
Pada saat masuk kedalam club, banyak sekali orang yang berdansa mengikuti alunan musik yang sangat keras. Selain itu, ada seseorang yang melakukan pole dance dan itu membuat Calista sangat takjub ketika melihatnya.
Karena ini pertama kalinya untuk mereka, jadi Kevin mengajak ketiga sahabatnya untuk duduk saja.
Calista menolak ajakan Kevin, ia lebih memilih untuk berdansa bersama orang-orang.
Awalnya Calista memang ingin melihat-lihat saja. Tetapi kali ini, tujuannya berubah. Ia ingin mencari lelaki yang sesuai dengan tipenya.
Entahlah, mungkin karena Calista sudah terlalu kecewa dengan Reyhan. Jadi ia ingin melampiaskannya dengan mencari lelaki lain.
Tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Calista. "Hai, boleh kenalan gak?" tanyanya, lalu Calista hanya mengangguk.
"Gue Randy." Lelaki itu mengulurkan tangannya dan tentu saja Calista membalas uluran tangan lelaki itu.
"Gue Calista." Setelah memperkenalkan diri, Calista langsung melepaskan uluran tangannya.
Randy mengajak Calista untuk berdansa bersama dan tentunya Calista menerima ajakannya.
Disisi lain, Kevin sangat cemburu melihat Calista dengan seorang lelaki. Ia sungguh menyesal karena telah mengijinkan Calista untuk ke club.
...****************...
Diperjalanan pulang, Calista terus melihat kearah ponselnya. Ia hanya tersenyum saat Randy mengirim pesan kepadanya.
"Senang banget kayaknya," sindir Kevin.
"Iya, gue senang banget. Soalnya gue jadi punya teman baru."
Kevin memberhentikan mobilnya dan itu membuat Calista kebingungan.
"Kenapa?"
Kevin menatap tajam kearah Calista. "Gue gak suka lihat lo sama cowok lain."
Calista spontan melihat kearah Friska, ia takut jika Friska mendengar perkataan Kevin. Dan setelah dilihat, untung saja Friska sedang tertidur.
Ngomong-ngomong soal Erick, dia tadi lebih dulu pulang karena rumahnya lebih dekat jaraknya. Jadi sekarang, Kevin tinggal mengantarkan Calista dan Friska.
"Vin, gue kan udah bilang kalau gue gak suka sama lo."
"Yakin lo gak suka sama gue?" tanya Kevin sambil mendekatkan tubuhnya.
"Yakin."
Chup!
Mata Calista membulat sempurna saat Kevin tiba-tiba menciumnya.
"Lo gila ya?" kesal Calista.
"Iya, gue emang gila." Kevin tersenyum lebar.
"Kalau Friska lihat gimana coba?"
"Ya gak apa-apa."
Calista sangat marah karena lama-kelamaan Kevin semakin kurang ajar.
"Gue pulang naik taksi aja." Calista keluar dari mobil.
"Calista!" teriak Kevin sambil keluar dari mobil.
"Ta, maafin gue." Kevin menggenggam pergelangan tangan Calista.
Calista menghela nafasnya. "Oke. Tapi kalau sekali lagi lo cium gue lagi, gue gak akan memaafkan lo."
Akhirnya keduanya kembali kedalam mobil.
...****************...
Tiba di rumah Friska, Calista buru-buru membangunkan Friska yang sedang tertidur.
"Ka, bangun!" teriak Calista dan otomatis Friska terbangun dari tidurnya.
"Udah sampai ya?" tanya Friska, lalu Calista hanya mengangguk.
Calista dan Friska segera turun dari mobil dan tak lupa mereka berdua berterima kasih kepada Kevin.
"Vin, lo gak mau nginep? udah malam loh ini," ujar Friska.
"Gak usah gue pulang aja," ujar Kevin. Kemudian, dia segera melajukan mobilnya.
"Kevin kenapa ya? kok dia kelihatan sedih gitu," heran Friska, karena ia merasa bahwa sebelumnya Kevin terlihat baik-baik saja.
Lalu, Calista dan Friska segera masuk kedalam rumah.
Skip
Bukannya tidur, Calista justru membayangkan kejadian tadi. Ia takut jika perkataannya membuat Kevin sakit hati.
"Katanya ngantuk, tapi kok belum tidur," heran Friska.
"Gue lagi kepikiran sesuatu, makanya susah tidur."
"Jangan memikirkan Reyhan, lebih baik lo move on dari dia," kata Friska.
"Gue lagi gak memikirkan Reyhan kok."
Ting!
Pandangan Calista beralih kearah ponselnya. Dengan cepat, ia membuka pesan tersebut.
Pesan tersebut adalah sebuah foto saat Calista sedang berada disebuah club.
Orang yang mengirim pesan itu mengancam akan menyebarkan foto itu.
Calista menelpon orang itu, tetapi orang itu terus menolak telepon dari Calista.
"Sialan!"
"Ada apa?" bingung Friska.
Calista menunjukkan pesan itu kepada Friska. Dan Friska merasa bahwa orang yang mengirim pesan itu adalah orang yang pernah di-bully oleh Calista.
"Tapi entah kenapa gue merasa kalau orang ini adalah Rania."
"Kenapa lo bisa menuduh dia?" tanya Friska.
"Karena dia kan tahu kalau club itu adalah milik orang tua Kevin. Dan bisa jadi kalau selama ini dia mengawasi gue agar menemukan kelemahan gue. Selain itu, kita pergi kesana berempat, tetapi kenapa gue doang yang diteror?"
"Benar juga apa kata lo."
...****************...
Keesokan harinya Calista diantar pulang oleh Friska. Selama diperjalanan, keduanya hanya membahas terkait pesan teror dari seseorang.
Ya, ternyata saat pagi, Friska juga mendapatkan pesan teror itu. Bahkan bukan hanya mereka berdua, tetapi Kevin dan Erick juga mendapatkan teror dari orang itu.
Dari semuanya, yang terparah adalah Erick. Karena foto yang diterima Erick dari peneror itu adalah foto dia sedang meminum alkohol. Selain itu, ada foto saat Erick berciuman dengan seorang wanita.
Untungnya Calista semalam memutuskan untuk tidak mabuk, jadi ia masih dalam kendali. Jikapun Calista mabuk, mungkin Kevin akan langsung menariknya dari keramaian sehingga Calista tidak berbuat hal-hal yang memalukan.
"Kira-kira kita semua akan dikeluarkan dari sekolah gak ya?" tanya Friska.
"Kayaknya sih kita gak akan dikeluarkan . Lagipula kan Erick anak pemilik sekolah, jadi masa iya papahnya Erick mengeluarkan anaknya sendiri."
"Oh iya, Ta. Semalam gue lihat Kevin danĀ kayaknya Kevin cemburu deh lihat lo sama cowok yang semalam," kata Friska.
Friska memang tidak tahu kalau Kevin menyukai Calista. Karena saat itu Friska tidak ikut ke cafe bersama Calista, Kevin dan Erick, maka dari itu Friska tidak mengetahuinya.
"Itu cuma firasat lo aja kali," ujar Calista, padahal sebenarnya ia juga mengetahui bahwa Kevin cemburu saat Calista dekat dengan Randy.
"Gue jadi yakin deh kalau sebenarnya Kevin itu suka sama lo," kata Friska.
Calista hanya tersenyum saat mendengar perkataan Friska. Sebenarnya Calista ingin memberitahu tentang hal ini, tetapi Calista takut jika Friska menjadi heboh ketika mendengar bahwa Kevin menyukai Calista sejak lama.
Trining! Trining!
Friska segera mengambil ponselnya dengan satu tangan dan tangan satunya ia gunakan untuk menyetir.
"Siapa, Ka?"
"Kevin." Kemudian, Friska menjawab panggilan telepon dari Kevin.
Calista mendengarkan pembicaraan Friska. Meskipun Calista tidak mendengar suaranya Kevin, namun dapat dipastikan bahwa Kevin menanyakan apakah Calista sudah pulang atau belum.
Selesai bertelepon dengan Kevin, Friska kembali meletakkan ponselnya. "Kayaknya Kevin emang suka sama lo deh, soalnya dia kayak khawatir gitu sama lo."
"Khawatir gimana maksudnya?"
"Tadi dia khawatir kalau lo pulang sendiri, takutnya lo diikuti peneror itu."
Calista tertawa terbahak-bahak. "Lebay banget Kevin."
"Bukan lebay! tapi itu namanya khawatir," jelas Calista.