cara biar bisa mendekatkan lo sama dia."


"Btw, lo suka gak sama Bayu? nanti takutnya gue jadi menikung lo."


"Tenang aja, gue gak suka kok. Lagian gue juga udah punya cowok." Calista keceplosan.


"Serius? siapa cowoknya?" tanya Friska, namun tak dijawab oleh Calista.


Calista pergi ke kelas untuk menyimpan seragamnya, sekaligus untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Friska.


Dug!


Tiba-tiba seseorang menabrak Calista. Alhasil baju seragamnya terjatuh ke tanah.


"Sialan! baju gue jadi kotor." Calista segera mengambil baju seragamnya yang terjatuh.


"Sorry, soalnya gue lagi buru-buru," ujar orang itu.


"Meskipun buru-buru, seharusnya lo lihat yang benar dong," kesal Calista.


"Ya ampun, gue kan udah minta maaf," kata orang itu.


Karena permintaan maaf seperti tidak tulus, akhirnya Calista dengan sengaja menabrak orang itu hingga membuat orang itu terjatuh.


"Sorry, soalnya gue lagi buru-buru." Calista meniru ucapan orang itu.


"Dasar ******!" gumam orang itu.


Mendengar perkataan orang itu membuat Calista menoleh kebelakang. Calista menghampiri orang itu dan menjambak rambutnya. Begitupun sebaliknya, orang itu menjambak rambut Calista.


Semua orang datang sambil berlari untuk memisahkan Calista dan orang itu. Dan pada akhirnya keduanya dipisahkan oleh dua orang lelaki.


Tak lama, guru datang menghampiri dan guru itu menyuruh Calista dan orang itu untuk pergi ke ruang BK.


Skip


Sesudah saling memaafkan, Calista dan orang itu diperbolehkan untuk keluar dari ruangan. Meskipun keduanya saling meminta maaf, tetap saja Calista masih marah kepadanya. Lagipula perempuan mana yang tak marah jika disebut dengan panggilan seperti itu.


Pada saat keluar, Calista disambut oleh Kevin, Friska dan Erick. Ketiganya bertanya mengenai masalah tadi kepada Calista dan tentu saja Calista menceritakan semuanya kepada sahabat-sahabatnya.


"Anjing banget itu orang," kesal Kevin karena tak terima pacarnya disebut dengan panggilan tak pantas.


Kring! Kring!


"Argh! kenapa harus bel segala lagi, gue kan belum istirahat."


"Ya udah ke kantin dulu aja, lagian anak-anak yang lain juga masih ada yang ganti baju," kata Erick.


"Ya udah, gue ke kantin dulu ya."


"Gue ikut, soalnya gue masih lapar," bohong Kevin, padahal sebenarnya ia ingin menemani Calista.


...****************...


Selesai makan siang, Calista dan Kevin berlari menuju lapangan karena memang olahraganya sudah dimulai dari tadi.


Karena mereka telat, jadi mereka disuruh untuk berkeliling lapangan sebanyak dua putaran. Jadi, mereka segera melaksanakan hukumannya.


"Vin, bareng dong larinya!" teriak Calista. Dengan begitu, Kevin memperlambat larinya agar Calista dapat menyetarakan kecepatan lari Kevin.


"Vin, Friska bilang ke gue katanya dia pingin dekat dengan Bayu."


"Ya bagus dong kalau gitu," ujar Kevin, karena jika Friska dengan Bayu pastinya tidak akan lagi yang mengganggu hubungan Kevin dan Calista.


"Lo setuju kalau Friska sama Bayu jadian?" tanya Calista memastikan, karena ia merasa kalau Kevin kurang menyukai Bayu.


Kevin mengatakan bahwa dia setuju seratus persen jika Friska dengan Bayu. Selain itu, jika keduanya sampai berpacaran, Kevin ingin mengajak mereka untuk double date.


"Lo ingat permintaan gue, kan?"


"Permintaan apa?"


"Gue kan udah bilang agar merahasiakan hubungan kita."


"Oh iya, gue lupa."


Secara terang-terangan Kevin mengaku bahwa dia ingin sekali merasakan kencan dengan Calista.


"Ya udah kalau gitu nanti pulangnya kita kencan aja."


"Katanya mau ajak yang lainnya."


"Gak usah deh, kita jalan-jalan berdua aja."