
Disaat sedang menikmati hidangan makan malam, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat familiar. Dan orang itu adalah Kevin.
"Hallo Om, Tante." Kevin menyapa orang tua Calista sambil tersenyum.
"Kamu siapa?" tanya Papah Calista, karena sejujurnya ia baru pertama kali melihat Kevin.
"Itu Kevin, Pah."
"Oh jadi ini yang namanya Kevin," ujar Papah, lalu Kevin hanya tersenyum.
Papah menyuruh Kevin untuk duduk, lalu Kevin menuruti perkataan Papahnya Calista.
"Kamu udah makan belum?" tanya Papah Calista.
"Udah kok, Om," jawab Kevin.
Calista menatap datar kearah Kevin. Entah kenapa Kevin tiba-tiba datang dan malah bergabung dengan Calista dan orang tuanya.
Selain itu, Calista juga heran kepada Papahnya. Sebab Papahnya terlihat begitu ramah jika dengan orang lain. Sedangkan dengan anaknya, dia selalu marah-marah.
"Kevin, kalau di sekolah Calista orangnya kayak gimana?" tanya Mamah.
Calista menatap tajam kearah Kevin. Ia takut jika Kevin mengatakan hal-hal buruk.
Kevin menahan tawanya saat Calista menatapnya dengan tajam. "Calista baik banget kok, Tante. Dia itu suka menolong dan juga orangnya sedikit pemalu."
"Serius?" tanya Papah tak percaya, karena ia merasa bahwa Calista bukanlah anak yang pemalu.
Calista berusaha untuk tidak tertawa."Iya, Pah. Calista di sekolah memang sedikit pemalu."
Setelah mengobrol beberapa menit, akhirnya Kevin memutuskan untuk pergi, karena ia takut jika orang tua Calista merasa terganggu dengan adanya Kevin.
"Pah, Calista ke toilet sebentar ya." Calista buru-buru pergi.
Bukannya pergi ke toilet, Calista justru pergi menghampiri Kevin.
"Kevin!" panggil Calista sambil berlari kearah Kevin.
"Ada apa?"
"Besok saat pulang sekolah, lo ada acara gak?" tanya Calista, lalu Kevin menjawab bahwa dia tidak ada acara apapun setelah pulang sekolah.
Karena besok Kevin tidak sibuk, jadi Calista menyuruh Kevin untuk datang ke rumah Calista.
"Yang lainnya ikut gak?"
"Gak tahu. Tapi nanti gue akan ajak mereka juga."
"Oh iya, Ta. Tadi saat perjalanan kesini, gue lihat pacar lo."
"Iya, terus kenapa?"
Kevin terdiam sejenak. Ia bingung bagaimana cara mengungkapkannya kepada Calista.
"Ada apa sih?" tanya Calista penasaran.
Kevin hanya tersenyum. "Gak ada apa-apa kok. Gue cuma mau kasih tahu itu doang."
"Gue pikir lo mau kasih tahu bahwa Reyhan sama cewek lain."
Kevin terdiam, karena memang itu yang dilihatnya saat dalam perjalanan menuju restoran. Kevin melihat Reyhan sedang berboncengan dengan seorang perempuan yang memakai topi dan masker.
"Kalau seandainya Reyhan sama cewek lain gimana?" tanya Kevin.
"Ya gak mungkinlah. Lagipula Reyhan itu cinta banget sama gue, jadi dia pasti gak akan selingkuh."
Sebenarnya Kevin ingin sekali memberitahu Calista. Tetapi karena sepertinya saat ini mood Calista sedang bagus, jadi lebih baik Kevin tidak membicarakan tentang apa yang tadi ia lihat. Karena jika Kevin membicarakan tentang itu, pastinya Calista akan sedih.
"Kalau gitu gue kesana lagi ya," ujar Calista, lalu Kevin hanya mengangguk.
Calista menghampiri orang tuanya dan ia kembali menikmati makan malamnya.
"Kamu yakin cuma sahabatan sama Kevin?" tanya Papah.
"Maksud Papah apa?"
"Kevin kan ganteng, masa kamu gak ada perasaan sama dia."
"Calista gak punya perasaan ke Kevin, Pah. Calista hanya menganggap dia sebagai sahabat aja."
Ting!
Calista mendapatkan satu pesan masuk dari seseorang. Dan saat pesan itu dibuka, ternyata itu adalah sebuah foto.
Foto Reyhan dengan seorang perempuan yang tidak terlihat wajahnya, karena posisi perempuan itu membelakangi kamera.
Dengan begitu, Calista menyudahi makan malamnya karena ia sudah tidak nafsu makan.
Calista buru-buru pergi menuju toilet untuk menelpon Reyhan. Ia sengaja pergi ke toilet karena ia khawatir jika orang tuanya mendengar pembicaraannya.
Setibanya di toilet, Calista langsung menelpon kekasihnya.
"Ada apa, sayang?" tanya Reyhan.
"Kamu dimana?"
"Aku di rumah. Memangnya kenapa?"
Calista mematung, ia tak percaya bahwa ternyata Reyhan membohonginya. Sudah jelas-jelas tadi Kevin melihatnya saat dalam perjalanan menuju restoran, ditambah lagi sekarang ada seseorang yang mengirim foto Reyhan bersama seseorang.
"Sayang, ada apa sih?" tanya Reyhan, karena Calista hanya diam saja.
Calista langsung mematikan teleponnya. Ia bergegas pergi menghampiri Kevin untuk menanyakan tentang hal ini.
"Kevin!" Calista menghampiri Kevin yang sedang bermain game.
"Ada apa?"
"Tadi lo lihat Reyhan sama cewek gak?"
Kevin mengiyakan pertanyaan Calista, karena sepertinya Calista sudah tahu bahwa Reyhan pergi dengan perempuan lain.
"Siapa ceweknya?"
"Gue gak tahu. Soalnya cewek itu pake topi sama masker."
Calista menghela nafasnya. Baru kali ini ia merasa marah terhadap kekasihnya.
"Lo tahu darimana kalau Reyhan sama cewek?" tanya Kevin.
Calista menunjukkan foto Reyhan bersama perempuan. "Tadi ada yang kirim foto ini. Tapi gue gak tahu siapa pengirimnya."
"Coba lo telepon aja Reyhan, siapa tahu cewek itu saudaranya dia."
"Gue udah tanya dia. Tapi dia bohong sama gue, katanya sekarang dia ada di rumah." Mata Calista mulai berkaca-kaca.
Karena Calista tidak ingin menangis didepan Kevin, akhirnya Calista lebih memilih untuk kembali menghampiri orang tuanya.
"Pah, Calista pingin pulang."
"Makanan kamu belum habis loh."
"Calista udah gak nafsu makan, Pah."
"Ya udah ayo kita pulang."
Disaat Papah sedang membayar hidangan makan malam, Calista lebih memilih untuk lebih dulu pergi menuju parkiran.
Grep!
Tangan kanan Calista dipegang oleh Mamah tirinya.
"Kamu kenapa?"
Calista sontak menghempaskan tangan Mamah tirinya agar tidak menyentuh tangan Calista.
"Sampai kapan sih sikap kamu kayak gini ke Mamah? padahal Mamah udah berusaha untuk dekat sama kamu, tapi kamu justru bersikap seperti ini."
"Jangan berusaha untuk dekat sama gue, karena lo bukan ibu kandung gue!"
Calista mempercepat langkahnya menuju mobil, karena ia sangat malas berinteraksi dengan Mamah tirinya.
Skip
"Kamu kenapa?" tanya Papah kepada Mamah tiri Calista. Otomatis Calista menoleh kearah Mamah tirinya.
"Aku gak kenapa-napa kok," ujar Mamah tiri Calista.
Trining! Trining!
Calista melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Friska. Lalu, ia langsung menjawab telepon tersebut.
"Kenapa, Ka?"
"Ta, gawat! katanya adik kelas itu mengadu ke wali kelasnya terkait kejadian tadi di sekolah."
"Anjing banget itu orang!" umpat Calista.
"Calista!" teriak Papah.
Calista sontak menutup mulutnya, lalu ia buru-buru mematikan teleponnya.
"Maaf, Pah." Calista menunduk.
"Sekali lagi kamu berbicara kasar, Papah akan potong uang jajan kamu."
"Maaf. Calista janji gak akan bicara kasar lagi."
Ya, Calista tidak akan berbicara kasar didepan Papahnya lagi. Tetapi jika dengan orang yang ia tidak suka, mungkin ia akan terus-menerus melontarkan kata-kata kasar.