Fearless

Fearless
Episode 49



Situasi kelas begitu hening dikarenakan ada ulangan mendadak. Mungkin beberapa orang bisa menjawab pertanyaan di soal itu. Tetapi untuk Calista, ia sama sekali tidak bisa mengerjakannya sebab Calista tidak bisa matematika.


Calista menoleh kearah Kevin dan sepertinya dia juga tampak kebingungan. Tetapi walaupun begitu, Kevin tampaknya masih bisa mengerjakannya.


"Aku boleh lihat jawaban punya kamu gak?" bisik Calista.


"Boleh. Tapi masalahnya aku asal jawab, Ta."


"Iya gak apa-apa."


Kevin menunjukkan jawabannya kepada Calista, lalu Calista buru-buru menyalin jawaban tersebut meskipun Calista tahu bahwa Kevin hanya mengarang jawaban.


"Calista!" teriak guru dan otomatis semua melihat kearah guru tersebut.


"Iya, Bu."


"Saya sudah peringatkan supaya tidak menyontek, tapi kamu malah menyontek punya Kevin."


Guru tersebut menghampiri Calista dan dia langsung merobek kertas jawaban Calista.


"Sekarang kamu keluar!" bentaknya.


Calista menatap tajam guru itu, lalu ia berjalan menuju keluar.


Pada saat akan keluar, Calista mendengar perkataan guru itu dan dia menyebut bodoh kepada Calista dan itu membuat Calista semakin marah kepadanya.


Skip


Calista melamun sambil memikirkan perkataan guru tadi. Dengan mendengar kata tersebut, membuat Calista merasa dirinya memang bodoh dan tak berguna. Bahkan dalam mengerjakan apapun saja Calista selalu tidak bisa.


Beberapa menit kemudian, Kevin datang menghampiri Calista dan dia memberikan Calista sebuah coklat.


"Buat aku?" tanya Calista memastikan.


"Iya, biar kamu gak sedih lagi. Soalnya aku pernah mendengar katanya kalau makan coklat, mood akan bertambah baik."


Calista tersenyum, lalu ia memakan coklat pemberian Kevin.


"Gimana ulangan kamu? diisi semua gak?"


"Aku cuma isi dua pertanyaan aja dan itupun mengarang. Jadi pastinya aku akan remedial."


Calista mendekatkan coklat pada mulut Kevin, lalu Kevin memakan coklat itu.


"Gimana? mood kamu jadi baik juga gak?"


"Aku kan emang lagi baik-baik aja," jawab Kevin.


"Baik apanya? orang kemarin malam kamu nangis."


"Enggak kok. Kata siapa aku nangis?" tanya Kevin, lalu Calista mengatakan bahwa ia tahu dari Erick.


Kevin membantahnya karena ia tak ingin terlihat lemah didepan Calista. Dan juga ia menyesal karena tak seharusnya ia menangis hanya karena dimarahi papahnya.


"Vin, kamu ikut acara besok gak?"


"Ikutlah, kan aku ikutan ekskul basket."


"Kira-kira aku ikut apa ya?"


"Bukannya kamu bilang kalau kamu mau ikut lomba menyanyi ya?"


Calista tertawa karena ucapannya tadi pagi itu hanya bercanda, lagipula Calista sebenarnya tidak begitu tertarik dengan lomba menyanyi.


"Aku tadi pagi cuma bercanda, Vin."


"Ya udah kalau gitu kamu gak usah ikut. Biar kamu bisa lihat aku lomba basket."


Calista terdiam sejenak. "Ya udah deh, aku gak ikut aja. Lagian aku gak punya bakat apapun."


"Jangan bilang kayak gitu." Kevin mengelus rambut Calista.


Trining! Trining!


Kevin melihat ke layar ponselnya. Meskipun nomer telepon tersebut tidak disimpan, namun Kevin tahu bahwa itu adalah nomer telepon Dara.


"Siapa?"


Kevin menolak panggilan telepon tersebut. "Gak tahu."


Calista merebut ponsel Kevin, lalu ia menelpon orang yang tadi menelpon Kevin. Dan ketika diangkat, ternyata itu adalah suara perempuan.


"Hallo, Kevin."


"Ini siapa?" tanya Calista.


"Loh! ini siapa? bukannya ini nomor telepon Kevin ya?"


"Bukan! ini nomer telepon pacarnya Kevin."


Tak lama, perempuan itu langsung mematikan teleponnya.


"Ini nomer telepon siapa?" tanya Calista dengan nada kesal.


"Aku gak tahu."


"Enggak, Ta."


Calista mengembalikan ponsel kepada Kevin dan ia berniat pergi. Namun saat ia ingin pergi, tiba-tiba Kevin langsung menariknya.


"Ini Dara, perempuan yang waktu itu minta nomer telepon aku ke Erick."


"Kenapa baru mengaku? tadi bilangnya gak tahu," heran Calista.


"Ya udah maaf."


"Kalau mau selingkuh bilang aja, lagipula gue gak apa-apa kalau lo selingkuh."


"Kok gitu sih ngomongnya."


Calista memang sudah lelah karena ia waktu itu sudah pernah diselingkuhi. Jadi untuk sekarang, dia tak peduli jika Kevin selingkuh. Dan mungkin jika Kevin selingkuh, ia juga akan selingkuh dengan lelaki lain.


"Sumpah! aku gak selingkuh," jelas Kevin.


"Gak apa-apa sih kalau mau selingkuh, tapi nanti gue juga akan selingkuh sama cowok lain."


"Selingkuh sama siapa?" tanya Kevin.


Calista terdiam sejenak. "Selingkuh sama Bayu," ujarnya, karena Calista tahu bahwa Bayu menyukai Calista, dengan begitu Calista menganggap bahwa Bayu akan mau menjadi selingkuhannya.


Kevin menatap tajam kearah Calista, karena bisa-bisanya Calista merencanakan perselingkuhan didepan pacarnya sendiri.


"Kenapa? marah lo sama gue?" tanya Calista, lalu Kevin pergi tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kevin! beneran marah ya?" teriak Calista, lalu ia segera berlari mengejar Kevin.


Calista lupa bahwa Kevin sedang ada masalah dengan papahnya dan ketika tadi Calista berbicara seperti itu pastinya membuat Kevin semakin sedih.


Calista memegang tangan Kevin. "Vin, maaf."


Kevin diam saja tanpa menjawab perkataan Calista. Sedangkan Calista, ia terus memegang tangan Kevin agar Kevin dapat memaafkan.


"Jangan marah dong, aku kan udah minta maaf."


Trining! Trining!


Kevin melihat ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Erick. Lalu, ia segera menjawab panggilan telepon tersebut.


"Vin, lo dimana? ayo sini ke kantin," kata Erick.


"Ada apa, Dara? oh mau ketemuan? ya udah nanti sore kita ketemu ya," kata Kevin. Spontan Calista merebut ponsel milik Kevin dan ternyata yang menelpon Kevin bukanlah Dara, melainkan Erick.


"Gak lucu!" kesal Calista.


"Makanya jangan mulai duluan, udah tahu aku pendendam orangnya." Kevin kembali mengambil ponselnya.


Kevin menggenggam pergelangan tangan Calista, lalu Kevin langsung meminta maaf karena ia tahu bahwa perempuan tidak pernah salah, sedangkan lelaki selalu saja yang harus mengalah dan meminta maaf.


"Maafin aku juga."


"Gak usah minta maaf, yang salah kan aku," ujar Kevin dengan nada sarkas.


"Iya juga ya, ngapain aku harus minta maaf."


Kevin menatap datar kearah Calista, ia tak menduga jika Calista akan berbicara seperti itu.


"Iya, gak usah minta maaf. Soalnya kamu perempuan, jadi kamu gak pernah salah," sindir Kevin, lalu Calista hanya tertawa mendengar kekesalan Kevin.


...****************...


Rania Pov


Sesudah membeli makanan dan minuman, Rania mencari berniat mencari tempat duduk karena ia tidak ingin duduk ditempat biasanya, apalagi ditempat itu hanya ada Erick saja.


"Ran, duduk disini aja!" perintah Erick.


"Calista sama Kevin mana?" tanya Rania.


"Sebentar lagi mereka kesini kok."


Rania terpaksa duduk berdua dengan Erick, karena jika dirinya duduk ditempat lain, mungkin Erick akan mengira bahwa Rania canggung gara-gara kejadian waktu itu.


"Ran, sekali lagi gue minta maaf ya atas kejadian waktu itu," kata Erick.


"Iya, gak apa-apa."


"Tapi ucapan gue yang waktu itu serius kok."


Rania tersenyum miring, karena ia sudah tidak percaya lagi dengan perkataan laki-laki. Jujur saja, dulu Rania begitu bodoh hingga terbujuk rayuan lelaki yang bernama Reyhan. Bahkan saking bodohnya, ia rela menyerahkan keperawanannya.


"Terus kalau lo serius kenapa?"


"Gak kenapa-napa sih, gue cuma ingin kasih tahu tentang hal itu aja."


"Karena lo udah kasih tahu, jadi mulai sekarang lo gak usah bahas hal ini lagi. Soalnya gue gak nyaman."


"Sorry, kalau gue udah buat lo gak nyaman."