
Tadinya Calista ingin langsung pulang ke rumahnya, tetapi karena ia sudah malas melihat wajah Reyhan, jadi ia ingin mempercepat tujuannya untuk menghapus foto-foto Rania.
"Rey, aku boleh pinjam handphone kamu gak?"
Reyhan terdiam sejenak. "Buat apa?"
"Aku mau chat Mamah, soalnya handphone aku baterainya habis."
Reyhan memberikan ponselnya kepada Calista dan Calista langsung mengambil ponsel tersebut.
Awalnya Calista mengirim pesan kepada Mamahnya supaya Reyhan tidak curiga. Setelah itu, Calista membuka galeri. Calista terus melihat foto-foto di galeri tersebut, namun ia belum juga menemukan foto Rania.
"Udah belum?" tanya Reyhan.
"Udah kok." Calista mengembalikan ponsel milik Reyhan dengan tenang agar Reyhan tidak curiga.
"Oh iya, nomer telepon yang waktu itu nomer siapa?"
"Oh itu nomer telepon mamah aku," jelas Reyhan.
Dengan melihat ekspresi Reyhan, membuat Calista curiga bahwa sebenarnya Reyhan mempunyai dua ponsel.
"Ta, jadinya kita mau makan dimana?" bingung Reyhan, karena dari tadi Calista masih belum memutuskan.
"Rey, aku mau pulang aja deh. Soalnya aku lagi gak enak badan."
Reyhan memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. "Kenapa gak bilang kalau lagi sakit?"
"Soalnya aku kangen sama kamu, makanya aku pingin jalan-jalan sebentar."
Sejujurnya Calista sangat muak dengan ucapannya. Tapi apa boleh buat, ia harus berakting agar Reyhan mempercayainya.
"Jadi kamu kangen sama aku?" tanya Reyhan sambil mengelus-elus rambut Calista.
"Rey, ayo pulang! aku pingin istirahat."
"Ya udah iya." Reyhan kembali melajukan mobilnya.
...****************...
Jam 16.00 wib
Kepala Calista semakin pusing dan itu membuat Calista sulit untuk bangun dari tempat tidurnya. Maka dari itu, Calista memutuskan untuk mengirim pesan kepada mamahnya supaya mamahnya datang ke kamar.
Tak lama, Mamahnya datang ke kamar. "Kamu sakit?" tanya Mamah, lalu Calista mengangguk pelan.
"Mah, tolong beli obat dong. Kepala Calista pusing banget."
"Ya udah tunggu sebentar ya, Mamah mau ke apotek dulu." Kemudian, Mamah segera pergi meninggalkan Calista.
20 menit kemudian, Mamah datang menghampiri Calista yang sedang tiduran di kasur.
"Ini makan dulu buburnya, baru habis itu makan obatnya," suruh Mamah.
Calista bangun dalam posisi duduk dan ia memakan bubur yang dibeli oleh Mamahnya.
"Kamu waktu di sekolah gak makan ya?" tanya Mamah, karena biasanya Calista sakit karena sering telat makan.
"Calista makan kok, Mah."
Mamah mengajak Calista untuk ke rumah sakit, karena ia khawatir jika keadaan Calista akan semakin parah. Tetapi karena Calista takut dengan jarum suntik, jadi ia menolak ajakan Mamahnya.
Selain itu, Calista juga merasa bahwa sakitnya bukanlah sakit yang parah, jadi lebih baik ia istirahat di rumah saja.
Tingtong! Tingtong!
Saat mendengar suara bel rumah, Calista otomatis menunda makannya, sebab ia takut jika yang datang adalah Reyhan.
"Mamah buka pintu dulu ya," ujar Mamah sambil keluar dari kamar Calista.
Calista terus fokus kearah pintu kamarnya, ia berharap bahwa tamu itu bukanlah Reyhan.
Tak lama, seseorang datang dengan raut wajah yang sangat cemas. Ya, siapa lagi kalau bukan Kevin. Dia datang menghampiri Calista dengan membawa kue dan juga buah-buahan.
"Ta, masih pusing ya?" tanya Kevin sambil menaruh kue dan buah-buahan di meja.
"Iya, gue masih pusing."
Kevin duduk dipinggir kasur dan tiba-tiba dia memegang kening Calista. "Suhu tubuh lo makin panas."
"Kalau dinasehati itu harus didengarkan!" kata Kevin.
"Lo bawel banget sih."
"Ya karena gue khawatir," jelas Kevin.
"Harusnya lo khawatir sama Haura, bukan sama gue."
Kevin diam saja, sejujurnya ia lebih khawatir dengan Calista dibandingkan dengan pacarnya. Dan jujur saja, sebenarnya Kevin memacari Haura hanya untuk pelampiasan karena cintanya ditolak oleh Calista.
"Lo udah ijin ke Haura belum? nanti takutnya dia cemburu gara-gara lo datang kesini."
"Gue gak minta ijin, lagipula dia juga kan tahu kalau lo sahabat gue. Jadinya dia pasti gak akan cemburu," kata Kevin.
Calista menunjuk kue dan buah-buahan pemberian Kevin. "Ini buat gue?"
"Iya, itu buat lo."
Skip
Sudah satu jam, namun Kevin masih saja berada didalam kamar Calista. Bukannya apa-apa, tetapi Calista takut Mamahnya akan mengira jika Calista dan Kevin berpacaran.
Sudah berkali-kali Calista melihat Mamahnya yang mondar-mandir sambil melihat kedalam kamar Calista dan itu membuat Calista merasa tidak tenang.
Calista tahu bahwa Mamahnya sangat khawatir karena bagaimanapun Kevin adalah lelaki dan tentunya Mamah pasti takut jika Kevin melakukan hal-hal yang tidak baik.
"Vin, lo pulang aja. Soalnya gue mau istirahat."
"Ya udah kalau gitu gue pulang ya."
"Iya, makasih ya udah jenguk."
"Iya sama-sama." Kevin mengelus pelan rambut Calista, lalu ia segera pergi.
Beberapa menit kemudian, Mamah datang menghampiri Calista. Dan benar saja dugaan Calista jika Mamahnya akan bertanya tentang hubungan Calista dengan Kevin. Maka dari itu, Calista dengan cepat menjelaskan bahwa hubungannya dengan Kevin hanya sekedar sahabat saja.
"Kevin udah punya pacar belum?" tanya Mamah.
"Dia udah punya pacar kok, Mah."
"Oh gitu, tadinya Mamah berpikir kalau dia suka sama kamu."
Calista menjelaskan bahwa Kevin memang sempat menyukai Calista, hanya saja Calista tidak merespon karena ia tidak ingin berpacaran dengan sahabat sendiri.
"Kenapa gak mau? padahal banyak lo yang pacaran dengan sahabat sendiri."
"Karena Calista tahu sifat dia, Mah. Makanya Calista gak mau sama Kevin."
"Emang sifat Kevin kenapa?"
Calista tertawa kecil. "Mamah kepo deh."
Mamah tersenyum, karena ia baru pertama kali melihat Calista tertawa kepadanya. Ia sangat bersyukur karena Calista sudah mulai menerima kehadiran Mamah tirinya.
Tiba-tiba, Papah datang ke kamar Calista dengan raut wajah yang sangat panik. "Kamu sakit apa?"
"Cuma pusing kok, Pah."
Papah menatap datar kearah istrinya, lantaran istrinya mengatakan bahwa kondisi Calista sangat parah, padahal kenyataannya Calista hanya pusing saja.
"Pah, Calista besok gak mau sekolah ya."
"Masa cuma pusing doang jadi gak sekolah," ujar Papah.
Dari kecil, Papah Calista memang selalu mengajarkan Calista untuk selalu kuat. Meskipun Calista sakit, Papahnya selalu menyuruhnya untuk masuk sekolah.
"Mas, Calista lagi sakit loh. Nanti kalau sakitnya tambah parah gimana?" ujar Mamah.
"Gak apa-apa, lagipula besok juga pasti udah sembuh kok," ujar Papah.
Calista hanya menghela nafasnya. "Ya udah, besok Calista sekolah."
"Gitu dong. Jadi anak harus kuat, jangan manja."
Mamah mengajak Papah untuk keluar dari kamar Calista. Entah apa yang mau Mamah bicarakan kepada Papah, tapi sepertinya dia menyuruh Papah agar tidak terlalu keras dengan Calista.