Fearless

Fearless
Bab 8



Calista memasuki kelasnya dengan ekspresi wajah yang tidak bersemangat. Bukan karena ia ketakutan dengan adik kelasnya yang melaporkan Calista dan sahabat-sahabatnya ke guru, melainkan Calista merasa sedih karena masih terikat tentang Reyhan bersama perempuan lain.


"Ta, katanya adik kelas yang kemarin melaporkan kejadian waktu di rooftop," ujar Rania.


Calista duduk di kursinya. "Iya, gue tahu kok."


"Ta, lo kenapa? kok kelihatannya sedih."


"Gue gak kenapa-napa kok."


Tiba-tiba Kevin datang dan dia memberikan coklat kepada Calista, Friska dan Rania. Lalu, ketiganya berterima kasih kepada Kevin.


"Guys!" teriak Erick sambil menghampiri mereka berempat.


"Nanti kalau misalnya ada guru yang tanya tentang kejadian kemarin, nanti kita jawab aja kalau kita berempat lagi ada di kantin," saran Erick.


Calista tersenyum, ia tak menyangka bahwa seorang anak dari pemilik sekolah membantunya untuk menutupi kasus pembully-an.


"Rick, lo sama Rania kemarin kan gue tugaskan buat ke ruang CCTV. Jadi pastinya lo berdua gak akan dipanggil ke ruang BK," kata Friska.


"Ya gak apa-apa, nanti gue bilang aja kalau kemarin lo bertiga lagi di kantin sama gue dan Rania," kata Erick.


Ketua kelas yang bernama Ridho menghampiri mereka berlima. "Calista, Friska, Kevin, kalian dipanggil ke ruang BK."


Ketiganya menghela nafasnya secara bersamaan. Setelah itu ketiganya tertawa kecil karena melakukan hal secara bersamaan.


"Kalian bertiga kayaknya gak ada takut-takutnya," heran Ridho.


Mereka memang tidak pernah takut jika dihukum oleh guru. Maka dari itu mereka menamai gengnya dengan nama Fearless, yang artinya tak kenal takut.


Skip


Satu persatu telah diinterogasi oleh guru BK. Namun tak ada satu orangpun yang mengakui bahwa mereka sedang berada di rooftop.


"Pak, kita bertiga gak ada masalah sama Andini. Jadi, untuk apa kita melakukan hal tersebut."


"Iya, Pak. Lagipula kemarin kita di kantin bukan di rooftop. Kalau Bapak gak percaya, tanya aja Erick sama Rania," kata Friska.


Disaat Calista dan Friska sibuk membela diri, Kevin justru memainkan game diponselnya.


"Kevin, coba tolong panggilkan Erick dan Rania!" perintah guru BK. Namun Kevin tidak menghiraukannya, karena dia fokus bermain game.


Calista menyenggol lengan Kevin, lalu Kevin menoleh kearah Calista. "Ada apa?"


"Tolong panggilkan Erick," bisik Calista.


Akhirnya Kevin kembali pergi menuju kelasnya.


"Pak, saya ijin ke toilet dulu ya."


"Ya sudah. Tapi sesudah dari toilet, kamu harus kesini lagi," ujar guru BK.


"Baik, Pak."


Ketika Calista hendak pergi, Friska mengikuti Calista dari belakang.


"Friska, kamu mau kemana?" tanya guru BK.


"Saya juga sakit perut, Pak," bohong Calista.


"Jangan bohong! cepat duduk lagi!" perintah guru BK.


Calista menahan tawanya saat melihat ekspresi kekecewaan Friska.


"Calista, kamu kok masih disini? bukannya kamu mau ke toilet," ujar guru BK.


"Oh iya, Pak." Calista buru-buru pergi menuju toilet. Ya, Calista tidak berbohong, ia memang ingin membuang air kecil.


Skip


Sesudah selesai membuang air kecil, Calista memutuskan untuk pergi menuju kelasnya.


Meskipun guru BK menyuruhnya untuk ke ruangan, namun Calista enggan menuruti perintahnya.


Saat masuk kedalam kelas, Calista langsung salam kepada guru yang sedang mengajar di kelas.


"Kok rambut kamu berwarna," sinis Bu Ani.


"Ya sudah duduk!" kesalnya, karena Bu Ani tahu bahwa anaknya pemilik sekolah juga mewarnai rambut.


Calista duduk di kursinya, setelah itu ia memperhatikan materi yang disampaikan oleh Bu Ani.


Lima menit kemudian, sahabat-sahabat Calista masuk kedalam kelas. Dan mereka berempat langsung masuk seolah-olah mereka tidak melihat ada guru didepan.


"Katanya tadi lo mau ke toilet. Tapi kok lo ada di kelas," heran Friska.


"Iya, tadi gue emang ke toilet. Setelah itu, gue ke kelas karena gue pingin belajar."


Friska tertawa kecil, karena dia merasa aneh dengan Calista yang tiba-tiba ingin belajar.


...****************...


Waktu istirahat telah tiba, Calista beserta sahabat-sahabatnya bergegas pergi menuju kantin.


"Oh iya, tadi apa kata guru BK?"


"Setelah Erick menjelaskan kalau kita semua ada di kantin, guru BK langsung percaya," ujar Friska.


"Ya pasti percaya dong, gue kan anak pemilik sekolah ini. Jadi pastinya guru BK itu segan sama gue," kata Erick.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di kantin. Sebagian ada yang mencari tempat dan sebagian lagi disuruh untuk memesankan makanan dan minuman.


Ya, para lelaki yang disuruh membeli makanan dan minuman. Sedangkan para perempuan, mereka memilih untuk menempati tempat supaya nantinya tidak berebutan dengan orang lain.


Tetapi pastinya tidak akan ada orang yang merebut tempat mereka, dikarenakan semua murid takut kepada mereka. Akan tetapi, seperti beberapa murid kelas sepuluh tidak akan tahu seberapa menakutkannya mereka.


Calista melihat ke sekelilingnya dan ia mendapati dua orang perempuan yang sedang menatap kearahnya dan juga sahabat-sahabatnya.


Calista tahu bahwa adik kelasnya sangat terkejut ketika melihat rambut kakak kelasnya yang diwarnai.


Saat kedua adik kelas itu sadar akan Calista yang menatapnya, akhirnya mereka berdua langsung tersenyum kepada Calista. Bukannya membalas senyuman mereka, Calista justru mengalihkan pandangannya karena ia tahu bahwa adik kelas tersebut hanya pura-pura baik.


"Guys, kayaknya pacar gue selingkuh deh."


"Yang benar?" tanya Friska.


"Iya, soalnya ada yang kirim foto Reyhan sama cewek. Selain itu, semalam Kevin juga lihat Reyhan boncengan sama cewek."


"Siapa ceweknya?" tanya Friska.


Calista mengatakan bahwa dia tidak tahu. Sebab kata Kevin, perempuan itu memakai topi dan masker, jadi wajahnya tidak jelas.


"Siapa tahu itu saudaranya, Ta," kata Rania.


"Kayaknya bukan saudaranya. Soalnya semalam aku juga telepon dia dan dia bohong sama aku. Dia bilang katanya dia ada di rumah, padahal udah jelas-jelas dia pergi sama cewek."


Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka bertiga.


"Kak Friska!" panggil adik kelas itu. Otomatis ketiganya melihat kearah adik kelas itu.


"Kenapa?" tanya Friska kepada adik kelas itu.


Adik kelas tersebut berbisik kepada Friska.  Entah apa yang dia bisikkan, tetapi itu membuat Calista menjadi penasaran.


"Iya, nanti gue kasih tahu," kata Friska, lalu adik kelas tersebut langsung pergi.


"Siapa, Ka?" tanya Rania, lalu Friska menjawab bahwa itu adalah saudaranya.


"Bicara apa dia?" tanya Calista karena ia sangat penasaran.


"Katanya dia suka sama Kevin, makanya dia titip salam ke Kevin."


Calista hanya tersenyum, ia takjub dengan Kevin karena telah banyak membuat perempuan-perempuan jatuh cinta kepadanya.


"Loh! kok kalian punya gelang yang sama," heran Friska saat melihat gelang yang dipakai Calista dan Rania sama persis.


Calista juga baru menyadari bahwa gelangnya sama persis dengan milik Rania.


"Kalian beli gelang persahabatan tanpa kasih tahu gue ya?" keluh Friska.


"Enggak kok. Ini gelang pemberian dari orang tua gue," jelas Calista, karena takut Friska salah paham.