Fearless

Fearless
Bab 20



Calista membuka kedua matanya disaat ada tangan yang menyentuh keningnya. Spontan ia terbangun ketika melihat Kevin yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Lo ngapain kesini?"


"Gue mau cek keadaan lo," jelas Kevin.


"Udah istirahat ya?"


"Iya, udah. Lo mau beli apa? nanti biar gue yang beli."


Calista menggelengkan kepalanya, karena ia masih bisa berjalan ke kantin.


Kemudian, Calista segera pergi menuju kantin dan tentu saja Kevin mengikuti Calista karena dia takut Calista kenapa-napa.


"Kak Kevin!" panggil Haura sambil berlari kearah Kevin dan Calista.


"Aku boleh istirahat bareng gak?" tanya Haura.


Kevin melirik sekilas kearah Calista. "Iya, boleh."


Karena Calista tidak ingin mengganggu, akhirnya Calista memutuskan untuk mempercepat langkahnya menuju kantin.


Skip


Setibanya di kantin, Calista segera membeli makanan dan minuman. Setelah itu, ia duduk bersama Erick dan Friska.


"Ta, maafin gue ya soal masalah tadi," ujar Friska.


"Iya, gak apa-apa."


"Kevin mana ya?" tanya Erick.


"Dia lagi sama Haura."


Beberapa menit kemudian, Kevin dan Haura duduk bersama Calista, Friska dan Erick.


"Gue sama pacar gue ikut duduk disini ya," ujar Kevin.


"Iya, silahkan," kata Friska.


Disaat menikmati makanan, Erick menyadari bahwa Kevin terus mencuri-curi pandang kearah Calista. Dan disitu Erick tahu bahwa Kevin tidak benar-benar mencintai Haura dan juga Erick tahu bahwa Kevin hanya menjadikan Haura sebagai tempat pelampiasannya saja.


"Ta, kalau sakit lebih baik pulang aja," ujar Friska.


"Gak mau. Lagipula gue cuma pusing dikit."


Tiba-tiba Kevin memegang kening Calista dan itu membuat Calista dan yang lainnya terkejut.


Calista langsung menyingkirkan tangan Kevin yang memegang keningnya, karena ia takut Haura cemburu.


"Vin, hargai pacar lo. Bisa-bisanya lo melakukan hal kayak gitu didepan dia," ujar Erick.


"Gak apa-apa kok, Kak. Lagipula aku tahu kalau Kak Kevin sama Kak Calista itu sahabatan," kata Haura.


"Vin, lo beruntung banget punya cewe yang pengertian kayak Haura," kata Friska.


"Justru aku yang beruntung karena punya pacar kayak Kak Kevin," jelas Haura.


Trining! Trining!


Calista mengambil ponselnya dan ia menjawab panggilan telepon dari Reyhan.


"Ada apa?"


"Nanti pulangnya aku jemput ya," kata Reyhan, lalu Calista hanya mengiyakannya.


"Rey, aku lagi makan. Jadi nanti lagi ya teleponnya."


"Oh iya, maaf ganggu."


Setelah itu, Calista mematikan teleponnya.


Sahabat-sahabat Calista menatap dengan tatapan tak percaya saat Calista kembali berkomunikasi dengan Reyhan.


"Ta, yang tadi telepon dari Reyhan?" tanya Friska, lalu Calista mengiyakan pertanyaan Friska.


"Lo jadian lagi sama Reyhan?" tanya Kevin dan Calista hanya mengangguk.


"Lo bego banget sih jadi cewek!" kata Kevin, lalu dia pergi setelah berkata seperti itu.


Suasana menjadi canggung disaat Kevin pergi saja. Maka dari itu, Haura memutuskan untuk mengejar Kevin.


"Ta, lo kenapa pacaran lagi sama Reyhan? bukannya lo benci banget ya sama dia?" tanya Friska.


Calista diam saja, karena Calista tidak mungkin berkata yang sejujurnya kepada sahabat-sahabatnya.


"Lo kenapa sih?" bingung Calista.


"Rick, kayaknya Calista diguna-guna deh sama Reyhan," kata Friska.


Erick hanya tertawa mendengar perkataan Friska, karena ia menganggap bahwa Calista terlalu kuno hingga mempercayai hal seperti itu.


"Oh iya, Kevin kenapa sampai marah kayak gitu ya?" heran Friska.


"Ya wajar dia marah. Soalnya gue udah dibilangin berkali-kali, tapi gue malah jadian lagi sama Reyhan."


"Sebenarnya Kevin itu marah karena dia cemburu," ujar Erick.


"Cemburu? jadi maksud lo, Kevin suka sama Calista?" tanya Friska, lalu Erick hanya mengangguk.


...****************...


Calista mulai risih dengan tatapan Friska. Dari tadi Friska terus menatap kearah Calista dan Kevin secara bergantian. Calista juga tahu bahwa Friska begitu karena dia merasa tak percaya bahwa ternyata Kevin sudah lama menyukai Calista.


"Lo kenapa sih?" bingung Kevin, karena ia merasa bahwa Friska terus menatapnya.


"Gak kenapa-napa kok," ujar Friska sambil menahan tawanya.


"Jangan mengobrol! cepat kerjakan tugasnya," ujar guru.


Karena merasa tersindir, akhirnya Friska dan Kevin kembali mengerjakan tugas masing-masing.


Ting!


Ting!


Beberapa ponsel berbunyi bersamaan dan itu membuat Calista penasaran, karena sepertinya ada chat di grup kelasnya.


Saat dilihat, ternyata ada salah satu murid kelas yang mengirim foto-foto Calista, Friska, Kevin dan Erick.


Bruk!


Erick memukul mejanya, lalu ia menghampiri Nino. "Maksud lo apa?" tanya Erick sambil memegang kerah Nino.


Ya, tentu saja Erick sangat marah. Karena diantara foto tersebut, hanya dia yang paling parah. Selain itu, Papahnya adalah pemilik sekolah, jadi ia pasti akan dimarahi jika Papahnya tahu tentang hal ini.


"Gue cuma tanya, kalau itu lo sama teman-teman lo atau bukan?" kata Nino.


"Jadi lo yang foto gue sama sahabat-sahabat gue?"


"Bukan. Foto itu gue dapat dari nomer yang tidak dikenal," jelas Nino.


"Erick, kamu apa-apaan sih! cepat duduk!" kata Bu Tiwi.


Bu Tiwi menghampiri Nino karena penasaran tentang apa yang diributkan oleh Erick.


"Ada apa sih?" tanya Bu Tiwi kepada Nino.


Karena mendapatkan tatapan tajam dari Erick, Calista, Friska dan Kevin, akhirnya Nino hanya menggelengkan kepalanya. Sebab jika ia memberitahu guru, ia takut nantinya dirinya akan dihajar habis-habisan oleh Erick dan Kevin.


Tetapi diantara keduanya, yang lebih menakutkan adalah Kevin. Dikarenakan Kevin jago bela diri, jadi Nino merasa takut kepadanya.


...****************...


Saat hendak keluar kelas, tiba-tiba Rania datang menghampiri Calista. "Ta, gimana? lo mau bantu gue, kan?"


Calista mengangguk, lalu ia buru-buru pergi karena tak ingin berbicara terlalu lama dengan Rania.


Rania mengikuti Calista, karena ia ingin mengucapkan terima kasih karena Calista telah membantunya.


"Calista, makasih ya." Rania mensejajarkan langkahnya dengan langkah Calista.


Tiba-tiba Calista dan Rania menghentikan langkahnya karena ada Kevin yang menghalangi jalan keduanya.


"Makasih untuk apa?" tanya Kevin kepada Rania.


Rania gugup saat Kevin bertanya kepadanya. Tak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya kepada Kevin.


"Awas! gue mau pulang."


Kevin memegang tangan Calista. "Aku antar ya."


"Gak usah, soalnya gue mau pulang sama Reyhan."


Kedua tangan Kevin memegang pundak Calista. "Ta, sadar! dia udah selingkuh dari lo, masa lo mau maafin dia gitu aja."


Sejujurnya Calista belum bisa memaafkan Reyhan. Tetapi karena ini merupakan situasi yang darurat, jadi ia akan pura-pura memaafkannya.


"Gue emang bego seperti yang tadi lo bilang saat di kantin, makanya gue maafin dia." Setelah berkata seperti itu, Calista bergegas pergi karena Reyhan sudah menunggunya dari tadi.