
"Bangsat! sini lo!" lelaki tadi masuk ke kelas dan otomatis Kevin dan anak-anak kelas yang lain menoleh kearah lelaki itu.
Disaat lelaki itu mulai mendekat, otomatis Kevin menghalangi Calista karena ia takut Calista kenapa-napa.
"Kenapa lo? tiba-tiba teriak-teriak kayak gitu. Ada masalah apa sama cewek gue?" kesal Kevin karena tak terima pacarnya dibentak orang lain.
"Iya, gue ada masalah sama dia. Jadi lo gak usah ikut campur urusan gue sama dia," ujar lelaki itu.
Kevin menarik kerah seragam lelaki itu. "Ya jelas gue ikut campur, dia kan pacar gue."
Lelaki itu menghempaskan tangan Kevin yang memegang menarik kerahnya.
"Awas aja kalau lo lapor ke orang-orang," ancam lelaki itu sambil menunjuk Calista.
Karena tak terima pacarnya diancam, Kevin langsung memukul wajah lelaki itu. Begitupun lelaki itu, dia juga memukul Kevin.
Serentak anak-anak kelas membantu memisahkan keduanya. Karena jika tidak dipisahkan mungkin keduanya akan babak belur.
"Awas aja lo!" teriak lelaki itu sambil pergi.
"Dasar anjing!" teriak Kevin.
Calista hanya mematung karena saking syoknya, ia tak mengira bahwa akhirnya akan seperti ini.
Kevin menghampiri Calista. "Kamu gak apa-apa, kan?"
Calista heran, seharusnya ia yang bertanya seperti itu bukan malah Kevin. Bahkan sekarang Kevin sepertinya tidak baik-baik saja dikarenakan sudut bibirnya berdarah akibat pukulan lelaki itu.
"Ta, are you okay? lelaki tadi gak nyakitin kamu, kan?"
"Lelaki itu tadi jambak aku, tapi aku gak apa-apa kok."
"Ya udah kalau gitu kita pulang aja yuk!"
Calista mengangguk, lalu ia menoleh kearah Bayu. "Bayu, kerja kelompoknya besok aja."
Serentak semuanya pergi karena hujan sudah reda. Disaat perjalanan menuju parkiran, Calista terus meminta maaf kepada Kevin karena ia merasa bersalah. Namun Kevin menegaskan bahwa itu semua bukan salah Calista.
Setelah sampai di parkiran, keduanya masuk kedalam mobil. Lalu, Calista segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka Kevin.
"Aku obati dulu ya."
"Gak usah, lagipula cuma luka dikit dan gak sakit."
Calista tak mendengarkan perkataan Kevin dan ia segera mengobati luka Kevin.
"Kamu ada masalah apa sama cowok tadi?"
"Tadi aku lihat dia berbuat mesum sama cewek di gudang dan juga aku lihat cowok itu mau buka baju seragamnya, tapi untungnya aku langsung masuk. Terus aku bilang kalau aku akan laporkan dia ke guru, habis itu dia marah dan jambak aku."
"Kasihan banget pacar aku," ujar Kevin sambil mengelus rambut Calista.
Melihat kejadian tadi, membuat Calista jadi takut. Bahkan sepertinya jika bertemu dengan orang itu lagi, mungkin orang itu akan lebih berbuat kasar lagi dengan Calista.
"Kayaknya besok aku gak sekolah."
"Kenapa?"
"Aku takut."
"Jangan takut, kan ada aku."
Calista baru menyadari jika kejadian tadi dapat membuat dirinya ketakutan. Jujur ia merasa bersalah kepada orang-orang yang pernah ia bully, ternyata aksi seperti itu memang membuat korban memiliki ketakutan yang luar biasa.
Biasanya Calista kadang berani dengan beberapa lelaki. Namun karena tadi posisi lelaki itu berani berbuat kasar kepada Calista, jadi Calista takut terhadapnya.
"Oh iya, ngomong-ngomong perempuan yang bersama lelaki itu siapa?" tanya Kevin.
"Rena, anak kelas XII IPA 1."
"Bukannya dia orang yang sering juara 1 lomba matematika ya?"
"Iya, dia orangnya."
Kevin terkejut setengah mati, lantaran yang ia lihat bahwa perempuan itu pintar dan juga pendiam. Namun kenyataannya, sifat perempuan itu tak seperti yang dibayangkan Kevin.
Setibanya di rumah, Calista dan Kevin segera turun dari mobil. Kevin mengatakan bahwa ia ingin kerja kelompoknya sekarang, karena ia takut jika ditunda-tunda nantinya akan lupa. Dengan begitu, Calista dan Kevin berjalan menuju rumah Bayu.
Setelah bel rumah Bayu ditekan, beberapa menit kemudian Bayu keluar dan dia membukakan pagar rumahnya.
"Kenapa?" tanya Bayu.
"Kerja kelompoknya sekarang aja."
"Ya udah kerja kelompoknya di rumah gue aja. Kebetulan orang tua gue lagi gak ada di rumah," kata Bayu. Akhirnya mereka masuk kedalam rumah.
Disaat masuk kedalam, Calista dan Kevin terkejut lantaran banyak pakaian yang berserakan di sofa, selain itu ada beberapa sampah di meja.
"Sorry ya berantakan, soalnya orang tua gue kan gak ada di rumah, makanya gue sembarang aja gitu lempar pakaian."
"Mau ada orang tua atau enggak, seharusnya lo tetap simpan pakaian pada tempatnya," sahut Kevin.
"Iya sih, cuma masalahnya gue kadang malas beres-beres" kata Bayu.
Karena tak ingin berbicara terlalu lama, akhirnya ketiganya segera mengerjakan tugas.
"Aku ke rumah sebentar ya. Soalnya mau ganti baju sekalian mau bawa handphone."
"Jangan terlalu lama, soalnya aku gak nyaman kalau berdua sama dia," ujar Kevin terus terang.
"Kenapa gak nyaman sama gue?" bingung Bayu, namun tak dijawab oleh Kevin.
"Iya, gak akan lama kok." Setelah berkata seperti itu, Calista segera pergi menuju rumahnya.
Skip
Pada saat Calista masuk kedalam rumah, ia melihat seseorang yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Orang itu adalah saudaranya dan memang waktu dulu Calista dan dia selalu bermain bersama, tetapi karena waktu itu dia pindah ke luar kota, jadi hari ini Calista baru bertemu lagi dengannya.
"Lo kok ada disini."
"Emang gak boleh ya kalau gue datang kesini?"
"Ya boleh sih. Cuma gue kaget aja tiba-tiba lihat lo ada disini."
"Ya udah gue ke kamar dulu ya, soalnya mau ganti baju." Calista bergegas menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Calista mengganti pakaiannya lalu ia mengambil ponselnya. Sesudah itu, ia kembali menghampiri Windy.
"Windy, lo mau ikut gak?"
"Kemana?"
"Ke rumah teman gue. Rumahnya dekat kok, ada didepan rumah gue."
"Ya udah gue ikut, soalnya gue bosan disini."
Akhirnya Calista dan Windy pergi menuju rumah Bayu. Setelah masuk kedalam rumah, Windy terkejut karena ia pikir teman Calista adalah perempuan, tapi ternyata teman Calista adalah laki-laki.
"Ya ampun! bukannya mengerjakan tugas, ini malah main game," ujar Calista saat melihat Kevin dan Bayu.
"Gue udah mengerjakan kok, jadi sekarang giliran lo sama Kevin," kata Bayu.
"Ta, sekarang kamu dulu aja yang kerjakan tugasnya. Nanti aku terakhir aja mengerjakan tugasnya."
"Ya udah deh."
Disaat Calista hendak mengerjakan, tiba-tiba ia teringat dengan Windy.
"Oh iya, kenalin ini saudara gue."
Kevin dan Bayu yang tadinya fokus memainkan game, kini fokusnya beralih kearah Windy.
"Hai, gue Windy," sapa Windy dengan nada lemah lembut dan itu membuat Calista menatap datar kearahnya, sebab Windy selalu saja bersikap lemah lembut didepan para lelaki.
"Hai juga," sapa Kevin dan Bayu bersamaan.
"Nama kalian siapa?" tanya Windy.
"Yang itu Bayu dan yang ini Kevin. Oh iya Kevin itu pacar gue," sahut Calista.