
Bisa dilihat dari tatapan Erick, Friska dan Rania bahwa mereka heran karena yang mereka tahu bahwa Kevin marah kepada Calista. Namun sekarang, mereka bertiga pasti berpikir bahwa Kevin sudah memaafkan Calista dikarenakan Kevin memperbolehkan Calista duduk bersamanya.
"Guys, gue pergi dulu ya." Calista berniat pergi karena ia menganggap suasananya menjadi canggung karena dirinya.
"Mau kemana?" tanya Kevin.
"Mau ke kelas."
"Bilang aja mau ketemu Bayu," sahut Rania.
Calista menatap tajam kearah Rania, ia merasa bahwa Rania selalu memanas-manasi keadaan.
"Lo kenapa sih selalu bawa-bawa nama Bayu?" kesal Calista.
"Lo kan pacarnya, jadi wajar gue berpikir kalau lo mau ketemu Bayu," kata Rania.
"Gue tahu tujuan lo bawa-bawa nama Bayu itu agar Kevin, Erick dan Friska teringat lagi tentang waktu itu. Supaya mereka kesal sebab gue waktu itu gak angkat telepon dan malah berduaan sama Bayu, kan?"
Rania diam saja saat mendengar perkataan Calista. Karena memang ia ingin membalas dendam sebab waktu itu Calista mengeluarkan dia dari grup chat.
"Udah jangan ribut! malu dilihat orang-orang," ujar Erick.
Daripada terus bertengkar, akhirnya Calista memutuskan untuk pergi. Terserah mereka mau berkata apapun, tapi yang jelas Calista tidak ingin bertengkar lagi tentang masalah ini. Lagipula ia sudah meminta maaf kepada Kevin, begitupun sebaliknya Kevin sudah memaafkan Calista.
"Calista!" teriak Bayu sambil berlari kearah Calista.
Plak!
Calista memukul tangan Bayu dengan keras. Ia kesal dengan Bayu dikarenakan Bayu mengatakan kepada Kevin tentang Calista yang menyukai Kevin.
"Lo kenapa sih?" kaget Bayu.
"Lo ngeselin banget. Kenapa coba lo harus bilang ke Kevin kalau gue suka sama dia."
"Loh! kan katanya lo pernah baper. Jadi pastinya lo pernah suka sama dia."
"Baper bukan berarti suka."
Bayu tertawa kecil saat mendengar perkataan Calista. Karena menurutnya, orang yang terbawa perasaan pastinya akan memiliki rasa meskipun itu sedikit.
"Btw, tadi saat di rooftop itu sebenarnya gue sama Kevin berbincang-bincang dikit tentang lo."
"Berbincang-bincang mengenai apa?"
"Rahasia."
Calista menatap datar kearah Bayu. Ia sangat heran, jika pembicaraan tersebut rahasia, mengapa dia sampai bilang mengenai hal ini kepada Calista?
"Katanya rahasia, terus kenapa lo kasih tahu kalau lo membicarakan gue?"
"Ya karena gue ingin lo jadi kepikiran tentang apa yang gue sama Kevin bicarakan."
"Gak jelas lo." Calista segera pergi karena ia kesal kepada Bayu yang telah membicarakannya dari belakang.
Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi firasat Calista mengatakan bahwa Bayu membicarakan Calista sewaktu SMP.
Atau jangan-jangan Bayu menunjukkan foto-foto Calista kepada Kevin?
Memikirkan hal itu, membuat Calista berbalik arah untuk menanyakan apakah firasatnya benar atau tidak.
"Kenapa balik lagi?" tanya Bayu.
"Lo gak menunjukkan foto gue waktu SMP, kan?"
Bayu tertawa dan ia mengatakan bahwa dirinya memang menunjukkan foto Calista saat SMP, bahkan Kevin sampai meminta foto Calista.
"Bukannya fotonya udah dihapus ya?"
"Belum kok, foto lo masih ada di galeri gue."
Calista berlari menuju kantin, ia sangat takut jika Kevin malah menunjukkan foto Calista kepada yang lainnya.
Skip
Calista menghampiri Kevin dan ia bertanya mengenai foto yang dikirim oleh Bayu.
"Foto apa sih?" tanya Kevin pura-pura tidak tahu.
"Foto gue waktu SMP. Bayu bilang katanya lo minta foto gue."
"Bayu gak kirim foto kok."
Melihat ekspresi Kevin, membuat Calista berpikir bahwa Bayu telah membohonginya.
"Tadi waktu di rooftop kalian bicara tentang apa?"
Kevin menatap kearah Erick, Rania dan Calista secara bergiliran. "Gak bicara apa-apa kok."
Dengan mendengar penjelasan Kevin, membuat Calista jadi kesal kepada Bayu karena ia merasa dibohongi.
"Emang ada apa dengan foto lo waktu SMP? kok kelihatannya kayak takut gitu kalau dilihat gue."
"Karena itu aib, makanya gue takut dilihat orang."
"Bukan foto telanjang ini, jadi ngapain takut dilihat orang."
Saat mendengar perkataan itu, otomatis Calista menoleh kearah Rania. Begitupun sebaliknya, Rania menatap kearah Calista.
"Guys, gue pergi ke toilet dulu," ujar Rania, lalu ia segera pergi.
"Ta, maafin gue ya. Setelah dipikir-pikir kayaknya gue terlalu jahat sama lo," ujar Friska merasa bersalah karena sudah berhari-hari mendiamkan Calista.
Mata Calista terasa panas seperti ingin mengeluarkan air mata. "Maafin gue juga ya."
Friska sontak memeluk Calista dan begitupun sebaliknya.
"Dilihat-lihat kalian kayak kembar loh," ujar Erick.
"Beda jauh!" ujar Calista dan Friska bersamaan.
"Btw, kita harus bikin grup chat lagi gak?" tanya Erick.
Calista dan Friska menoleh kearah Kevin, karena waktu itu Kevin telah membubarkan grup chat.
"Gimana, Vin?" tanya Friska.
"Ya udah bikin lagi aja," kata Kevin.
"Gue dimasukkan ke dalam grup lagi gak?"
Ketiganya serentak menoleh kearah Calista.
"Enggak," canda Kevin dengan ekspresi wajah yang serius.
Calista mengerucutkan bibirnya seraya kecewa karena Kevin melarangnya untuk bergabung di grup chat.
Kevin tersenyum tipis saat melihat reaksi Calista. "Ya dimasukkan ke grup, Ta."
"Ta, nanti gue duduk bareng lo lagi ya," kata Friska.
Calista menatap datar kearah Friska. "Katanya bosan duduk sama gue," ucap Calista, lalu Friska hanya cengengesan saat mendengar ucapan Calista.
Kring! Kring!
Bel masuk berbunyi, serentak semua murid yang berada di kantin bergegas pergi menuju kelasnya masing-masing.
Disaat yang lainnya pergi menuju kelas, Kevin justru berbelok arah menuju ke UKS. Dengan begitu, Calista juga ikut ke UKS untuk memastikan apakah Kevin baik-baik saja atau tidak.
"Lo kenapa ikutin gue?" tanya Kevin.
"Gue cuma mau ambil barang gue yang ketinggalan di UKS," bohong Calista.
"Vin, lo mau bolos kelas lagi ya?"
"Iya. Soalnya gue ngantuk banget, makanya lebih baik gue bolos dan tidur di UKS," jelas Kevin, lalu ia tiduran di ranjang yang tersedia di UKS.
Calista berjalan mendekati rak dan ia mengambil plester. Calista membuka plester yang sudah lama ia gunakan, lalu ia menggantinya dengan menggunakan plester yang baru.
"Tangan lo kenapa?"
"Gara-gara lo."
"Kok gara-gara gue," heran Kevin.
"Waktu itu gue kan memungut pecahan gelas yang lo lempar, makanya tangan gue jadi luka."
Kevin bangun dan segera mendekati Calista. Kevin merasa bersalah atas perbuatannya waktu itu. Dia meminta maaf kepada Calista dan tentunya Calista memaafkannya.
"Ya pulang ke rumah."
"Mau main ke rumah gue gak? gue sekarang punya peliharaan loh."
Kevin tersenyum saat mendengar perkataan Calista, sebab cara Calista berbicara seperti seorang anak kecil yang sedang menyombongkan dirinya lantaran mempunyai sebuah binatang peliharaan.
"Mau gak?"
"Yang lain ikut?"
"Gak tahu, nanti gue coba tanya ke mereka."
"Eh! gak usah ditanya, soalnya kalau mereka ikut pasti berisik," kata Kevin, padahal sebenarnya ia ingin berduaan dengan Calista.
Tiba-tiba seseorang mengintip dari luar dan orang itu langsung berteriak hingga membuat Calista dan Kevin terkejut.
"Woy! lo berdua lagi berbuat mesum ya?" teriak Erick.
"Sialan lo! gue kira guru yang datang," kata Kevin.
Erick masuk kedalam UKS dan ia menghampiri Calista dan Kevin.
"Hayo ngapain berduaan disini?" tanya Erick.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, kita cuma ngobrol doang kok."
"Yakin cuma ngobrol?" tanya Erick.
"Iyalah, masa iya kita melakukan hal yang enggak-enggak di sekolah."
Erick tersenyum penuh arti karena mendengar ucapan Calista.
"Jadi melakukan hal yang enggak-enggak nya di rumah gitu?" tanya Erick.
"Gak tahu ah! gue capek ngomong sama lo."
"Rick, lo mau bolos juga?" tanya Kevin.
"Enggak, gue kesini cuma mau minta obat sakit perut," ujar Erick sambil mencari obat.
Karena sepertinya Erick kesulitan mencari obatnya, akhirnya Calista dan Kevin membantunya. Setelah obatnya telah ditemukan, akhirnya Erick segera kembali menuju kelas.
"Lo pulang naik apa?" tanya Kevin.
"Naik mobil."
"Dijemput orang tua lo?"
"Enggak, gue yang bawa mobil."
Kevin terkejut karena yang ia tahu kalau Calista belum terlalu lancar mengendarai mobil dan waktu itu juga Calista pernah berkata kepada Kevin bahwa mobil yang dikendarainya pernah menabrak pohon.
"Ta, emang lo udah lancar bawa mobil?" tanya Kevin.
"Udah kok."
...****************...
Sepulang dari sekolah, Calista dan Kevin pergi menuju rumah Calista dengan mengendarai mobil masing-masing.
Sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai di rumah. Setelah itu, keduanya masuk kedalam rumah. Pada saat masuk, Kevin menyapa Mamah Calista yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Ta, Mamah boleh pinjam mobil gak? soalnya Mamah mau beli bahan-bahan makanan, sekalian mau masakin makanan buat kalian," ujar Mamah.
"Boleh kok, Mah." Calista memberikan kunci mobil kepada Mamah, lalu Mamah segera pergi.
Calista langsung saja mengajak Kevin untuk menemui kelinci milik Calista. Karena sekarang waktunya untuk makan siang, akhirnya Calista memberi makan kelincinya.
"Vin, tunggu sebentar ya. Gue mau ambil minum dulu buat lo." Setelah berkata seperti itu, Calista langsung pergi menuju dapur.
Sesudah mengambil minum, Calista kembali menghampiri Kevin. Lalu, ia memberikan minuman kemasan itu kepada Kevin.
"Vin, lo punya saran nama gak? soalnya gue belum menamai kelinci gue."
Kevin berpikir sejenak. "Asta aja namanya."
"Asta?"
"Iya, anak Calista."
Calista menatap datar kearah Kevin. Bisa-bisanya dia memberikan nama yang konyol seperti itu.
Tingtong! Tingtong!
Calista bergegas pergi keluar untuk menemui orang yang membunyikan bel. Begitupun Kevin, dia mengikuti Calista dari belakang karena ia curiga bahwa yang datang adalah Erick ataupun Friska.
Setelah pagar rumah dibuka, ternyata orang yang membunyikan bel adalah Bayu.
"Ada apa?" tanya Calista, lalu Bayu mengatakan bahwa buku Calista tertinggal, makanya dia datang untuk memberikannya kepada Calista.
"Makasih ya." Calista mengambil buku miliknya.
"Kok lo bisa tahu rumah Calista," heran Kevin, lalu Bayu menjelaskan bahwa rumahnya tepat berada didepan rumah Calista.
"Oh iya, gue boleh ikut main gak? soalnya gue bosan di rumah," kata Bayu dan tentu saja Calista memperbolehkannya.
Kevin yang tadinya sudah membayangkan akan berduaan dengan Calista, kini merasa kecewa setelah ia tahu bahwa Bayu juga akan bermain bersama mereka.
Skip
Kevin memperhatikan gerak-gerik Bayu, karena ia tahu bahwa Bayu juga menyukai Calista.
Memang saat di rooftop Bayu mengatakan kepada Kevin bahwa dia juga menyukai Calista. Tetapi, Bayu juga berkata bahwa Calista lebih cocok dengan Kevin, dikarenakan Kevin terlihat sangat mencintai Calista. Berbeda dengan Bayu, dia pernah mem-bully Calista, jadi dia merasa tidak pantas untuk Calista.
Meskipun Bayu berkata seperti itu, Kevin juga harus waspada terhadapnya. Karena kemungkinan besar Bayu akan menyatakan cinta kepada Calista.
"Kenapa? cemburu ya gara-gara gue dekat sama Calista?" canda Bayu karena Kevin terus memperhatikannya.
"Ngapain juga cemburu. Lagian kalau disuruh pilih, Calista juga pasti memilih gue, bukan memilih lo," kata Kevin.
"Emang lo bakal pilih Kevin, Ta?" tanya Bayu sambil menahan tawanya.
"Ya jelas gue pilih Kevin, karena dia kan sahabat gue."
Bayu tertawa mendengar ucapan Calista dan yang membuat Bayu lebih tertawa disaat dia melihat ekspresi Kevin yang sangat datar.
"Kasihan kena friendzone," sindir Bayu.
Calista dengan sengaja menyenggol lengan Bayu agar Bayu berhenti mengejek Kevin, sebab Calista khawatir jika Kevin akan marah kepada Bayu.
"Oh iya, gue pulang ya soalnya gue ada urusan," kata Bayu. Lalu, Bayu menepuk pundak Kevin sambil tersenyum penuh arti.
"Gue pulang dulu, bro." Kemudian Bayu segera pergi.
"Vin, tunggu sebentar ya. Gue mau ganti pakaian dulu," ujar Calista sambil berlari menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian setelah berganti pakaian, Calista kembali menghampiri Kevin. Saat berada di ruang tengah, Calista melihat Kevin yang sedang tertidur di sofa. Jika dilihat, Kevin sepertinya memang kelelahan. Ditambah lagi akhir-akhir ini dia sering begadang.
Ingin sekali Calista membangunkan Kevin dan menyuruhnya agar tidur di kamar. Namun karena sepertinya dia sangat kelelahan, jadi Calista tidak tega untuk membangunkannya.
Memang pada dasarnya Calista sangat jahil, jadi dia memotret Kevin yang sedang tertidur. Ia ingin balas dendam kepada Kevin, karena di galeri foto Kevin penuh dengan foto aib Calista. Jadi tak ada salahnya untuk membalas perbuatannya.
Trining! Trining!
Ponsel Kevin berdering dan tentu saja Calista langsung membawa ponselnya ke tempat yang agak jauh supaya Kevin tidak terbangun.
Setelah itu, Calista segera menjawab panggilan telepon tersebut, karena orang yang menelpon Kevin adalah Erick. Dan pastinya tidak akan jadi masalah jika Calista menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Vin. Lo dimana? kok di rumah lo sepi banget?"
"Kevin di rumah gue."
"Ngapain Kevin ke rumah lo?"
"Mau lihat kelinci."
Erick menyuruh Calista agar memberikan ponselnya ke Kevin. Namun Calista mengatakan tidak bisa karena saat ini Kevin sedang tidur.
"Jangan bilang lo melakukan hal yang enggak-enggak ya?" tanya Erick karena ia teringat pembicaraan sewaktu di UKS.
"Pikiran lo mesum mulu. Padahal gue kan udah bilang dari awal kalau Kevin niatnya mau lihat kelinci."
"Gue mengerti kok, Ta. Semoga kalian gak ketahuan orang tua lo ya," ujar Erick karena mana mungkin Kevin cuma ingin melihat seekor kelinci.
"Dasar otak mesum!" teriak Calista dan itu membuat Erick langsung mematikan teleponnya.